Arsip

Posts Tagged ‘Cerita Seks Tante’

>Guru Sex Private Sange – Bag.1

1 Maret 2011 Tinggalkan komentar

>

Tiba-tiba Tante menarik tanganku, aku langsung berdiri mengikuti langkahnya memasuki kamarku. Masih terkaget-kaget Aku ketika menutup pintu kamar dan langsung menguncinya.
"Jangan ditutup, buka dikit aja…"kata Tante.
Tante langsung ke balik pintu dan bersender ke dinding. Tanpa perintah Aku langsung mendekatinya, dan hendak mencium bibirnya.
"Jangan cium…."
Aku baru ingat, Tante sudah berdandan. Kalau kucium lipstik di bibirnya akan habis dan akan jadi pertanyaan Oom.
Aku rabai dan remas2 dadanya. Tangan Tante lalu membuka rits celanaku dan mengeluarkan isinya. Dengan beberapa kali elusan saja penisku sudah membesar tegang dan keras siap tempur.

Lalu Tante melepaskan sendiri celana dalamnya, mengangkat roknya dan juga sebelah kakinya.
"Ayo….masukin…. gak banyak waktu…."katanya
Akupun masuk….
Aku memompa….
Bibir Tante terkatub rapat, bahkan telapak tangannya ikut menutup mulutnya, khawatir membuat suara2 aneh.
Enak juga melakukan hubungan seks sambil berdiri begini…
Aku cuma membuka rits dan menurunkan celana dalam, sedangkan Tante hanya celana dalamnya saja yang dilepas, pakaian lainnya tetap ditempatnya. Bagiku ini suatu sensasi baru….

Baca selengkapnya »

>Nikmatnya Menjadi Dokter – Bag.2

11 Februari 2011 Tinggalkan komentar

>

Lalu aku tarik wajahku dari dadanya, aku duduk di samping tubuhnya yang terbaring. Bulir keringat mulai membasahi wajahnya yang putih, nafasnya tersengal, matany amasih terpejam, bibirnya terbuka sedikit. Rok bagian kiri sudah terangkat sampai ke perut, menyisakan pemandangan paha putih jenjang nan indah, namun betisnya tertutup kaos kaki yang cukup panjang. Tangan kananku masuk ke bawah kedua lututnya, tangan kiriku masuk ke dalam lehernya, aku pun memagutnya lagi dan dia faham apa yang aku maksud. Dia kalungkan kedua tangannya ke belakang kepalaku. “Jangan di sini ya sayang…kita masuk saja ke dalam…” ujarku sambil mengangkatnya, birbir kami tak henti berpagutan. Lalu aku rbahkan tubuhnya ke kasur busa tanpa dipan khas milik anak kos. nafasnya terus tersengal, kedua tangannya meremas kain sprei kasurnya itu. Kini aku berada di kedua kakinya, aku coba tarik roknya sampai sebatas perut dan aku kangkangkan kakinya.

Ciumanku mendarat di bagian bawah perut, “eenngg…ahhh…” aku tau dia merasa geli dan terangsang hebat, sambil kedua tanganku mencoba menurunkan celana dalamnya. Gerak tubuhnya pun tidak menggambarkan penolakan, bahkan dia agak mengangkat pantatnya ketika tangan ku mencoba melepas celana dalamnya sehingga mudah melewati bagian pantan dan tidak berapa lama terlepas sudah celana penutup itu. Vagina muda berwarna pink yang sangat indah, ditumbuhi bulu halus yang rapih tercukup. Baunya pun sangat wangi. Tapi aku tidak ingin buru-buru, aku ingin Novi membiasakan suasananya dulu.

Baca selengkapnya »

Kategori:Tak Berkategori Tag:,

>Nikmatnya Menjadi Dokter – Bag.1

6 Februari 2011 Tinggalkan komentar

>

Namaku Rendi, seorang spesialis kandungan dokter di rumah sakit negeri di kota Semarang. Umurku 35 tahun tapi aku belum nikah, jangan salah bukan karena aku tidak ganteng tapi pacarku sedang menyesaikan S3 nya di amrik, makanya nungguin dia selesai dulu. Tinggiku 180 cm karena hobiku juga main basket, kulit putih , dan wajah yang bikin cewek pada ngiler. Dengan punya pacar bukan berarti aku ngga “ngobyek” dengan yang lain. Terus terang aku punya beberapa affair dengan dokter wanita di sini atau anak kedokteran yang masih koass. Tentu yang aku pilih bukan sembarangan, harus lebih mudan dan cantik. Sebenernya sudah banyak yang mencoba menarik atiku tapi sejauh ini aku belum mau serius dan kalau bisa aku manfaatin selama jauh dengan pacarku. Sudah banyak yang aku banyak yang aku perdaya tapi…ada satu orang yang membuatku sangat penasaran. Namanya Novi, umurnya sekitar 22 tahun, dia anak koas dari perguruan tinggi negeri dari kota yang sama. Kebetulan aku jadi residennya. Wajahnya cantik dan tatapannya teduh, dia juga berjilbab lebar berbeda dengan anak lainnya, walaupun affairan aku pun sebenernya ada juga yang berjilbab, tapi tidak seperti dia. Tinggi semampai sekitar 165 cm, dengan tubuh yang padat tidak kurus dan tidak gemuk, sesuai seleraku. Jilbabnya pun tidak mampu menutupi lekukan dadanya, aku taksir kalau tidak 36B mungkin 36C. Tutur katanya yang lembut dan halus benar-benar membuatku mabuk. Apalagi dia sangat menjaga pergaulan. Sesekali aku coba berusaha bicara dengannya tapi dia elalu menundukkan wajahnya setiap bicara denganku. Dia pun tidak menyambut tangaku ketika aku ajak untuk bersalaman. Kulit putihnya sangat halus ketika aku coba perhatika di pipi dan ujung tangannya, tahi lalat di atas bibir semakin menambah kesan manis darinya.

Baca selengkapnya »

Kategori:Tak Berkategori Tag:,

>Guruku Nikmat Sekali

23 Januari 2011 Tinggalkan komentar

>

Sejalan dengan waktu, kini aku bisa kuliah di universitas keinginanku. Namaku Jack, sekarang aku tinggal di Yogyakarta dengan fasilitas yang sangat baik sekali. Kupikir aku cukup beruntung bisa bekerja sambil kuliah sehingga aku mempunyai penghasilan tinggi.

Berawal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Setelah itu aku bertemu dengan guru bahasa inggrisku, kami ngobrol dengan akrabnya. Ternyata Ibu Shinta masih segar bugar dan amat menggairahkan. Penampilannya amat menakjubkan, memakai rok mini yang ketat, kaos top tank sehingga lekuk tubuhnya nampak begitu jelas. Jelas saja dia masih muda sebab sewaktu aku SMA dulu dia adalah guru termuda yang mengajar di sekolah kami. Sekolahku itu cuma terdiri dari dua kelas, kebanyakan siswanya adalah wanita. Cukup lama aku ngobrol dengan Ibu Shinta, kami rupanya tidak sadar waktu berjalan dengan cepat sehingga para undangan harus pulang. Lalu kami pun berjalan munuju ke pintu gerbang sambil menyusuri ruang kelas tempatku belajar waktu SMA dulu.

Baca selengkapnya »

Kategori:Tak Berkategori Tag:,

Bercinta Dengan Asisten Ibuku

19 November 2010 Tinggalkan komentar

Kegemaranku menonton film porno berawal dari penemuan tidak terduga dibalik tumpukan lipatan sarung didalam lemari kamar om saya pada awal sekolah menengah pertama. berhubung dulunya satu-satunya media pemutar vcd-vcd pono tersebut ada di TV utama ruang tengah rumah saya, setiap malam saya ‘berkeliaran’ setelah seluruh penghuni rumah tertidur pulas. dari hari kehari, saya selalu penasaran dengan setiap ‘penemuan’ baru saya, dan terkadang perlu menunggu waktu lama untuk bisa menonton film-film baru koleksi om saya tersebut.

pada suatu hari, seluruh keluarga berpergian keluar kota, saya tidak ikut serta dalam perjalan inap 2 hari tersebut dengan alasan ada janji temu dengan teman-teman besok harinya. namun sayang, dirumah kebetulan mempekerjakan seorang ‘asisten ibu’ (untuk memperhalus kata pembokat), jadi saya tetap tidak leluasa untuk menonton film cabul temuan saya dan tetap perlu menunggu waktu yang tepat.

haripun berganti malam, saya sangat penasaran dengan film baru ini, dan memutuskan untuk memutar film pada tengah malam seperti biasa namun tingkat kewaspadaan sedikit berkurang dari biasanya. mulailah saya memutar film demi film yang sangat membuat konak.
kreeeekkk.. (pintu kamar Asisten Ibu terbuka).
saya pun kaget bukan kepalang beserta panik tiada tara.
berhubung kamar sang AI tepat berada disamping ruang tengah rumah saya.
sial…
remote VCD playernya macet..
filmpun terus berputar. namun saya beruntung, sang AI sedang ngantuk berat sehingga tidak terlalu memperhatikan apa yan sedang saya tonton, dan diapun terus menuju kamar mandi untuk buang air.
sekembalinya dia ke kamar, saya dapat mengatasi permasalahan pada remote tersebut. dan seolah-olah saya sedang nonton berita malam.
dia pun kembali tidur dikamarnya.

film pun hampir selesai ditonton semua. biasanya berakhir pada membuat bersin burung.namun kali ini lain, jantung saya berdegup kencang, memiliki hasrat untuk melihat barang wanita secara langsung, berhubung belum pernah.otak iblis saya memberi sinyal untuk mencoba mengintip barang sang AI.tanpa berpikir panjangpun saya memberanikan diri untuk memasuki kamarnya yang wangi.

kreeekkk..
dia terlelap pulas. jantungpun semakin tidak menentu dengan pikiran-pikiran jahat yang telah terlintas dibenak.
sayapun mengendap mendekatinya. dia mengenakan pakaian tidur tipis warna coklat. dia tidur terlentang, sehingga memudahkan saya memulai aksi saya.
saya mengelus wajahnya yang lumayan cantik, mulus sekali. dan tertarik untuk memegang payudaranya yang terlihat putingnya, karena dia sepertinya tidak mengenakan bra ketika tidur.
saya buka perlahan kancing bajunya, dan merentagkannya lebar. tertampak lah buah dada yang kencang berisi, putingnya yang berwarna merah kecoklatan pun terlihat jelas. saya pun semakin tak karuan, nafas, detak jantung, semuanya.
kemudian saya mencoba menurunkan celana pendekny, berhubung dipinggang hanya berbahan karet elasti, jadi mudah bagi saya untuk menurunkannya.
wooww..
saya terkejut ternyata dia tidak mengenakan pakaian dalam, nampaklah vagina dengan rambut yang sangat sangat jarang dan tampak tidak pernah dicukur itu, sangat bersih dan mulus kelihatannya. berhubung warna kulitnya adalah sangat putih, vaginanya berwana merah.
itu pertama kali saya melihat vagina secara langsung, namun berkeinginan untuk meneruskan aksi saya malam itu. mumpung..
sang AI pun masih terlelap, jadi kenapa tidak melanjutkan pekerjaan setengah jalan ini?
saya pun mulai memegangi puting, payudara dan vagina yang saya dambakan itu secara berurutan. mulusnya.
burung saya semakin berasa terbang.
lama kelamaan vaginanya menjadi basah dan sangat hangat.
terkagetlah saya ketika sang AI tersadar dan duduk sambil bertanya

“mas Dani, sedang apa? kenapa saya jadi ‘begini’?…
“a..aa..anu.. emm.. ” saya terbata-bata tak bisa menjelaskan.
“kamu mau apa? mau memperkosa saya?” tanyanya lagi.
“maaf, saya g bermaksud begitu, tadinya cuma…cuma…” jawab saya.
“cuma terangsang? habis nonton film jorok khan tadi?” tanyanya.
Dan sayapun terkaget, ternyata dia tahu saya tadi menonton film porno.
“saya tahu kok, dan saya sering ikut lihat secara diam-diam” dia berujar.
“Maaf, saya tadi cuma penasaran ingin melihat secara langsung apa yang ada di dalam film itu, cuma mau lihat vagina saja, sebab saya blum pernah” saya menyela.
“ya sudah, tak apa-apa” jawabnya tanpa membetulkan pakaiannya yang terbuka.
“kalau mau, saya tak apa-apa telanjang buat mas Dani, bahkan melayani lebih pun tak jadi masalah” tambahnya.
“namun saya memiliki permintaan, saya ingin memberi hadiah buat keluarga saya untuk akhir tahun ini” pintanya.
“apa itu?” tanya saya
“saya ingin memberi uang lebih dari gaji saya untuk makan dan beli baju baru buat keluarga saya” jawabnya.

dan sayapunmenyanggupi permintaannya dengan mempergunakan uang tabunganku..

sang AI, yang bernama Sarah itu masih belia, berumur sekitar 18 tahun, berkulit putih bersih dan memiliki tubuh langsing yang sangat terawat. bersedia untuk melepaskan seluruh pakaian tanpa terkecuali dan melayani saya.
sayapun meminta untk eksekusi di dalam kamar tidur saya saja. dia pun mengiyakan.

sesampainya dikamar saya, dia yang telah tidak berpakaian itu membantu saya melepaskan pakaian sepenuhnya hingga kamipun bertelanjang bulat.
berbaringlah dia diatas ranjang
“silahkan mas” ujarnya sembari meletakkan kedua tangannya pada selngakngannya dan membuka lubang kenikmatannya yang merah merona.

saya pun menghampiri tanpa basa-basi, mungkin karena iblis telah merasuk dan menguasai tubuhku.
saya yang belum pernah melihat vagina secara langsung, sekarang ditantang untuk melakukan ‘gulat’ layaknya spasang suami istri.

Cerita Seks – Saya mengawali dengan mengecup bibirnya yang merah kecoklatmudaan. sembari meremas payudara dan mengelus putingny yang keras.
kemudian turun mengecup leher, turun ke payudara dan menjilati bagian putingnya. dia pun mendesis. “ahh,, mass”
ciuman saya turun keperut dan berlanjut ke pinggir vaginanya.
awalnya saya ragu untuk melakukan ini, karena dalam pikir saya vagina itu bau, ternyata beda dengan barang milik Sarah.
harum, mungkin sewaktu dia ke kamar mandi dia mengenakan pembersih vagina.
saya mulai menciumi bibir vaginanya, sampai membuat dia menjambak rambutku. sembari mendesah keras.
Ahhh..Aaahhh.. (berhubung rumah kosong, jadi tidak ada rasa khawatir pada kami bersua)
saya mulai mejilat lubang vaginanya yang sudah sangat basah itu.
“Aawww.. Ahhh.ahh.aaahhh..” desahnya.
“mas Dani, setubuhi saya sekarang ya. saya sudah ga kuat.”
tanpa ragu, sayapun mengarahkan penis saya yang berukuran 16cm ke arah vagina Sarah, saya tancapkan perlahan, namun tak muat, curiga, dia masih perawan, dan… blessss..
“Arghhh…” teriaknya nikmat namun kesakitan.
ternyata bernar, dia masih perawan. “bentar mas.. sakit.. aw” pintanya.
sayapun mengehentikan aksi saya sejenak.
“lagi mas” pintanya lagi.
dan pada saat itu saya benamkan seluruh burung saya kedalam vaginanya.
berayun berirama keluar masuk dinding vaginanya yang sangat becek dan semakin kencang saya mengocok terdengar sekali suara becek tersebut.
“Ahhh… ahh..ahhh.. emmm.. mas Dani.. ughhhh..”
desahan demi desahan tercipta dari bibir mungilnya.
“saya mau ‘keluar'” saya berkata.
“lepasin mas, jangan didalam, berbaring yah” pintanya.
saya pun melepaskan kenikmatan pertamakali saya tersebut dan berbaring sesuai mintanya.
Sarah menghampiri penis saya dan mengocoknya secara telaten, sangat nikmat.
“mau keluar” kataku.
diapun berbalik badan berposisi 69, membuka mulutnya dan menghisap penisku.
Srott,,srottt,,sroooottttttttttttttttt
sperma keluar begitu nikmatnya sambil melihat vagina indah Sarah yang merekah setelah berhubungan itu persis dihadapan saya, indah sekali.
“saya mau mandi dulu y mas”. katanya

sayapun mengiyakan namun hanya terbaring lemas seperti dikuras habis tenaga, seselesainya ‘pertandingan’ dengan AI yang memakan waktu lebih dari 20menit. sayang dia tidak mempersilahkan saya menuju ronde kedua.

diapun beranjak dari kamar saya dan mandi.

seorang AI bisa sangat telaten berhubungan intim, padahal dia masih perawan. kok bisa yah? tanyaku dalam hati

ternyata menurut pengakuannya, dia sering melihat saya menonton BF dan ikut memperhatikan dan itu membuatnya sangat terangsang untuk berhubungan, dan berkeinginan untuk menirukannya pada malam itu.

keperjakaan sayapun hilang seiring hilangnya keperawanan AI saya yang cantik dan langsing. namun tak disesali karena kenikmatan pertama saya sangatlah luarbiasa (menurut saya).
di lain haripun kami sering melakukannya disaat rumah ditinggal para penghuni utama.

Sekian.

Gairah Nafsu Bu Soni

16 November 2010 Tinggalkan komentar

Sebenarnya saya malu untuk menuliskan cerita ini, tetapi karena sudah banyak yang menggunakan media ini untuk menuliskan cerita-cerita tentang seks walaupun saya sendiri tidak yakin apakah itu semuanya fakta atau fiksi belaka. Memang cerita yang saya tulis ini cukup memalukan tetapi di samping itu ada kejadian yang lucu dan memang sama sekali belum pernah saya alami.

Awal mula dari cerita ini adalah ketika saya baru saja tinggal di sebuah daerah perumahan yang relatif baru di daerah pinggiran kota-maaf, nama daerah tersebut tidak saya sebutkan mengingat untuk menjaga nama baik dan harga diri keluarga terutama suami dan kedua anak saya. Saya tinggal di situ baru sekitar 6 bulanan.
Karena daerah perumahan tersebut masih baru maka jumlah keluarga yang menempati rumah di situ masih relatif sedikit tetapi khusus untuk blok daerah rumah saya sudah lumayan banyak dan ramai. Rata-rata keluarga kecil seperti keluarga saya juga yaitu yang sudah masuk generasi Keluarga Berencana, rata-rata hanya mempunyai dua anak tetapi ada juga yang hanya satu anak saja.


Sudah seperti biasanya bila kita menempati daerah perumahan baru, saya dengan sengaja berusaha untuk banyak bergaul dengan para tetangga bahkan juga dengan tetangga-tetangga di blok yang lain. Dari hasil bergaul tersebut timbul kesepakatan di antara ibu-ibu di blok daerah rumahku untuk mengadakan arisan sekali dalam sebulan dan diadakan bergiliran di setiap rumah pesertanya.

Suatu ketika sedang berlangsung acara arisan tersebut di sebuah rumah yang berada di deretan depan rumahku, pemilik rumah tersebut biasa dipanggil Bu Soni (bukan nama sebenarnya) dan sudah lebih dulu satu tahun tinggal di daerah perumahan ini daripada saya. Bu Soni bisa dibilang ramah, banyak ngomongnya dan senang bercanda dan sampai saat tulisan ini aku buat dia baru mempunyai satu anak, perempuan, berusia 8 tahun walaupun usia rumah tangganya sudah 10 tahun sedangkan aku sudah 30 tahun. Aku menikah ketika masih berusia 22 tahun. Suaminya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan kehidupannya juga bisa dibilang kecukupan.

Setelah acara arisan selesai saya masih tetap asyik ngobrol dengan Bu Soni karena tertarik dengan keramahan dan banyak omongnya itu sekalipun ibu-ibu yang lain sudah pulang semua. Dia kemudian bertanya tentang keluargaku, “Jeng Mar. Putra-putranya itu sudah umur berapa, sih, kok sudah dewasa-dewasa, ya?” (Jeng Mar adalah nama panggilanku tetapi bukan sebenarnya) tanya Bu Soni kepadaku.

“Kalau yang pertama 18 tahun dan yang paling ragil itu 14 tahun. Cuma yaitu Bu, nakalnya wah, wah, waa.. Aah benar-benar, deh. Saya, tuh, suka capek marahinnya.”
“Lho, ya, namanya juga anak laki-laki. Ya, biasalah, Jeng.”
“Lebih nikmat situ, ya. Anak cuma satu dan perempuan lagi. Nggak bengal.”
“Ah, siapa bilang Jeng Mar. Sama kok. Cuma yaitu, saya dari dulu, ya, cuma satu saja. Sebetulnya saya ingin punya satu lagi, deh. Ya, seperti situ.”
“Lho, mbok ya bilang saja sama suaminya. ee.. siapa tahu ada rejeki, si putri tunggalnya itu bisa punya adik. Situ juga sama suaminya kan masih sama-sama muda.”
“Ya, itulah Jeng. Papanya itu lho, suka susah. Dulu, ya, waktu kami mau mulai berumah tangga sepakat untuk punya dua saja. Ya, itung-itung mengikuti program pemerintah, toh, Jeng. Tapi nggak tahu lah papanya tuh. Kayaknya sekarang malah tambah asik saja sama kerjaannya. Terlalu sering capek.”
“O, itu toh. Ya, mbok diberi tahu saja kalau sewaktu-waktu punya perhatian sama keluarga. ‘Kan yang namanya kerja itu juga butuh istirahat. Mbok dirayu lah gitu.”
“Wah, sudah dari dulu Jeng. Tapi, ya, tetap susah saja, tuh. Sebenernya ini, lho, Jeng Mar. Eh, maaf, ya, Jeng kalo’ saya omongin. Tapi Jeng Mar tentunya juga tau dong masalah suami-istri ‘kan.”

“Ya, memang. Ya, orang-orang yang sudah seperti kita ini masalahnya sudah macem-macem, toh, Bu. Sebenarnya Bu Soni ini ada masalah apa, toh?”
“Ya, begini Jeng, suami saya itu kalo’ bergaul sama saya suka cepet-cepet mau rampung saja, lho. Padahal yang namanya istri seperti kita-kita ini ‘kan juga ingin membutuhkan kenikmatan yang lebih lama, toh, Jeng.”
“O, itu, toh. Mungkin situ kurang lama merayunya. Mungkin suaminya butuh variasi atau model yang agak macem-macem, gitu.”
“Ya, seperti apa ya, Jeng. Dia itu kalo’ lagi mau, yang langsung saja. Saya seringnya nggak dirangsang apa-apa. Kalo’ Jeng Mar, gimana, toh? Eh, maaf lho, Jeng.”

“Kalo’ saya dan suami saya itu saling rayu-merayu dulu. Kalo’ suami saya yang mulai duluan, ya, dia biasanya ngajak bercanda dulu dan akhirnya menjurus yang ke porno-porno gitulah. Sama seperti saya juga kalau misalnya saya yang mau duluan.””Terus apa cuma gitu saja, Jeng.”
“O, ya tidak. Kalo’ saya yang merayu, biasanya punya suami saya itu saya pegang-pegang. Ukurannya besar dan panjang, lho. Terus untuk lebih menggairahkannya, ya, punyanya itu saya enyot dengan mulut saya. Saya isep-isep.”
“ii.. Iih. Jeng Mar, ih. Apa nggak jijik, tuh? Saya saja membayangkannya juga sudah geli. Hii..”

“Ya, dulu waktu pertama kali, ya, jijik juga, sih. Tetapi suami saya itu selalu rajin, kok, membersihkan gituannya, jadi ya lama-lama buat saya nikmat juga. Soalnya ukurannya itu, sih, yang lumayan besar. Saya sendiri suka gampang terangsang kalo’ lagi ngeliat. Mungkin situ juga kalo’ ngeliat, wah pasti kepengen, deh.”
“Ih, saya belon pernah, tuh, Jeng. Lalu kalo’ suaminya duluan yang mulai begimana?”
“Saya ditelanjangi sampai polos sama sekali. Dia paling suka merema-remas payudara saya dan juga menjilati putingnya dan kadang lagaknya seperti bayi yang sedang mengenyot susu.”, kataku sambil ketawa dan tampak Bu Soni juga tertawa.
“Habis itu badan saya dijilati dan dia juga paling suka menjilati kepunyaan saya. Rasanya buat saya, ya, nikmat juga dan biasanya saya semakin terangsang untuk begituan. Dia juga pernah bilang sama saya kalo’ punya saya itu semakin nikmat dan saya disuruh meliara baik-baik.”

“Ah, tapi untuk yang begituan itu saya dan suami saya sama sekali belum pernah, lho, Jeng. Tapi mungkin ada baiknya untuk dicoba juga, ya, Jeng. Tapi tadi itu masalah yang situ dijilatin punyanya. Rasa enaknya seperti apa, sih, Jeng.”
“Wah, Bu Soni ini, kok, seperti kurang pergaulan saja, toh.”
“Lho, terus terang Jeng. Memang saya belon pernah, kok.”
“Ya, geli-geli begitulah. Susah juga untuk dijelasin kalo’ belum pernah merasakan sendiri.” Lalu kami berdua tertawa.
Setelah berhenti tertawa, aku bertanya, “Bu Soni mau tau rasanya kalau gituannya dijilati?”
“Yah, nanti saya rayu, deh, suami saya. Mungkin nikmat juga ya.” Ucapnya sambil tersenyum.

“Apa perlu saya dulu yang coba?”, tanyaku sambil bercanda dan tersenyum.
“Hush!! Jeng Mar ini ada-ada saja, ah”, sambil tertawa.
“Ya, biar tidak kaget ketika dengan suaminya nanti. Kita ‘kan juga sama-sama wanita.”
“Wah, kayak lesbian saja. Nanti saya jadi ketagihan, lho. Malah takutnya lebih senang sama situ daripada sama suami saya sendiri. Ih! Malu’ akh.”, sambil tertawa.
“Atau kalo’ nggak mau gitu, nanti saya kasih tau gimana membuat penampilan bulu gituannya biar suaminya situ tertarik. Kadang-kadang bentuk dan penataannya juga mempengaruhi rangsangan suami, lho, Bu Soni.”
“Ah, Jeng *****”
“Ee! Betul, lho. Mungkin bentuk bulu-bulu gituannya Bu Soni penampilannya kurang merangsang. Kalo’ boleh saya lihat sebentar gimana?”

“Wah, ya, gimana ya. Tapii.. ya boleh, deh. Eh, tapi saya juga boleh liat donk punyanya situ. Sama-sama donk, ‘kan kata Jeng tadi kita ini sama-sama wanita.””Ya, ‘kan saya cuma mau bantu situ supaya bisa usaha untuk punya anak lagi.””Kalo’ gitu kita ke kamar saja, deh. Suami saya juga biasanya pulang malam. Yuk, Jeng.”

Langsung kita berdua ke kamar Bu Soni. Kamarnya cukup tertata rapi, tempat tidurnya cukup besar dan dengan kasur busa. Di dindingnya ada tergantung beberapa foto Bu Soni dan suaminya dan ada juga foto sekeluarga dengan anaknya yang masih semata wayang. Saya kemudian ke luar sebentar untuk telepon ke rumah kalau pulangnya agak telat karena ada urusan dengan perkumpulan ibu-ibu dan kebetulan yang menerima suamiku sendiri dan ternyata dia setuju saja.
Setelah kita berdua di kamar, Bu Soni bertanya kepadaku, “Bagaimana Jeng? Kira-kira siap?”

“Ayolah. Apa sebaiknya kita langsung telanjang bulat saja?”
“OK, deh.”, jawab Bu Soni dengan agak tersenyum malu. Akhirnya kita berdua mulai melepas pakaian satu-persatu dan akhirnya polos lah semua. Bulu kemaluan Bu Soni cukup lebat juga hanya bentuknya keriting dan menyebar, tidak seperti miliku yang lurus dan tertata dengan bentuk segitiga ke arah bawah. Lalu aku menyentuh payudaranya yang agak bulat tetapi tidak terlalu besar, “Lumayan juga, lho, Bu.” Lalu Bu Soni pun langsung memegang payudaraku juga sambil berkata, “Sama juga seperti punya Jeng.” Aku pun minta ijin untuk mengulum kedua payudaranya dan dia langsung menyanggupi.

Cerita Panas – Kujilati kedua putingnya yang berwarna agak kecoklat-coklatan tetapi lumayan nikmat juga. Lalu kujilati secara keseluruhan payudaranya. Bu Soni nampak terangsang dan napasnya mulai memburu. “Enak juga, ya, Jeng. Boleh punya Jeng saya coba juga?””Silakan saja.”, ijinku. Lalu Bu Soni pun melakukannya dan tampak sekali kalau dia masih sangat kaku dalam soal seks, jilatan dan kulumannya masih terasa kaku dan kurang begitu merangsang. Tetapi lumayanlah, dengan cara seperti ini aku secara tidak langsung sudah menolong dia untuk bisa mendapatkan anak lagi.

Setelah selesai saling menjilati payudara, kami berdua duduk-duduk di atas tempat tidur berkasur busa yang cukup empuk. Aku kemudian memohon Bu Soni untuk melihat liang kewanitaannya lebih jelas, “Bu Soni. Boleh nggak saya liat gituannya? Kok bulu-bulunya agak keriting. Tidak seperti milik saya, lurus-lurus dan lembut.” Dengan agak malu Bu Soni membolehkan, “Yaa.. silakan saja, deh, Jeng.” Aku menyuruh dia, “Rebahin saja badannya terus tolong kangkangin kakinya yang lebar.” Begitu dia lakukan semuanya terlihatlah daging kemaluannya yang memerah segar dengan bibirnya yang sudah agak keluar dikelilingi oleh bulu yang cukup lebat dan keriting. mm.. Cukup merangsang juga penampilannya.

Kudekatkan wajahku ke liang kewanitaannya lalu kukatakan kepada Bu Soni bahwa bentuk kemaluannya sudah cukup merangsang hanya saja akan lebih indah pemandangannya bila bulunya sering disisir agar semakin lurus dan rapi seperti milikku. Lalu kusentuh-sentuh daging kemaluannya dengan tanganku, empuk dan tampak cukup terpelihara baik, bersih dan tidak ada bau apa-apa. Nampak dia agak kegelian ketika sentuhan tanganku mendarat di permukaan alat kelaminnya dan dia mengeluh lirih, “Aduh, geli, lho, Jeng.”

“Apa lagi kalo’ dijilat, Bu Soni. Nikmat, deh. Boleh saya coba?”
“Aduh, gimana, ya, Jeng. Saya masih jijik, sih.”
“Makanya dicoba.”, kataku sambil kuelus salah satu pahanya.
“mm.. Ya, silakan, deh, Jeng. Tapi saya tutup mata saja, ah.”
Lalu kucium bibir kemaluannya sekali, chuph!! “aa.. Aah.”, Bu Soni mengerang dan agak mengangkat badannya. Lalu kutanya, “Kenapa? Sakit, ya?” Dia menjawab, “Geli sekali.” “Saya teruskan, ya?” Bu Soni pun hanya mengangguk sambil tersenyum. Kuciumi lagi bibir kemaluannya berkali-kali dan rasa geli yang dia rasakan membuat kedua kakinya bergerak-gerak tetapi kupegangi kedua pangkal pahanya erat-erat. Badannya bergerinjal-gerinjal, pantatnya naik turun. Uh! Pemandangan yang lucu sekali, aku pun sempat ketawa melihatnya. Saya keluarkan lidah dan saya sentuhkan ujungnya ke bibir kemaluannya berkali-kali. Oh! Aku semakin terbawa napsu. Kujilati keseluruhan permukaan memeknya, gerakanku semakin cepat dan ganas. Oh, Bu Soni, memekmu nikmaa..aat sekali.

Aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Semua terkonsentrasi pada pekerjaan menjilati liang kewanitaan Bu Soni. Emm.., Enak sekali. Terus kujilati dengan penuh napsu. Pinggir ke tengah dan gerakan melingkar. Kumasukan lidahku ke dalam celah bibir kemaluannya yang sudah mulai membuka. Ouw! Hangat sekali dan cairannya mulai keluar dan terasa agak asin dan baunya yang khas mulai menyengat ke dalam lubang hidungku. Tapi aku tak peduli, yang penting rasa kemaluan Bu Soni semakin lezat apalagi dibumbui dengan cairan yang keluar semakin banyak. Kuoleskan ke seluruh permukaan kemaluannya dengan lidahku. Jilatanku semakin licin dan seolah-olah semua makanan yang ku makan pada saat acara arisan tadi rasanya tidak ada apa-apanya. Badan Bu Soni bergerinjal semakin hebat begitu juga pantatnya naik-turun dengan drastis. Dia mengerang lirih, “aa.. Ah, ee.. Eekh, ee.. Eekh, Jee.. Eeng, auw, oo.. Ooh. Emm.. Mmh. Hah, hah, hah,.. Hah.” Dan saat mencapai klimaks dia merintih, “aa.., aa.., aa.., aa.., aah”, Cairan kewanitaannya keluar agak banyak dan deras. OK, nampaknya Bu Soni sudah mencapai titik puncaknya.

Tampak Bu Soni telentang lemas dan aku tanya, “Bagaimana? Enak? Ada rasa puas?” “Lumayan nikmat, Jeng. Situ nggak jijik, ya.”
“Kan sudah biasa juga sama suami.” Kemudian aku bertanya sembari bercanda, “Situ mau coba punya saya juga?”
“Ah, Jeng ***** Jijik ‘kan.”, sembari ketawa.
“Yaa.. Mungkin belon dicoba. Punya saya selalu bersih, kok. ‘Kan suami saya selalu mengingatkan saya untuk memeliharanya.” Kemudian Bu Soni agak berpikir, mungkin ragu-ragu antara mau atau tidak. Lalu, “Boleh, deh, Jeng. Tapi saya pelan-pelan saja, ah. Nggak berani lama-lama.”

“Ya, ndak apa-apa. ‘Kan katanya situ belum biasa. Betul? Mau coba?” tantangku sembari senyum. Lalu dia cuma mengangguk. Kemudian aku menelentangkan badanku dan langsung kukangkangkan kedua kakiku agar terlihat liang kewanitaanku yang masih indah bentuknya. Tampak Bu Soni mulai mendekatkan wajahnya ke liang kewanitaanku lalu berkata, “Wah, Jeng bulu-bulunya lurus, lemas dan teratur. Pantes suaminya selalu bergairah.” Aku hanya tertawa.

Tak lama kemudian aku rasakan sesuatu yang agak basah menyentuh kemaluanku. Kepalaku aku angkat dan terlihat Bu Soni mulai berani menyentuh-nyentuhkan ujung lidahnya ke liang kewanitaanku. Kuberi dia semangat, “Terus, terus, Bu. Saya merasa nikmat, kok”. Dia hanya memandangku dan tersenyum. Kurebahkan lagi seluruh tubuhku dan kurasakan semakin luas penampang lidah Bu Soni menjilati liang kewanitaan saya. Oh! Aku mulai terangsang. Emm.. Mmh. Bu Soni sudah mulai berani. oo.. Ooh nikmat sekali. Sedaa.. Aap. Terasa semakin lincah gerakan lidahnya, aku angkat kepalaku dan kulihat Bu Soni sudah mulai tenggelam dalam kenikmatan, rupanya rasa jijik sudah mulai sirna. Gerakan lidahnya masih terasa kaku, tetapi ini sudah merupakan perkembangan. Syukurlah. Mudah-mudahan dia bisa bercumbu lebih hebat dengan suaminya nanti.

Cerita Seks – Lama-kelamaan semakin nikmat. Aku merintih nikmat, “Emm.. Mmh. Ouw. aa.. Aah, aa.. Aah. uu.. uuh. te.. te.. Rus teruu..uus.” Bibir kemaluanku terasa dikulum oleh bibir mulut Bu Soni. Terasa dia menciumi kemaluanku dengan bernafsu. Emm.. Mmh, enaknya. Untuk lebih nikmat Bu Soni kusuruh, “Pegang dan elus-elus paha saya. Enak sekali Bu.” Dengan spontan kedua tangannya langsung mengayunkan elusannya di pahaku. Dia mainkan sampai pangkal paha. Bukan main! Sudah sama layaknya aku main dengan suamiku sendiri. Terlihat Bu Soni sudah betul-betul asyik dan sibuk menjilati liang kewanitaanku. Gerakan ke atas ke bawah melingkar ke seluruh liang kewanitaanku. Seolah-olah dia sudah mulai terlatih.

Kemudian aku suruh dia untuk menyisipkan lidahnya ke dalam liang kewanitaanku. Dahinya agak berkerut tetapi dicobanya juga dengan menekan lidahnya ke lubang di antara bibir kemaluan saya. “Aaa.. Aakh! Nikmat sekali. Aku mulai naik untuk mencapai klimaks. Kedua tangannya terus mengelus kedua pahaku tanpa henti. Aku mulai naik dan terasa lubang kemaluanku semakin hangat, mungkin lendir kemaluanku sudah banyak yang keluar. Akhirnya aku pun mencapai klimaks dan aku merintih, “aa.. Aah, uuh”. Sialan Bu Soni tampaknya masih asyik menjilati sedangkan badanku sudah mulai lemas dan lelah. Bu Soni pun bertanya karena gerak kaki dan badanku berhenti, “Gimana, Jeng?” Aku berkata lirih sambil senyum kepadanya, “Jempolan. Sekarang Bu Soni sudah mulai pinter.” Dia hanya tersenyum.

Aku tanya kembali, “Bagaimana? Situ masih jijik nggak?”
“Sedikit, kok.”, jawabnya sembari tertawa, dan akupun ikut tertawa geli.
“Begitulah Bu Soni. Mudah-mudahan bisa dilanjutkan lebih mesra lagi dengan suaminya, tetapi jangan bilang, lho, dari saya.”
“oo.., ya, ndak, toh, Jeng. Saya ‘kan juga malu. Nanti semua orang tahu bagaimana?””Sekarang yang penting berusaha agar putrinya bisa punya adik. Kasihan, lho, mungkin sejak dulu dia mengharapkan seorang adik.”
“Ya, mudah-mudahan lah, Jeng. Rejeki akan segera datang. Eh! Ngomong-ngomong, Jeng mau nggak kalo’ kapan-kapan kita bersama kayak tadi lagi?”
“Naa.., ya, sudah mulai ketagihan, deh. Yaa, itu terserah situ saja. Tapi saya nggak tanggung jawab, lho, kalo’ situ lantas bisa jadi lesbian juga. Saya ‘kan cuma kasih contoh saja.”, jawabku sembari mengangkat bahu dan Bu Soni hanya tersenyum.
Kemudian aku cepat-cepat berpakaian karena ingin segera sampai di rumah, khawatir suamiku curiga dan berprasangka yang tidak-tidak. Waktu aku pamit, Bu Soni masih dalam keadaan telanjang bulat berdiri di depan kaca menyisir rambut. Untung kejadian ini tak pernah sampai terbuka sampai aku tulis cerita yang aneh dan lucu ***** Soal bagaimana kemesraan Bu Soni dan suaminya selanjutnya, itu bukan urusan saya tetapi yang penting kelezatan liang kewanitaan Bu Soni sudah pernah aku rasakan.

Sekian.

Kategori:Tak Berkategori Tag:,

Bercinta Dengan Suami Temanku

11 November 2010 Tinggalkan komentar

Aku dan Sintia telah bersahabat sejak masi duduk di bangku sekolah, kebetulan Sintia dan aku selalu sekolah di tempat yang sama sejak SD. Denmgan demikian perilaku sex kami hampir sama, sama2 suka dengan lelaki yang usia yang jauh lebih tua. Malah Sintia setelah selesai sekolah, dinikahi oleh salah satu “penggemarnya”, om Roy. Aku memanggilnya om karena memang usia si om jaug lebi tua dari Sintia dan aku. Sintia sih hepi2 aja dinikahi oleh si om karena toh si om statusnya sudah bujang lagi ketika nikah dengan Sintia, sehingga tidak ada istilah ngerebut suami orang.

Sintia kemudian diboyong suaminya ke Medan karena si om kerja di bidang agrobisnis dan sering berada di site bisnis agronya di daerah Rantau Prapat, 5-6 jam perjalanan darat dari Medan. Setelah Sintia ke medan aku jarang sekali kontak dengan dia. Sampe suatu ketika aku ditugaskan ke Medan area, kebetulan nomer hp Sintia masih ada di address book hp ku walaupun gak pernah aku kontak, demikian juga dia gak pernah ngontak aku. Aku ditugaskan dalam rangka membantu promosi produk baru perusahaan. Karena tugasku di Medan cuma 1 hari, aku mengajukan cuti sehari lagi supaya bisa bernostalgia dengan Sintia, sehingga aku pulangnya besok sorenya, flight terakhir.


Aku kontak Sintia, mengabarkan bahwa aku lagi tugas di Medan. Dia antusias sekali mendengar kabar dariku. Kebetulan dia baru saja melahirkan anak pertamanya, sehingga sementara dia tinggal bersama mertua, katanya sih mo berguru ma ibu mertua bagaimana ngurus bayi. Kalo ngurus bapaknya si sudah ahli sejak masi sekolah. Dia bilang ke aku supaya mempercepat kerjaanku sehingga bisa ngumpul ma dia di rumah mertuanya. Karena baru melahirkan aku paham kalo Sintia gak bisa nemeni aku jalan2 menikmati dugem di Medan. Ya gak masalah, kebetulan kerjaanku selesai sekitar makan siang. Segera aku kontak Sintia minta alamat mertua. Kata temen2ku di kantor, letak rumah mertuanya gak jauh dari lokasi kantor, aku disuru temenku naek becak aja. Becak medan beda dengan becak yang pernah beroprasi di pulau Jawa, karena ditempel ke sepeda motor. Fun juga dah lama gak naek becak, trus becaknya unuk lagi.

Wah seru juga ketemu ma Sintia, aku dijamu makan siang di rumahnya terus berceloteh tentang masa lalu kami berdua, tentu aja mertuanya tidak nguping, kalo gak ketauan semua belangnya Sintia sebelum nikah ma anaknya. Sampe menjelang sore, aku nanya ma Sintia hotel murah deket rumahnya. Dia bilang tidur ja di rumahknya semalem, cuma sendirian karena suaminya masi di Rantau prapat, besok baru pulang. aku ok ja, lumayan menghemat biaya hotel, lagian pasti maka malam dijamu lagi ma mertua Sintia. Demikian kami terus saja bercanda ria sambil membantu Sintia ngurus bayinya. “Kamu gak pengen punya anak Nes”, tanya Sintia. “Trus bikinnya ma siapa, gak da bapaknya tuh”. “Ya comot ja penggemar yang kamu paling suka buat dijadiin suami”. “Gengsi atuh, masak prempuan ngelamar lelaki. Kan kamu tau, tu om om maunya cuma nikmati aku aja, kaya kamu gak gitu dulu”. Sintia cima tertawa aja. Terus aku nanya tentang suaminya, dia bilang puas banget ma suaminya, kontolnya gede panjang dan maennya lama banget, sampe Sintia slalu terkapar duluan.

Belum pernah dia ketemu lelaki sekuat suaminya. “asyik dong kamu, tiap malem dong”. “Sekarang ya enggaklah, puasa dia lah, udah sebulan lebih, kan aku dah hamil tua, dkarang baru ngelahirin, puasa lagi dialah sebulan lagi”. “wah bisa jadi odol tuh. Di rantauprapat apa gak turun mesin dianya”. “Gak tau deh, selama aku gak tau ya biar ajah. Aku si dah sms dia ngasi tau kamu ada di Medan dan besok pulang”. Demikianlah kami ngobrol dan becanda terus sampe waktunya di bayi tidur dan Sintia kudu nemeni bayinya tidur.

Aku pamit untuk tidur di rumah Sintia, Aku dikasi kunci rumahnya. Dengan becak, aku menuju rumah Sintia. Rumahnya gak besar sih, tapi cukuplah buat keluarga baru, kamarnya ada 3, salah satu kamar tamu yang boleh aku tempati, letaknya paling depan berhadapan dengan ruang tamu. Kamar mandinya cuma ada diluar, ya gak apa. Setelah aku sampe segera aku mandi karena aku dah capek seharian kerja trus becanda ma Sintia dan bayinya, palagi perut dah kenyang, tinggal ngantuknya ja. Abis mandi, aku santai sebentar liat tv dan kembali kantuk menyerangku. Karena udahara rada panas, aku tidur hanya mengenakan cd aja, toh dirumah gak ada siapa2. Pintu kamar juga gak aku tutup supaya gak terlalu panas, gak ada ac nya sih. Segera aku terlelap.

Tengah malam aku terbangun karena merasa ada yang meraba2 tubuhku, aku membuka mataku dan melihat si om, suami Sintia sedang duduk dipinggir ranjang dan mengelus2 toketku. Aku kaget, “Om, ngapain?” “Lagi ngelus kamu, kamu sexy banget deh Nes”. “Om jangan dong, om kan suami Sintia, masa napsu ma Ines juga”. “Siapa suru kamu tidur 3/4 tlanjang gini, ya napsulah aku, lagian aku dah sekian lama puasa. Layani napsuku ya Nes”. Dia mulai meremas toketku. “Janganlah om”, tapi dia menutup perlawananku denga mengulum bibirku sembari terus meremas2 tyoketku. Napsuku bangkit juga diremas kayak gitu, kebayang crita Sintia tentang kontolnya yang besar panjang dan maennya yang lama. Cuma masi inget bahwa dia suami Sintia, aku masi berusaha untuk menolak badanku. “Om janganlah”. Tapi si om gak perduli, dia malah menjilati telinga dan leherku, pentilku mulai di plintir2 dan mulai mengeraslah pentilku. “om, geliiii”, aku menggeliat. “Tapi suka kan”, katanya lagi, dia mengkombinasi meremes toketku dan memlintir pentilku. “Toket kamu lebi kenceng dari Sintia punya deh Nes, asik diremesnya”, katanya sembari menciumi leherku. aku makin menggelinjang karena ulahnya.

“Ih, om kok jadi genit sih”, jawabku mulai manja karena napsuku mulai bangkit juga diremes kayak gitu. .Dia mulai mengelus pahaku, kubiarkannya mengelus makin ke atas dan berhenti di pangkal pahaku. Kakiku direnggangkannya sehingga dia bisa mengkases selangkanganku yang sudah basah karena cairan nonokku, merembes di cdku. “Dah basah gini Nes, dah napsun juga kan kamu”. “Om si nakal”, jawabku makin manja. aku sengaja merengangkan pahaku, jembutku yang lebat menyeruak di kiri dan kanan CD serta sedikit dibagian atas CDnya. “Jembut kamu lebat ya Nes, napsu kamu pasti besar ya. Aku suka ngen tot dengan cewek yang jembutnya lebat”, katanya dengan napas memburu. “Kenapa begitu om?” “Kalo cewek jembutnya lebat, minta nambah terus kalo dientot, binal dan gak puas”, jawabnya. “Itu bukan binal om, tapi menikmati”, jawabku. “itu sudah tau, kok tadi nanya”. Aku hanya tersenyum saja. Jarinya mulai mengelus pangkal pahaku dan daerah nonokku. Aku menggeliat, geli. Dia bangkit dan berlutut didepanku. Pahaku diciumi bergantian, sambil diremas2. Pahaku terbuka makin lebar sehingga dia makin mudah mengakses daerah nonokku. Dia langsung memelukku. Diciumi nya toketku sambil diremas2. Pentillu diemut, digencet dengan gigi dan lidahnya. Makin lama makin kuat emutannya dan makin luas daerah toketku yang diemut. Napsuku makin berkobar2. Aku sudah lupa bahwa dia suami Sintia, abis dianya si pinter banget ngerangsang napsuku, lagian aku jadi pengen ngerasain kontolnya yang gede panjang kluar masuk nonokku. Dia membenamkan wajahnya di belahan toketku, kemudian bergerak kebawah pelan2 mengarah ke perut. Puserku dijilati. Aku menggelinjang karena kegelian. napsuku terus makin berkobar saja. Dia memeluk pinggulku dengan gemas, kecupannya terus turun ke arah CDku, dia menjilati jembut yang keluar dari samping CDku, kemudian diciumnya daerah nonokku dengan kuat. CDku sudah basah sekali karena napsuku yang sudah berkobar. “Kamu udah napsu ya Nes, CD kamu sudah basah begini”, katanya sambil tersenyum. Dia kliatannya senang bisa merangsang napsuku sehingga aku jadi pasrah saja dengan tindakannya.

Dia bangkit dan melepaskan semua yang melekat dibadannya. kontolnya sudah
ngaceng dengan keras, besar dan panjang. Aku terbelalak melihatnya, “Gede banget om”. “Mangnya kamu blon pernah ngerasain kon tol gede ya” “Yang segede om punya belon om, pasti nikmat ya om. Sintia bilang dia sallu terkapar kalo om entotin”. “Trus kamu mau kan aku entotin? Aku hanya menggangguk napsu. Dia menjepitkan kontolnya di belahan toketku, dan digerakkan maju mundur. Aku membantu dengan mengepitkan kedua toketku menjepit kontolnya. Lama2 gerakan maju mundurnya makin cepat, dia jadi merem melek keenakan, “baru dijepit toket aja udah nikmat Nes, apalagi kalo dijepit nonokmu ya”. Napasku juga sudah memburu, selama ini aku menahan saja napsuku dan membiarkan dia menggeluti sekujur tubuhku. “Nes, enak banget deh”, katanya tersengal2. Kemudian dia berhenti, kontolnya terus saja digesek2kan di toketku sambil terus meremas2nya. Gesekan kontolnya terus kearah perut, sesekali digesekkan ke lubang pusarku. Kembali aku menggelinjang kegelian.

Cerita Dewasa – Akhirnya, dia melepas CDku. Jembutku yang lebat menutupi sekitar nonokku Aku mengangkangkan pahaku makin lebar. Jembutku disingkapnya dan nampaklah nonokku yang sudah basah sekali. Dia menggenggam kontolnya dan digesek2kan ke jembutku, kemudian kuarahkan ke nonokku. kontolnya yang keras dan besar menyeruak diantara bibir nonokku. “Om, gede banget kontolnya, masukin semua om, Ines udah pengen dientot”, rengekku. Dia menggetarkan kontolnya sambil dimasukkan sedikit demi sedikit ke nonokku. Sekarang kepalanya sudah terjepit di nonokku. Aku menjadi belingsatan karena lambatnya proses memasukkan kontolnya, padahal aku udah pengen dienjot keluar masuk dengan keras. “Ayo dong om, masukin semua, enjot om, Ines udah gak tahan nih”, kembali aku merengek minta dienjot. Dia hanya tersenyum saja. Pelan tapi pasti kontolnya ambles ke dalam nonokku, sudah masuk separo. Aku menggerakkan otot nonokku meremas2 kontolnya, dia terpancing untuk menancapkan kontolnya semuanya ke dalam nonokku. “Duh om, nikmatnya, kon tol om udah gede panjang lagi, masuknya dalem banget. no nok Ines sampe sesek rasanya”, kataku. “Tapi enakkan”, jawabnya. “Banget, sekarang dienjot yang keras om, biar tambah nikmat?, kataku lagi. Masih dengan pelan2 dia mengenjotkan kontolnya keluar masuk. Sewaktu keluar, yang tersisa di nonokku hanya tinggal kepalanya saja, kemudian dienjotkan kedalam sekaligus sehingga nancap di bagian nonokku yang paling dalam. “Enak om, kalo dienjot seperti itu, yang cepat om”, rengekku lagi sambil terus mengejang2kan otot nonokku. Dia pun menjadi belingsatan karena remasan otot nonokku sehingga enjotannya menjadi makin cepat dan makin keras. “Gitu om, aduh enak banget deh om, terus om, terasa banget gesekan kon tol pm kenonok Ines, nancepnya dalem banget lagi, terus om, yang cepat”, kataku terengah2 keenakan. Dia mempercepat enjotan kontolnya, caranya masih sama, ditarik tinggal kepalanya saja dan terus dienjotkan kembali kedalam dengan keras. itu membuat aku menjadi liar, pantatku menggelinjang saking nikmatnya dan aku terus merintih kenikmatan sampai akhirnya aku tidak dapat menahan lebih lama, “Om, Ines nyampe om”, jeritku.

Dia masih bertahan juga dengan terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cara tadi. Nikmat sekali rasanya. Sampe akhirnya, dia menarik kontolnya keluar dari nonokku. Kembali dia menggeser dan menjepitkan kontolnya yang berlumuran dengan lendir dari nonokku di toketku. Aku menjepit kontolnya dengan toketku dan dia menggerakkan maju mundur. Karena panjangnya, ketika ketika dia mendorong kontolnya maju, kepalanya menyelip kedalam mulutku, diemut sebentar sebelum dia memundurkan kontolnya lagi, berulang2. “Nes, nikmat banget, aku mau ngecret dimulutmu ya Nes”, katanya sambil terus memaju mundurkan kontolnya. “Kenapa gak dingecretin dinonok Ines aja om, Ines lagi gak subur kok”, jawabku.”Nanti ronde kedua”, jawabnya sambil dengan cepet memaju mundurkan kontolnya. Toketku makin keras dijepitkan ke kontol. Akhirnya dia mendorong kontolnya masuk ke mulutku, segera kuemutnya dengan keras. “Nes, aku ngecret Nes”, teriaknya sambil mengecretkan pejumua kedalam mulutnya. Aku segera menggenggam kontolnya dengan tanganku, kukocok pelan sambil terus mengemut kepalanya. Pejunya nyemprot beberapa kali sampe habis, banyak banget ngecretnya sampe meleleh keluar dari mulutku. Aku menelan pejunya tanpa merasa jijik.

“Aduh Nes, nikmat banget ya ngen tot sama kamu. Memekmu lebi berasa empotannya katimbang memeknya Sintia. Kamu nikmat kan”, katanya terengah. “Nikmat mas, Ines mau lagi dientot”, jawabku lemes. Aku sudah gak kepikiran bahwa tang ngentotin aku sekarang tu suaminya Sintia. Setelah nafsuku menurun, kontolnya mengecil. “Om, lemes aja kontolnya udah gede, gak heran kalo ngaceng jadi gede banget”, kataku. “Tapi kamu suka kan”, jawabnya. “Suka banget om. Ines suka kalo dientot kon tol yang besar panjang seperti punya om”. “Kamu udah sering dientot ya Nes, kayaknya kamu udah pengalaman”. “Ines cuma sering dientot cowok Ines aja om, kontolnya tapi gak segede kon tol om. Dientot 0m jauh lebih nikmat”, jawabku memuji. Dia memelukku dan mencium pipiku. “Kita istirahat dulu ya Nes, kalo udah seger kita ngen tot lagi”, karena lemes abis ngen tot akupun tertidur dipelukannya.

Cukup lama aku tertidur. Ketika dia bangun, hari sudah agak terang. Aku keluar dari kamar, masih bertelanjang bulat. “Kamu tidur nyenyak sekali, cape ya. Kamu mau makan apa nanti aku buatin”, katanya. “Terserah om aja”, jawabku. “Ines mandi dulu ya om”. Aku kembali kekamar mandi, dia membuatkan aku sereal dan roti panggang. Selesai mandi, aku mengenakan bra dan CD yang lain lagi, tapi tetep minim dan sexy. “Kok cepet om”a. “Cuma nyiapin sereal ma roti panggang ya cepetlah. Kalo rotinya kurang nanti aku buatin lagi sayang”. “Ih om genit, kalo ke Sintia pasti manggilnya sayang juga kan”. Dia tersenyum. aku melahap makanan yang dia sudah siapkan. Roti panggangnya cukup banyak sehingga aku bisa makan sampe kenyang. Polesan roti panggangnya selain mentega, juga ada selei, madu, peanut butter. “Kamu pagi2 gini sudahmerangsang banget, Nes. Memangnya daleman kamu seksi semua kaya begini ya. Asik dong cowok kamu. Tapi ngeliat caranya kamu ngempot, kamu gak cuma ngen tot dengan cowok kamu deh”, jawabnya. “Biar om napsu terus, katanya masih mau ronde kedua”, jawabku sambil mengambil sepotong roti panggang. Sambil makan, kita ngobrol ngalor ngidul. “Selain Sintia, om ngentotin siapa lagi?” “he he, ya adalah, abis kalo di rantau prapat kan sendirian, ada disana ttm ku”. “Bukan abege dong”. “Ya bukanlah, mana ada abege bispak disana, tetangga messku aja”. “Wah asik dong, berapa kali maennya ma ttm om”, tanyaku lagi. “Sampe 4 kali, sampe dia lemes banget”, jawabnya. “Wah om kuat banget, Ines dien tot 4 kali juga ya om”. “Iya, makan dululah sampe kenyang biar ada tenaga buat ngeladenin aku. Gak tau waktunya cukup gak buat maen 3 ronde lagi, kan aku bilang ke Sintia tengah ari pulang. Aku mandi dulu ya”, dia masuk kamar mandi. Gak apalah kalo gak nyampe 4 ronde, yang penting aku udah dibikin terkapar saking nikmatnya dienjot kon tol segede dam sepanjang kontolnya.

Aku duduk disofa sambil nonton TV. Gak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi hanya mengenakan celana pendek. Dia duduk disampingku dan memelukku. “Gak dingin Nes cuma pake daleman”, tanyanya. “Kan ada om yang ngangetin”, jawabku manja. Dia mempererat rangkulannya pada bahuku. Bibirku segera dilumat dengan penuh napsu. Aku meladeni ciumannya dengan penuh napsu juga, napsuku sudah mulai bangkit lagi. Dia makin erat memelukku, tangan kirinya meremas pinggangku. Kemudian ciumannya beralih ke leherku. “Geli om”, kataku sambil menengadahkan kepala sehingga dia makin leluasa menciumi leherku. Tangan kanannya mulai meremas toketku yang masih dibungkus dengan bra, tak lama kemudian braku dilepaskannya sehingga dia lebih leluasa meremas toket dan memlintir pentilku. Pentilku sudah menegang dengan keras, napsuku makin memuncak. Puas dengan leherku, dia turun lagi ke belahan toketku, ke2 toketku diremas2. Dia menciumi belahan toketku, kemudian ciumannya merembet ke pentilku dan diemut dengan gemas, sementara tangannya masih terus meremas2 toketku. “Geli om”, erangku keenakan. Emutannya makin keras, dan remasannya juga makin kuat. Pentil yang satu diplintir dengan jempol dan telunjuk. “Om, geli”, rengekku lagi. Tapi dia tidak memperdulikannya, terus saja diremas dan diplintir. Napsuku sudah memuncak, aku menggeliat2 keenakan, nonokku sudah basah dengan sendirinya dan menyerap di CD tipisku. aku tidak mau kalah. kontolnya kuremas dari luar celana pendeknya. Sudah ngaceng, keras sekali. Celana pendeknya kulepas dan kontolnya langsung tegak, besar, panjang dan keras sekali. “Om gedenya, pantes kalo sudah masuk no nok Ines jadi sesek banget rasanya”, kataku sambil meremas2 kontolnya. “Om, terusin diranjang yuk”, ajakku. “Udah napsu ya Nes”, jawabnya sambil bangkit kekamar bersamaku.

Dikamar dia memelukku dari belakang, sambil menciumi leher dan telingaku sampai aku menggelinjang kegelian, toketku kembali diremas2. kontolnya keras menekan pantatku. Segera, CDku dipelorotin dan aku ditarik keranjang. Dia berbaring disebelahku yang sudah telentang. Kembali jempol dan telunjuknya memlintir2 pentilku yang sudah mengeras karena napsu sambil menciumi leherku lagi. aku menjadi menggeliat2 kegelian. Ciumannya kemudian pindah ke bibirku, dilumatnya bibirku dengan penuh napsu. Aku menyambut ciumannya dengan tak kalah napsunya. Dia menindihku, mencium kembali leherku, kontolnya yang keras menggesek2 pahaku. Puas dengan leher, dia kembali menyerang toketku.

Dia menciumi belahan toketku dan kemudian mengemut pentilku. Pentilku
dikulum2 dan dimainkan dengan lidah. “Om, geli”, kataku melenguh, tapi dia tidak
perduli. Dia terus saja mengulum pentilku yang mengeras sambil meremas toketku. Dia melakukannya bergantian antara toket kiri dan kanan sementara kontolnya terus saja digesek2kan ke pahaku, aku mengangkangkan pahaku. Dia kembali menciumi leherku dan mengarahkan kepala kontolnya ke nonokku. Diputar2nya kepala kontolnya dijembutku yang lebat. Aku sudah gak tahan, segera kuraih kontolnya sambil mengangkangkan paha lebih lebar lagi. “Om, gedenya, keras banget”, kataku mengarahkan kepala kontolnya ke nonokku.

Diapun menggetarkan kontolnya sehingga kepalanya mulai menyelinap masuk ke
nonokku. Kepalanya sudah terbenam didalam nonokku. Terasa kontolnya yang besar mulai mengisi nonokku pelan2, nikmat banget rasanya. “Terus masukin om, enak banget deh”, erangku keenakan. Tapi dia melambatkan gerakan kontolnya, hanya digerakkan sangat pelan, sehingga hanya kepalanya saja yang menancap. “Om terusin dong, masukin semuanya biar sesek no nok Ines, ayo dong om”, protesku. Tapi dia tetep melakukan hal yang sama sambil menciumi ketekku. “Geli, om, ayo dong dimasukin semua kontolnya”, rengekku terus. Tiba2 dia menghentakkan kontolnya dengan keras sehingga kontolnya meluncur kedalam nonokku, amblas semuanya. “Akh, om” erangku kaget. Dia diam sesaat, membiarkan kontolnya yang besar dan panjang itu menancap semuanya di nonokku. Kemudian mulailah dienjot, mula2 perlahan, makin lama makin cepat kontolnya keluar masuk nonokku. “Enak Nes”, tanyanya sambil terus mengenjot nonokku. “banget om, kon tol om kan besar, panjang dan keras banget. no nok Ines sesek rasanya keisi kon tol om. Gesekannya terasa banget di no nok Ines. Untung banget ya Sintia tiap malem bisa ngerasain nikmat kaya gini”. dengan penuh semangat dia terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk.

Cerita Seks – Kemudian dia merubah posisi tanpa mencabut kontolnya dari nonokku. Kakiku diangkat satu keatas dan dia merebahkan diri miring. Enjotan kon tol terus dilakukannya, dengan posisi itu terasa kontolnya masuk lebih dalem lagi dan gesekannya lebih hebat lagi ke nonokku. Dia terus mengenjotkan kontolnya, sementara kedua toketku diremas2 bergantian. Pentilku juga diplintir2 perlahan. Nikmat banget rasanya ngen tot seperti itu, “enak om”, erangku. Enjotannya makin lama makin cepet dan keras. “terus om, enak banget”, erangku untuk kesekian kalinya. “Om nikmat gak?” tanyanya. “banget juga Nes, empotan nonokmu kerasa sekali, kontolnya serasa diremes dan diisep, lebih nikmat dari emutan mulutmu”, jawabnya sambil terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk. “Terus om, lebih keras om, Ines hampir nyampe”, erangku lagi. Dia terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk, makin cepat. Aku merintih2 keenakan, akhirnya aku tidak bisa menahan lebih lama, “Om, Ines nyampe, akh”, terasa nonokku berkedut2 meremas kontolnya yang masih keras sekali itu. Tubuhku mengejang.

Dia menghentikan enjotannya dan menurunkan kakikua. Aku terbaring mengangkang dengan kontolnya yang masih menancap di nonokku, dia kembali ke posisi semula: menelungkup diatasku. “Om, lemes banget deh”, lenguhku. “Tapi enak kan”, jawabnya. “Enak banget om, terusin aja om, kan om belum ngecret”, jawabku terengah2. “Om, hebat banget deh ngentotnya, belum pernah Ines dientot dengan gaya seperti tadi, enak banget om”, kataku lagi. Dia kembali mendekapku dan kontolnya mulai dienjotkan lagi keluar masuk nonokku, perlahan. Aku mulai mengedut2kan otot nonokku meremas kontolnya yang sedang bergerak keluar masuk nonokku. Dia melumat bibirku, satu tangannya meremas2 toketku sedang tangan satunya lagi menyangga badannya. Pentilku juga diplintir2, napsuku mulai bangkit lagi. “Enak om, terus yang kenceng ngenjotnya om”, erangku. Sambil terus melumat bibirku, enjotan kontolmya dipercepat. Dia menyelipkan kedua tangannya kepunggungku. Aku pun memeluk dan mengusap2 punggungnya yang basah karena keringat. kontolnya makin cepat dienjotkan. Setiap kali masuk kontolnya dienjotkan dengan keras sehingga nancep dalem sekali di nonokku, makin lama makin cepet. “Nes, nonokmu enak banget, empotan nonokmu kenceng banget Nes”, erangnya. “Om, terus om, hebat banget deh om ini, Ines sudah mau nyampe lagi, yang cepet om”, akhirnya kembali aku mengejang sambil melenguh “Om, Ines nyampe, om?”

Dia terus saja mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cepat sampe akhirnya diapun mengejang sambil menancapkan kontolnya sedalam2nya di nonokku, “Nes, aku ngecret”, bersamaan dengan itu terasa pejunya nyemprot dengan dahsyatnya dalam nonokku. Nikmat banget rasanya walaupun sekarang lebih lemes katimbang tadi malem. Beberapa saat kami terdiam, saling berpelukan menikmati permainan yang baru usai. Dia menciumi leherku, dan aku mengusap2 punggungnya. Nikmat banget ngen tot dengan dia. “Om, nikmat ya om, coba Ines bisa tiap malem dientot om”, kataku pelan. “Kudu jadi istruku dong Nes, mau gak jadi istri kedua”. “Nanti nyakitin Sintia om, dia kan temenku sejak dulu”. Dia tidak menjawab, kemudian dia mencabut kontolnya yang sudah mengecil dari nonokku, kontolnya berlumuran peju dan cairan nonokku. “Aku ngantuk lagi Nes, tidur yuk”, katanya sambil berbaring disebelahku, tak lama kemudian akupun terlelap lagi. Lemes, cape tapi nikmat banget.

Aku terbangun karena hp berdering, Sintia yang call, “Baru bangun ya, nyenyak amir bobonya”. “Iya nih, capek kali ya kemaren seharian kerja trus maen ma anak kamu”. Boong banget ya aku, padahal capek semaleman dienjot terus ma suaminya, terasa dikit guilty feeling sih. “Ya udah, mandi terus ketempatku, siang ini suamiku pulang, kita bisa makan bareng terus anter kamu ke airport deh”. Yup”, jawabku singkt. Terpaksa kenikmatan berakhir, padahal baru dientot 2 ronde, apa bole buat, yang punya suami dah kasi instruksi. Si om aku bangunkan, aku kasi tau kalo Sintia sudah call. “Kapan2 deh Nes, kalo ada kesempatan kita ngentot lagi, aku juga puas banget bisa ngecret di memekmu. Makasi ya kamu dah bantu aku nyalurin napsuku”. “NTar malem giliran ngentotin Sintia dong ya om”. Dia cuma tersenyum. aku beberes, kemudian meninggalkan si om, naik becak lagi kerumah Sintia. Si om bilang rada siangan dia baru ke rumah ibunya, seakan2 dia baru pulang dari Rantauprapat.

Sekian.

Kategori:Tak Berkategori Tag:,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: