Arsip

Posts Tagged ‘Skandal Sex’

>Gairah Panas Pasienku

16 Februari 2011 Tinggalkan komentar

>

Sudah masuk tahun ketiga aku buka praktek di sini semuanya berjalan biasa-biasa saja seperti layaknya praktek dokterr umum lainnya. Pasien bervariasi umur dan status sosialnya. Pada umumnya datang ke tempat praktekku dengan keluhan yang juga tak ada yang istimewa. Flu, radang tenggorokan, sakit perut, maag, gangguan pencernaan, dll.

Akupun tak ada masalah hubungan dengan para pasien. Umumnya mereka puas atas hasil diagnosisku, bahkan sebagian besar pasien merupakan pasien “langganan”, artinya mereka sudah berulang kali konsultasi kepadaku tentang kesehatannya. Dan, ketika aku iseng memeriksa file-file pasien, aku baru menyadari bahwa 70 % pasienku adalah ibu-ibu muda yang berumur antar 20 – 30 tahun. Entah kenapa aku kurang tahu.

“Mungkin dokter ganteng dan baik hati” kata Nia, suster yang selama ini membantuku.
“Ah kamu . bisa aja”
“Bener Dok” timpal Tuti, yang bertugas mengurus administrasi praktekku.

Baca selengkapnya »

Kategori:Tak Berkategori Tag:,

Kuentot Kakak Pacarku Yang Manis

15 Januari 2011 Tinggalkan komentar

Kuentot Kakak Pacarku Yang Manis

Siang itu, ponselku berbunyi, dan suara merdu dari seberang sana memanggil.

“Di, kamu ke rumahku duluan deh sana, saya masih meeting. Dari pada kamu kena macet di jalan, mendingan jalan sekarang gih sana.”
“Oke deh, saya menuju rumah kamu sekarang. Kamu meeting sampai jam berapa?”
“Yah, sore sudah pulang deh, tunggu aja di rumah.”

Meluncurlah aku dengan motor Honda ke sebuah rumah di salah satu kompleks di Jakarta. Vina memang kariernya sedang naik daun, dan dia banyak melakukan meeting akhir-akhir ini. Aku sih sudah punya posisi lumayan di kantor. Hanya saja, kemacetan di kota ini begitu parah, jadi lebih baik beli motor saja dari pada beli mobil. Vina pun tak keberatan mengarungi pelosok-pelosok kota dengan motor bersamaku.


Kebetulan, pekerjaanku di sebuah biro iklan membuat aku bisa pulang di tengah hari, tapi bisa juga sampai menginap di kantor jika ada proyek yang harus digarap habis-habisan. Vina, pacarku, mendapat fasilitas antar jemput dari kantornya. Jadi, aku bisa tenang saja pergi ke rumahnya tanpa perlu menjemputnya terlebih dulu.

Sesampai di rumahnya, pagar rumah masih tertutup walau tidak terkunci. Aku mengetok pagar, dan keluarlah Marta, kakak Vina, untuk membuka pintu.

“Loh, enggak kerja?” tanyaku.
“Nggak, aku izin dari kantor mau ngurus paspor,” jawabnya sambil membuka pintu pagarnya yang berbentuk rolling door lebar-lebar agar motorku masuk ke dalam.
“Nyokap ke mana?” tanyaku lagi.
“Oh, dia lagi ke rumah temannya tuh, ngurusin arisan,” kata Marta, “Kamu mau duduk di mana Dodi? Di dalam nonton TV juga boleh, atau kalau mau di teras ya enggak apa juga. Bentar yah, saya ambilin minum.”

Setelah motor parkir di dalam pekarangan rumah, kututup pagar rumahnya. Aku memang akrab dengan kakak Vina ini, umurnya hanya sekitar dua tahun dari umurku. Yah, aku menunggu di teras sajalah, canggung juga rasanya duduk nonton TV bersama Marta, apalagi dia sedang pakai celana pendek dan kaos oblong.

Setelah beberapa lama menunggu Vina di teras rumah, aku celingukan juga tak tahu mau bikin apa. Iseng, aku melongok ke ruang tamu, hendak melihat acara televisi. Wah, ternyata mataku malah terpana pada paha yang putih mulus dengan kaki menjulur ke depan. Kaki Marta ternyata sangat mulus, kulitnya putih menguning.

Marta memang sedang menonton TV di lantai dengan kaki berjelonjor ke depan. Kadang dia duduk bersila. Baju kaosnya yang tipis khas kaos rumah menampakkan tali-tali BH yang bisa kutebak berwarna putih. Aku hanya berani sekali-kali mengintip dari pintu yang membatasi teras depan dengan ruang tamu, setelah itu barulah ruang nonton TV. Kalau aku melongokkan kepalaku semua, yah langsung terlihatlah wajahku.

Tapi rasanya ada keinginan untuk melihat dari dekat paha itu, biar hanya sepintas. Aku berdiri.

“Ta, ada koran enggak yah,” kataku sambil berdiri memasuki ruang tamu.
“Lihat aja di bawah meja,” katanya sambil lalu.

Saat mencari-cari koran itulah kugunakan waktu untuk melihat paha dan postur tubuhnya dari dekat. Ah, putih mulus semua. Buah dada yang pas dengan tubuhnya. Tingginya sekitar 160 cm dengan tubuh langsing terawat, dan buah dadanya kukuh melekat di tubuh dengan pasnya.

“Aku ingin dada itu,” kataku membatin. Aku membayangkan Marta dalam keadaan telanjang. Ah, ‘adikku’ bergerak melawan arah gravitasi.

“Heh! Kok kamu ngeliatin saya kayak gitu?! Saya bilangin Vina lho!,” Marta menghardik.

Dan aku hanya terbengong-bengong mendengar hardikannya. Aku tak sanggup berucap walau hanya untuk membantah. Bibirku membeku, malu, takut Marta akan mengatakan ini semua ke Vina.

“Apa kamu melotot begitu, mau ngancem?! Hah!”
“Astaga, Marta, kamu.. kamu salah sangka,” kataku tergagap. Jawabanku yang penuh kegamangan itu malah membuat Marta makin naik pitam.
“Saya bilangin kamu ke Vina, pasti saya bilangin!” katanya setengah berteriak. Tiba-tiba saja Marta berubah menjadi sangar. Kekalemannya seperti hilang dan barangkali dia merasa harga dirinya dilecehkan. Perasaan yang wajar kupikir-pikir.
“Marta, maaf, maaf. Benar-benar enggak sengaja saya. saya enggak bermaksud apa-apa,” aku sedikit memohon.
“Ta, tolong dong, jangan bilang Vina, kan cuma ngeliatin doang, itu juga enggak sengaja. Pas saya lagi mau ngambil koran di bawah meja, baru saya liat elu,” kataku mengiba sambil mendekatinya.

Marta malah tambah marah bercampur panik saat aku mendekatinya.

“Kamu ngapain nyamperin saya?! Mau ngancem? Keluar kamu!,” katanya garang. Situasi yang mencekam ini rupanya membuatku secara tidak sengaja mendekatinya ke ruang tamu, dan itu malah membuatnya panik.
“Duh, Ta, maaf banget nih. Saya enggak ada maksud apa-apa, beneran,” kataku.

Namun, situasi telah berubah, Marta malah menganggapku sedang mengancamnya. Ia mendorong dadaku dengan keras. Aku kehilangan keseimbangan, aku tak ingin terjatuh ke belakang, kuraih tangannya yang masih tergapai saat mendorongku. Raihan tangan kananku rupanya mencengkeram erat di pergelangan tangan kirinya. Tubuhnya terbawa ke arahku tapi tak sampai terjatuh, aku pun berhasil menjaga keseimbangan. Namun, keadaan makin runyam.

“Eh! kamu kok malah tangkep tangan saya! Mau ngapain kamu? Lepasin enggak!!,” kata Marta.

Entah mengapa, tangan kananku tidak melepaskan tangan kirinya. Mungkin aku belum sempat menyadari situasinya. Merasa terancam, Marta malah sekuat tenaga melayangkan tangan kanannya ke arah mukaku, hendak menampar. Aku lebih cekatan. Kutangkap tangan kanan itu, kedua tangannya sudah kupegang tanpa sengaja. Kudorong dia dengan tubuhku ke arah sofa di belakangnya, maksudku hanya berusaha untuk menenangkan dia agar tak mengasariku lagi. Tak sengaja, aku justru menindih tubuh halus itu.

Marta terduduk di sofa, sementara aku terjerembab di atasnya. Untung saja lututku masih mampu menahan pinggulku, namun tanganku tak bisa menahan bagian atas tubuhku karena masih mencengkeram dan menekan kedua tangannya ke sofa. Jadilah aku menindihnya dengan mukaku menempel di pipinya. Tercium aroma wangi dari wajahnya, dan tak tertahankan, sepersekian detik bibirku mengecup pipinya dengan lembut.

Tak ayal, sepersekian detik itu pula Marta meronta-ronta. Marta berteriak, “Lepasin! Lepasin!” dengan paraunya. Waduh, runyam banget kalau terdengar tetangga. Yang aku lakukan hanya refleks menutup mulutnya dengan tangan kananku. Marta berusaha memekik, namun tak bisa. Yang terdengar hanya, “Hmm!” saja. Namun, tangannya sebelah kiri yang terbebas dari cengkeramanku justru bergerak liar, ingin menggapai wajahku.

Hah! Tak terpikir, posisiku ini benar-benar seperti berniat memperkosa Marta. Dan, Marta sepertinya pantas untuk diperkosa. Separuh tubuhnya telah kutindih. Dia terduduk di sofa, aku di atasnya dengan posisi mendudukinya namun berhadapan. Kakinya hanya bisa meronta namun tak akan bisa mengusir tubuhku dari pinggangnya yang telah kududuki. Tangan kanannya masih dalam kondisi tercengkeram dan ditekan ke sofa, tangan kirinya hanya mampu menggapai-gapai wajahku tanpa bisa mengenainya, mulutnya tersekap.

Tubuh yang putih itu dengan lehernya yang jenjang dan sedikit muncul urat-urat karena usaha Marta untuk memekik, benar-benar membuatku dilanda nafsu tak kepalang. Aku berpikir bagaimana memperkosanya tanpa harus melakukan berbagai kekerasan seperti memukul atau merobek-robek bajunya. Dasar otak keparat, diserang nafsu, dua tiga detik kemudian aku mendapatkan caranya.

Tanpa diduga Marta, secepat kilat kulepas cengkeraman tanganku dari tangan dan mulutnya, namun belum sempat Marta bereaksi, kedua tanganku sudah mencengkeram erat lingkaran celana pendeknya dari sisi kiri dan kanan, tubuhku meloncat mundur ke belakang.

Kaki Marta yang meronta-ronta terus ternyata mempermudah usahaku, kutarik sekeras-kerasnya dan secepat-cepatnya celana pendek itu beserta celana dalam pinknya. Karena kakinya meronta terus, tak sengaja dia telah mengangkat pantatnya saat aku meloncat mundur. Celana pendek dan celana dalam pink itu pun lolos dengan mudahnya sampai melewat dengkul Marta.

Astaga! Berhasil!

Cerita BF – Marta jadi setengah bugil. Satu dua detik Marta pun sempat terkejut dan terdiam melihat situasi ini. Kugunakan kelengahan itu untuk meloloskan sekalian celana pendek dan celana dalamnya dari kakinya, dan kulempar jauh-jauh. Marta sadar, dia hendak memekik dan meronta lagi, namun aku telah siap. Kali ini kubekap lagi mulutnya, dan kususupkan tubuhku di antara kakinya. Posisi kaki Marta jadi menjepit tubuhku, karena dia sudah tak bercelana, aku bisa melihat vaginanya dengan kelentit yang cukup jelas. Jembutnya hanya menutupi bagian atas vagina. Marta ternyata rajin merawat alat genitalnya.

Pekikan Marta berhasil kutahan. Sambil kutekan kepalanya di sandaran sofa, aku berbisik,

“Marta, kamu sudah kayak gini, kalau kamu teriak-teriak dan orang-orang dateng, percaya enggak orang-orang kalau kamu lagi saya perkosa?”

Marta tiba-tiba melemas. Dia menyadari keadaan yang saat ini berbalik tak menguntungkan buatnya. Kemudian dia hanya menangis terisak. Kubuka bekapanku di mulutnya, Marta cuma berujar sambil mengisak,

“Dodi, please.. Jangan diapa-apain saya. Ampun, Di. saya enggak akan bilang Vina. Beneran.”

Namun, keadaan sudah kepalang basah, syahwatku pun sudah di ujung tanduk rasanya. Aku menjawabnya dengan berusaha mencium bibirnya, namun dia memalingkan mukanya. Tangan kananku langsung saja menelusup ke selangkangannya. Marta tak bisa mengelak.
Ketika tanganku menyentuh halus permukaan vaginanya, saat itulah titik balik segalanya. Marta seperti terhipnotis, tak lagi bergerak, hanya menegang kaku, kemudian mendesis halus tertahan. Dia pun pasti tak sengaja mendesah.

Seperti mendapat angin, aku permainkan jari tengah dan telunjukku di vaginanya. Aku permainkan kelentitnya dengan ujung-ujung jari tengahku. Marta berusaha berontak, namun setiap jariku bergerak dia mendesah. Desahannya makin sulit ditutupi saat jari tengahku masuk untuk pertama kali ke dalam vaginanya. Kukocokkan perlahan vaginanya dengan jari tengahku, sambil kucoba untuk mencumbu lehernya.

“Jangan Dod,” pintanya, namun dia tetap mendesah, lalu memejamkan mata, dan menengadahkan kepalanya ke langit-langit, membuatku leluasa mencumbui lehernya. Dia tak meronta lagi, tangannya hanya terkulai lemas. Sambil kukocok vaginanya dan mencumbui lehernya, aku membuka resleting celanaku. “Adik”-ku ini memang sudah menegang sempurna sedari tadi, namun tak sempat kuperlakukan dengan selayaknya. Karena tubuhku telah berada di antara kakinya, mudah bagiku untuk mengarahkan penisku ke vaginanya.

Marta sebetulnya masih dalam pergulatan batin. Dia tak bisa mengelak terjangan-terjangan nafsunya saat vaginanya dipermainkan, namun ia juga tak ingin kehilangan harga diri. Jadilah dia sedikit meronta, menangis, namun juga mendesah-desah tak karuan. Aku bisa membaca situasi ini karena dia tetap berusaha memberontak, namun vaginanya malah makin basah. Ini tanda dia tak mampu mengalahkan rangsangan.

Penisku mengarah ke vaginanya yang telah becek, saat kepala penis bersentuhan dengan vagina, Marta masih sempat berusaha berkelit. Namun, itu semua sia-sia karena tanganku langsung memegangi pinggulnya. Dan, kepala penisku pun masuk perlahan. Vagina Marta seperti berkontraksi. Marta tersadar,

“Jangan..” teriaknya atau terdengar seperti rintihan.

Rasa hangat langsung menyusupi kepala penisku. Kutekan sedikit lebih keras, Marta sedikit menjerit, setengah penisku telah masuk. Dan satu sentakan berikutnya, seluruh penisku telah ada di dalam vaginanya. Marta hanya memejamkan mata dan menengadahkan muka saja. Ia sedang mengalami kenikmatan tiada tara sekaligus perlawanan batin tak berujung. Kugoyangkan perlahan pinggulku, penisku keluar masuk dengan lancarnya. Terasa vagina Marta mengencang beberapa saat lalu mengendur lagi.

Tanganku mulai bergerilya ke arah buah dadanya. Marta masih mengenakan kaos rumah. Tak apa, toh tanganku bisa menyusup ke dalam kaosnya dan menyelinap di balik BH dan mendapati onggokan daging yang begitu kenyal dengan kulit yang terasa begitu halus. Payudara Marta begitu pas di tanganku, tidak terlalu besar tapi tidak juga bisa dibilang kecil. Kuremas perlahan, seirama dengan genjotan penisku di vaginanya. Marta hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, tak mampu melakukan perlawanan. Pinggulnya ternyata mulai mengikuti goyangan pinggulku.

Aku buka kaos Marta, kemudian BH-nya, Marta menurut. Pemandangan setelah itu begitu indah. Kulit Marta putih menguning langsat dengan payudara yang kencang dan lingkaran di sekitar pentilnya berwarna merah jambu Pentil itu sendiri berwarna merah kecokelatan. Tak menunggu lama, kubuka kemejaku. Aktivitas ini kulakukan sambil tetap menggoyang lembut pinggulku, membiarkan penisku merasai seluruh relung vagina Marta.

Sambil aku bergoyang, aku mengulum pentil di payudaranya dengan lembut. Kumainkan pentil payudara sebelah kanannya dengan lidahku, namun seluruh permukaan bibirku membentuk huruf O dan melekat di payudaranya. Ini semua membuat Marta mendesah lepas, tak tertahan lagi.

Aku mulai mengencangkan goyanganku. Marta mulai makin sering menegang, dan mengeluarkan rintihan, “Ah.. ah..”

Dalam goyangan yang begitu cepat dan intens, tiba-tiba kedua tangan Marta yang sedang mencengkeram jok kursi malah menjambak kepalaku.”Aaahh,” lenguhan panjang dan dalam keluar dari mulut mungil Marta. Ia sampai pada puncaknya. Lalu tangan-tangan yang menjambak rambutku itu pun terkulai lemas di pundakku. Aku makin intens menggoyang pinggulku. Kurasakan penisku berdenyut makin keras dan sering.

Bibir Marta yang tak bisa menutup karena menahan kenikmatan itu pun kulumat, dan tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Marta membalasnya dengan lumatan juga. Kami saling berpagut mesra sambil bergoyang. Tangan kananku tetap berada di payudaranya, meremas-remas, dan sesekali mempermainkan putingnya.

Vagina Marta kali ini cukup terasa mencengkeram penisku, sementara denyut di penisku pun semakin hebat.

“Uhh,” aku mengejang. Satu pelukan erat, dan sentakan keras, penisku menghujam keras ke dalam vaginanya, mengiringi muncratnya spermaku ke dalam liang rahimnya.

Tepat saat itu juga Marta memelukku erat sekali, mengejang, dan menjerit, “Aahh”. Kemudian pelukannya melemas. Dia mengalami ejakulasi untuk kedua kalinya, namun kali ini berbarengan dengan ejakulasiku. Marta terkulai di sofa, dan aku pun tidur telentang di karpet. Aku telah memperkosanya. Marta awalnya tak terima, namun sisi sensitif yang membangkitkan libidonya tak sengaja kudapatkan, yaitu usapan di vaginanya.

Ternyata, dia sudah pernah bercinta dengan kekasihnya terdahulu. Dia hanya tak menyangka, aku-pacar adiknya malah menjadi orang kedua yang menyetubuhinya.

Grreekk. Suara pagar dibuka. Vina datang! Astaga! aku dan Marta masih bugil di ruang tamu, dengan baju dan celana yang terlempar berserakan..

Tamat. http://www.ceritabf.info

Kategori:Tak Berkategori Tag:,

Gairah Nafsu di Kost Putri

3 Januari 2011 Tinggalkan komentar

Sudah lama aku dan beberapa temanku mengincar sebuah kost putri yang masih baru didaerahku.Daerah dekat kampungku terdapat perumahan yang masih tergolong baru dan tempatnya cukup terpencil ditengah sawah yang kebetulan belum banyak berpenghuni. Hanya ada 5 rumah yang baru dibangun, dan yang ditempati baru satu dan itupun ditempati oleh 4 orang cewek yang kebetulan kost disitu. Kami sering memperhatikan mereka pada saat mereka sering lewat membeli barang kebutuhan dikampungku. Mereka semua cantik cantik dan putih. Belakangan kami mulai mengenal nama nama mereka. Mereka semua berasal dari luar daerah yang baru masuk kuliah semester pertama.

Suatu malam pada saat aku ,Joni,Bram,Agung sedang minum minuman keras salah seorang cewek penghuni kost yang bernama Tia baru saja melewati kami memakai kaos ketat dan celana pendek. Timbul pikiran jahat dibenakku dan kucetuskan pada teman-temanku.


“Wah Jon….cakep dan sexi juga ya penghuni kost itu..?” pancingku.
“iya tuh..sexi banget….wah sayang karena orang kayak kita kan bisanya cuman
ngeliat aja…”
Bram pun menimpali ” Bener cewek gitu ga bakalan mau sama orang kayak kita kita Jon..”
Lalu aku kemabali memancing mereka..”Klo emang ga mau kenapa gak kita perkosa aja sekalian rame-rame..kan bukannya dia juga ga bakalan jadi milik kita….?”
“Gila loh ….entar dipenjara gimana..?” sahut Agung.
“Ga bakalan ….. asal tahu caranya bro…” Sahutku
“Maksud loe gimana jack..?” Tanya Bram.

Aku mengeluarkan sebuah handycam dari tasku dan beberapa tutup kepala yang memang sudah lama aku siapkan

“Ini nih jurus ampuh memperkosa tanpa takut dilaporkan kepolisi..mau tahu caranya..?” Aku berkata kepada Agung “Kamu bisa gunakan ini kan..Gung.?” Agung tersenyum simpul dan mengangguk. “Jadi kita gunakan kamera ini saat kita memperkosa mereka dan kita gunakan sebagai ancaman klo mereka berani melapor..!!!!” Dan aksi itupun tak lama akan Dimulai……

******

Waktu menunjukkan pukul 22.30, perlahan kami satu persatu memanjat dinding belakang kost putri yang tidak terlalu tinggi itu. Pelan pelan kubuka pintu dapur yang tidak terkunci dan menuju kedalam pelan pelan diikuti oleh teman temanku. Aku melihat hanya ada 2 motor yang terparkir berarti hanya ada dua penghuni kost saat ini.
Darahku terkesiap ketika melihat salah satu kamar tidak terkunci dengan pintu sedikit terbuka, aku melihat tia sedang tidur dengan paha mulus putihnya yang terbuka. Aku segera membagi 2 kelompok masing masing dua orang. Aku dan Agung memasuki kamar Tia dan kelompok kedua Bram dengan Joni mengetuk kamar Heni.

Bram mengetuk kamar Heni perlahan..rupanya Tia terbangun terlebih dahulu karena kamar mereka bersebelahan. namun aku dan Agung sudah bersiap dan segera menempelkan golok dileher Tia. “Diem lo jangan bertingkah..!!!!!!” Tia terkejut dan masih terdiam. “Coba panggil temen kamu yang masih tidur dari sini..!!” wajah Tia pucat dan dengan gemetar memanggil temannya, “Hen…bangun Heniii…tolongin gue Heenn…” panggil Tia dengan suara gemetar. Sementara Bram masih mengetuk kamar Heni.

Tak lama pintu dibuka dan Bram langsung menyergap Heni sambil menempelkan goloknya pula.Heni terkejut dan langsung pucat, dia tidak berani berteriak.

“Ringkus dan ikat dia dengan lakban Bram..!! Biar dia menikmati tontonan gratis antara aku dan temannya ha..ha..ha…” perintahku.

Setelah Heni diringkus oleh kedua temanku, aku segera memakai topengku dan memberi isyarat ke Agung supaya menyalakan handycam.

Tia semakin pucat dan mulai memohon “Ampun bang …tolong jangan perkosa kami..ini kami ada sedikit uang untuk Abang..ambil semua yang Abang mau tapi tolong jangan perkosa kami bang..” Kata Tia hampir menangis.

Aku tampar wajah Tia, “Diem loh jangan berisik..!!” lalu mendorong tubuh mungil Tia keatas tempat tidurnya yang indah. Tia mulai terisak, aku tak perduli.

Aku segera meraih daster tipisnya dan kurobek dengan kasar. Tia mencoba berguling kesamping sambil menutupi daerah dadanya sambil menyembunyikan wajahnya yang manis. Aku segera meraih tubuhnya dan kutelentangkan dengan paksa. Aku membuka silangan tangan didada Tia dan dengan kasar sekali lagi aku merobek BH Tia yang hanya berukuran 32 B.Tampaklah kedua bukit indah yang mungil dengan puting susu yang memerah.

“Singkirkan tangan elo sekarang atau gua pukul lagi kamu..!!” perlahan lahan Tia menurut. Aku mulai meremas dan menciumi buah dada indah itu, sementara Tia masih terisak.Heni yang terbelenggu dipaksa kedua temanku untuk melihat semua kejadian itu. Aku membuka seluruh pakaianku, dan aku menjambak rambut Tia sehingga wajahnya terangkat.

“Nih kulum penis gue..awas klo ga mau gue bunuh kamu sekarang juga..!!!” Kataku
Tia menurut.. Oooh betapa nikmat rasanya ketika mulut mungil berbibir tipis itu mulai mengulum penisku. “Heh..setan!! Awas jangankena gigi elo rasanya sakit tahu…!!!” aku memaklumi karena mungkin Tia baru pertama kali ini mengulum penis seorang cowok. Dan aku segera memaju mundurkan wajah Tia dipenisku dengan menjambak rambutnya. Tanpa membuang waktu lagi aku segera memerintahkan kedua temanku untuk melepaskan Heni dan membuka lakban dimulutnya. Aku memerintahkan Heni supaya masuk keranjang dimana Tia sedang mengulum penisku.

“Buka bajumu…dan jilat vagina temanmu ini..awas kalau tidak mau menurut gue bunuh kamu sekarang juga..!!’ Kataku. Bram dan Joni terkekeh melihatku.
“Bisa aja kamu jack..wah wah..wah sekali dapet dua lalat nih ayo terusin jack..!!”
kata mereka.

Agung masih menyorot semua kejadian itu dengan handycamku.

Bram dan Joni mulai melepaskan semua pakaian mereka dan mengocok penis mereka , rupanya mereka juga terangsang melihatku.

Seperti perintahku setelah aku mengatur posisi sedemikian rupa, heni mulai menjilati vagina Tia dengan ragu-ragu. “Ayo yang mesra jilatin vagina Tia..!! Kalau tidak bisa kupotong lidahmu ..!!” gertakku. Heni menuruti kata kataku. Wajahnya semakin pucat dan hampir menangis. Setelah dia menjilati vagina Tia, rupanya kuluman tia pada penisku mulai kacau, oleh sebab kenikmatan yang ditimbulkanHeni pada vaginanya. Aku tersenyum melihatnya.

Cerita Dewasa – Birahiku segera memuncak dan segera ingin meperkosa vagina milik Tia yang terlihat sempit itu. Kemudian aku menyuruh tia untuk berhenti dan tidur terlentang. Aku menyuruh Heni untuk meletakkan vaginanya diatas mulut Tia.

“Nah sekarang gantian elo yang jilatin vagina milik Heni..jangan mau enaknya saja ya..!!” Tia pucat tapi dia menurut. wajah Tia terbenam diselangkangan milik Heni sementara mereka semua hanya terdiam ketakutan menuruti perintahku. Aku memposisikan penisku divagina Tia,sambil terus berusaha menyodok vaginanya aku terus meremas dan menciumi buah dada Heni yang berukuran sedang dan indah pula.

Lubang Tia masih terasa begitu sempit,walaupun terlihat kesakitan dia masih terus berusaha menjilati vagina Heni. Lubang milik Tia sudah basah akibat jilatan Heni tadi, dan Drrrt..drrt..drrt.aku segera memompa memasukkan penisku dalam vagina perawan milik Tia. Sempit sekali rasanya sehingga menimbulkan sensasi nikmat yang luar biasa dipenisku.

“Aah..tolong sudah bang sakit bang…aduh..sakit bang..tolong…!!” Jerit Tia

Bram segera mendatangi Tia dan menampar mulutnya ..PLAK..!!!

“Diem Loe dan jangan coba coba bersuara lagi..!! Jilatin terus mem*k temen kamu itu!!!” kata Bram.
Air mata Tia tak dapat dibendung lagi menahan perih, dan aku semakin tak peduli. Semakin cepat aku memompa penisku dalam vaginanya, sambil aku terus meremas dan mencium buah dada Heni yang vaginanya masih terus dijilatin oleh Tia.

Sepuluh menit kemudian …..Crrooot ! spermaku tumpah didalam vagina Tia. Aku mengentikan aktivitas penisku didalam vagina Tia. Terasa berdenyut denyut nikmat dinding vagina Tia. Sementara aku berhenti kini rupanya giliran Heni yang tiba tiba mengejang …rupanya dia juga mengalami orgasme karena jilatan Tia pada vaginanya.

Melihat hal itu aku jadi kembali terangsang dan penisku bangkit berdiri lagi. Aku menyuruh mereka bertukar posisi. Sekarang posisi Tia ditempati oleh Heni begitu pula sebaliknya. sekarang vagina Tia-lah yang dijilatin oleh Heni. Darah keperawanan Tia masih meleleh dipahanya bercampur spermaku. Aku mmerintahkan Heni untuk menjilati bersih sperma bercampur darahku dipaha Tia. Heni yang ketakutan itu hanya menurut sambil menangis, sesekali terlihat dia seperti mau muntah namun ditahannya.

“Awas klo elo sampai muntah gue keluarin semua isi perut eloe..ngerti..?” ancamku pada Heni. Gadis itu semakin ketakutan.

Kini penisku sudah berada dibibir vagina Heni, sementara Heni masih menjilatin vagina milik Tia yang baru saja kehilangan keperawanannya , aku terus mencumbu dan meremas dada Tia.

vagina Heni rupanya memang lebih sempit, aku sampai kesulitan beberapa kali membobol keperawanan miliknya. Sampai aku akhirnya benar-benar memaksa penisku barulah aku dapat menembus vagina Heni. Jujur saja ketika memerawani Heni penisku agak sakit karena memang vagina Heni lebih sempit dari vagina milik Tia. Setelah beberapa saat setelah penisku berada dalam vagina Heni yang sudah berdenyut dari sejak awal perawannya kubobol, aku mulai menggerakkan penisku maju mundur . Gilaaa…!! vagina Heni lebih nikmat dari vagina Tia karena memang bentuk tubuh Heni lebih kecil dari bentuk tubuh Tia.

Setengah jam aku memompa vagina Heni sampai akhirnya aku memuntahkan spermaku jauh labih banyak daripada spermaku di vagina Tia. Setelah aku menghabiskan spermaku diliang vagina Heni , aku meyuruh Tia untuk kembali mengulum penisku membersihkan sisa darah keperawanan Heni yang masih melekat di penisku.

Lalu aku berpaling kepada ktiga temanku yang sudah menunggu dengan telanjang dan masing masing penis yang sudah ngaceng.

“Bagaimana..?” Tanyaku……”
“Hebat Jack…….sampai sampai gue ama Joni udah ga tahan niiih…!!!” Kata Bram

“sabar..sabar dulu ya kalian pasti akan menerima bagian masing masing..”
“biar mereka bersihkan vagina mereka dahulu ….ya..?” Kataku

Bram sudah tidak sabar lagi, namun aku mencegahnya.

“Coba lihat dulu ini…”

Lalu aku segera memerintahkan kedua gadis itu untuk saling menjilati vagina temannnya hingga bersih.

Bram tertawa lebar”ha.ha..ha..betul juga maksud elo jack..masa kami dikasih bekas kecap elo…ha..ha..ha”

Setelah mereka melihat kedua vagina milik Sinta dan Tia sudah terlihat bersih dari spermaku dan ceceran darah keperawanan mereka yang masih menempel dipaha. Bram dan joni segera menyergap dan meperkosa kedua gadis malang itu, dilanjutkan dengan acara bertukar pasangan dan tak ketinggalan pula Agus sang ‘kameramen’ yang merekam semua adegan pemerkosaan itu.

Setelah hari menjelang subuh kami menguras seluruh harta kedua gadis itu termasuk motor ATM dan nomer Pin serta perhiasan yang tidak sedikit jumlahnya. Maklum sepertinya mereka anak orang kaya. Sebelum meninggalkan mereka aku sempat mengancam, kalau berani amcam-macam, adegan pemerkosaan itu akan kami sebarluaskan. Setelah itu kami semua pergi meninggalkan mereka hingga beberapa bulan lamanya.

Rupanya rahasia itu masih tersimpan rapi oleh mereka, karena setelah sekian lama kami merantau dan memutuskan untuk pulang kampung ternyata tidak ada tanda tanda bahwa kami dicari oleh pihak kepolisian. Hanya saja Tia dan Heni sudah tidak bertempat tinggal dikostnya lagi, rupanya mereka telah pindah.

Sekian.  http://www.ceritabf.info

Kategori:Tak Berkategori Tag:,

Dina si Pelayan Restoran

24 Desember 2010 1 komentar

Aku sudah sampe semester 7 di sekolah perhotelan yang aku tekuni. Pada semester ini semua mahasiswa wajib melakukan on the job training selama satu semester yang mana hasilnya akan dituangkan menjadi karya tulis akhir pada semester 8 dan diuji untukmenentukan kelulusan mahasiswa tersebut. Kebetulan aku dapet tempat job trining yang asik, di satu hotel bintang 5, Tidak di hotelnya sih tapi di resto cina yang ada di hotel tersebut. Aku mulai job trainingku dengan jadwal yang telah disusun sekolah bersama hotel itu. Temen2ku satu angkatan banyak yang job trining disitu, masing2 ditempatkan terpisah. kami akan belajar untuk mengetahui semua aktivitas hotel dan resto yang ada di hotel itu, jadi akan di rotasi.

Waktu 1 semester sebenarnya gak cukup untuk mempelajari semua aktivitas hotel dan resto tetapi ditentukan berdasar skala prioritas saja seperti house keeping, room service, front office serta food and beverage. Di resto cina itu aku diputer dari bagian yang paling mendasar yaitu cuci piring dan peralatan masak, ke dapur dan akhirnya melayani tamu.


Crita yang aku tulis ini terjadi ketika aku bertugas melayani tamu makan. Walaupun aku trainee, aku diperlakukan sama dengan karyawan lain termasuk pembagian waktu kerja, kadang dapat shift siang kadang malam. Suatu malam, resto lumayan penuh dengan tamu yang santap malam. Baiknya resto mereapkan sistem buffet sehingga mengurangi kerjaan ambil order, setor ke dapur dan mengantarkan pesanan. Tugasku sama seperti tugas karyawan yang laen, melayani permintaan tamu ketika makan, misalnya menyediakan sambal, menuangkan minuman tambahan sampe ada tamu yang minta cabe potongan yang dicampur kecap, ya kudu diladenin. Walaupun aku training di resto cina tapi yang dateng gak cuma orang cina saja, banyak tetamu yang bukan cina juga makan disana, memang sih makanannya dipisah antara yang halal dan haram dengan petunjuk yang jelas, sehingga gak mungkin tetamu salah mengambil makanan. Yang menunggui meja makanan kategori haram selalu memberi tahu secara lisan buat para tetamu yang gak punya tampang cina.

Disatu meja, aku melihat ada seorang bapak2, sejak dia datang aku merasa kalo tu bapak selalu memandangi aku. Orangnya 40an lah, ganteng juga, atletis, suka aku ngeliatnya. Sengaja kalo aku lewat mejanya aku menatap matanya sambil tersenyum, tu bapak juga senyum2 memandangiku. Menjelang dia selesai makan, ketika aku nambahi minumannya, dia menunjuk pada tissue yang dilipat, aku mengambilnya sambil mengangkat piring dan gelas bekan makan. Setelah aku meletakkan pting gelas kotor ditempatnya, aku membuka lipatan tissue itu, ada tulisan, “Din, kasi tau dong no hp kamu, boleh ya”. Dibawahnya dia tuliskan namanya dan no hp nya. Dia tau namaku karena semua karyawan resto termasuk aku diberi name tag. Aku ke toilet sebentar dan ditoilet aku mengirim sms ke no hp tu bapak. Kenapa di toilet, karena kami dilarang menerima telpon ato mengirim sms di ruang makan. Tak lama terasa ada getaran di hpku, si bapak pasti membalasnya, tetapi aku gak bisa membaca smsnya karena sibuk, si bapak meninggalkan resto, dia memandangiku sambil tersenyum, aku membungkuk dan mengucapkan terima kasih, tatacara di resto ketika tamu pergi meninggalkan resto. Ketika istirahat, aku membuka smsnya, “Din, kita jalan yuk setelah kamu kerja, aku seneng deh ngeliat kamu, cantik, seksi pula dibanding waitress lainnya”. Memang seragam karyawan prempuan itu baju cina panjang sampe ke mata kaki tetapi belahan sampingnyanya tinggi sampe ke paha. Kemudian bagian atas pakean itu ketat menempel pada bodi sehingga lekak liku bodi jadi terpampang dengan jelas. Memang si dadaku gak besar tapi gak kecil juga, proporsionallah dengan tinggi badanku. Perutku rata, pinggang langsing. Yang menonjol justru pinggul dan pantatku, pinggulku juga proporisonal dengan ukuran badanku, tapi pantatku lumayan menonjol dan kalo aku jalan pasti pantatku ngegeyol kekiri kekanan mengikuti alunan langkahku. Dengan pakean seragam seperti itu, bentuk pantatku jadi tercetak dengan jelas juga walaupun bagian bawah seragam itu tidak seketat bnagian atasnya. Makanya tu bapak bilang aku seksi, pasti dia tertarik ma bentuk pantatku, dasar lelaki, dimana aja ngeliatin bodi prempuan ja kerjanya. Ya gak apa si, itu kan kodrat lelaki, aku juga seneng sih ada yang muji aku cantik dan seksi, memang sih dari umur aku yang paling muda dari semua waitress yang ada.

Sengaja kubalas smsnya, “memang bapak mo ajak Dina kemana. Dina kerja sampe restonya tutup pak, jam 10an”. Dia menjawab, “dibales artinya mau dong diajak jalan, gak mesti cepet pulang kan, kita hang out ja menhabiskan malam. Aku tunggu kamu di lobi hotel ya”. “Maaf pak, karyawan gak boleh keluar lewat lobby hotel, mesti lewat pintu karyawan dibelakang hotel. Bapak nunggu Dina di pintu keluar gedung parkir aja, Bapak drive sendiri kan”. “So pastilah drive sendiri, gak mampu bayarin sopir”. “Gak mampu bayar supir pa gak mo ketauan yang dirumah”. “Di apartmenku gak ada siapa2 kok, aku kan tinggal sendiri”. “Kok sendiri, blon nikah? Perjaka tua dong”, aku gak sungkan2 ngegodain si bapak. “Bukan, aku dah pisah dan keluargaku tinggal dikota asalnya”. “O gitu pak, sori gak maksud menyinggung”. “Gak papa kok say, ntar kita have fun deh, dah gak sabar neh nunggu kamu selesai kerja”. “Segitu ngebetnya sih, mangnya mo ngapain Dina”. “Gak diapa2in, cuma disayang2 dan berbagi”. “Berbagi apaan pak”. “Kenikmatan”. Wah to the point sekali dia, gak apa jugha sih, aku kan dah lama gak ngerasain kenikmatan dari lelaki sejak udahan ma cowokku. Kembali aku bersibuk ria setelah waktu istirahatku habis, gak kerasa dah waktunya resto tutup, kami masih harus menunggu sampe semua tamu selesai makan dan meninggalkan resto. Setelah semua beres, waktunya aku meeninggalkan resto, membereskan piring kotor dan ruang resto urusan yang tugas di bragian cleaning, memang mereka pulang lebih lambat dari kita2 yang didepan. Aku menukar seragam resto dengan seragam ku sendiri, jins dan t shirt yang serba ketat, aku membawa tas ku menuju ke pintu keluar gedung parkir. “Din, gak pulang bareng?” tanya temenku. “ada temen mo jemput, aku duluan ya”. “Cowok baru ni ye”. Aku cuma senyum, melambai dan meninggalkan temen2 yang biasanya pulang bareng. Didepan pintu keluar geding parkir, agak menyamping sehingga tidak mengganggu arus keluar masuk kendaraan, ada sebuah mobil menunggu. Aku ketuk jendelanya yang gelap dan segera pintunya terbuka, Dia tersenyum, “Lama nunggunya ya pak”, kataku sambil masuk ke mobil. “Jangan manggil pak dong, rasanya jadi tua deh”. “abis masak manggil mas, kaya seumuran ja, manggil om deh ya, Mo kemana nih om”. “Din kamu tu bener2 seksi deh, pake jins dan t shirt gini makin seksi, kita ke pub ja ya, minum2 sambil dengerin musik, kamu gak mesti pulang kan”. “Gak om, Dina kos kok, jadi gak pulang jiuga gak ada yang nyariin”. “Besok kamu dinas malem lagi”. “Iya om”. “Jadi ampe pagi atawa siang gak masalah dong”. “Mo ngapain sampe siang, mangnya pub nya buka sampe siang”. “enggak, kan katanya Dina mo berbagi kenikmatan ma aku”. “Ih si om genit”, kataku sambil mencubit pinggangnya. Aku memang belon pernah jalan ma om om, kata temenku yang langganan om om, sensasinya beda daripada maen ma pacar, makanya karena dah gak punya pacar aku jadi pengen ngerasain juga sensai yang beda itu.

Di pub kita bener2 have fun, aku gak minum alkohol, jadi si om pun gak pesen minuman beralkohol sama sekali, kami guyon ja sambil mendengarkan musik. “Kamu dah sering ya Din maen ma om2″. “Belon pernah om”. “Biasanya maen ma sapa”. “Ma cowok Dina om”. “Asik dong, kluar diluar pa pake kondom”. “Didalem om, polos”. “Gak takut?” “Kan Dina dikasi obati antiny om”. Si om kemudian ngajakin aku turun ketika lagunya slow. Aku didekapnya erat, sambil menggoyang badan pelan sekali, “Aku kesengsem liat kamu deh Din, kamu cantik dan seksi sekali”, dia mulai melancarkan gombalannya, berbisik di telingaku. Karena dia berbisik sembari meniup2 telingaku, aku jadi menggelinjang. “Napa Din kok menggelinjang, belon diapa2in”. “Abis om bisiknya sembari ditiup sih, kan geli”. “Kirain dah napsu”. “Yang napsu kan om, toked Dina ja digesek2 ma dada om terus”. “Iya Din aku dah napsu nih, ketempatku aja yuk nerusinnya”. Aku iyain ajakannya, aku juga dah pengen ngerasain gimana gaya om2 kalo maen, tiupan di telinga, ciuman lembut di leher dan tokedku yang digesek2 dadanya yang bisang menaikkan voltageku juga. “Ke apartmentku ya”, katanya ketika dah dimobil. Aku hanya terdiam saja sambil membayangkan apa yang akan dilakukannya di apartment kepadaku. Aku tidak banyak bicara selama perjalanan ke apartment. Sesampainya di apartment, dia memarkir mobilnya ke basement dan kemudian menggandeng aku ke lift. Di dalam lift aku dipeluknya. Aku merasa hangat dalam pelukannya, memang beda sensasinya dengan dipeluk cowokku dulu, terasa lebih romatis seperti layaknya suami istri. Maklum duda kali ya, jadi dia memperlakukan aku kayak aku ini dah jadi istrinya. “Om romantis ya”. Dia cuma tersenyum mendengar ucapanku, pipiku dikecupnya pelan. “Om sering ya bawa abg”, tanyaku sambil tersenyum. “Suka juga”, jawabnya. Ya normal lah, lelaki seperti dia kan perlu menyalurkan kebutuhan biologisnya dan seumur dia pasti pengen dengan prempuan yang masih abege.

Di apartment, kita duduk di sofa, dia mengambilkan minuman dan menyalakan TV. Kami tak banyak bicara karena perhatian tertuju ke tv, tapi aku makin berdebar2 menunggu apa yang akan terjadi. Akhirnya dia pindah duduk di sampingku, menghadapkan tubuhnya ke arahku dan meletakkan tangan kanannya di atas perutku sambil memasukkan tangannya kebalik t shirt yang kukekankan dan mengilik2 puserku. “Yang…” katanya lirih di telingaku. Merinding aku mendengarnya memanggil aku yang. “Napa om…”, belum selesai aku menjawab, kurasakan bibirnya sudah menyentuh leherku, terus menyusur ke pipiku. Tubuhnya bergeser merapat, bibirku dilumatnya dengan lembut. aku juga mengulum bibirnya. Sensasi yang belum pernah kudapat dari cowokku dulu. Sedang kunikmati lidahnya yang menjelajah di mulutku, kurasakan tangannya menyelusup kedalam t shirtku dan meremas lembut dadaku yang masih terbungkus bra. Ohh.., dadaku ternyata tercakup seluruhnya dalam tangannya. Dan aku rasanya sudah tidak kuat menahan gejolak napsuku, padahal baru awal pemanasan.

Bibirnya mulai meneruskan jelajahannya, sambil melepaskan t shirtku, leherku dikecup, dijilat kadang digigit lembut. Sambil tangannya terus meremas-remas dadaku. Kemudian tangannya menjalar ke punggungku dan melepas kaitan braku sehingga dadaku bebas dari penutup. Bibirnya terus menelusur di permukaan kulitku. Dan mulai pentil kiriku tersentuh lidahnya dan dihisap. Terus pindah ke pentil kanan. Kadang-kadang seolah seluruh dadaku akan dihisap. Dan tangan satunya mulai turun dan memainkan puserku, terasa geli tapi nikmat, napsuku makin berkobar karena elusan tangannya. Kemudian tangannya turun lagi dan menjamah selangkanganku. meqiku yang pasti sudah basah sekali. Lama hal itu dilakukannya sampai akhirnya dia kemudian membuka ristsluiting jins ku dan menariknya ke bawah, aku mengangkat pantatku utnk mempermudah dia melepaskan jinsku. Tinggalah CD miniku ku yang tipis yang memperlihatkan buluku yang lebat, saking lebatnya buluku muncul di kiri kanan dan dibagian atas dari cd mini itu. buluku lebih terlihat jelas karena CD ku sudah basah karena cairan meqiku yang sudah banjir. Dibelainya celah meqiku dengan perlahan. Sesekali jarinya menyentuh klitku karena ketika dielus pahaku otomatis mengangkang agar dia bisa mengakses daerah meqiku dengan leluasa. Bergetar semua rasanya tubuhku, kemudian CD ku yang sudah basah itu dilepaskannya. Aku kembali mengangkat pantatku agar dia bisa melepas pembungkus tubuhku yang terakhir.

Jarinya mulai sengaja memainkan klit-ku. Dan akhirnya jari itu masuk ke dalam meqiku. Oh, nikmatnya, bibirnya terus bergantian menjilati pentil kiri dan kanan dan sesekali dihisap dan terus menjalar ke perutku. Dan akhirnya sampailah ke meqiku. Kali ini diciumnya buluku yang lebat dan aku rasakan bibir meqiku dibuka dengan dua jari. Dan akhirnya kembali meqiku dibuat mainan oleh bibirnya, kadang bibirnya dihisap, kadang klitku, namun yang membuat aku tak tahan adalah saat lidahnya masuk di antara kedua bibir meqiku sambil menghisap klitku. Dia benar benar mahir memainkan meqiku. Hanya dalam beberapa menit aku benar-benar tak tahan. Dan.. Aku mengejang dan dengan sekuatnya aku berteriak sambil mengangkat pantatku supaya merapatkan klitku dengan mulutnya, kuremas-remas rambutnya yang mulai menampakkan ubannya dibalik cat rambut yang mulai memudar, aku merasakan nikmatnya nyampe hanya dengan bibir dan lidahnya. Dia terus mencumbu meqiku, rasanya belum puas dia memainkan meqiku hingga napsuku bangkit kembali dengan cepat. “Pak, Dina sudah pengen dienjot.” kataku memohon sambil kubuka pahaku lebih lebar.
Tapi dia bangkit, mengangkat badanku yang sudah lemes dan dibawanya ke kamar. Di kamar, aku dibaringkan di tempat tidur ukuran besar dan dia mulai membuka bajunya, kemudian celananya. Aku terkejut melihat batangnya yang besar dan panjang nongol dari bagian atas CDnya, gak kebayang ada batang sebesar punya dia, soalnya batang yang biasa aku lihat ya batang cowokku, rasanya sudah besar tapi gak ada apa2nya dibanding batang si om. Kemudian dia juga melepas CD nya. Sementara itu aku dengan berdebar terbaring menunggu dengan semakin berharap.

batangnya yang besar dan panjang dan sudah maksimal tegangnya, tegak hampir menempel ke perut. aku merinding apakah muat batang segitu besarnya di meqiku yang biasanya cuma kemasukan batang yang jauh lebih kecil. Dan saat dia pelan-pelan menindihku, aku membuka pahaku makin lebar, rasanya tidak sabar meqiku menunggu masuknya batang extra gede itu. Aku pejamkan mata. Dia mulai mendekapku sambil terus mencium bibirku, kurasakan bibir meqiku mulai tersentuh ujung batangnya. Sebentar diusap-usapkan dan pelan sekali mulai kurasakan bibir meqiku terdesak menyamping. Terdesak batang besar itu. Ohh, benar benar kurasakan penuh dan sesak liang meqiku dimasuki batangnya. Aku menahan nafas. Dan nikmat luar biasa. Mili per mili. Pelan sekali terus masuk batangnya. Aku mendesah tertahan karena rasa yang luar biasa nikmatnya. Terus.. Terus..Akhirnya ujung batang itu menyentuh bagian dalam meqiku, maka secara refleks kurapatkan pahaku. Ternyata sangat mengganjal sekali rasanya, besar, keras dan panjang. Dia terus menciumi bibir dan leherku.

Dan tangannya tak henti-henti meremas-remas dadaku. Tapi konsentrasi kenikmatanku tetap pada batang besar yang mulai dienjotkan halus dan pelan. Mungkin dia menyadarinya, supaya aku tidak kesakitan. Aku benar benar cepat terbawa ke puncak nikmat. Nafasku cepat sekali memburu, terengah-engah. Aku benar benar merasakan nikmat luar biasa merasakan gerakan batang besar itu. Maka hanya dalam waktu yang singkat aku makin tak tahan. Dan dia tahu bahwa aku semakin hanyut. Maka makin gencar dia melumat bibirku, leherku dan remasan tangannya di dadaku makin kuat. Dengan tusukan batangnya yang agak kuat dan dipepetnya klitku dengan menggoyang goyangnya, aku menggelepar, tubuhku mengejang, tanganku mencengkeram kuat-kuat sekenanya. meqiku menegang, berdenyut dan mencengkeram kuat-kuat, benar-benar puncak kenikmatan yang ruar binasa. aku benar benar menerima kenikmatan yang luar biasa seperti ini dari cowokku dulu. Aku tak ingat apa-apa lagi kecuali kenikmatan dan kenikmatan. “Om, Dina nyampe om”, Aku sendiri terkejut atas teriakkan kuatku. Setelah selesai, pelan pelan tubuhku lunglai, lemas. Setelah dua kali aku nyampe dalam waktu relatif singkat, namun terasa nyaman sekali, Dia membelai rambutku yang basah keringat. Kubuka mataku, Dia tersenyum dan menciumku lembut sekali, tak henti hentinya dadaku diremas-remas pelan.

Tiba tiba, serangan cepat bibirnya melumat bibirku kuat dan diteruskan ke leher serta tangannya meremas-remas dadaku lebih kuat. Napsuku naik lagi dengan cepat, saat kembali dia memainkan batangnya semakin cepat. Uhh, sekali lagi aku nyampe, yang hanya selang beberapa menit, dan kembali aku berteriak lebih keras lagi. Dia terus memainkan batangnya dan kali ini dia ikut menggelepar, wajahnya menengadah. Satu tangannya mencengkeram lenganku dan satunya menekan dadaku. Aku makin meronta-ronta tak karuan. Puncak kenikmatan diikuti semburan mani yang kuat di dalam meqiku, menyembur berulang kali. Oh, terasa banyak sekali mani kental dan hangat menyembur dan memenuhi meqiku, hangat sekali dan terasa sekali mani yang keluar seolah menyembur seperti air yang memancar kuat. Setelah selesai, dia memiringkan tubuhnya dan tangannya tetap meremas lembut dadaku sambil mencium wajahku. Aku senang dengan perlakuannya terhadapku. “Yang, kamu luar biasa, meqimu peret dan nikmat sekali” pujinya sambil membelai dadaku.”Om juga hebat. Bisa membuat Dina nyampe beberapa kali, dan baru kali ini Dina bisa nyampe dan merasakan batang raksasa. Hihi..” “Oo gitu ya Yang, Jadi kamu suka dengan batangku?” godanya sambil menggerakkan batangnya dan membelai belai wajahku. “Ya om, batang om nikmat, besar, panjang dan keras banget” jawabku jujur. Dia tidak langsung mencabut batangnya, tapi malah mengajak mengobrol sembari batangnya makin mengecil. Dan tak henti-hentinya dia menciumku, membelai rambutku dan paling suka membelai dadaku. Aku merasakan maninya yang bercampur dengan cairan meqiku mengalir keluar. Setelah cukup mengobrol dan saling membelai, pelan-pelan batang yang telah menghantarkan aku ke awang awang itu dicabut sambil dia menciumku lembut sekali. Benar benar aku terbuai dengan perlakuannya. aku tertidur dalam pelukannya, merasa nyaman dan benar-benar aku terpuaskan.

Menjelang pagi, aku bangun masih dalam pelukannya. Katanya aku tidur nyenyak sekali, sambil membelai rambutku. Kurang lebih setengah jam kami berbaring berdampingan. Ia lalu mengajakku mandi. Dibimbingnya aku ke kamar mandi, saat berjalan rasanya masih ada yang mengganjal meqiku dan ternyata masih ada mani yang mengalir di pahaku, mungkin saking banyaknya dia memuncratkan maninya di dalam meqiku. Dalam bathtub yang berisi air hangat, aku duduk di atas pahanya.

Cerita Dewasa – Dia mengusap-usap menyabuni punggungku, dan akupun menyabuni punggungnya. Dia memelukku sangat erat hingga dadanya menekan dadaku. Sesekali aku menggeliatkan badanku sehingga pentilku bergesekan dengan dadanya yang dipenuhi busa sabun. Pentilku semakin mengeras. Pangkal pahaku yang terendam air hangat tersenggol2 batangnya. Hal itu menyebabkan napsuku mulai berkobar kembali. Aku di tariknya sehingga menempel lebih erat ke tubuhnya. Dia menyabuni punggungku. Sambil mengusap-usapkan busa sabun, tangannya terus menyusur hingga tenggelam ke dalam air. Dia mengusap-usap pantatku dan diremasnya. batangnya pun mulai tegang ketika menyentuh meqiku. Terasa bibir luar meqiku bergesekan dengan batangnya. Dengan usapan lembut, tapak tangannya terus menyusuri pantatku. Dia mengusap beberapa kali hingga ujung jarinya menyentuh lipatan daging antara lubang pantat dan meqiku.

“Om nakal!” desahku sambil menggeliat mengangkat pinggulku. Walau tengkukku basah, aku merasa bulu roma di tengkukku meremang akibat nikmat dan geli yang mengalir dari meqiku. Aku menggeliatkan pinggulku. Ia mengecup leherku berulang kali sambil menyentuh bagian bawah bibir meqiku. Tak lama kemudian, tangannya semakin jauh menyusur hingga akhirnya kurasakan lipatan bibir luar meqiku diusap-usap. Dia berulang kali mengecup leherku. Sesekali lidahnya menjilat, sesekali menggigit dengan gemas. “Aarrgghh.. Sstt..Sstt..” rintihku berulang kali. Lalu aku bangkit dari pangkuannya. Aku tak ingin nyampe hanya karena jari yang terasa kesat di meqiku. Tapi ketika berdiri, kedua lututku terasa goyah. Dengan cepat dia pun bangkit berdiri dan segera membalikkan tubuhku. Dia tak ingin aku terjatuh. Dia menyangga punggungku dengan dadanya. Lalu diusapkannya kembali cairan sabun ke perutku. Dia menggerakkan tangannya keatas, meremas dengan lembut kedua dadaku dan pentil ku dijepit2 dengan jempol dan telunjuknya. Pentil kiri dan kanan diremas bersamaan. Lalu dia mengusap semakin ke atas dan berhenti di leherku. “Om, lama amat menyabuninya” rintihku sambil menggeliatkan pinggulku. Aku merasakan batangnya semakin keras dan besar. Hal itu dapat kurasakan karena batangnya makin dalam terselip dipantatku. Tangan kiriku segera meluncur ke bawah, lalu meremas bijinya dengan gemas. Dia menggerakkan telapak kanannya ke arah pangkal pahaku. Sesaat dia mengusap usap bulu lebatku, lalu mengusap meqiku berulang kali. Jari tengahnya terselip di antara kedua bibir luar meqiku. Dia mengusap berulang kali. klitku pun menjadi sasaran usapannya. “Aarrgghh..!” rintihku ketika merasakan batangnya makin kuat menekan pantatku. Aku merasa lendir membanjiri meqiku. Aku jongkok agar meqiku terendam ke dalam aibersihkan celah diantara bibir meqiku dengan mengusapkan 2 jariku.

Ketika menengadah kulihat batangnya telah berada persis didepanku. batangnya telah tegang berat. Kuremas batangnya, lalu kuarahkan ke mulutku. Kukecup ujung kepala batangnya. Tubuhnya bergetar menahan nikmat ketika aku menjilati kepala batangnya. Dia meraih bahuku karena tak sanggup lagi menahan napsunya. Setelah berdiri, kaki kiriku diangkat dan letakkan di pinggir bath tub. Aku dibuatnya menungging sambil memegang dinding di depanku dan dia menyelipkan kepala batangnya ke celah di antara bibir meqiku. “Argh, aarrgghh..,!” rintihku. Dia menarik batangnya perlahan-lahan, kemudian mendorongnya kembali perlahan-lahan pula. Bibir luar meqiku ikut terdorong bersama batangnya. Perlahan-lahan menarik kembali batangnya sambil berkata “Enak Yang?” “Enaak banget om”, jawabku!” Dia mengenjotkan batangnya dengan cepat sambil meremas bongkah pantat ku dan tangan satunya meremas dadaku.

“Aarrgghh..!” rintihku ketika kurasakan batangnya kembali menghunjam meqiku. Aku terpaksa berjinjit karena batang itu terasa seolah membelah meqiku karena besarnya. Terasa meqiku sesek kemasukan batang besar dan panjang itu. Kedua tangannya dengan erat mememegang pinggulku dan dia memainkan batangnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Terdengar ‘cepak-cepak’ setiap kali pangkal pahanya berbenturan dengan pantatku. “Aarrgghh.., aarrgghh..! Om.., Dina nyampe..!” Aku lemas ketika nyampe lagi untuk kesekian kalinya. Rupanya dia juga tidak dapat menahan maninya lebih lama lagi. “Aarrgghh.., Yang”, kata nya sambil menghunjamkan batangnya sedalam=dalamnya. “Om.., sstt, sstt..” kataku karena berulangkali ketika merasa tembakan mainya dimeqiku. “Aarrgghh.., Yang, enaknya!” bisiknya ditelingaku. “Pak.., sstt.., sstt..! Nikmat sekali ya dienjot om”, jawabku karena nikmatnya nyampe. Dia masih mencengkeram pantatku sementara batangnya masih nancep dimeqiku. Beberapa saat kami diam di tempat dengan batangnya yang masih menancap di meqiku.

Kemudian Dia membimbingku ke shower, menyalakan air hangat dan kami berpelukan mesra dibawah kucuran air hangat. Akhirnya terasa juga perut lapar yang sudah minta diisi. Setelah selesai dia keluar duluan, sedang aku masih menikmati shower.

Selesai mandi dengan rambut yang masih basah dan masih bertelanjang bulat aku keluar. Di ruang makan, dia sudah menyiapkan makan berupa sandwich dan kentang goreng lengkap dengan teh dan kopi. Aku dipersilakan minum dan makan sambil mengobrol, “Kok ada sandwich dan kentang goreng om” “aku makan paginya ya kaya gini. Aku beli ja kentangnya yang dibekuin, tinggal diangetin dan digoreng deh”. Setelah aku makan, dia lalu memintaku duduk di pangkuannya. Aku menurut saja. Terasa kecil sekali tubuhku. Sambil mengobrol, aku dimanja dengan belaiannya. diraihnya daguku, dan diciumnya bibirku dengan hangatnya, aku mengimbangi ciumannya. Dan selanjutnya kurasakan tangannya mulai meremas-remas lembut dadaku, kemudian tangannya menelusuri antara dada dan pahaku. Nikmat sekali rasanya, tapi aku sadar bahwa sesuatu yang aku duduki terasa mulai agak mengeras. langsung aku bangkit. Aku bersimpuh di depannya dan ternyata batangnya sudah mulai tegang, walau masih belum begitu mengeras. Kepala batangnya langsung aku kulum sambil lidahku berputar di leher kepala batangnya. Tapi hanya bisa sesaat, sebab dengan cepatnya batangnya makin membengkak dan dia mulai menggeliat dan berdesis menahan kenikmatan permainan lidahku dan membuat mulutku semakin penuh. “Om hebat ya baru muncrat di meqi Dina sudah tegang lagi, kita lanjut yuk om”, kataku yang juga sudah terangsang.

Rupanya dia makin tak tahan menerima rangsangan lidahku. Maka aku ditarik dan diajak ke tempat tidur. Dia membuka kakiku dan langsung menelungkup di antara pahaku. “Aku suka melihat meqi kamu Yang” ujarnya sambil membelai bulu buluku yang lebat. “Mengapa?” “Sebab bulumu lebat dan cewek yang bulunya lebat napsunya besar, kalau dienjot jadi binal seperti kamu, juga tebal bibirnya”. Aku merasakan dia terus membelai buluku dan bibir meqiku. Kadang-kadang dicubit pelan, ditarik-tarik seperti mainan. Aku suka meqiku dimainkan berlama-lama, aku terkadang melirik apa yang dilakukannya. Seterusnya dengan dua jarinya membuka bibir meqiku, aku makin terangsang dan aku merasakan makin banyak keluar cairan dari meqiku. Dia terus memainkan meqiku seolah tak puas-puas memperhatikan meqiku, kadang kadang disentuh sedikit klit-ku, membuat aku penasaran. Tak sadar pinggulku mulai menggeliat, menahan rasa penasaran. Maka saat aku mengangkat pinggulku, langsung disambut dengan bibirnya. Terasa dia menghisap lubang meqiku yang sudah penuh cairan. Lidahnya ikut menari kesana kemari menjelajah seluruh lekuk meqiku, dan saat dihisapnya klit-ku dengan ujung lidahnya, cepat sekali menggelitik ujung klitku, benar benar aku tersentak. Terkejut kenikmatan, membuat aku tak sadar berteriak.. “Aauuhh!!”. Benar benar hebat dia merangsangku, dan aku sudah tak tahan lagi. “Ayo dong om, Dina pingin dienjot lagi” ujarku sambil menarik bantal.

Dia langsung menempatkan tubuhnya makin ke atas dan mengarahkan batang gedenya ke arah meqiku. Aku masih sempat melirik saat dia memegang batangnya untuk diarahkan dan diselipkan di antara bibir meqiku. Kembali aku berdebar. Dan saat kepala batangnya telah menyentuh di antara bibir meqiku, aku menahan nafas untuk menikmatinya. Dan dilepasnya dari pegangan saat kepala batangnya mulai menyelinap di antara bibir meqiku dan menyelusup lubang meqiku hingga aku berdebar nikmat. Pelan-pelan ditekannya dan dia mulai mencium bibirku lembut. Kali ini aku lebih dapat menikmatinya. Makin ke dalam.. Oh, nikmat sekali. Kurapatkan pahaku supaya batangnya tidak terlalu masuk ke dalam. Dia langsung menjepit kedua pahaku hingga terasa sekali batangnya menekan dinding meqiku. batangnya semakin masuk. Belum semuanya masuk, Dia menarik kembali seolah akan dicabut hingga tak sadar pinggulku naik mencegahnya agar tidak lepas. Beberapa kali dilakukannya sampai akhirnya aku penasaran dan berteriak-teriak sendiri. Setelah dia puas menggodaku, tiba tiba dengan hentakan agak keras, dipercepat gerakan memainnya hingga aku kewalahan. Dan dengan hentakan keras serta digoyang goyangkan, tangan satunya meremas dadaku, bibirnya dahsyat menciumi leherku. Akhirnya aku mengelepar-gelepar. Dan sampailah aku kepuncak. Tak tahan aku berteriak, terus Dia menyerangku dengan dahsyatnya, rasanya tak habis-habisnya aku melewati puncak kenikmatan. Lama sekali. Tak kuat aku meneruskannya. Aku memohon, tak kuat menerima rangsangan lagi, benar benar terkuras tenagaku dengan orgasme berkepanjangan. Akhirnya dia pelan-pelan mengakhiri serangan dahsyatnya. Aku terkulai lemas sekali, keringatku bercucuran. Hampir pingsan aku menerima kenikmatan yang berkepanjangan. Benar-benar aku tidak menyesal main dengan dia, dia memang benar-benar hebat dan mahir dalam main, dia dapat mengolah tubuhku menuju kenikmatan yang tiada tara.

Lamunanku lepas saat pahanya mulai kembali menjepit kedua pahaku dan dirapatkan, tubuhnya menindihku serta leherku kembali dicumbu. Kupeluk tubuhnya yang besar dan tangannya kembali meremas dadaku. Pelan-pelan mulai dienjotkan batangnya. Kali ini aku ingin lebih menikmati seluruh rangsangan yang terjadi di seluruh bagian tubuhku. Tangannya terus menelusuri permukaan tubuhku. Dadanya yang berbulu merangsang dadaku setiap kali bergeseran mengenai pentilku. Dan batangnya dipompakan dengan sepenuh perasaan, lembut sekali, bibirnya menjelajah leher dan bibirku. Ohh, luar biasa. Lama kelamaan tubuhku yang semula lemas, mulai terbakar lagi. Aku berusaha menggeliat, tapi tubuhku dipeluk cukup kuat, hanya tanganku yang mulai menggapai apa saja yang kudapat. Dia makin meningkatkan cumbuannya dan memompakan batangnya makin cepat. Gesekan di dinding meqiku makin terasa. Dan kenikmatan makin memuncak. Maka kali ini leherku digigitnya agak kuat dan dimasukkan seluruh batang batangnya serta digoyang-goyang untuk meningkatkan
rangsangan di klit-ku. Maka jebol lah bendungan, aku mencapai puncak kembali. Kali ini terasa lain, tidak liar seperti tadi.

Puncak kenikmatan ini terasa nyaman dan romantis sekali, tapi tiba tiba dia dengan cepat memain lagi. Kembali aku berteriak sekuatku menikmati ledakan orgasme yang lebih kuat, aku meronta sekenaku. Gila, batinku, dia benar-benar membuat aku kewalahan. Kugigit pundaknya saat aku dihujani dengan kenikmatan yang bertingkat-tingkat. Sesaat dia menurunkan gerakannya, tapi saat itu dibaliknya tubuhku hingga aku di atas tubuhnya. Aku terkulai di atas tubuhnya. aku keluarkan batangnya dari meqiku. Dan kuraih batangnya. Tanpa pikir panjang, batang yang masih berlumuran cairan meqiku sendiri kukulum dan kukocok. Dan pinggulku diraihnya hingga akhirnya aku telungkup di atasnya lagi dengan posisi terbalik. Kembali meqiku yang berlumuran cairan jadi mainannya, aku makin bersemangat mengulum dan menghisap sebagian batangnya. Dipeluknya pinggulku hingga sekali lagi aku orgasme. Dihisapnya klitku sambil ujung lidahnya menari cepat sekali. Tubuhku mengejang dan kujepit kepalanya dengan kedua pahaku dan kurapatkan pinggulku agar bibir meqiku merapat ke bibirnya. Ingin aku berteriak tapi tak bisa karena mulutku penuh, dan tanpa sadar aku menggigit agak kuat batangnya dan kucengkeram kuat dengan tanganku saat aku masih menikmati orgasme.

“Yang, aku mau muncrat yang, di dalam meqimu ya”, katanya sambil menelentangkan aku. “Ya, om”, jawabku. Dia menaiki aku dan dengan satu hentakan keras, batangnya yang besar sudah kembali menyesaki meqiku. Dia langsung memain batangnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Dalam beberapa enjotan saja tubuhnyapun mengejang. Pantat kuhentakkan ke atas dengan kuat sehingga batangnya nancap semuanya ke dalam meqiku dan akhirnya crot .. crot ..crot, maninya muncrat dalam beberapa kali semburan kuat. Herannya, muncratnya yang ketiga masih saja maninya keluar banyak, memang luar biasa stamina Bapak. Dia menelungkup diatasku sambil memelukku erat2. “Yang, nikmat sekali main sama kamu, meqi kamu kuat sekali cengkeramannya ke batangku”, bisiknya di telingaku. “Ya om, Dina juga nikmat sekali, tentu saja cengkeraman meqi Dina terasa kuat karena batang om kan gede banget. Rasanya sesek deh meqi Dina kalau om neken batangnya masuk semua. Kalau ada kesempatan, Dina dienjot lagi ya om”, jawabku. “Ya sayang”, lalu bibirku diciumnya dengan mesra.

Sekian. http://www.ceritabf.info

Kategori:Tak Berkategori Tag:,

Linda Bohay Diperkosa Bergiliran

14 Desember 2010 Tinggalkan komentar

Warung remang-remang yang menjual minuman keras itu , terletak jauh dari keramaian di pinggir kota . Warung itu selalu buka dan hampir tak pernah tutup . Hampir seluruh pengunjungnya adalah laki-laki pemabuk, preman, bandit , rampok , pembuat onar. Tempat itu menjadi sarang penjahat .

Sejumlah preman terlihat sedang asik minum-minum. Empat dari mereka bermain kartu remi yang sudah lusuh . dan yang lima lainnya sedang berbicara dengan Rony. Mereka sedang merencanakan perampokan terhadap toko emas di kota

Setelah berbicara cukup lama , Rony menyalakan Rokoknya , lalu berjalan ke luar warung . Matanya menerawang jauh , menatap jalan kecil yang mulai gelap itu . Sampai matanya agak memicing , karena silau , tersorot lampu mobil .

Suzuki Carry itu tepat berhenti di samping Rony . Perlahan kaca gelap mobil itu terbuka , dan terlihat sosok gadis muda . “ malam pak , numpang tanya , perumahan cemara indah , dimana pak..” suara gadis itu begitu lembut , membuat birahi Rony jadi bangkit .

Rony menatap gadis itu , dia tersenyum , di otaknya mencari cara , untuk memperdaya gadis itu .

“ sebenarnya bisa lewat jalan ini terus lurus , tapi jalan di depan ada galian kabel , jadi harus muter , terus lewat gang kecil di sebelah sana..” kata ronny membohonginya .

“ Oh , lewat jalan gang .. yang mana yah pak..” kata gadis itu lagi . “ wah jalannya sempit dan rusak , terus agak belok belok..” kata Rony lagi .

Gadis itu diam , sepertinya binggung . “ begini saja , biar saya antar , saya naik motor , nanti kamu ikuti motor saya ..” kata Rony .

Gadis itu tersenyum , “ wah , terima kasih , jadi repotin bapak saja nih..” .

Rony tersenyum , jantungnya berdetak lebih cepat , rencananya sudah makin mendekati ke mangsanya . Rony tersenyum lagi lalu berkata “ tidak apa apa koq , tapi saya mau makan dulu yah.. di warung dalam sana .. kamu tunggu saja sebentar..” .

Rony berencana , untuk mengepungnya bersama teman temannya dan membawanya masuk ke warung itu .

Tapi di luar dugaan Rony , gadis itu malah turun dari mobil suzuki carry itu. “ eh pak , saya juga agak haus .. saya ingin minum juga..” katanya .

Itu langkah yang salah , gadis itu tak menyadari banyak serigala lapar di dalam sana
Rony tersenyum sekali lagi , dan menatap gadis itu . Yang berpakaian seksi dan sensual. Dia mengenakan gaun pesta . Bagian dadanya lumayan rendah membuat belahan dadanya agak terlihat .

Buah dada gadis itu tidak besar, tapi padat dan bulat, dan tetap mengacung walaupun ia tidak mengenakan BH sekalipun. Pantatnya juga terlihat bulat di tutupi oleh gaun pesta itu.

Panjang gaun malam itu hanya sampai sepuluh senti di atas lutut , membuat kakinya yang panjang terlihat jelas, halus, putih mulus. Karena ketatnya gaun yang ia pakai, gadis itu berjalan perlahan, masuk ke dalam warung itu. Rambutnya yang berwarna kecoklatan jatuh tergerai di punggungnya.

Setelah gadis itu berada di dalam warung itu , Dia tidak yakin apakah memang tempat ini yang baik , setelah matanya melihat keadaan di sekelilingnya. Ia sendiri harus bertanya beberapa kali kenapa bisa sampai ke tempat ini.

Gadis itu mulai grogi , dia terus dekat Rony yang asik melahap mie instan rebus , lalu memutuskan untuk memesan teh botol dan sambil berdiri menunggu sebentar.

Keempat orang yang sedang bermain kartu remi memandanginya dengan mata melotot penuh nafsu birahi .Gadis itu sendiri merasa merinding ketika matanya menatap mata mereka. Mereka menjilati bibir mereka setiap kali mata Selly beradu pandang dengan mereka. Tak lama , suasana semakin memanas .

“ pak , ayo tolong antarkan saya.” kata gadis itu pada Romy . Rony tersenyum “ sabar yah , oh iyah nama kamu siapa sih ” . Gadis itu tak menjawab . Tapi Rony bertanya lagi “ eh , nama kamu siapa ?” . “ Linda “ jawabnya singkat.

“ Oh nama eloe bagus juga , “ kata Rony . Linda berkata lagi “ ayo pak , nanti saya bayar ongkosnya , tolong bapak antar saya sekarang “ .

Rony tersenyum sinis , lalu tangannya hinggap di pantat Linda dan merabanya . Gadis itu tersendak “ eh.. jangan kurang ajar yah..” katanya . Rony tersenyum menyeringai “ he he he baru gitu aja eleo udah marah , gimana kalo gua entot loe..” .

Nada bicara Rony berubah , yang tadinya lembut ,sekarang jadi kasar . Linda menyadarinya , ini tidak baik . Segera dia menuju ke pintu , untuk pergi dari sana . Tapi terlambat , dua orang bandit berada di depan pintu . Mereka berdiri sambil mengusapi selangkangan mereka .

“Hei Non, gimana kalo loe buka baju eleo , jadi kita bisa senang senang!” seseorang dari mereka berkata. “Gimana kalo kita nyanyi sama-sama , sambil telanjang Non?” yang lain menimpali.

Linda mulai panik , “ minggir , saya mau pergi ..” katanya .

Tapi seseorang segera mendekatinya dan menempatkan tangannya di bahunya serta mendorongnya duduk di kursi sementara preman itu sendiri duduk di sebelah Linda. “ Hei , apa apa nih..” kata Linda

Kemudian tanpa aba aba , preman itu menjilat dan mencium telinga Linda .Linda berontak , dan menjerit “ apa apa nih , bajingan… “ . Lalu tangan Linda reflek menampar pipi preman itu . Teman temannya yang lain tertawa tawa .

Tiba tiba , preman itu mencabut belatinya , dan menancap belati itu di kursi kayu yang di duduki Linda , tepat di antar kedua paha Linda . Untungnya belati itu tak sampai melukai pahanya .

Linda hanya bisa memandangi belati mengkilap itu dengan mulut terbuka tak percaya kejadian ini harus menimpa dirinya .

Ketika Linda tidak mengatakan apa-apa, orang itu memasukkan tangannya ke dalam gaun Linda, merabai pahanya dan berusaha membuka kaki Linda. “ Hei , apa apa nih tolong , jangan “ . Linda meronta dan memandang sekelilingnya dengan tatapan memelas mohon pertolongan.

“ Hei , jangan gangu dia , dia milik gua..” bentak Rony . Dan preman itu melepaskan tangannya .

Rony segera mendekati pintu dan menguncinya. Dua orang preman memegang tangan Linda yang terus berusaha meronta dan menjerit, “ Tolong.. tolong… lepaskan… jangan…” dari atas tempat duduknya. Kedua laki-laki itu berkata “ yah terus menjerit .. gua suka dengar suara jeritan eleo…”

Wajah Linda memutih pucat ketakutan, dan memohon pada mereka untuk melepaskan dirinya.

Tapi dua dari preman itu segera menarik tangannya , dan membawanya ke meja kayu , yang biasa dipakai buat makan . Linda terus meronta . Tangan preman itu menjambak rambutnya . Akhirnya mereka berhasil membawa dan membaringkan Linda di meja kayu itu .

Kemudian kedua tangannya di ikat pada kaki meja . Kini tangan linda , terikat terbuka , satu ke kiri dan satu kekanan . Kini Linda terbaring tak berdaya , dengan tangan terikat seperti di salib . Hanya kakinya yang bergerak menendang nendang tanpa arah . Juga jerit tangisnya yang memilu .

“ Yah , terus berontak , gua suka sekali melihatnya..” kata Rony tertawa . Linda terus berontak , dan menangis memohon dilepaskan . Tapi Rony hanya tertawa . “ eh , eloe orang minggir , liatin gua aja yah , cewek ini punya gua..” kata Rony pada teman temannya.

Teman temannya hanya tertawa tawa .

Lalu Rony segera merobek gaun Linda , dengan bantuan belatinya . Sekali tarik gaun itu lepas seluruhnya di sertai jeritan Linda .

Semua mata langsung tertuju pada tubuh Linda yang hanya memakai celana dalam hitam , dan juga bra yang hitam .

Rony merangkak naik keatas meja . Tapi Linda segera menedangnya . Rony cepat tanggap ,menangkis tendangannya , lalu memukul keras perutnya , Linda menjerit kesakitan “ aduh , ampun jangan pukul…” .

Rony pun turun lagi , dan mengikat kedua kakinya pada kaki meja itu . Kini Linda benar benar tak berkutik . Dia terikat diatas meja dengan kaki terbuka lebar. “ Ha ha cewek sialan loe , ayo berontak lagi..” kata Rony.

Linda hanya bisa menitikan air mata . Dan Rony pun segera mendekatkan mukanya pada selangkanan Linda , menciumi aroma vaginanya yang masih terbungkus celana dalamnya. Linda mengelijing dan memohon “ tolong hentikan jangan lakukan ini…” . Tapi itu sia sia saja .

Rony terus saja menciumi celana dalamnya , dan tak lama dengan belatinya itu dia merobek celana dalam dan Bra Linda . Kini tubuh Linda terbuka , tanpa sehelai benang pun . Rony menatap tubuh telanjang gadis itu , demikian juga preman preman bejat lainnya.

Buah dada Linda yang montok , vaginanya yang kecil dengan sedikit bulu bulu kemaluannya. Rony segera mendekat ke vaginanya . Dengan dua jarinya dia membuka lebar bibir vagina Linda .” wah , memek eloe masih bagus yah , apa eloe masih perawan..” kata Rony.

Linda tak menjawab , hanya terisak tangis . Rony pun mejulurkan lidah menjilati klitorisnya . Linda mengelijing dan meronta “ sudah tolong hentikan ” . Rony terus saja bernafsu melumat vagina Linda . Membuat Linda terus mengelijing .

“ aghhh “ jerit Linda , ketika Rony memasukan dua jarinya ke liang wanita Linda . Jari Rony menyolok nyolok vagina linda dengan cepat . Jerit kesakita Linda , malah semakin membuat gerakkan jari Rony Liar . Rony mengorek ngorek liang vagina linda . Lalu menarik jarinya keluar.

Rony mencabut jarinya , menatap jarinya yang basah , menyeringai , lalu kembali memasukan jarinya di liang vaginanya . “ rupanya , eloe udah gak perawan yah.. dasar perek ” ejek Rony .

Kembali jarinya menyodok nyodok vagina Linda , membuat Linda mengeram pedih.

Setelah Rony puas memainkan vaginanya , Rony melepaskan ikatan Linda dan langsung menariknya turun dari meja kayu itu .Linda tersungkur di lantai , dan Rony membuka celananya . Penis ngacung keras.

Tiba-tiba, Rony menjambak rambut Linda dan menariknya , Linda menjerit kesakitan “ ahhhh , tolong ampun…” .

Rony memerintahkan Linda untuk segera mengulumnya dan jika ia berani mengigit penisnya, ia akan merontokan gigi Linda .

Rony memajukan penisnya mendekati muka Linda , penisnya yang sudah tegang dan keras, ia menjepit hidung Linda untuk membuat Linda membuka mulutnya. Linda meronta , tapi Kembali Linda menjerit keras , “ Ahhhh … “ ketika satu pululan tepat di mukanya

Ketika Linda kehabisan nafas dan membuka mulutnya untuk menghirup udara, Rony segera mendorong penisnya ke dalam mulut Linda. dan mulai mendorong dan menarik kepala Linda.

Kepala Linda bergerak maju dan mundur tanpa henti, terus menerus. Lipstik Linda yang berwarna merah menempel di batang penis yang ada di mulutnya. Dan ketika kepala penis itu masuk ke tenggorokannya Linda tersedak, tapi Rony tetap mendorong hingga kepala penis itu masuk lebih dalam di tenggorokan Linda.

Air mata mulai meleleh di pipinya . Sambil Linda dipegangi hingga tak bergerak dengan penis yang terbenam hingga tenggorokannya. Rony kemudian menarik penisnya keluar , lalu mendorong lagi.

Setelah kira kira 10 menit , Rony menekan masuk penisnya . Linda tersedak , dan terasa sperma Rony muncrat di tenggorokkannya . Setelah penis itu benar benar terlepas dari mulutnya , Linda segerah memuntahkan sperma yang memenuhi mulutnya.

Seorang dengan perut buncit , tangannya penuh tatto segera menghapiri Linda.Membuka resleting celananya , Tangannya kemudian menjambak rambut Linda dan mulai mendorong masuk penisnya dalam mulut linda mengantikan Rony

Menggerakan penisnya dengan kasar membuat penisnya kembali bergerak keluar masuk di mulut Linda. Semua orang dapat mendengar suara dahi Linda yang menumbuk perut orang itu, dan erangan Linda yang terdengar setiap kali penis itu masuk jauh ke tenggorokannya.

Ketika laki-laki itu akan mengalami orgasem ia mendorong kepala Linda hingga hidung Linda terbenam di dalam rambut kemaluan orang itu tanpa bisa menarik nafas. Sperma langsung menyembur keluar memenuhi mulut Linda.

Dan dari sudut mulut Linda sperma menyemprot keluar, mengalir turun, menggantung di dagu Linda. Kemudian orang itu mulai bergerak lagi tanpa henti. Sperma terus mengalir keluar, jatuh dari leher Linda .Ketika akhirnya ia menarik penisnya dari mulut Linda, Linda megap-megap menarik nafas dan terbatuk-batuk memuntahkan sperma yang masih ada di tenggorokannya.

Dua orang kemudian memegangi Linda sementara yang lain mulai melepaskan pakaian mereka. Linda sendiri tak berdaya untuk melarikan diri, setelah baru saja ia mengalami shock.

Ketika semuanya telah telanjang bulat, kembali Linda diangkat dan diletakan di atas meja kayu dan langsung dipegangi oleh empat orang laki-laki, setiap orang memegangi tangan dan kakinya. Kaki Linda terbuka lebar dan tubuhnya telentang.

Rony kembali mendekat dan naik ke atas meja. Perlahan ia menggosokan penisnya yang besar ke kaki Linda. Yang lain hanya bisa memandang iri pada penis Rony yang panjangnya hingga 25 senti dan selalu ia yang mendapat kesempatan pertama. Rony memerintahkan orang di dekat kepala Linda untuk mengangkat kepala Linda hingga Linda bisa melihat ketika penis Rony mulai masuk ke vagina Linda.

Orang yang memegangi kaki Linda berusaha membuka kaki Linda lebih lebar. Dengan satu kali dorongan keras, penis Rony dengan keras memasuki vagina Linda. Linda menjerit sekeras-kerasnya, “ AaHHHGG . . .” dan makin meronta-ronta, tanpa daya menghentikan Rony memperkosa dirinya.
Rony sendiri menikmati sekali segala jeritan dan rontaan Linda. Ia menyeringai setiap kali Linda menjerit kesakitan.

Ketika Rony sedang memperkosanya, laki-laki lainnya ikut menyakiti Linda dengan mencubit, meremas, meraba, mengisap, mengigit, menjilat dan menciumi seluruh tubuh Linda.

Mereka mulai dengan memainkan buah dada Linda dan mengisapi puting susunya, tangan-tangan mereka juga menarik-narik dan menjepit puting susunya. Linda terus menjerit , pilu “ ahhhggg ampun Ahhhh hentikan tolong….” .

Kaki Linda diangkat tinggi-tinggi dari atas meja sementara tangan-tangan merabainya, menikmati halusnya kaki Linda.

Cerita Panas – Beberapa menit kemudian jeritan Linda hanya tinggal erangan dan rintihan tapi Rony tetap memperkosa Linda tanpa henti, terus bergerak makin cepat. Setelah lama kemudian, Rony menarik penisnya hingga hampir terlepas dari jepitan vagina Linda, ia mengerang dan maju mendorong ke depan sekuat tenaga.

Kepala Linda terdongak dan jeritan melengking terdengar, melolong panjang keluar dari mulut Linda “ AGHHHH………”. Rony mengejang beberapa saat penisnya menyemburkan sperma ke dalam vagina Linda. Setelah Rony mencabut penis , spermanya pun berhamburan keluar dari liang vagina Linda yang membengkak dan memar.

Laki-laki yang lain kemudian melepaskan pegangan Linda dan bertengkar mengenai giliran siapa selanjutnya.

Linda hanya bisa berbaring , menangis , tubuhnya menjejang kesakitan . kaki dan tangannya masih terbuka lebar, ia menangis histeris. Ia telah diperkosa , dilecehkan, harga dirinya di injak injak .

“Eh perek , kenapa nangis , Loe mustinya nikmatin, soalnya masih banyak cowok yang antri , semua mau cobain memek eloe kita baru aja mulai!” katanya pada Linda.

Seorang laki-laki segera naik ke atas meja setelah Rony turun. Sekarang, Linda dapat merasakan bagaimana bibir vaginanya perlahan membuka kembali dan penis itu sedikit demi sedikit masuk ke dalamnya. Kesakitan kembali tercermin di wajah Linda, ketika ia merasa tubuhnya seperti dirobek oleh penis yang masuk.Linda mengerang lagi “ aghhh sakit…”

“Loe jangan belagu deh! Kalo lo nggak suka sama punya gue atau punya temen gue tadi, masih ada yang laen! Cepet atau lambat lo pasti temuin yang lo suka!” bentak orang itu.

Perkataan orang itu membuat apa yang telah ia takutkan selama ini menjadi nyata. Linda akan diperkosa bergantian oleh seluruh orang yang ada di bar itu. Dan ia tidak punya pilihan sama sekali. Linda hanya bisa menyerahkan dirinya dan melayani mereka hingga selesai.

Sekarang Linda hanya berharap ia bisa keluar dari situ hidup-hidup, dan berharap tidak ada seorangpun yang tahu apa yang telah ia alami.

Tak lama preman itu menyemburkan spermanya ke dalam vagina Linda yang sudah terisi oleh sperma Rony. Lalu dengan segera orang lain menggantikan laki-laki itu, kemudian laki-laki lain menyusul, setelah itu temannya juga mulai memperkosa Linda.

Linda tidak bisa lagi menahan rasa sakit dan ia sudah kehabisan tenaga melayani laki-laki itu. Linda lalu menangis dan memohon pada semuanya agar melepaskan dirinya.” Sudah tolong lah Ahhh saya , sudah tak kuat , ahhh sakit…” .

Tapi Laki-laki yang sedang menindihnya meremas buah dada Linda keras-keras hingga Linda menjerit kesakitan. “ AHHGGG sakit hentikan tolong…” . Dan menarik puting susunya dengan kuat “ AGHH sakit ampunnn…”

“Jangan berisik! Lo belon ngelayanin temen-temen gue! Masih ada lima orang lagi!” bentaknya pada Linda.

Tiba-tiba orang itu menarik penisnya keluar dan merangkak ke dada Linda. Linda sudah sangat ketakutan sekarang hingga ia hanya bisa berbaring dengan mata terpejam erat, menunggu orang selanjutnya yang akan mengambil giliran memperkosanya.

Ia sama sekali tidak menyadari orang yang baru saja memperkosanya mengarahkan penisnya ke muka Linda. Dan tepat sebelum orang itu orgasme Linda membuka matanya. Sperma segera menyembur ke seluruh wajah Linda. Sehingga seluruh sperma itu keluar menyembur dari penis itu.

Ketika orang itu puas ia menarik rambut Linda dan menamparkan penisnya ke wajah Linda. “satu-satunya yang boleh loe mohon cuma ini tau? Loe sendiri yang masuk ke sini pake pakaian merangsang kayak perek , dan loe mohon kita berhenti? Lo bercanda apa? Lo musti ngelayanin kita sampe kita nggak bisa bangun lagi! Ngerti” Orang itu membentak Linda.

Lima orang terakhir kemudian mengambil giliran masing-masing dan memperlakukan Linda sama dengan orang sebelumnya. Ketika hampir orgasme, mereka menarik penisnya keluar, merangkak di atas dada Linda, dan memyemprotkan sperma mereka ke seluruh wajah dan buah dada Linda kemudian menarik rambut Linda untuk membersihkan penis mereka.

Dan ketika orang yang terakhir selesai Linda berbaring hampir tak sadarkan diri.

Wajah, buah dada, dan puting susu Linda seluruhnya dilumuri sperma. Sperma itu mengalir turun dari sisi wajahnya, masuk ke telinga dan leher Linda. Linda tidak bisa membuka matanya karena semuanya tertutup oleh sperma. Linda harus bernafas melalui mulutnya karena sperma sudah masuk ke hidungnya.

Rambut Linda yang kecoklatan terlihat kusut karena terkena sperma yang mengering di rambutnya. Ketika orang-orang itu beristirahat sejenak, Linda hanya berbaring di atas meja , kakinya terbuka lebar dan sperma mengalir keluar dari vaginanya, menunggu orang selanjutnya memperkosa dirinya.

Vagina Linda tampak memar, memerah, dan terasa sakit karena baru saja dimasuki sepuluh orang bergantian tanpa henti.

Dua orang menarik tubuh Linda turun dari meja itu dan menyeretnya ke kamar mandi. Mereka kemudian membersihkan tubuh Linda dengan kertas tisu yang kasar dari sperma yang menempel. Dan ketika tubuhnya diseret keluar lagi, Linda melihat meja tadi telah dipindahkan ke pinggir ruangan.

Di tengah ruangan itu sekarang tergelar matras kusam dan delapan laki-laki telanjang bulat berdiri mengelilinginya. Linda didorong ke tengah-tengah lingkarang orang itu, hingga ia terjatuh ke atas matras, tubuhnya tersungkur tak berdaya untuk mengangkat tubuhnya.

Linda merasakan tangan-tangan di seluruh tubuhnya mulai menarik, mendorong dan mengangkat tubuhnya. Ketika Linda membuka matanya ia melihat seseorang telah berbaring telentang di bawah tubuhnya.

Orang itu adalah si Rony, dan penisnya sudah tegak berdiri. Kedua bibir vagina Linda kemudian dibuka oleh dua pasang jari-jari ketika perlahan tubuh Linda diturunkan mengarah ke penis Rony. Dengan sisa-sisa sperma yang ada, penis itu dapat lebih mudah masuk ke dalam vagina Linda.

Dan Linda sendiri hanya mengerang, merasakan kembali sakit “ Ahggg Aghh perih tolong hentikan sudahh..”

Seseorang kemudian menarik rambutnya, dan sebuah penis lain mendekati mulutnya. Linda dengan perlahan membuka mulutnya, berharap mereka tidak akan menyakitinya jika ia menuruti kemauan mereka. Penis itu masuk hingga ke tenggorokan Linda dan berhenti tak bergerak.

Selanjutnya Linda merasakan sebuah tangan mendorong tubuhnya hingga turun. Kemudian tangan-tangan lain mulai membuka belahan pantatnya. Linda panik dan berusaha merangkak menjauhi tangan-tangan itu. Dengan merangkak Linda membuat penis di mulutnya masuk makin dalam ke tenggorokannya.

“Hei, lo suka juga akhirnya! Kalo gitu ayo mulai aja sayang!” kata orang yang memasukan penisnya ke mulut Linda sambil tersenyum.

Ia mulai menggerakan pinggulnya secepat dan sekuat tenaga. Tubuh Linda yang terdorong mundur karena gerakan orang itu, disambut dengan sebuah penis lain di liang anusnya. Sekarang rasa sakit yang perlahan mulai hilang dari tubuh Linda, kembali menyengat seluruh tubuhnya.

Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi, sakit yang tidak pernah dirasakan Linda sebelumnya. Pikiran Linda menjerit-jerit kesakitan, sedangkan mulutnya hanya bisa mengeluarkan suara tidak jelas diredam oleh penis yang keluar masuk.

Rasa sakit itu makin menjadi-jadi, ketika ketiga orang itu mulai bergerak berirama. Tubuh Linda seperti terkoyak-koyak ketika penis-penis itu bergantian keluar masuk di dalam vagina dan anusnya.

Dua orang kemudian mendekat memegangi tubuh Linda hingga ia tidak terjatuh ke samping. Semua lubang di tubuh Linda, mulut, vagina dan anus dipergunakan oleh mereka untuk memuaskan nafsu mereka secara bersamaan.

Kemudian dua orang terkakhir tadi menarik tangan Linda, melingkarkan jari-jari Linda di penis mereka dan menyuruhnya untuk mulai mengocok penis-penis mereka, sementara dua orang lainnya berlutut di samping Linda, dan menarik buah dadanya untuk kemudian digosokan pada penis mereka.

Sekarang Linda sudah dalam keadaan berlutut, tubuhnya bergoyang maju mundur. Tujuh dari sepuluh orang itu terus-menerus menggunakan tubuh Linda untuk membuat mereka puas. Tidak seorang pun peduli dan melihat bahwa Linda sama sekali tidak bisa bergerak. Semuanya tampak sangat bernafsu memperoleh bagian tubuh Linda.

Setelah beberapa menit rasa sakit itu mulai bisa ditekan oleh Linda. Linda terus memejamkan matanya karena ia tidak ingin melihat bagaiman orang-orang itu mempergunakan tubuhnya untuk memuaskan mereka. Ia hanya berharap semua itu segera selesai, karena dirinya hampir tidak bisa lagi menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

Orang di anus Linda lebih dulu orgasme. Ketika ia selesai dan menarik penisnya keluar, orang lain maju dan dengan mempergunakan sperma orang yang pertama, ia melumasi penisnya dan memasukannya ke anus Linda. Lalu orang di mulutnya menyemburkan sperma, membuat Linda tersedak tak bisa bernafas, berusaha sekuat tenaga menelan sperma orang itu.

Lalu penis itu ditarik dan digantikan oleh penis lain, yang kali ini lebih besar. Linda berusaha membuka mulutnya, tapi orang itu tidak sabar dan langsung mendorong penisnya masuk, dan mulai bergerak.

Ia mendorong penisnya dalam-dalam dan tidak menariknya keluar, terus menahannya di dalam tenggorokan Linda. Linda kemudian merasakan getaran dari tubuh Rony di bawahnya dan cairan hangat mengalir ke dalam vaginanya, segera setelah itu orang lain menggantikan posisi Rony tadi.

Orang-orang tadi bergantian memperkosa Linda di seluruh lubang yang ada, ia terus menelan semua sperma yang disemburkan di dalam mulutnya. Dua orang di depan wajahnya mengocok penisnya masing-masing dan mengarahkan penisnya ke wajah Linda.

Ketika Linda melihat ke bawah, orang di bawah tubuhnya sedang menatap wajahnya dan kepalanya diganjal oleh kedua tangannya. Tak lama kemudian sperma kembali masuk ke dalam vagina Linda, dua detik kemudian sperma menyembur ke anusnya.

Penis lain kembali masuk ke vagina Linda. Linda kembali memejamkan matanya, ia sekarang hanya bisa mengeluarkan suara erangan, “ aghhh aghh aghh…” . yang semakin tinggi ketika penis lain masuk ke anusnya. Ketika ia membuka matanya lagi, Linda melihat sebuah penis diarahkan ke wajahnya.

Kepala penisnya berwarna ungu bulat, dan beberapa detik kemudian sperma menyembur menghantam wajahnya mengalir masuk ke mulutnya. Orang tubuh kemudian minggir dan sebuah penis lain maju mendekat.

Sepanjang malam Linda terus melanyani sepuluh orang itu hingga semuanya mendapat bagian menggunakan mulut, vagina dan anusnya paling sedikit satu kali.
Dan ketika orang-orang tersebut puas dan menjauh dari tubuh Linda, tubuh Linda tersungkur , terkapar tak berdaya .Linda lalu mengangkat wajahnya berusaha melihat orang-orang yang mengelilinginya, setelah itu semuanya gelap Linda tak sadarkan diri.

Tamat.

Kategori:Tak Berkategori Tag:,

Pesta Seks di Villa Customerku – Bag.2

11 Desember 2010 Tinggalkan komentar

Malam itu, ternyata dia membawa sopir, Mail namanya, masih muda dan dari mukanya tampak mengagumi keseksianku. Mail tinggal disekitar vila, rupanya dia sering disuruh nyetirin mobil mas Hide. Memang aku mengenakan blus yang berdada rendah sehingga belahan toketku menyembul keluar. “Nes, Mail dari tadi ngeliatin kamu terus tuh” katanya berbisik.”Ah.. Masa sih” jawabku tertawa. “Iya tuh.. Lihat aja di kaca spion”. Memang terkadang Mail melirik kaca untuk melihatku yang duduk di kursi belakang bersama mas Hide. Melihat itu, rasa isengnya pun muncul. “Kita godain yuk..” ajaknya sambil merengkuh pundakku. Dia mengelus-elus pundakku. “Jangan ah.. Malu” jawabku. “Nggak apa deh.. Coba aja..” katanya sambil mulai menciumi pipiku. Aku kemudian tak menolak dan kamipun berciuman. Mail tampak makin sering melirikkan matanya lewat kaca. “Awas. Nanti nabrak gimana” bisikku sambil tertawa.

Dia mencium bibirku kembali dan menjilati leherku. Belahan toketku diusap2nya,. Kulihat Mail melotot lewat kaca spion melihat adegan itu. Blusku dibukanya, sehingga aku hanya mengenakan bra yang tipis. pentilku tampak menonjol, sudah mengeras. Perlahan dia menciumi toketku. Aku mulai mendesah perlahan ketika pentilku dihisapnya dari balik braku. Mobil pun terasa berjalan makin perlahan. Setelah puas menikmati toketku, dia menciumku kembali. “Tuh lihat dia udah terangsang Nes..” katanya. “Mas nakal ihh..” jawabku manja.
“Kamu gantian dong.. Hisap kont*lku” katanya lagi.Sambil tertawa kubuka retsleting celananya sekaligus dengan CDnya, sehingga kont*lnya yang sudah tegang membengkak mencuat keluar. kont*lnya mulai kukocok-kocok perlahan. Kulihat Mail menonton adegan kami engan penuh nafsu. Dia mendorong kepalaku ke arah kont*lnya. “Isep Nes..” desahnya ketika mulutku mulai mengulum kepala kont*lnya. kont*lnya kukocok2 perlahan. “Nikmat Nes” erangnya. Dia menyibakkan rambut yang menutupi wajahku, sehingga Mail dapat melihat dengan jelas tonjolan dipipiku yang disesaki kont*lnya. “Terus Nes, enak banget.., ” katanya lagi. Akupun mengeluarkan kont*lku dari mulutnya dan mulai menjilatinya. Kemudian kont*lnya kujejalkan dalam mulutku. Dia mengelus-elus rambutku, ketika mulutku memompa kont*lnya. Tidak lama, karena kita sudah sampe ditempat makan. Kami mengisi perut sekenyangnya.

Dalam perjalanan pulang ke vila, mas Hide malah lebih gila lagi. Rupanya selama makan napsunya tetep berkobar2 sehingga kont*lnya ngaceng terus. aku disuruhnya duduk di atas pangkuannya sambil menghadap ke depan. Dia menciumi pundakku, ketika dia menyibakkan rokku dan CDku dan mengarahkan kont*lnya yang sudah berdiri tegak lepas dari CDnya, ke mem*kku. “Ohh.. mas, besarnya.. Enak.. Ahh.. ent*tin Ines mas”, desahku. Dia mengenjotkan kont*lnya keluar masuk mem*kku, gerakannya terbatas karena aku ada pangkuannya. Braku dilepasnya dan toketku yang berayun-ayun seirama enjotannya diremasnya. mengenjot mem*kya. Kulirik kaca spion dan tampak Mail melotot menyaksikan aku yang sedang mendesah-desah nikmat di atas pangkuan mas Hide. “Ohh.. Mas.. Enak Mas.. Enjot terus mas..” kataku sambil melingkarkan tanganku ke belakang merengkuh kepalanya. Dia menciumku bibirku sebentar dan kemudian menghisap toketnya sambil terus mengenjot mem*kku. “Ohh mas.. enak banget.. besar banget.. ” eranganku semakin menjadi, dan tak lama aku pun menjerit. Tubuhku menggelinjang-gelinjang dalam dekapannya. Tak lama, diapun mengerang nikmat ketika ngecret dalam mem*kku. Kamipun melepas lelah sejenak sambil berciuman kembali. “Enak ya Mas” kataku sambil mengenakan kembali blusku, braku tidak kupakai lagi. Dia membereskan CD dan celananya. “Luar biasa” jawabnya. “Mail enak ya dapat pemandangan gratis” kataku sambil tertawa.

Sesampainya di villa,Aku masuk kekamar mandi yang menjadi satu dengan kamar tidur. Selang beberapa saat aku keluar lagi hanya mengenakan lilitan handuk dibadanku tanpa pakaian lainnya lagi. “Udah siap lagi ya Nes”, dia menggangguku. “Iyalah mas, kan kita kesini untuk ngent*t. Kata mas mau ngent*tin Ines sampe loyo”, jawabku. Belahan dadaku sedikit tersembul dibalik handuk yang menutup dada serta pahaku. Melihat itu sepertinya dia napsu lagi. Luar biasa juga taminanya, gak puas2nya dia ngent*ti aku. kont*lnya menjadi berdiri tegang. Kelihatan sekali dibalik CDnya. Dia juga sudah melepaskan semua pakaiannya, dan berbaring di ranjang. “Maaas…. ngelihatnya kok begitu amat sih ?” kataku sambil berjalan menuju kaca.

Aku duduk di depan kaca sambil menumpangkan pahaku kepaha satunya. “Nes…. sudah malam nih…. kita tidur saja…” katanya. “Mau tidur atau nidurin Ines mas”, godaku. “Tidur setelah nidurin kamu lagi dong”, jawabnya. Aku berbaring disebelahnya, segera lilitan handukku dilepaskannya sehingga telanjang bulatlah aku. Toketku dielus2nya. “Nes, kamu seksi sekali, mana binal lagi kalo lagi dient*t. Jadi istriku saja mau nggak. Kita bisa ngent*t tiap malem”, katanya merayu. Aku hanya tersenyum, tidak menjawab rayuannya. Elusan tangannya di toketku berubah menjadi remasan remasan halus. “Maaaaaaaaas…. “, aku memeluknya. Dia memelukku juga serta mencium bibirku. Aku begitu menggebu gebu melumat bibirnya, kujulurkan lidahku kedalam mulutnya. Nafasku menjadi cepat serta tidak beraturan. Setelah beberapa saat kami berciuman, akus menggerakkan dan menggeser badanku sehingga sekarang sudah berada di atas badannya. Aku semakin ganas saja dalam berciuman. Dia memeluk badanku rapat2 sambil menciumiku.

Kemudian aku menciumi lehernya dan terus turun kearah dadanya. Dia berdesis “Nes…. ssssssshhhh.” Aku terius menciumi badannya, turun ke bawah dan ketika sampai disekitar pusarnya, kucium sambil menjilatinya sehingga terasa sekali kont*lnya kian menegang dibawah CDnya. “Nes….. adduuuuuhh” dan aku secara perlahan lahan terus turun dan ketika sampai disekitar kont*lnya, kucium dan kuhisap daerah sekelilingnya termasuk biji pelernya dari balik CDnya. “Sssssssshhh… Nes… lepasin CDku” katanya lagi. Segera kulepas CDnya, dia mengangkat pantatnya supaya aku bisa memelorotkan CDnya. kont*lnya sudah ngaceng keras sekali, mengacung ke atas. Kupegang kont*lnya dan kukocok pelan pelan. kont*lnya kumasukkan kemulutku. “Aaaaaaaaaaaaaaahh……”, teriaknya keenakan.

Aku segera menaik turunkan mulutku pelan2 dan sesekali kusedot dengan keras. “Nes….. enaaaaaaakkk. Ayoooo…. doooong… Nes….. Nesiiiii….. aku… juga kepingin” , katanya sambil menarik badanku. Aku mengerti kemauannya dan kuputar badanku tanpa melepas kont*lnya dari mulutku. Posisi nya sekarang 69 dan aku berada diatas badannya. mem*kku yang dipenuhi jembut yang lebat dijilatinya. Aku menggelinjang seSantip kali bibir mem*kku dihisapnya. Dengan mulut yang masih tersumpal kont*lnya aku bergumam. Dia membuka belahan mem*kku pelan2 dan dijulurkannya lidahnya untuk menjilati dan menghisap hisap seluruh bagian dalam mem*kku. Kulepas kont*lnya dari mulutku sambil mengerang “maaaaaas…. oooohhh”, sambil berusaha menggerak gerakkan pantatku naik turun sehingga sepertinya mulut dan hidungnya masuk semuanya kedalam mem*kku. “Maaaaas….. teruuuuuss… maaaaaaas” Apalagi ketika itilku dihisap, gerakan pantatku yang naik turun itu makin kupercepat sambil mengerang lebih keras “maaaaaas…. teeruuuuuuss”. Itilku terus dihisap hisapnya dan sesekali lidahnya dijulurkan masuk kedalam mem*kku. Gerakan pantatku semakin menggila dan cepat, semakin cepat dan akhirnya “maaaaaaaaaaasss….. akuuuuuuuuu…. nyampeee”, sambil menekan pantatku kuat sekali kewajahnya. Aku terengah engah. Perlahan lahan dia menggeser badanku kesamping sehingga aku tergeletak di tempat tidur. Dengan masih terengah2 aku memanggilnya “Maaaaaass……. peluk Ines….. maaaaas… ” dan segera saja dia memutar posisi badannya lalu memelukku dan mencium bibirku.

Mulutnya masih basah oleh cairan mem*kku. “Maaaas….. “,kataku dengan nafas nya sudah mulai agak teratur. “Apaa… Nes…. “sahutnya sambil mencium pipiku. “Maaaas…..nikmat banget ya dengan mas, baru dijilat saja Ines sudah nyampe. Ines mau deh jadi istrinya mas, asal dient*t, dikasi nikmat kaya begini Santip malem”, kataku manja. “Nes sekarang…… boleh gak akuuuuuuuu…… “, sahutnya sambil meregangkan kedua kakiku. Dia mengambil ancang2 diatasku sambil memegang kont*lnya yang dipaskan pada belahan mem*kku. Perlahan terasa kepala kont*lnya menerobos masuk mem*kku. Dia mengulum bibirku sambil menjulurkan lidahnya kedalam mulutku. Aku menghisap dan mempermainkan lidahnya, sementara dia mulai menekan pantatnya pelan2 sehinggga kont*lnya makin dalam memasuki mem*kku dan…. bleeeeeeeeeeeeeesss…… kont*lnya sudah masuk setengahnya kedalam mem*kku. Aku berteriak pelan… “aaaaaaaaaaaaaahh…… maaaaaass…… “sambil mencengkeram kuat di punggungnya. Kedua kakiku segera kulingkarkan ke punggungnya, sehingga kont*lnya sekarang masuk seluruhnya kedalam mem*kku. Dia belum menggerakkan kont*lnyau karena aku sedang mempermainkan otot2 mem*kku sehingga dia merasa kont*lnya seperti dihisap hisap dengan agak kuat. “Nes….. teruuuuus….. Nes…. enaaakkk… sekaliiii… Nes….”, katanya sambil menggerakkan kont*lnya naik turun secara pelan dan teratur. Aku secara perlahan juga mulai memutar mutar pinggulku. SeSantip kali kont*lnya ditekan masuk kedalam mem*kku, aku melenguh “sssssssshhhh….. maaass”, karena kurasakan kont*lnya menyentuh bagian mem*kku yang paling dalam. Karena lenguhanku, dia semakin terangsang dan gerakan kont*lnya keluar masuk mem*kku semakin cepat. Aku semakin keras berteriak2, serta gerakan pinggulku semakin cepat juga. Dia semakin mempercepat gerakan kont*lnya keluar masuk mem*kku. Aku melepaskan jepitan kakiku di pinggangnya dan mengangkatnya lebar2, dan posisi ini mempermudah gerakan kont*lnya keluar masuk mem*kku dan terasa kont*lnya masuk lebih dalam lagi.

Cerita Panas – Tidak lama kemudian kurasakanrasa nikmat yang menggebu2, kupeluk dia semakin kencang dan akhirnya “ayoo…. maaaaaaaass…. akuuuuuuu….mauuuuuuu…… keluaaaaaar…. maaaaas” “Tungguuuuuu….. Nes…….kitaaaaaa… .samaaaaa… samaaaa”, sahutnya sambil mempercepat lagi gerakan kont*lnya. “Adduuuuuuhh… maaaaas….. Ines… nggaaaaak…… … tahaaaaaaaaan… maaaaaas… ayooooooo….. se…. karaaaaaang…” , sambil melingkarkan kembali kakiku di punggungnya kuat2. “Nes…… … akuuuuu… jugaaaaaaaaaaa…”, dan terasa …… creeeeeeet….creeeeeet…. crrreeettt..pejunya muncrat keluar dari kont*lnya dan tumpah didalam mem*kku. Terasa dia menekan kuat2 kont*lnya ke mem*kku. Dengan nafas yang terengah engah dan badannya penuh dengan keringat, dia terkapar diatasku dengan kont*lnya masih tetap ada didalam mem*kku. Setelah nafasku agak teratur, kukatakan didekat telinganya “Mas…… terima kasih ya. Ines puas banget barusan,” sambil kukecup telinganya. Dia tidak menjawab atau berkata apapun dan hanya menciumi wajahku. Setelah diam beberapa lama lalu aku diajaknya membersihkan badan di kamar mandi dan terus tidur sambil berpelukan.

Paginya aku terbangun kesiangan. Mungkin karena cape dient*t aku jadi tidur dengan pulas. Ketika terbangun dia sudah tidak ada disebelahku. Aku ke kemar mandi, membasuh muka dan sikat gigi, kemudian dengan bertelanjang bulat aku keluar kamar. Aku terkejut karena di meja makan dia sedang ngobrol dengan Mail dan seorang cewek. Aku segera masuk ke kamar lagi, walaupun Mail sempat ternganga melihat kemolekan badanku yang telanjang. Aku mengenakan kimono punya dia, sehingga kebesaran.

Aku bergabung dengan mereka dimeja makan. Aku dikenalkannya ke cewek abg itu. Namanya Santi. Manis juga anaknya, mengenakan jeans ketat dan tank top yang juga ketat sehingga menonjolkan lekuk liku badannya yang merangsang. Tangannya berbulu panjang dan terlihat ada kumis tipis diatas bibir cewek itu. Pasti jembutnya lebat sekali dan cewek yang kaya begini yang disukai dia. Aku mengambil roti dan membuat kopi, yang lainnya kelihatannya sudah selesai sarapan. Mereka menemaniku sarapan sambil ngobrol santai. Kayanya Santi centil banget ngobrolnya dengan dia. Aku sudah membaca skenarionya, kayanya dia minta dicarikan cewek abg oleh Mail, cuma yang aku nggak ngerti kenapa diantarkannya pagi ini bukan tadi malem. Setelah aku selesai sarapan, dia mengajak aku dan yang lainnya berenang.

Segera aku mengenakan kembali daleman bikiniku yang kemarin. Mail makin menganga melihat jembutku yang nongol dari balik CD minimku. “Mbak, jembutnya lebat sekali”, katanya. “Suka kan kamu ngeliatnya”, jawabku. “Jembut Santi juga pasti lebat, lebih lebat dari jembutku”. Santi sudah memakai bikininya juga. Toketnya yang montok tidak tertutup oleh bra bikininya yang kekecilan, dan jembutnya benar lebih lebat dari jembutku, nongol dari samping dan atas CD bikininya yang sangat minim, lebih minim dari CDku. Dia kayanya napsu banget lihat bodinya Santi. Aku mengerti sekarang skenarionya, kayanya dia mau ngent*t dengan Santi dan aku akan dient*t Mail. Kulihat Mail yan menelan ludahnya memandangi bodiku. Orangnya ganteng juga, badannya tegap walaupun tidak setegap mas Hide.

Mas Hide hanya memakai celana pendek dan kelihatan sekali kont*l besarnya sudah ngaceng dengan keras. Mail melepaskan pakaiannya sehingga hanya mengenakan CD saja. kont*lnya juga sudah ngaceng, kelihatannya besar juga walaupun tidak sebesar kont*l mas Hide. Kami menuju ke kolam renang di kebun belakang. Kemarin cuma ada satu dipan, sekarang sudah ada 2, dan letaknya berjauhan, di masing2 sisi kolam. Aku memilih dipan yang kemarin aku pakai untuk ngent*t dengan mas Hide. Mas Hide sudah mulai menggeluti Santi di dipan satunya. Mail duduk disebelahku yang sudah berbaring di dipan. Dia mulai mengelus2 pundakku. Aku tau, dia pasti sudah napsu sekali. Segera saja kuelus2 kont*l Mail dari luar CDnya, kemudian kuremas perlahan. “kont*lmu besar juga ya”, kataku sambil makin keras meremas kont*lnya. Tanganku menyusup kedalam CDnya dan langsung mengocok2 kont*lnya. Ngacengnya sudah keras banget. “Aku lepas ya CD kamu”, kataku sambil memelorotkan CDnya. kont*lnya yang lumayan besar langsung ngacung keatas.

Aku udah gak sabar pengen merasakan kont*lnya keluar masuk mem*kku. Aku jadi teringat pengalaman dient*t pak Mat kemarin siang. Aku duduk dan memeluknya serta mencium bibirnya. Mail langsung memelukku kembali, bibirnya pun menghisap2 bibirku sedang tangannya mulai meremas2 toketku yang sudah mengeras. Tangannya nyelip kedalam bra ku dan memlintir pentilku yang juga sudah mengeras. “Mbak sudah napsu ya, pentilnya sudah keras. mem*knya pasti udah basah ya mbak”, katanya lagi. Sepertinya dia sudah pengalaman juga dalam urusan perngent*tan. Aku mulai menyentuh dan mengelus kont*lnya “yyaa.. pegang Mbak” desisnya. Mail sekarang yang berbaring sedang aku menelungkup diatasnya. kont*lnya mulai kujilat. kont*l terus kukocok sambil meremas biji pelernya. “Aku isep ya kont*l kamu *****. gede juga” kataku sambil menurunkan kepalaku dan memasukkan kont*lnya ke mulutku. “Ohh.. sshh, nikmat banget mbak” erangnya.

Aku menjilati kepala kont*lnya, kuisep sambil terus kukocok2. Sesekali kumasukan semua kedalam mulutku sambil kukenyot. “Oohh.. enak banget mbaak” teriaknya keenakan. Aku berhenti menghisap kont*lnya tapi terus kukocok2.”Isep lagi Mbak.. isep lagi.. enak banget” katanya. Kembali kont*lnya kukocok sambil kupelintir pelan. “sshh.. Oohh.. eennaakk bbannggett Mbak. enak banget.. terus Mbak” desisnya. Aku terus melakukan aktiVitas tanganku. “Mbak isep lagi donngg.. jangan pake tangan aja.. ayo donk Mbak” pintanya memohon. Aku hanya tersenyum dan mulai menghisap lagi. Kali ini benar benar hot isapanku, kepalaku bergoyang kekiri kanan dan naik turun berkali kali sementara tanganku terus mengocok dan memutar batang kont*lnya. “Mbak aku mau keluarr.. aku mau keluar nih” katanya. Badannya mulai menegang. Aku terus menghisap ‘kont*lnya sambil terus memutar dan mengocok batang kont*lnya yang makin menegang keras. “Terus mbak, isep terus” jeritnya.

Aku terus menghisap kont*lnya dan akhirnya “ccrreett.. ccrreett.. ccrreett..”, pejunya muncrat dimulutku. kont*lnya terus kuhisap. Terasa dia ngecret 5 kali didalam mulutku. Pejunya kuludahkan dan kubersihkan mulutku yang belepotan sisa pejunya. Dia duduk disebelahku dan mencium pipiku “Makasih ya..

TAMAT

Kategori:Tak Berkategori Tag:,

Pesta Seks di Villa Customerku – Bag.1

9 Desember 2010 Tinggalkan komentar

Jumat berikutnya setelah training, mas Hide menelponku mengatakan bahwa proposal kedua sudah siap. “Terus mau ditandatangani dimana mas?” Tanyaku, karena aku tau pasti dia minta bonusnya juga. “Kita ke villa saja ya, kamu bawa daleman yang seksi beberapa ya”, jawabnya. “Nanti sabtu pagi aku jemput kamu”. Sabtu paginya aku sudah siap2 membawa beberapa daleman yang seksi dan mengenakan pakaian yang seksi juga. Aku memakai celana ketat dan tanktop yang juga ketat, toketku ngintip dari belahan tank topku yang rendah.

Dalemannya sengaja aku pake yang bentuk bikini yang hanya ditalikan, supaya dia cepat kalau mau melepaskannya. “Wow, seksi sekali kamu Nes, belum apa2 aku sudah mulai ngaceng nih”, katanya ketika aku masuk kemobil dan duduk disebelahnya. Akhirnya mobil pun meluncur ke arah luar kota. “Vilanya jauh mas?” tanyaku. ”Kenapa, udah nggak sabar ya pengen dikerjain. Nggak jauh kok paling sejam sudah nyampe”, jawabnya menggodaku. Sepanjang perjalanan aku ngobrol saja dengan dia.

Dia menanggapi obrolanku dengan santai juga, kadang tangannya mengelus pahaku. “Yang udah gak tahan Ines atau mas”, godaku sambil membiarkan tangannya mengelus2 pahaku. Rabaannya semakin lama membuatku semakin napsu. Kubuka pahaku agak lebar. Melihat aku mengangkangkan pahaku, tanggannya bergerak ke atas ke selangkanganku. Jari2nya mulai mengelus belahan mem*kku dari luar. Wow rasanya, aku sudah gak sabar lagi untuk dient*t. CDku langsung menjadi lembab karena cairan mem*kku membanjir. “Mas”, kataku, “Ines udah basah mas”. “Udah napsu banget ya Nes, aku juga sudah napsu, sebentar lagi sampe kok”.

Kami memasuki gerbang vilanya. vilanya tidak terlalu besar, sebuah vila yang sangat asri. Halamannya lumayan luas mengelilingi bangunan vila model country, sehari-hari hanya dijaga oleh sepasang suami istri usia setengah baya. Rupanya mereka tidak terkejut oleh kehadiran ku, mungkin dia sebelumnya sudah biasa mengajak perempuan lain ke vila ini, sehingga pasangan suami istri ini tidak begitu peduli dengan siapa diriku. Istri penjaga vila itu tidak membutuhkan waktu lama untuk menyajikan kopi dan teh dalam teko, sementara suaminya di luar sana sedang sibuk mencuci mobil, mungkin tugas ini sudah rutin dilakukannya saat mas Hide datang berkunjung ke vilanya. Tak lama kemudian si istri kembali masuk ke dalam ruangan dimana kami duduk sambil membawa kacang, singkong dan jagung rebus. Seselesainya si bapak membersihkan mobil, mereka pamitan. Rupanya mereka tau bahwa mas Hide tak ingin diganggu selama bersamaku.

Setelah beristirahat sejenak mas Hide mengajakku melihat2 vilanya. Dihalaman belakang ada kolam renang kecil yang dinaungi oleh rimbunnya pepohonan yang ada. Tembok tinggi menghalangi pandangan orang luar yang mau mengintip ke dalam.”Mau berenang?” tanyanya. “Yuk”, jawabku. “Aku pake daleman bikini kok”. “Gak pake apa2 lebih baik” katanya tersenyum. Aku langsung saja melepas tanktopku, kemudian kulepas celana ketatku. Pakaian kuletakkan di dipan yang ada dipinggir kolam. Dipan itu ada matras tipisnya dan dipayungi rimbunnya pohon. Dia melotot memandangi tubuhku yang hanya berbalut daleman bik***** Karena CDku mini, jembutku yang lebat berhamburan dari bagian atas, kiri dan kanan CDku. Segera aku mencebur ke kolam, sementara dia membuka kaos dan celananya, sehingga hanya memakai CD. kont*lnya kelihatan besar, karena sudah ngaceng, tercetak jelas di CDnya. Kemudian dia pun nyebur ke kolam, menghampiriku dan memelukku.

Bibirku diciumnya, lidah kami saling berbelit. Tangannya mulai menarik ikatan braku sehingga terlepas, kemudian meremas2 toketku sambil memlintir pentilnya. Segera pentilku menjadi keras. “Toketmu kenceng ya Nes,pentilnya gede.”, katanya. Aku diam saja sambil menikmati remasan tangannya.kont*lnya yang keras menekan perutku. “Mas, ngacengnya sudah keras banget”, kataku. “Kita ke dipan yuk” Aku sudah tidak bisa menahan napsuku lagi. Segera aku keluar kolam membawa braku yang sudah dilepas. Aku telentang didipan, menunggu dia yang juga sudah keluar dari kolam.

Dia berbaring disebelahku, bibirku kembali diciumnya dengan penuh napsu dan tangannya kembali meremas2 toketku sambil memlintir2 pentilnya. “Isep dong Mas..” pintaku sambil menyorongkan toketku itu ke wajahnya. Langsung toketku disepnya dengan penuh napsu. Pentilku dijilatinya.”Ohh.. Sstt..” erangku keenakan. Jarinya mulai mengelus jembutku yg nongol keluar dari CDku, kemudian disusupkannya ke dalam CD-ku. Jarinya langsung menyentuh belahan bibir mem*kku dan digesek-gesekkan dari bawah ke atas. Gesekannya selalu berakhir di itilku sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa. mem*kku langsung berlendir, rasanya lendir juga membasahi seluruh bagian dinding dalam mem*kku. “Oo.. Ooh! Uu.. Uuh!” desahku sambil menekan tangannya yang satunya untuk terus meremas-remas toketku. Aku sungguh sudah tidak tahan lagi, “Mas, Ines udah gak tahan nih”. Tali ikatan CD-ku di kiri dan kanan pinggang digigit dan ditarik dengan giginya sehingga terlepas.

Kedua kaki kukangkangkan sehingga tampak jelas bulu jembutku yang lebat. Dia kembali meraba dan mengelus mem*kku. Dia menyelipkan jarinya ke belahan mem*kku yang sudah basah dan menyentuh dinding dalam mem*kkku. “Mas..! Aduuh! Ines sudah enggak tahan, udah pengen dimasukkin”, pintaku. Bukannya langsung memenuhi permintaanku malah jarinya beralih menggosok-gosok itilku. “Aduuh! mas..nakal!” seruku. Aku pun semakin tidak karuan, kuremas kont*lnya yang sudah keras sekali dari luar CD nya. Toketku yang sudah keras sekali terus saja diremas2, demikian juga pentilku. “Ayo dong mas dimasukin, aku sudah benar-benar enggak kuu.. at!” rengekku lagi.

Kemudian dimasukkannya jarinya ke dalam mem*kku yang sudah basah kuyup. Dengan tanpa menemukan kesulitan jarinya menyeruak masuk ke dalam mem*kku. Aku belum pernah hamil apa lagi melahirkan, jadi sebenarnya mem*kku pun masih sempit sekali, namun dalam kondisi basah seperti ini, mem*kku menjadi mudah dimasuki jarinya. mem*kku langsung dikorek2, dindingnya digaruk-garuk. Benjolan seukuran ibu jari yang tumbuh di dalam liang mem*kku dimainkannya dengan ujung jarinya hingga badanku tiba-tiba menggigil keras dan kugoyang-goyangkan pantatku mengikuti permainan ujung jarinya. Dia menelungkup diselangkanganku dan mulutnya langsung mengulum bibir mem*kku. Cairan yang membasahi sekitar selangkanganku dijilatinya dan setelah bersih bibirnya kembali mengulum bibir mem*kku.

Kemudian giliran itilku mendapat giliran dikulum dan dilumat dengan mulutnya. Jari tangannya kembali menyeruak masuk ke dalam mem*kku, aku benar-benar hampir pingsan dibuatnya. Tubuhku kembali terguncang hebat, kakiku jadi lemas semua, otot-otot perutku jadi kejang dan akhirnya aku nyampe, cairan mem*kku yang banjir ditampung dengan mulutnya dan tanpa sedikit pun merasa jijik ditelan semuanya. Aku menghela napas panjang, dia masih dengan lahapnya melumat mem*kku sampai akhirnya selangkanganku benar-benar bersih kembali. mem*kku terus diusap2nya, demikian juga itilku sehingga napsuku bangkit kembali. “Terus Mas.. Enak..” desahku. “Ayo dong Mas.. Ines udah nggak tahan”. tetapi dia masih tetap saja menjilati dan menghisap itillku sambil meremas2 toket dan pentilku.

Dia melepaskan CDnya, kont*lnya yang besar dan lumayan panjang sudah ngaceng keras sekali mengangguk2. Aku dinaikinya dan segera dia mengarahkan kont*lnya ke mem*kku. Perlahan dimasukkannya kepala kont*lnya. “Enak Mas..” kataku dan dia sedikit demi sedikit meneroboskan kont*lnya ke mem*kku yang sempit. mem*kku terasa sesek karena kemasukan kont*l besar, setelah kira-kira masuk separuh lebih kont*lnya mulai dienjot keluar masuk. “Terus Mas.. kont*lnya enak” erangku keenakan. Dia terus mengenjot mem*kku sambil menyorongkan dadanya ke mulutku. Pentilnya kuhisap. Belum berapa lama dienjot, dia mengajak tukar posisi. Sekarang aku yang diatas Kuarahkan mem*kku ke kont*lnya yang tegak menantang. Dengan liar aku kemudian mengenjot tubuhku naik turun. Toketku yang montok bergoyang mengikuti enjotan badanku. Dia meremas toketku dan menghisap pentilnya dengan rakus. “Mas.. kont*lnya besar, keras banget..”, aku terus menggelinjang diatas tubuhnya. “Enak Nes?’ tanyanya. “Enak Mas.. ent*tin Ines terus Mas..” Dia memegang pinggangku yang ramping dan menyodokkan kont*lnya dari bawah dengan cepat. Aku mengerang saking nikmatnya. Keringatku menetes membasahi tubuhnya.

Akhirnya, “Ines nyampe Mas” jeritku saat tubuhku menegang merasakan nikmat yang luar biasa. Setelah itu tubuhku lunglai menimpa tubuhnya. Dia mengusap-usap rambutku sambil mencium bibirku. Setelah beberapa saat, kont*lnya yang masih ngaceng dicabut dari dari mem*kku. Aku ditelentangkannya, dan dia naik ke atasku. Kembali mem*kku dijilatinya. Kedua lututku didorongkannya sedikit ke atas sehingga bukit mem*k ku lebih menungging menghadap ke atas, pahaku lebih dikangkangkannya lagi, dan lidahnya dijulurkan menyapu celah-celah mem*kku. Lidahnya dijulurkan dan digesekkan naik turun diujung itil ku. Aku hanya bisa merasakan nikmatnya sambil meremas- remas kont*lnya dengan penuh nafsu. Cairan lendir yang keluar kembali dari mem*kku dengan lahap dihisapnya. Bibirnya terus mencium dan melumat habis bibir mem*kku. Dapat kurasakan hisapan mulutnya yang kuat menghisap mem*kku, lidahnya menjulur masuk ke dalam mem*kku dan sempat menyentuh dinding bagian dalamnya. Saking dalamnya mulutnya menekan mem*kku, hidungnya yang mancung menempel dan menekan itilku.

Aku kembali merasakan kenikmatan lebih, apa lagi saat wajahnya dengan sengaja digeleng-gelengkan ke kiri dan ke kanan dengan posisi hidungnya tetap menempel di itilku dan bibirnya tetap mengulum bibir mem*kku sambil lidahnya terus mengorek mem*k ku. Aku tak kuasa membendung napsuku. “Oocch!Mas.. Teruu.. Uus! Aku nyampe lagi mas”, suaraku semakin parau saja. Kugoyangkan pantatku mengikuti irama gesekan wajahnya yang terbenam di selangkanganku. Kujepit kepalanya dengan pahaku, badanku menggigil hebat bagaikan orang kejang. Aku menarik nafas panjang sekali, semua cairan mem*kku dihisap dan ditelannya dengan rakus sekali hingga habis semua cairan yang ada di sekitar mem*kku.Dia tetap dengan asyiknya menjilati mem*kku. Kemudian jilatannya naik ke atas, ke arah perutku. Lidahnya bermain-main di pusarku, sambil tangannya langsung meraba dan meremas kedua toketku, jilatannya juga semakin naik menuju toketku.

Jengkal demi jengkal jilatannya semakin naik. Mulutnya sudah sampai ke dadaku. Kini giliran toketku dijilatinya, mulutnya seakan ingin menelan habis toketku, lidahnya kini menari-nari di ujung pentil ku. Jari tangan kanannya meraba-raba selangkanganku, menggesek- gesek itilku hingga mem*kku basah lagi, nafsuku naik kembali. Sementara tangan kirinya tetap meremas toketku dan tangan kanannya tetap bergerilya di mem*kku, bibirnya kini mencium dan melumat bibirku. Kubalas lumatan bibirnya dengan penuh nafsu, kujulurkan lidahku masuk ke rongga mulutnya. Dia menghisap lidahku, secara bergantian dia juga menjulurkan lidahnya ke dalam mulutku dan kubalas dengan hisapan pula.

Kini dia membetulkan posisinya sehingga berada di atasku, kont*l nya sudah mengarah ke hadapan mem*kku. Aku merasakan sentuhan ujung kont*lnya di mem*kku, kepala kont*l nya terasa keras sekali. Dengan sekali dorongan, kepala kont*lnya langsung menusuk mem*kku. Ditekannya sedikit kuat sehingga kepala kont*l nya terbenam ke dalam mem*kku. Walau kont*l nya belum masuk semua, aku merasakan getaran-getaran yang membuat otot mem*kku berdenyut, cairan yang membasahi mem*kku membuat kont*lnya yang besar mudah sekali masuk ke dalam mem*kku hingga dengan sekali dorongan lagi maka kont*lnya masuk kedalam sarangnya, blee.. ess.. Begitu merasa kont*lnya sudah memasuki mem*k ku, kubalik badannya sehingga kembali aku berada di atas tubuhnya, kududuki batang kont*l nya yang cukup panjang itu.

Kugoyangkan pantatku dan kuputar-putarkan, kukocok naik turun hingga kont*lnya keluar masuk mem*kku, dia meremas- remas kedua toketku. Lebih nikmat rasanya ngent*t dengan posisi aku diatas karena aku bisa mengarahkan gesekan kont*l besarnya ke seluruh bagian mem*kku termasuk itilku. Kini giliran nya yang tidak tahan lagi dengan permainanku, ini dapat kulihat dari gelengan kepalanya menahan nikmat yang sebentar lagi tampaknya akan ngecret. Dan ternyata benar juga, dia memberikan aba-aba padaku bahwa dia akan ngecret. “Kita nyampe sama-sama..mas”, rintihku sambil mempercepat kocokan dan goyangan pantatku. “Aa.. Aacch!” Akupun nyampe lagi, kali ini secara bersamaan dengan dia, bibir mem*kku berkedutan hingga meremas kont*lnya. Pejunya dan lendir mem*kku bercampur menjadi satu membanjiri mem*kku. Karena posisiku berada diatas, maka cairan kenikmatan itu mengalir keluar merembes melalui kont*lnya sehingga membasahi selangkanganku, banyak sekali dan kurasakan sedikit lengket-lengket agak kental cairan yang merembes keluar itu tadi. Kami berdua akhirnya terkulai lemas di dipan.

Posisiku tengkurap di sampingnya yang terkulai telentang memandang rimbunnya dedaunan. “Mas, pinter banget sih ngerangsang Ines sampe berkali2 nyampe, udah gitu kont*l mas kalo udah masuk terasa sekali gesekannya, abis gede banget sih”, kataku. “mem*kmu juga nikmat sekali Nes, peret banget deh, kerasa sekali cengkeramannya ke kont*lku”, jawabnya sambil memelukku. Kami berdua sempat tertidur cukup lama karena kelelahan dan tiupan angin sejuk sepoi2. Ketika terbangun, kami masuk ke vila karena dia mengajakku mandi. ”Kita mandi sama-sama yuk!” ajaknya, “Badanku lengket karena keringat”. Kami masuk ke vila menuju ke kamar mandi beriringan sambil berpelukan, bertelanjang bulat.

Kamar mandinya tidak terlalu besar namun cukup bagus, ada ruangan berbentuk segi empat di dalam kamar mandi, bentuknya kira-kira seperti lemari kaca. Kami berdua masuk ke dalamnya dan menyalakan shower, aku dan dia saling berganSantin menggosok tubuh kami, demikian pula saat menyabuni tubuh kami lakukan berganSantin, saling raba, saling remas, bibir kami saling pagut bergantian. 

Dia menjulurkan lidahnya ke dalam mulutku yang kusambut dengan hisapan, dan secara berganSantin pula kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Diapun menyambutnya dengan lumatan. Rabaan tangannya berpindah ke toketku. Diremas-remasnya toketku yang mulai mengencang lagi pertanda napsuku bangkit lagi. Tanganku pun tidak mau kalah, kuraih kont*lnya yang kembali sudah berdiri tegak dan kukocok-kocok lembut dengan jariku. Ujung kont*lnya sesekali menyenggol bagian depan pangkal pahaku. Luar biasa staminanya, barusan selesai ngecret di mem*kku sudah ngaceng lagi. “Betul kan, kalo cewek jembutnya lebat pasti napsunya besar, kaya kamu ya Nes”, katanya. Kuarahkan kont*lnya ke belahan bibir mem*kku. Dengan menggunakan tanganku, kugesek- gesekkan ujung kont*lnya ke belahan bibir mem*kku. Kutempelkan ujung kont*lnya ke ujung itilku dan kugesek-gesekkan naik turun. Kini mem*kku kembali mengeluarkan cairan bening.Lalu dia mematikan shower sambil duduk di samping bathtub. Aku dipangkunya dengan posisi memunggunginya.kont*lnya yang sudah ngaceng keras kembali dimasukkannya ke dalam mem*kku dalam posisi seperti itu. Karena kondisi bathtub yang sempit mengharuskan posisiku merapatkan pahaku, maka mem*kku menjadi kian sempit saja.

Awalnya agak sulit juga kont*lnya masuk kedalam mem*kku. Tetapi dengan sedikit bersusah payah akhirnya ujung kont*lnya berhasil menyeruak ke dalam mem*kku yang kubantu dengan sedikit menekan badanku kebawah, dan kuangkat kembali pantatku hingga lama kelamaan akhirnya berhasil juga kont*lnya amblas semua ke dalam mem*kku. Dengan posisi begini membuatku harus aktif mengocok kont*lnya seperti di kolam renang tadi dengan cara mengangkat dan menurunkan kembali pantatku, sehingga mem*kku bisa meremas dan mengocok-ngocok kont*lnya. kont*lnya terasa sekali menggesek-gesek dinding bagian dalam mem*kku. Saat aku duduk terlalu ke bawah, kont*lnya terasa sekali menusuk keras mem*kku, nikmat yang kurasakan tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata lagi. mem*kku semakin lama semakin basah sehingga keberadaan kont*lnya dalam mem*kku sudah tidak sesesak tadi. Kini aku pun sudah tidak kuat lagi menahan napsuku. Aku tidak mampu lagi mengangkat dan menurunkan pantatku seperti tadi, kini aku hanya bisa terduduk dalam posisi kont*lnya masih tertancap di dalam mem*kku.

Cerita Seks – Kugoyang-goyangkan saja pantatku sambil duduk di pangkuannya, persis seperti layaknya Inul menggoyangkan pinggul dan pantatnya, ngebor diatas panggung saat menyanyi. Kedua tangannya sedari tadi asyik meremas kedua toketku. Pentilku dicubit dan dipilin-pilinnya sehingga menimbulkan sensasi tersendiri bagiku. Dia rupanya tidak mampu bertahan lama merasakan goyang ngebor gaya Inul yang kulakukan. “Aduuh..! Nes, hebat banget empotan mem*k kamu! Aku hampir ngecret nich!” serunya sambil tetap memilin pentilku. “Kita keluarin sama-sama yuk!” sahutku sambil mempercepat goyanganku. Dia rupanya sudah benar- benar tidak mampu bertahan ebih lama lagi hingga didorongnya aku sedikit ke depan sambil dia berdiri, sehingga posisiku menungging membelakanginya, tetapi kont*lnya masih menancap di dalam mem*kku. Dia berdiri sambil mengambil alih permainan, dia mengocok-ngocokkan kont*lnya keluar masuk mem*kku dalam posisi doggy style. “Aa.. Aacch!” kini giliranku yang menyeracau tidak karuan. Aku merasakan kedutan-kedutan di dalam mem*kku, terasa sekali semburan hangat yang menerpa dinding mem*kku, pejunya rupanya langsung muncrat keluar memenuhi mem*kku.

Bersamaan dengan itu, aku pun mengalami hal yang serupa, kurasakan kedutan mem*kku berkali- kali saat aku nyampe. Kami nyampe dalam waktu hampir bersamaan hingga mem*kku kembali penuh dengan cairan birahi kami berdua, saking penuhnya sehingga tidak tertampung seluruhnya. Cairan kami yang telah tercampur itu, meleleh keluar melalui celah mem*kku dan merembes keluar hingga membasahi perutku karena posisiku masih setengah menungging saat itu. Kami pun melanjutkan mandi bersama-sama bagaikan sepasang pengantin baru. Setelah selesai mandi dan mengeringkan tubuh kami masing-masing dengan handuk, dengan bertelanjang bulat kami menuju ke ruang makan. Tiba2 hpnya berbunyi, dia ke teras sambil menerima panggilan telpon. Tidak lama kemudian dia kembali, dia mengeluarkan buah2an dari lemari es dan berkata “Aku harus kembali Nes, proposalnya sudah siap tapi mesti diambil, mungkin agak lama. Kamu makan buah2an ini dulu ya, nanti aku belikan makanan”. “aku mau tidur saja, cape dienjot terus sama mas”, kataku. “Tapi enakkan?” katanya lagi sambil mengenakan pakaiannya. “Enak banget mas, Ines masih mau lagi lo mas”, jawabku sambil mulai mengupas buah. “So pasti, kita kesini kan untuk ngent*t sampe loyo. Aku pergi dulu ya”, sambil mencium pipiku. “Hati2 ya mas, Ines nungguin lo”. Seperginya, aku berbaring sambil memakan buah2an yang telah kukupas. Aku makan beberapa potong sehingga akhirnya aku merasa kenyang dan mengantuk lagi. Aku berbaring di sofa dan akhirnya tertidur.

Tidak tahu berapa lama aku tertidur, tiba2 aku terbangun karena merasa toketku ada yang mengelus2. Aku terbangun dan terkejut melihat pak Mat, penjaga vila itu sedang duduk disebelahku dan sedang mengelus2 toketku. “Pak, mau apa?” kataku marah. “Mau ngent*t sama non”, jawabnya sambil cengengesan. “Tadi bapak ngintip non dient*t pak Hide di kolam renang, sampe bapak napsu banget. Ketika bapak liat pak Hide pergi, makanya bapak gak tahan lagi pengen ngent*t juga sama non. Mau ya non”. Pak Mat lalu meremas2 toket dengan napsunya. Aku hanya bisa diam dan bengong. Karena aku terdiam dia terus saja meremas toketku, malah sambil memlintir2 pentilku, perlahan pentilku mulai mengeras. Aku memandangi wajah tuanya, masih tersisa kegagahannya di waktu muda. “Non, toket non besar juga yah…, enak nggak diginiin?’ sambil tangannya terus meremas-remas toketku. “Pak, aah”, napsuku makin meninggi. Heran juga aku kok mau saja diremas2 sama penjaga vila yang sudah tua itu. Sambil toketku diremasnya terus, dia menjilati seluruh tubuhku, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dijilatinya pula toketku, disedotnya pentilku sampai aku gemetar saking napsunya. Kakiku dan kedua pahaku yg mulus itu dibukanya sambil dielus2 dengan satu tangan masih meremas toketku.

Setelah itu mem*kku dijilatin dengan lidahnya yg kasar.Rasanya nggak keruan. Bukan hanya bibir mem*kku aja yg dijilatinnya, tapi lidahnya juga masuk ke mem*kku, aku jadi menggelinjang nggak terkontrol, wajahku memerah sambil terdongak keatas. Melihat napsuku sudah naik, dia melepas seluruh pakaian dan celananya. Aku diam aja sambil memperhatikan dengan seksama. Badannya yang kehitaman masih nampak tegap berotot, dan kont*lnya yang besar sekali sudah ngaceng dengan keras. Ya ampun aku hampir tak dapat memegangnya dengan kedua tanganku. kont*lnya lebih besar dari kont*l mas Hide. “Dikocok non”, pintanya, aku nurut saja dan mengocok kont*lnya dengan gemas, makin lama makin besar dan panjang. “Non diemut dong”, katanya keenakan. Ngelunjak juga situa ini, udah dikocok sekarang minta diemut.

Dia berdiri disamping sofa dan aku duduk sambil mengarahkan kont*l yg ada digenggamanku ke arah mulut ku. Aku mencoba memasukkan kedalam mulutku dengan susah payah, karena besar sekali jadi kujilati dulu kepala kont*lnya. Dia mendesah2 sambil mendongakkan kepalanya. Kutanya “Kenapa pak”. “Enak banget, terusin non, jangan berhenti”, ujarnya sambil merem melek kenikmatan. Aku teruskan aksiku, aku jilatin kont*lnya mulai dari kepala kont*lnya sampai ke pangkal batang, aku terusin ke biji pelirnya, semua aku jilatin. Aku coba untuk memasukkan kedalam mulutku lagi, udah bisa masuk, udah licin terkena ludahku. Dia memegangi kepalaku dengan satu tangannya sambil memaju-mundurkan pantatnya, mengent*ti mulutku. Sedang tangan satunya lagi meremas toketku sebelah kanan. gerakannya semakin lama semain cepat. Tiba2 dia menghentikan gerakannya. kont*lnya dikeluarkan dari mulutku.

Dia menaiki tubuhku dan mengarahkan kont*lnya ke toketku. “Non, bapak mau ngerasain kont*l bapak kejepit toket non yang montok ya”. Aku paham apa yang dia mau, dan dia kemudian menjepit kont*lnya di antara toketku. “Ahh.. Enak non. Diemut enak, dijepit toket juga enak. Tinggal dijepit mem*k yang belum”, erangnya menahan nikmat jepitan toketku. Dia terus menggoyang kont*lnya maju mundur merasakan kekenyalan toketku. Sampai akhirnya “Aduh non, sebentar lagi aku mau ngecret, keluarin di mulut non ya”. “Jangan pak, di mem*kku saja”, jawabku. Aku tidak ingin merasakan pejunya dimulutku, lebih baik dingecretkan di mem*kku, aku juga bisa ngerasain nikmat. Diapun naik keatasku sambil mengarahkan kont*lnya ke mem*kku. Dia mulai memasukkan kont*lnya yang besar dan panjang itu ke mem*kku.Pantatnya semain didorong dan didorong, sampai aku merem melek keenakan ngerasain mem*kku digesek kont*lnya. Dia mulai menggerakkan kont*lnya keluar dan masuk dimem*kku yang sempit itu. “Wuah, non, sempit betul mem*kmu, tak pernah terbayang dibenakku aku akan menikmati tubuh seorang perempuan yang montok dan cantik. Ternyata ngent*t dengan non lebih enak dari segalanya. Untunglah pak Hide bisa ngent*tin non”, dia menggumam tak keruan. Aku mulai merasakan nikmat yg tak terkatakan, luar biasa enak sekali rasanya.

Secara naluri aku gerakkan pantatku kekanan dan kekiri, mengikuti gerakan kont*lnya yg keluar masuk, wuihh tambah nikmat. Kulihat wajah tuanya menikmati sekali gesekkan kont*lnya di mem*kku. Tubuhnya yg hitam berada diatas tubuhku yang putih mulus, bergoyang-goyang maju mundur, dia memperhatikan kont*lnya sendiri yang sedang keluar masuk di mem*kku. Selang beberapa saat, dia mengajak ganti posisi, aku pasrah aja. Aku disuruhnya nungging seperti *censored**censored**censored**censored**censored* *censored*, dan dia menyodokkan kont*lnya dari belakang ke mem*k ku. Nikmaat sekali permainan ***** “Ennngghh…” desahnya tak keruan. Sambil menggoyang pantatnya maju mundur, dia memegangi pinggulku dengan erat, aku merasa nikmat yang luar biasa. Tidak tahu berapa lama dia menggenjot mem*kku dari belakang seperti itu, makin lama makin keras sehingga akhirnya aku nyampe lagi “Pak, enjot yang keras, nikmat sekali rasanya”, jeritku. Dia mengenjot kont*lnya lebih cepat lagi dan kemudian pejunya muncrat didalam mem*kku berulang-ulang, banyak sekali. ‘crottt, croooth.., crooootttthh…’ Aku merasa mem*kku agak membengkak akibat disodok oleh kont*lya yang besar itu. “Non, mem*k non luar biasa deh cengkeramannya, nikmat banget non. Mimpi apa bapak semalem bisa ngent*tin non. Kerasa sekali gesekannya dikont*l bapak, kapan ya bapak bisa ngent*t sama non lagi”, katanya sambil terengah2. Enak aja, pikirku. Belum tentu juga mas Hide ngajak aku ke vilanya lagi. Harus kuakui dient*t pak Mat tidak kalah nikmatnya dari ngent*t dengan mas Hide sekalipun.

Setelah istirahat beberapa saat, dia bertanya padaku “Gimana non? enak kan?”. “Enak sekali pak, rasanya nikmat sekali, mem*kku sampe sesek kemasukan kont*l bapak, abis gede banget sih”, jawabku. Dia mencabut kont*lnya yang sudah lemes dari mem*kku. kont*lnya berlumuran pejunya dan cairan mem*kku. Mungkin saking banyaknya ngecretin pejunya dimem*kku.Dia pamit meninggalkan aku yang kelelahan dan terkapar di sofa. Aku kembali kekamar dan tertidur lagi karena kelelahan tapi nikmat sekali. Saking capenya dient*t 2 lelaki, aku sampai gak mendengar ketika mas Hide kembali. Aku terbangun ketika merasa bibirku ada yang mengecup, kukira pak Mat kembali pengen mengent*ti aku lagi, ternyata mas Hide. “Cape ya Nes, tidurnya nyenyak betul”, katanya tersenyum. Dalam hati aku bergumam, gimana gak mau capek, dient*t 2 lelaki ya ngabisin enersi. tetapi aku tidak menceritakan apa yang aku alami dengan pak Mat. Nanti pak Mat bisa dipecat karena ikut mengent*ti perempuan yang dibawa majikannya. Toh aku merasakan nikmat dient*t pak Mat. “Makan yuk, sudah lewat magrib. Tadi siang kan kamu cuma makan buah”,ajaknya. “Aku mau siram2 badan dulu ya mas”‘ jawabku. “Tadi kan udah mandi”, katanya. “Biar seger saja mas, gak lama kok”, jawabku. Aku mengguyur badanku di shower beberapa saat kemudian menyabuni tubuhku, menghilangkan keringatku yang bercampur dengan keringat pak Mat. Selesai mandi, aku mengenakan blus dan rok mini yang aku bawa dari rumah, dalemannya aku pakai yang tipis dan minim.

Bersambung ke Bag.2

Kategori:Tak Berkategori Tag:,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: