Arsip

Posts Tagged ‘Cerita Seks Sedarah’

Perselingkuhan Yang Tak Disangka

28 Desember 2010 2 komentar

Aku menikah dengan usia yang relatif muda, yaitu 25 tahun dan istriku 22 tahun. Aku bersyukur bisa memperoleh istri yang cantik dan tubuh yang seksi dengan dada yang menantang dan pantat yg sekal, tapi bukan itu alasanku memilih dia tapi kebaikan dan ketaatannya dalam beribadah yang membuatku yakin dengan pilihanku.

Karena menikah dengan usia muda dan karir masi pemula membuat kami belum mampu membeli rumah sendiri, sehingga kami pun ngontrak rumah dipinggiran kota. Itu pun tidak lama karena mertuaku menyuruh kami tinggal bersama mereka. Karena berbagai pertimbangan kami pun setuju tinggal di rumah mertuaku.

Mertuaku tinggal di rumah berdua, dan mereka mempunyai toko yang terletak tidak jauh dari rumah. Mereka mempunyai 2 karyawan wanita sebagai penjaga toko, dan 2 karyawan laki-laki berusia remaja (sekitar 18 tahun) bernama yusup.

Ibu mertuaku masih relatif muda yaitu 40 tahunan dengan badan agak gemuk dan dada yang besar. Wajahnya masih cantik untuk ukuran usianya. Bapak mertuaku juga masih terlihat tegap.


Tidak ada yang aneh hingga peristiwa itu terjadi. Saat itu aku pulang siang dari kantor karena kepalaku sakit sekali. Tiba di depan pintu rumah, terlihat rumah sangat sepi. Karena memiliki kunci aku bisa masuk dengan leluasa. Langsung menuju kamarku, tetapi ketika aku hendak melewati dapur terdengar suara-suara mencurigakan dari dapur.
dengan mengendap-endap aku menuju dapur. Dadaku langsung berdegup kencang melihat pemandangan yang kulihat.

Kulihat ibu mertuaku meronta-ronta dalam pelukan pria yg aku tau itu bukan bapak mertuaku. Tadinya aku ingin bertindak menghajar laki-laki itu, tapi entah kenapa aku hanya terdiam saja.

Laki-laki itu dengan kasar meremas dada mertuaku yang saat itu memakai daster dengan tali yang kecil hingga ketiaknya terlihat. Tangan itu kemudian menurunkan tali dan BH sehingga menyembul dada besar mertuaku. Tangan laki-laki yang semula meremas berganti memilin puting susunya.

“Jangan Sup, ibu kan udah tua”, kudengar mertuaku bicara ditengah desahannya, dan tangannya mendorong pelan dada laki-laki itu, yang bernama yusup! Ya yusup, karyawannya yang masih muda, aku takjub berani juga anak itu!, batinku.
“habis, bodi ibu seksi bgt, apalagi toketmu. Jadi ga tahan pengen ******* ibu’ ujar yusup, sambil tangannya kini bergerak menyingkap kan daster, sehingga paha putih dan cd krem berenda mertuaku terlihat jelas.

Yusup kemudian berlutut dan memelorotkan cd mertuaku ke bawah sehingga muncul bulu-bulu jembut mertuaku yang rimbun. Yusup langsung melahap vagina mertuaku yang terpampang, menjilat dan mengigit kecil itil mertuaku. Nafas mertuaku semakin tak beraturan, matanya merem melek, kemudian badan bergetar, sepertinya dia sedang memperoleh kenikmatan yang dahsyat.

Tiba-tiba mertuaku menarik kepala yusup. “cepet masukin sebelum suamiku datang!” bisik mertuaku. Yusup dengan cepat membuka celana jeansnya dan sedikit menurunkan cdnya hingga mengacung batang ****** yang ingin segera masuk ke sarangnya.

Mertuaku tampaknya tidak ingin buang-buang waktu, dia segera mendorong yusup hingga terlentang, batang kejantanan yusup digenggam kemudian dijilat dan dikulum sebentar. Tak lama kemudian mertuaku naik ke badan yusup lalu meraih ****** yusup kemudian diarahkan ke lubang vaginanya. Bless… ****** yusup pun amblas ke dalam.

Bagaikan joki yg sedang menunggangi kuda, mertuaku bergerak liar menggoyang pinggulnya, sementara yusup mendesis keenakan. Hingga ‘saya mau keluar bu’ desis yusup, “ibu juga! … Aaakh…” kedua tubuh mereka mengejang dan “croot…croot..”. Mereka terdiam beberapa saat menikmati sisa-sisa kenikmatan yang ada. Kemudian ambruk bersama-sama.”

“ayo cepat kamu balik lag ike toko, nanti suamiku nyariin!”.. Kata mertuaku perlahan pada yusup. Yusup pun bergegas merapikan celana Kemudian mencium kening mertuaku “terima kasih ya bu…”. Mertuaku tak menjawab, hanya terdiam mengumpulkan nafas setelah pergumulan tadi. Yusup pun segera keluar, saat mertuaku masih terlentang dengan daster acak-acakan. Sementara aku juga bengong dan dalam keadaan horny berat.

Pikiranku berkecamuk, antara horni pengen ikut ******* mertuaku dengan kesetiaanku pada istriku. Sementara ibu mertuaku masih merapikan bajunya yang acak-acakan. Dengan gemetaran karena pikiran yang campur aduk, aku mendekati mertuaku, “birahiku juga harus disalurkan!, aku akan ******* ibu mertuaku” tekadku saat itu, tapi dasar sial, saat aku sudah mau bergerak. Pintu depan terbuka dan terliat bapak mertuaku datang masuk ke rumah. Membuyarkan keinginanku.

Ibu mertuaku ternyata pandai juga bersandiwara, dengan suaminya dia berlaku seolah tidak terjadi apa-apa, 5 menit yg lalu!. Aku langsung masuk ke kamar dengan kepala yang makin pusing, kepala atas dan bawah.

Sejak peristiwa itu, aku jadi semakin memperhatikan ibu mertuaku. Gak kusangka, dibalik ketelatenannya mengurus suaminya ternyata dia tega menghianatinya dengan perselingkuhan, yang entah sudah berapa kali dilakukan. Berapa kali? Dengan siapa aja?
Pertanyaan ini lebih menarik untuk kucari tau ketimbang aku ikut menghianati istriku dengan berselingkuh dengan ibu mertuaku.

Diam-diam aku membeli perlengkapan kamera yang kupasang dibeberapa tempat strategis dirumah mertuaku, kupasang juga alat perekam sehingga aku tetap bisa melihat apa yang terjadi ketika aku di kantor.Ternyata bermanfaat juga.

Kejadian pertama terjadi didapur lagi, dan terbilang sangat nekat. Siang itu ibu mertuaku sedang menyiapkan makan siang u/ suaminya. Seperti biasa, ibu mertuaku menggunakan daster yang sangat tipis, berwarna kuning tanpa menggunakan bra, sehingga toket besarnya terlihat mengacung besar dengan lingkar puting coklat yang tercetak membayang. Bagian ketiaknya terlihat longgar sehingga dari samping sering terlihat gundukan toket yang sangat menggairahkan.

Sementara itu tampak yusup sedang membantu bapak mertuaku membetulkan kabel lampu yg putus karena digigit tikus. Terliat Ibu mertua dan yusup, sering curi-curi pandang dan melemparkan isyarat-isyarat khusus disaat bapak mertuaku lengah. Seperti ibu mertuaku mengurut-ngurut mentimun dengan gerakan seolah-olah mengocok penis, yang dibales yusup dengan gerakan tangan seperti meremas toket. Sepertinya mereka sudah sangat horni. Tanpa diduga, bapak mertuaku bergerak pergi ke kamar mandi, mungkin karena ingin buang hajat, dan biasanya bisa berlangsung hingga lebih 15 menit.

Sesaat bapak mertuaku masuk ke kamar mandi, yusup bergerak cepat mendekati ibu mertuaku dan memeluknya dari belakang.
Bagai orang kelaparan mereka berciuman dengan buas, tanpa peduli bahwa bapak mertuaku berada dikamar mandi yang terletak hanya beberapa meter dari tempat mereka.

Tangan kanan yusup bergerak masuk ke balik daster melalui bagian ketiak yang longgar kemudian meremas toket yang sudah dari tadi menggodanya.
Tangan kirinya menelusup ke selangkangan dan menggosok-gosok memek mertuaku yang sudah sangat basah.

Mendapat serangan seperti itu, ibu mertuaku melenguh kenikmatan, tangannya bergerak merangkul leher yusup dan mendorong kepalanya hingga mereka bisa berciuman lebih ganas.

Ibu mertuaku berbalik menghadap yusup dan bersandar pada meja dapur.
Mereka kembali berciuman dengan ganas, toket mertuaku tersembul yang langsung disedot dan digigit-gigit kecil oleh yusup, sementara tangan satunya lg memilin-milin puting.

Tangan mertuaku bergerak ke arah selangkangan yusup dan meremas tonjolan batang dibalik celana katunnya. Kemudian membuka ruitsletingnya, merogoh cd dan menggenggam batang kejantanan yusup, kemudian mengocoknya secara perlahan.

Mengetahui waktu yang dimiliki tidak banyak, ibu mertuaku tidak mau banyak membuang waktu, setelah Yusup memelorotkan cd mertuaku, dia segera mengarahkan rudalnya ke nonok mertuaku. Bless… Mulut mertuaku menganga menerima desakan batang yusup yang keras dan hangat pada vaginanya yang sudah basah. Yusup mendiamkan kontolnya diam sesaat merasakan remasan vagina mertuaku dan kemudian memompanya secara liar, sebelah kaki mertuaku melingkar ke badan yusup, memberikan akses penetrasi yang leluasa. Mulut yusup sibuk bergantian mencium bibir mertuaku dan menghisap serta mengigit-gigit toked montok mertuaku.

Tangan yusup meremas gemas toket yang tetap diiringi gerakan maju mundur pantatnya untuk melesakkan batangnya dan memberinya kenikmatan duniawi tanpa mempedulikan bapak mertuaku, suami dari wanita yang sedang ia setubuhi berada di kamar mandi yang tak jauh dari tempat mereka *******.

Kini mereka telah merubah posisi, ibu mertuaku menghadap ke meja, sementara yusup menyodoknya dari belakang, dengan posisi itu, toket mertuaku menggantung bebas dan bergoyang-goyang seiring dengan pompaan yusup dari belakang. Dengan posisi itu tidak berlangsung lama karena yusup kemudian mengejang dan meningkatkan pompaanya, hingga akhirnya ambruk dengan menyemprotkan sperma yang berceceran dilantai.

Mereka terdiam sesaat, yusup masih memeluk tubuh mertuaku, batangnya masih menancap, membiarkan sisa-sisa kenikmatan yang ada. Tangan yusup masih meremas-remas pelan toket mertuaku kemudian mereka berciuman mesra layaknya pasangam kekasih.

Tak lama, mereka sadar bahwa bapak mertuaku akan segera keluar, mereka buru-buru merapikan pakaian dan rambut, tak lupa melap sisa cairan senggama yang berceceran tadi.

Bapak mertuaku memang punya kebiasaan BAB yang lama, seperti saat itu, dia melewatkan persetubuhan kilat istri dengan karyawannya.Sementara aku hanya berani melihat dan menikmati itu semua, tanpa keberanian melaporkan ke bapak mertuaku atau mungkin ikut mencoba mencicipi ibu mertuaku yang semakin hari semakin menggairahkan dimataku.

Tetapi entah kenapa dengan hanya melihat perselingkuhan itu aku sudah cukup puas, dan dengan bantuan kamera tersembunyiku, hasratku cukup terpuaskan, berkali-kali kulihat pergumulan mertuaku dengan yusup melalui kameraku.

Cerita Panas – Perselingkuhan ibu mertuaku berlangsung berkali-kali, diantaranya sering sekali nekad.. entah mungkin mereka makin bernafsu bila resiko ketahuan makin tinggi.. Sering kulihat ibu mertuaku mengusap-ngusap batang yusup padahal suaminya sedang didepan mereka yang tengah mengerjakan sesuatu.

Berkali-kali aku berpikiran untuk memanfaatkan kameraku untuk bisa ikut mengentot mertuaku, tetapi rasa takut dan sayangku pada istriku berkali-kali itu juga menghalangi niatku. Hingga terjadinya peristiwa itu…

Seperti biasa, setiap hari sabtu-minggu aku ngga kerja dan biasanya diisi dengan kegiatan bermalas-malasan dan tidur-tiduran dikamar sambil nonton tipi. Seperti juga sabtu itu, sementara itu istriku masuk kerja.

Karena malamnya begadang nonton tipi hingga pagi hari, otomatis pagi hingga siang kuisi waktu dengan tidur. Bangun tidur, rumah dalam kondisi sepi, mertuaku mungkin sedang ditoko. Ingat mertuaku aku jadi penasaran apakah ada kejadian yang seru hari itu yang terekam dalam kameraku.

Aku mulai memainkan rekaman video dari berbagai ruangan rumahku pada hari itu. Kulihat mertuaku tidak ada, cukup mengecewakan, yang ada hanya ruangan yang kosong. Tetapi tidak lama kulihat pintu rumah terbuka dan terlihat istriku masuk ke rumah, dan ternyata dia tidak sendiri, dia bersama 3 orang lainnya, 2 orang perempuan dan 1 orang laki-laki. mereka cukup kukenal sebagai teman kantor istriku. Teman wanita istriku bernama Indri dan Fitri, mereka cukup menarik, Indri agak tinggi dengan kulit putih mulus dengan dada yang padat, sementara Fitri lebih pendek tapi jauh lebih montok dengan dada berukuran ekstra. Tetapi yang paling cantik tetap istriku, dengan tinggi yang pas serta dada yang montok membuatku merasa menjadi pria yang sangat beruntung. Mereka menggunakan seragam kerja blazer dan rok span selutut kecuali istriku yang menggunakan pakaian yang menutup dari mulai rambut hingga tumit kaki.
Sementara Johan kulihat lebih pendek dari istriku dan berbadan kurus.

Tampaknya mereka sedang mendiskusikan pekerjaan mereka, istri dan kedua teman wanitanya tampak membacakan sesuatu dan Johan, satu-satunya laki-laki yang ada kebagian mengetik.

Setelah berdiskusi beberapa lama, kulihat kedua teman wanita istriku tampak pamit untuk pergi, hingga tinggal istri dan johan yang ada di ruangan itu. Aku mulai berdebar, karena menduga-duga hal yang akan terjadi selanjutnya.

Johan masih sibuk mengetik, sementara istriku tampak menyiapkan minuman untuknya.
Johan tampak celingukan melihat-lihat keluar, kemudian ngomong sesuatu pada istriku. Istriku terlihat tersenyum kemudian menuju pintu rumah kemudian menutupnya!.
Jantungku makin berdebar-debar, terutama setelah kulihat istriku duduk merapat pada johan yang masih mengetik. Adegan selanjutnya membuatku terkesiap !.
Johan memegang telapak tangan istriku kemudian menariknya dan menaruhnya diselangkangannya. Istriku menarik tangannya.. tetapi kulihat Johan tampaknya membujuk istriku, istriku terlihat bimbang, kemudian beranjak dari tempatnya pergi menuju kamar, ya kekamarku, dia membuka pintu sebentar kemudian menutupnya kembali. Saat itu, siang tadi aku tertidur dengan lelapnya hingga tidak menyadari yang terjadi di ruang tamu.

Dari kamar, istriku kembali ke ruang tamu tempat Johan berada. Melihat istriku datang, tampak Johan menanyakan sesuatu pada istriku dan entah dijawab apa karena aku tidak bisa mendengar suara mereka. Istriku kembali duduk disamping Johan, dan laki-laki itu mengulang kembali perbuatannya tadi, dia menarik tangan istriku kemudian mengusap-usapkan tangan istriku ke tonjolan selangkangannya!

Kali ini istriku tidak menariknya tetapi malah bergerak mengusap-usap tonjolan selangkangan Johan. Merasakan nikmat, Johan berhenti mengetik sesaat kemudian melanjutkan pekerjaannya. Gila.. Johan mengetik di laptop sementara istriku memberi servis tambahan yaitu mengusap-usap batang kejantanan Johan yang kulihat semakin menonjol seolah-olah meronta ingin dikeluarkan dari celananya.

Sesaat kemudian Johan membuka resletingnya, dan muncullah batang penis yang kulihat cukup gemuk apalgi bila dibandingkan badannya yang kurus. panjangnya tidak seberapa, bahkan bila kubandingkan masih jauh lebih besar dan panjang punyaku !
Tangan istriku bergerak mengambil bantal kursi untuk menutup penis Johan, dan meminta johan memegang bantal itu. Kemudian terlihat tangan istriku naik turun mengocok penis Johan.

Jantungku berdegup kencang dan tubuhku gemetaran melihat pemandangan itu, Istriku mengocok penis lelaki lain! bukan cuman itu dia melakukannya di rumah!!! Tak tahan dengan kocokan istriku, Johan berhenti mengetik kemudian bersandar dikursi matanya terpejam menikmati servis yang dilakukan istriku.

Tangan johan mulai bergerak, mengelus-elus punggung istriku yang masih dalam posisi duduk dan celingukan melihat-lihat keadaan mulai dari melihat ke arah jendela rumah hingga sesekali melihat ke kamarku, mungkin untuk memastikan aku tidak bangun.
Tidak berhenti hanya dipunggung, tangan johan bergerak ke depan kemudian mengelus-elus toket istriku dari luar bajunya. Istriku terlihat sesekali merem kemudian membuka matanya untuk kembali melihat-lihat keadaan.

Tangan johan sudah bergerak masuk ke balik bajunya, kemudian merogoh toket dibalik Bra dan meremas-remasnya. Karena kesulitan, Johan bergerak membuka kancing kemeja seragam PNS istriku, istriku semula menahan tetapi kemudian Johan membisikan sesuatu hingga akhirnya membebaskan Johan membuka 2 kancing atasnya, dan menyingkap bajunya, hingga terlihat toket istriku yg masih terbungkus bra hitam berendra sehingga tampak sangat kontras dengan toket istriku yang putih mulus.
Toket kenyal dan montok yang merupakan toket kebanggaanku itu kini diremas-remas oleh lelaki lain!!!

Karena ukurannya yang besar, serta tersumpal oleh baju, toket itu tampak membusung dan sangat menggairahkan!.. dan johan pun tau itu.. tidak sabar dia segera membuka kait bra istriku yang terletak didepan. sehingga toket istriku menyembul dengan bebasnya.

Johan langsung menjilat dan menghisap toket istriku, sementara penisnya masih dikocok oleh tangan mulus istriku. Kedua toket istriku dijilat dan dihisap secara bergantian.
Istriku semakin merem keenakan, perasaan waspada yang tadi ada sepertinya sudah hilang, dia sudah tidak peduli lagi dengan sekelilingnya. Bibir merahnya merekah karena kenikmatan yang diperolehnya, yang kemudian disambut oleh deep kiss oleh Johan yang diiringi oleh permainan lidah. Ciuman mereka cukup intens dan lama.

Tangan johan bergerilya ke arah selangkangan istriku, mengusap-usapnya, istriku terlihat sangat menikmati usapan johan, terlihat dari pahanya yang dibuka semakin melebar.Istriku kemudian mendorong badan Johan hingga bersender ke kursi, kemudian istriku menunduk ke arah penis johan yang semakin tegak berdiri. yang kemudian tenggelam dalam lumatan mulut istriku. Istriku mengulum, menghisap dan menjilati penis gemuk dan hitam Johan, seolah-olah menikmati penis itu. Padahal denganku, suaminya, istriku sering sekali menolak untuk menghisap penisku.

Istriku bergerak naik ke atas badan johan kemudian menyingkapkan rok panjangnya ke ujung paha hingga terlihat jelas paha putih mulus istriku, kemudian dia melucuti sendiri celana dalam yang dia pakai. Penis johan digenggam dan dikocok perlahan kemudian diarahkan menuju liang vaginanya.

Istriku menggesek-gesekan penis itu ke mulut vaginanya, seolah-olah vaginanya gatal dan penis itu digunakan untuk menggaruknya. dan kemudian bless.. penis itu amblas masuk seluruhnya ke vaginanya, kemudian terdiam, badan istriku melengkung menikmati gesekan penis johan kedalam vaginanya.

Johan yang bersender di kursi dengan rakusnya melahap kedua bukit kembar istriku, sementara tangannya memegang pantat istriku untuk menaik turunkan pantat itu. Istriku pun menyambutnya dengan menaik-turunkan pantatnya, hingga terlihat jelas sodokan-sodokan ****** johan yang dibenamkan ke dalam memek istriku. sementara tangan istriku bertahan pada senderan kursi sehingga keseimbangan badannya terjaga.
Istriku bergerak makin cepat begitupun Johan yang menaikan pantatnya, menginginkan penisnya terhujam makin dalam ke liang memek istriku.

Gerakan naik turun pantat istriku untuk mengeluar masukan ****** Johan yang diiringi juga dengan gerakan johan, berlangsung semakin cepat dan cepat..!
hingga mereka akhirnya terdiam dengan membenamkan kelamin mereka semakin dalam.. untuk menjemput puncak kenikmatan..!

Istriku masih berada diatas johan untuk beberapa saat mereka berciuman…
Pandanganku berkunang-kunang, kepalaku terasa berat melihat Istriku yang selama ini kubanggakan, baru saja bersetubuh sedang dengan lelaki lain.

Sekian. http://www.ceritabf.info

Istri-Istri Binal Menggoda Ayah Mertua

2 November 2010 2 komentar

Kisah panas ini menceritakan tentang istri binal yang doyan menggoda mertua nya yang kaya raya. Kisah nyata ini menarik untuk disimak, selamat menikmati.

Berdiri di depan pintu rumahku, Mirna mendekatkan kepalaku ke arahnya dan berbisik di telingaku, “Ayah boleh mendapatkanku jika ingin.“

Dia memberiku sebuah kecupan ringan di pipi, dan berbalik lalu berjalan menyusul suami dan anaknya yang sudah lebih dulu menuju ke mobil. Yoyok menempatkan bayinya pada dudukan bayi itu, dan seperti biasanya, terlalu jauh untuk mendengar apa yang dibisikkan istrinya terhadap ayah mertuanya. Mirna melenggang di jalan itu dengan riangnya seperti seorang gadis remaja yang menggoda saja. Yoyok tak mengetahui ini juga, ini hanya untukku.

Mungkin kamu mengira aku terlalu mengada-ada soal ini, tapi nyatanya apa yang Mirna lakukan itu tidak hanya sekali saja. Dan sejak aku tak terlalu terkejut lagi, aku jauh dari rasa bosan soal itu. Aku merasa ada getaran pada penisku, dan pikiran yang tidak wajar berputar-berputar di benakku.

Mirna adalah seorang wanita yang mungil, tapi ukuran fisiknya itu tak mampu menutupi daya tarik seksualnya. Sosoknya terlihat tepat dalam ukurannya sendiri. Dia mempunyai rambut hitam pekat yang dipotong sebahu, yang dengan alasan tertentu dia biasanya mengikatnya dengan bandana. Dia memiliki energi dan keuletan yang sepengetahuanku tak dimiliki orang lain. Cantiklah kalau ingin mendeskripsikannya. Dia selalu sibuk, selalu terburu-buru tapi selalu kelihatan manis. Dia masuk dalam kehidupan kami sejak dua tahun lalu, tapi dengan cepat sudah terlihat sebagai anggota keluarga kami sekian lamanya.

Yoyok anakku bertemu dengannya saat dia masih di tahun pertamanya kuliah. Mirna baru saja lulus SMU, mendaftar di kampus yang sama dan ikut kegiatan penataran mahasiswa baru. Kebetulan Yoyok yang bertugas sebagai pengawas dalam kelompoknya Mirna. Seperti mereka bilang, cinta mereka adalah cinta pada pandangan pertama.

Mereka menikah di usia yang terbilang muda, Yoyok 23 tahun dan Mirna 19 tahun. Setahun kemudian bayi pertama mereka lahir. Aku ingat waktu itu kebahagian terasa sangat menyelimuti keluarga kami. Suasana waktu itu semakin mendekatkan kami semua. Mirna sangat jenaka, selalu tersenyum riang, dan juga menyukai bola. Dia sering menggoda Yoyok, mereka benar-benar pasangan serasi. Dia selalu menyemangatinya. Yoyok memerlukan itu.

Yoyok dan Mirna sering berkunjung kemari, membawa serta anak mereka. Mereka telah mengontrak rumah sendiri, meskipun tak terlalu besar. Aku pikir mereka merasa aku membutuhkan seorang teman, karena aku seorang tua yang akan merasa kesepian jika mereka tak sering berkunjung. Di samping itu, aku memang sendirian di rumah tuaku yang besar, dan aku yakin mereka suka bila berada di sini, dibandingkan rumah kontrakannya yang sempit.

Ibu Yoyok telah meninggal karena kanker sebelum Mirna masuk dalam kehidupan kami. Sebenarnya, tanpa mereka, aku benar-benar akan jadi orang tua yang kesepian. Aku masih sangat merindukan isteriku, dan bila aku terlalu meratapi itu, aku pikir, kesepian itu akan memakanku. Tapi pekerjaanku di perkebunan, hobi olahragaku serta kunjungan mereka, telah menyibukkanku. Terlalu sibuk untuk sekedar patah hati, dan terlalu sibuk untuk mencari wanita dalam hidupku lagi. Aku tak terlalu memusingkan kerinduanku pada sosok wanita. Tak terlalu.

Bayi mereka lahir, dan menjadi penerus keturunan keluarga kami. Kami sangat menyayanginya. Dan kehidupan terus berjalan, Yoyok melanjutkan pendidikannya untuk gelar MBA, dan Mirna bekerja sebagai teller di sebuah bank swasta. Kunjungan mereka padaku tak berubah sedikit pun, cuma bedanya sekarang mereka sering membawa beberapa bingkisan juga. Tentu saja, di samping itu juga perlengkapan bayi, beberapa popok, mainan dan makanan bayi.

Beberapa bulan lalu Mirna dan bayi mereka datang saat Yoyok masih di kelasnya. Dia duduk disana menggendong bayinya di lengannya. Dia sedang berusaha untuk menidurkan bayinya. Aku tak tahu bagaimana, tapi pemandangan itu entah bagaimana menggelitik kehidupan seksualku.

“Jadi, ayah, kapan ayah akan segera menikah lagi?“ dia bertanya dengan getaran pada suaranya.

“Aku tak tahu. Aku kelihatannya belum terlalu membutuhkan kehadiran seorang wanita dalam hidupku. Lagipula, aku telah memiliki kalian yang menemaniku.“

“Aku tidak bicara tentang teman. Aku sedang bicara soal seks.“ matanya mengedip genit ke arahku saat dia bicara.

“Apa?“

“Ayah tahu, seks…” dia hampir saja tertawa sekarang.

“Saat pria dan wanita telah telanjang dan memainkan bagiannya masing-masing?“ jelasnya lagi, mengguruiku.

“Ya, aku tahu seks,“ aku membela diri.

“Lagipula kamu pikir dari mana suamimu berasal?“

“Yah, aku hanya khawatir ayah sudah melupakannya. Maksudku, apa ayah tak merindukannya?“

“Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku sudah terlalu tua untuk hal seperti itu.“

“Hei! Pria tak pernah bosan dengan hal itu. Setidaknya begitulah dengan puteramu.“

“Anakku jauh lebih muda dariku, dan dia mempunyai seorang isteri yang cantik.“

“Terima kasih, tapi aku masih tetap menganggap ayah membutuhkannya,“ dia menekankan suaranya pada kata ayah.

“Terima kasih sudah ngobrol,“ kataku, masih terdengar sengit.

Ada sedikit jeda pada perbincangan itu, saat dia masih menekan kehidupan seksualku. Aku pikir bukanlah urusannya untuk mencampuri hal itu meskipun kadang aku membayangkannya juga. Dia pandang bayinya, yang akhirnya tertidur, dan memberinya sebuah senyuman rahasia, sepertinya mereka berdua akan berbagi sebuah rahasia besar. Masih memandangnya, tapi dia berbicara padaku..

“Ayah boleh memilikiku jika ayah menginginkanku.“

“Apa!!?“

“Aku serius.“ Mirna menatapku.

“Ayah boleh memilikiku. Ayah lelaki yang tampan dan macho. Ayah masih membutuhkan seks. Di samping itu, aku bersedia, kan?“

Aku pikir dia sedang bercanda. Tapi wanita yang menggoda ini tidak sedang main-main. Tapi tetap saja tak mungkin aku melakukannya dengan isteri dari anakku.

“Terima kasih atas tawarannya, tapi kupikir aku akan menolaknya.“ suaraku terdengar penuh dengan keraguan saat mengucapkannya.

Mirna mencibirkan bibir bawahnya, aku tak bisa menduga apa yang sedang dirasakannya. Dia tetap terlihat menawan, dan aku merasa Yoyok sangat beruntung memilikinya. Dia bicara dengan pelan..

“Lihatlah, Yoyok tak akan tahu. Maksudku, aku tak akan mengatakannya kalau ayah juga begitu. Dan bukannya aku selalu menawarkan diriku pada setiap lelaki yang kutemui. Aku bukan wanita seperti itu. Aku bisa mengatur untuk sering berkunjung kemari. Dan aku tahu ayah menganggapku cukup menggoda, kan, sebab aku sering melihat ayah memandangi pantatku…“

Aku tak mungkin menyangkalnya. Mirna mungkin tak terlalu tinggi, tapi dia memiliki bongkahan pantat yang sangat indah di atas kedua kakinya yang kencang itu.

“Ya, pantatmu memang indah. Tapi itu bukan berarti kalau aku ingin berselingkuh dengan menantuku sendiri.“ Dia berhenti sejenak, tapi Mirna tak akan menyerah begitu saja.

“Yah, tapi jangan lupa, Ayah boleh mendapatkanku jika ingin.“

Dan itulah awal dari semua ini…

Seiring minggu yang berlalu, entah di sengaja atau tidak, dia seakan selalu menggodaku, membuat puting susunya menyentuh dada bidangku saat dia menyerahkan bayinya padaku. Atau dia masukkan jarinya di mulutnya saat Yoyok tak melihat, dan menghisapnya dengan pandangan penuh kenikmatan padaku. Seakan-akan dia melakukan oral seks denganku. Suatu waktu dia duduk di lantai dengan kaki menyilang dan sedang bermain dengan bayinya, dia memandangku tepat di mata, tersenyum, dan menyentuh pangkal pahanya di balik celana jeansnya. Aku tak akan pernah melupakan itu. Dan dia entah bagaimana selalu menemukan cara untuk berduaan denganku walaupun sesaat, dan dia memberiku ciuman singkat yang penuh gairah, tepat di bibir. Itu semua dilakukannya berulang-ulang.

“Ayah boleh mendapatkanku jika ingin,“ dia berbisik di belakang Yoyok saat suaminya itu sedang memasukkan DVD pada player.

“Ayah boleh mendapatkanku jika ingin,“ dia berbisik saat mendekat untuk menyodorkan minuman padaku.

“Ayah boleh mendapatkanku jika ingin,“ dan dia selalu kembali membisikkannya setiap kali dia berpamitan.

Sekarang, aku akui aku bukanlah seorang pria yang terbuat dari batu. Aku tak akan bilang bahwa tingkah nakalnya itu tidak memberikan pengaruh terhadapku. Mirna sangat manis dan mungil, dan melahirkan bayinya tak membuatnya berubah seperti kebanyakan wanita. Dia tetap langsing, seksi dan cantik, sama seperti dia masih perawan dulu. Dia menawarkan dirinya sepenuhnya untuk kumiliki. Tapi aku tak akan memulai tidur dengan menantuku sendiri, tak peduli semudah apapun itu. Setidaknya itulah yang tetap kukatakan pada diriku sendiri.

Beberapa minggu yang lalu kami semua berkumpul di rumahku untuk melihat pertandingan bola. Aku mengambil beberapa kaleng minuman dan sedang berada di dapur untuk menyiapkan beberapa makanan ringan saat Mirna muncul dari balik pintu itu.

“Hai!“ sapanya, membuka pintu dan masuk ke dapur.

“Ayah sudah siap untuk pertandingan nanti?“

“Hampir. Aku sedang membuat makanan untuk keluarga besar kita, dan aku punya beberapa wortel untuk cucuku. Aku pikir dia akan suka dan warnanya sama dengan kesebelasan yang akan bertanding nanti, kan?“

“Aku pikir dia tak akan peduli. Di samping itu bukankah ada hal lebih baik yang bisa ayah kerjakan untukku?“ Mirna tertawa.

“Jangan menggodaku. Aku seorang kakek dan aku akan lakukan apa yang menurutku akan disukai oleh cucuku.“

Cerita Dewasa – Aku memandangnya. Mirna berdiri di sana memakai bandana merah kesukaannya diatas rambutnya yang sebahu. Dia memakai kaos yang sedikit ketat yang tak sampai ke pinggangnya, dan pusarnya mengedip padaku di balik kaosnya. Kancing jeansnya membuatnya kelihatan seperti anak-anak di era bunga tahun 60-an, dan dia memakai sandal dengan bagian bawah yang tebal yang mana menjadikannya lebih tinggi tiga inchi. Kuku kakinya dicat merah senada dengan lipstiknya, dan itu menjadi mencolok dengan sangat menarik di balik denimnya.

Dia selalu suka mengenakan perhiasan, dan dia memakainya pada leher, telinga, pergelangan tangan dan bahkan di jari kakinya. Dia membuatku berandai-andai jika saja aku masih remaja, jadi aku dapat memacari gadis sepertinya. Mungkin suatu waktu nanti aku harus pergi ke kampus dan mencari gadis-gadis binal. Khayalanku terhenti saat menyadari kalau Yoyok dan bayinya ternyata tidak mengikutinya masuk.

“Mana anggota keluargamu yang lainnya?“ aku bertanya ingin tahu.

“Mereka akan segera datang. Yoyok pergi ke toko perkakas untuk membeli peralatan mesin cuci yang rusak. Dia membawa serta anak kami. Perjalanan ke toko perkakas yang pertama bersama anaknya, kurasa itulah yang dikatakannya padaku.“ dia tersenyum.

“Apa ayah mempermasalahkan saat pertama kalinya mengajak Yoyok ke toko perkakas?“

“Aku tak ingat,“ aku berkata dengan garing. Mirna mendekat padaku, berjinjit dan menaruh tangannya melingkari leherku.

“Ini kesempatan ayah. Ayah boleh mendapatkanku jika ingin.“

Mirna memandangku tepat di mata dan mengangkat tubuhnya dan menciumku panjang dan bernafsu. Aku ingin mendorongnya, tapi aku tak tahu dimana aku harus menaruh tanganku. Aku tak mau menyentuh pinggangnya yang telanjang itu, dan jika aku menaruh tanganku di dadanya aku pasti akan menyentuh puting susunya yang menggiurkan. Saat aku terkejut dan bingung, aku temukan diriku menikmati ciumannya. Ini sudah terlalu lama, dan aku merasa telah lupa akan rasa lapar yang mulai tumbuh dalam diriku. Akhirnya aku menghentikan ciuman itu, mundur dan melepaskan tangannya dari leherku.

“Kita tak boleh melakukannya.“ aku mencoba menyampaikannya dengan lembut, tapi aku takut itu kedengaran seperti rajukan.

“Ya kita boleh.“

Mirna kembali menaruh lengannya di leherku dan mendorong bibirku ke arahnya. Ada gairah yang lebih lagi di ciuman kali ini, dan akhirnya penolakanku sirna. Kali ini saat kami berhenti, ada sedikit kekurangan udara di antara kami berdua, dan aku semakin merasa sedikit bimbang. Mirna memandangku dengan binar di matanya dan sebuah senyuman di bibirnya.

“Ayah menginginkanku. Aku bisa merasakannya. Ayah tak mendapatkan wanita setahun belakangan ini, dan ayah tak mempunyai tempat untuk melampiaskannya. Dan aku menginginkan ayah. Jadi ambillah aku.“

Pada sisi ini aku tak mampu berkomentar. Aku menginginkannya. Tapi aku tak dapat meniduri menantuku, bisakah aku? Tapi aku menginginkan dia. Aku merasa pertahananku melemah, dan saat Mirna menciumku lagi, aku jadi sedikit terkejut saat menyadari diriku membalas ciumannya dengan rakus.

“Mm. Itu lebih baik,“ katanya saat kami berhenti untuk mengambil nafas.

Mirna menarik tangannya dari leherku dan mulai melepaskan kancing celanaku saat menciumku kembali. Lalu dia mundur jadi dia bisa melihat saat dia melepaskan kancing jeansku, menurunkan resletingnya, dan merogoh ke dalam untuk mengeluarkan barangku. Aku terkejut saat melihat milikku itu jadi tampak lebih besar di genggaman tangannya yang kecil. Itu sudah tak disentuh wanita selama setahun, dan bereaksi dengan cepat, menjadi keras, panjang dan terus membesar. Seiring nakalnya jari-jari indah Mirna dalam memperlakukannya. Cairan precumnya keluar saat dia mengocoknya dengan lembut. Mirna mundur dan duduk pada pantatnya yang seksi. Saat kepalanya turun, dia menempatkan bibirnya di pangkal penisku yang sudah basah.

“Aku rasa aku menyukai bentuknya… Begitu besar, keras dan panjang…” bisiknya sambil melirikku menggoda.

Lalu kemudian dia membuka mulutnya dan dengan perlahan memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Ke dalam dan lebih dalam lagi penisku masuk dalam mulutnya yang lembut, hangat dan basah, dan aku merasa berada di dalam vagina yang basah dan kenyal saat lidahnya menari di penisku. Akhirnya aku merasa telah berada sedalam yang kumampu, bibirnya menyentuh rambut kemaluanku dan kepala penisku berada entah di mana jauh di tenggorokannya. Aku merasa bagaikan seekor merpati yang dibebaskan tuannya ke angkasa. Begitu nikmat dan lega rasanya.

Penisku tanpa terasa mengejang, dan pinggangku bergerak berlawanan arah dengannya. Sesaat kemudian, aku sudah lupa diri. Tindakannya membuat erangan nikmatku bergema di dapur yang luas itu. Tak lama aku sudah larut dalam erotisme ini. Aku begitu menikmati menyetubuhi wajahnya, dengan menggoyang-goyangkan pantatku maju-mundur dengan cepat. Mendorong milikku memasuki mulut mungilnya. Mirna tampak tersedak-sedak, tapi tak sekalipun protes oleh ulah nakalku itu.

Agak lama kemudian, perlahan dia menjauhkan mulutnya dariku, menimbulkan suara seperti sedang mengemut permen. Puas sudah dia menikmati kejantanan mertuanya ini. Saat dia bangkit untuk menciumku lagi, aku segera mengarahkan tanganku di antara pahanya. Aku gosok jeansnya dan dia menggeliat karenanya.

“Mm, itu nikmat sekali,“ katanya. “Tapi biar aku membuatnya jadi lebih mudah.“, lanjutnya.

Mirna melepaskan kancing celananya dan menurunkan resletingnya, memperlihatkan celana dalam katunnya yang bergambar beruang kecil. Diturunkannya celananya dan melepaskannya dari tubuhnya. Kami melihat ke bawah pada area gelap di bawah sana di mana area kewanitaannya bersembunyi, dan kemudian aku sentuh perutnya yang kencang dan terus menurunkan celana dalamnya.

Mirna mengerang dalam kenikmatan saat tanganku mencapai sasarannya dibalik celana dalamnya. Vaginanya serasa selembut pantat bayi, dan aku sadar kalau dia pasti telah mencukurnya sebelum kemari. Terasa basah dan licin oleh cairan kewanitaannya dan membuatku kagum bahwa itu tak menimbulkan bekas basah di luar jeansnya. Saat tanganku menyelinap ke balik bibir vaginanya dan menyentuh klitorisnya yang mengeras, dia memejamkan matanya dan menekankan miliknya berlawanan arah dengan gerakan jari-jariku.

Mirna menaruh salah satu tangannya di leherku dan mendorong kami untuk ciuman intensif berikutnya saat tangannya yang lain mengocok penisku dan tanganku terus bergerak, aktif mengocok lubang surganya. Saat kami berhenti untuk bernafas, Mirna mundur dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan..

“Yoyok datang!“

Aku segera melepas pelukanku dan melihat ke arah jendela. Ya, mobil Yoyok terlihat di jalan sedang menuju kemari. Mirna pasti melihatnya melewati bahuku saat kami asyik saling bercumbu tadi. Tiba-tiba perasaan bersalah datang menerkamku karena hampir saja kami ketahuan. Aku tak percaya dengan apa yang hampir saja kami lakukan. Dengan tergesa-gesa aku kenakan kembali celanaku, tapi Mirna menghentikanku dan menangkap tanganku dan melanjutkan kocokannya di batang penisku.

“Hei, tidak boleh. Tak semudah itu ayah boleh mengakhirinya. Aku telah menunggu terlalu lama untuk ini.“

“Tapi Yoyok hampir datang! Dia akan melihat kita!“ Mirna kelihatan cuek saja. Dia tetap memegang penisku, lalu berdiri dan menarik tanganku berjalan ke arah meja dapur yang kokoh itu.

“Ini perjanjiannya,“ katanya.

“Aku tak akan mengadu pada Yoyok tentang apa yang baru saja kita lakukan kalau ayah dapat dapat mengeluarkan seluruh sperma ayah yang panas dalam vaginaku sebelum dia sampai kemari.“ Sambil berkata begitu, dia menurunkan celananya hingga lutut dan membungkuk di meja itu. Kemudian dengan santainya dia berbaring di atas meja itu, dengan memandangku penuh godaan. Melihat itu jakunku turun-naik.

“Dia akan segera datang!“ hampir saja aku teriak.

“Tidak.“ Mirna membentangkan kakinya sejauh celananya memungkinkan dan dia memandangku dengan seringai menggoda.

“Dia harus menggendong bayi dan mengeluarkan semua barangnya. Biasanya dia memerlukan beberapa menit. Sekarang kemarilah dan setubuhi aku.“

Mirna telah telanjang dari pinggang hingga kaki, dan dia memohon padaku agar segera memasukkan diriku dalam tubuhnya. Aku menatap dua lubang yang mengundang itu. Pantatnya begitu kencang dan aku begitu terusik saat melihat lubang anusnya yang berkerut kemerahan. Di atasnya, bibir vaginanya yang merah, terlihat mengkilap basah. Kakinya tak sejenjang model, tapi tetap terlihat indah mempesona. Aku membayangkan bercinta dengannya beberapa jam. Tanggannya bergerak ke belakang di antara pahanya dan menempatkan tangannya pada vaginanya. Dengan dua jarinya dilebarkannya bibir vaginanya hingga terbuka, dan aku dapat melihat lubang merah mudanya mengundang penisku agar segera masuk.

“Ayo,“ katanya. “Ambil aku…” lanjutnya.

Aku tak tahu apa dia sedang bercanda saat mengatakannya. Istri Yoyok atau bukan, rangsangan ini lebih dari cukup untuk membuat akal sehatku lenyap. Aku melangkah ke arahnya. Kubalikkan tubuh seksinya. Aku bergerak mendekat, ke belakang menantuku dan menempatkan penisku di kewanitaannya. Saat aku mendorong penisku melewati lubang surganya yang sempit, aku dapat merasakan jari Mirna menahannya agar tetap terbuka, dan dia melenguh saat aku memegang pinggangnya dan memasukkan penisku padanya.

Milik Mirna telah sangat basah hingga aku dapat dengan mudah melewati vagina mudanya yang sempit, hingga mentok di bagian terdalamnya. Aku mulai mengayunkan barangku di dalamnya, semakin lama semakin kencang. Kulakukan itu akibat didorong oleh nafsu yang sudah lama tak kurasakan, sedangkan sebagiannya oleh rasa takut jika Yoyok memergoki kami sewaktu-waktu.

Sekitar 15 menit kupompa miliknya, Mirna mengerang. Aku dapat merasakan jarinya menggosok kelentit dan bibir vaginanya sendiri. Nafasnya mulai tersengal, dan setelah beberapa goyangan kasar berikutnya, dia segera orgasme. Suara rengekan pelan keluar dari bibirnya saat dia mencengkeram pinggiran meja dengan kuat, dan letupan orgasmenya menggoncang kami berdua saat aku menghentak miliknya cukup keras.

Cerita Seks – Itu cukup untuk mengantarkanku ke puncaknya. Aku tak berhubungan dengan wanita dalam setahun ini, dan aku belum pernah mendapatkan yang sebinal Mirna. 5 menit kemudian, aku sampai. Sambil menahan nafas, aku mendorong seluruh batangku ke dalam miliknya. Kami mematung, dan kemudian spermaku menyemprot dengan hebat jauh di dalamnya. Serasa aku telah mengguyurnya dengan selang air hangat. Dia mengerang dalam nikmat, menggetarkan pantatnya di seputar penisku saat aku mengosongkan persediaan benihku di dalamnya. Dia melemah seiring dengan habisnya spermaku, dan kami akhirnya berhenti bergerak, untuk mengambil nafas.

Takut Yoyok akan datang sebelum kami sempat melepaskan diri, aku keluarkan diriku darinya dengan bunyi “plop” yang lemah, lalu mundur menjauh dan kembali mengenakan celanaku. Mirna masih tetap berbaring tertelungkup di atas meja, masih mencoba menikmati kehangatan spermaku, pantat telanjangnya masih tetap menggodaku. Aku lihat spermaku dan cairannya mulai meleleh keluar dari vaginanya.

Saat aku sedang berusaha membetulkan celanaku, tak sengaja aku melihat keluar. Aku melihat mobil Yoyok masih ada di sana. Terheran-heran kuamati. Oh rupanya mobil itu terjerumus ke selokan di jalan masuk yang sempit itu. Prosesnya mungkin akan memakan waktu beberapa jam. Saat itulah Mirna menghampiriku. Dia turut memandang ke luar. Melihat hal itu, dia tersenyum.

“Lihat Yah. Tampaknya Yoyok sedang ada masalah di sana. Mungkin prosesnya akan memakan waktu lama. Kalau begitu apa lagi yang kita tunggu?” katanya genit.

Usai berkata begitu, dia berpaling menghadapku. Dia loloskan pakaiannya sendiri hingga tak lama kemudian dia sudah bugil. Melihat tingkahnya itu, jantungku berdegup kencang. Jakunku bergerak naik-turun, terangsang melihat kemolekan tubuh seksinya. Mirna segera menghampiriku, lalu mulai melucuti kancing kemejaku satu-persatu. Sambil meraba-raba otot-otot kekar di lengan, dada, dan perutku, dia berbisik di telingaku;

“Ayolah, Yah. Kita belum tuntaskan semuanya…”

Usai berkata begitu, dia lucuti semua pakaianku, tanpa aku bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Setelahnya dia suruh aku untuk membungkuk. Diarahkannya kepalaku ke vaginanya yang masih berlumuran spremaku. Saat itulah aku sudah mulai lupa siapa diriku dan siapa wanita yang ada di hadapanku ini.

Sementara Yoyok di luar sana sibuk dengan mobil dan bayinya, di dapur ini aku sibuk bergelut dengan Mirna dalam berbagai posisi dan tempat. Meraih surga dunia yang lama sekali tak kurasakan. Kamipun sukses meraih orgasme susul menyusul hingga beberapa kali. Tepat 10 menit sebelum Yoyok masuk ke dapur itu, kusemburkan spermaku ke wajahnya yang cantik, yang langsung diraih dan ditelannya dengan rakus. Sebagian dari sperma-sperma itu tumpah dan menggenangi lantai di mana kami berdiri. Setelahnya kami segera berbenah secepat yang bisa kami lakukan.

“Apa kalian sudah siap untuk pertandingannya?“ tanya Yoyok sambil membuka pintu dapur. Keningnya berkerut saat melihat kami yang tampak keletihan dan berkeringat.

“Ya,“ aku dan Mirna menjawab serempak. Aku melirik ke lantai dapur. Sisa-sisa spermaku masih mengenanginya sebagian. Kuharap Yoyok tidak akan pernah menyadarinya.

“Maaf aku telat, tadi mobilku terperosok di sana…” ujar Yoyok lagi.

“Tak apa Nak… yang penting kamu dan bayimu baik-baik saja…” kataku sambil menyembunyikan senyuman. Mengingat apa yang barusan kami lakukan saat Yoyok sedang sibuk dengan mobilnya itu. Kulirik Mirna juga ikut-ikutan tersenyum mendengar jawabanku itu.

“Ini,“ katanya, menyodorkan bayinya padaku dan meletakkan belanjaannya di atas meja dapur.

“Tolong urus ini, aku akan mengambil popok bayi.“

Yoyok melangkah ke pintu yang masih terbuka, dan aku menghampiri Mirna. Dia masih tampak tersenyum-senyum kepadaku.

“Tadi hampir saja,..“ kataku pelan sambil menyengir ke arahnya.

“Tapi enak ‘kan?” godanya balik.

“Enak sekali… kamu benar… Aku masih membutuhkan kehangatan seorang wanita…” jawabku sambil tetap tersenyum.

Mirna mengecup bibirku, lalu segera beralih ke bayinya yang kugendong.

“Mari, biar aku yang menggendongnya.”

Aku berikan bayinya. Mirna memberiku pemandangan yang mempesona, wajah cantik dari seorang wanita yang lemas sehabis bercinta. Sebelum dia keluar dari dapur, dia memberiku ciuman yang bernafsu lagi.

“Masih ada satu hal lagi yang harus kuketahui…” katanya genit.

“Apa itu?“

“Kalau aku ingin lagi, bisakah aku mendapatkannya besok?“

Dan dia melenggang begitu saja tanpa menunggu jawabanku yang hanya melongo. Dia yakin kalau aku akan bersedia. Ceceran sperma di lantai itu membuktikan semuanya…

Tamat.

Tanteku Yang Haus Seks

27 September 2010 1 komentar

“Ma, minta susu…!” teriak seorang bocah kepada mamanya. “Iya bentar !” teriak mamanya dari dalam kamar. Bocah kecil tersebut adalah anak dari Mama yang disebut tadi Kita sebut saja namanya Ras. Ras merupakan istri dari abang mama saya, ngertikan?? jadi saya seharusnya memanggilnya bibi, tapi karena suatu alasan dia kami panggil Mbak dan dia tidak keberatan kok dipanggil begitu. Suaminya saat itu bekerja di Luar Negri dan dia ditinggal di rumah mertuanya yaitu nenek saya. Suaminya telah lama pergi dan hanya pulang sekali dalam setahun.

Pada saat itu umur saya baru akan menginjak 17 tahun, dan sekolah disalah satu perguruan swasta di kota saya. dan pada saat itu sekolah kami sedang libur, jadi otomatis dirumah sepi karena semua penghuni rumah udah keluar ntah kemana. Dirumah kami tinggal bersama nenek, dan 5 orang sepupu saya yang tentu saja lebih kecil dari saya semuanya. Jam baru menunjukkan pukul 9.00 pagi. Nenek saya sedang pergi ke pasar dan biasanya bila beliau kepasar tidak pernah sebentar. Ke-5 sepupu saya sudah keluar dari tadi pagi jadi yang tinggal dirumah cuma saya dan mbak saya serta anaknya yang baru berumur 5 tahun.

Saya dan mbak Ras bisa dibilang sangat dekat, karena kami sering ngomong dan bercanda bersama. Jadi diantara kami berdua sangat terbuka. Namun pada saat itu saya tidak berani berbuat macam2 kepadanya, tapi kalo berpikir macam2 sih pasti ada hehehe “Ma, buatkan susu donk!” celoteh bocah tadi menagih janjinya tadi. “Iya, nih tiap hari minum susu aja. Susu mahal tau!” mamanya menyodorkan sebotol susu kepada anaknya dan diterima anaknya dengan gembira tanda bahwa dia tidak mau mengerti tentang kemahalan susu. Memang anaknya setiap bangun tidur dan sebelum tidur selalu meminta susu.

Kebetulan lagi pada saat itu saya baru selesai sarapan pagi dan timbul keisengan saya untuk bercanda kepada Mbak saya “Saya juga minta susu donk Mbak!” kata saya sambil menyodorkan gelas kepadanya. “Eh..loe itu udah gede, itu kan susu buat anak2″ balas Mbak saya. “Lho, jadi kalo udah gede gak boleh minum susu?” tanya saya sambil pasang muka tak berdosa. “Bukannya gak boleh, tapi itukan susu buat anak-anak” tegasnya sekali lagi ” Jadi yang buat orang dewasa mana” tantang saya kepadanya “Ini” sambil menunjuk kepada buah dadanya yang kayaknya cukup besar dan padat itu. Terang aja saya terkejut, dan saya pun malu karena dia gak biasanya bercanda sampai gitu.

Sebenarnya saya tau kalo dia itu sebenarnya sudah sangat haus dengan sex. Bayangkan saja selama hampir setahun tidak berhubungan dengan suaminya, siapa yang tahan. Dan Argumen saya ini juga telah saya buktikan, Kebetulan kamar saya yang dilantai berada pas diatas kamar mandi, dan lantai 2 hanya berlantaikan papan jadi iseng2 saya melubangi papan itu biar bisa ngintip orang mandi. Saya sering mengintip Mbak saya mandi dari lubang itu dan saya lihat bahwa Mbak saya sangat sering merangsang dirinya sendiri di kamar mandi, misalnya dengan memijat2 dadanya sendiri dan mengelus2 vaginanya sendiri.Jadi dari itu saya mengambil kesimpulan kalau dia sering horny.

“Kok bengong? mau minum susu gak?” ucapnya membuyarkan lamunanku. “Apa masih ada?? anak Mbak kan udah lima tahun?” jawab saya menetralisir kekagetan saya “Gak tau dech..loe coba aja, hehehe…udah dech..” Katanya sambil melewati saya menuju kamar mandi kemudian berbisik sekilas kepada saya “Pintu kamar mandi gak Mbak kunci” Terang aja saya happy banget, soalnya saya sering baca cerita seru dan pernah berkhayal kalo gue melakukannya dengan mbak gue en kayaknya sekarang bisa terwujud. Saya membuka pintu kamar mandi perlahan dan saya lihat Mbak saya sedang membelakangi saya menggantung pakaian yang akan dipakainya. Dengan perlahan juga saya tutup pintu kamar mandi dan menguncinya tanpa suara.

Saya lihat Mbak saya mulai membuka baju tidurnya tanpa membalikan tubuhnya. Kayaknya dia gak sadar kalo saya udah berada di dalam. Setelah baju dilepas kemudian tangan saya menuju ke pengait BH nya bermaksud membantu membuka BH nya. Dia kaget karena tiba2 ada orang dibelakangnya namun setelah mengetahui bahwa yang dibelakangnya adalah saya dia tersenyum dan membiarkan saya melanjutkan kegiatan saya. Setelah BH nya terbuka saya kemudian melemparkannya ke Tong tempat baju kotor. “Mbak, susunya boleh saya minum sekarang” tagih saya kepadanya. dia hanya mengangguk dan kemudian membalikkan badannya. Terlihatlah olehku dua buah tonjolan di dalamnya yang selama ini belum pernah saya lihat secara langsung.

Sebelumnya saya hanya mengintip. Kemudian dia menyodorkan dadanya kepada saya dan dengan cepat saya sambar dengan mulut saya. Dia hanya mendesis gak jelas. Lama saya menghisap dan menjilat kedua dadanya membuat dia terus menggelinjang dan menjambak rambut saya. Dadanya kanan kiri secara bergantian menjadi korban keganasan lidah saya. Mbak Ras kemudian secara lembut membuka kaos saya dan tanpa saya sadari kaos saya sudah terlepas. mungkin karena keasyikan “meminum” susu alam. Sementara tangan saya yang kiri mulai meraba2 perutnya sedangkan yang kanan mengusap2 dadanya yang sebelah kanan. Sementara mulut saya dengan menjulurkan lidah keluar mempermainkan puting susu yang sebelah kiri yang membuat Mbak saya semakin ngos2an.

Tangan saya sebelah kiri mulai nakal dengan menyusupkan jari2nya kecelana tidurnya yang belum dibuka. Tangan Mbak pun gak mau kalah, dia pun mulai mencari2 sesuatu diselangkangan saya dan setelah menemukannya dia pijat2 lembut. Adik saya yang merasakan ada rangsangan dari luar celana semakin meronta minta keluar. Mbak saya yang sudah berpengalaman itu kemudian membuka resleting celana saya dan kemudian melorotkannya ke bawah dengan menggunakan kakinya karena dia tidak bisa membungkuk sebab dadanya sekarang masih berada dalam kekuasaan saya.

Setelah CD saya dibuka, tangannya yang sekarang lebih nakal mulai mengocok perlahan batang saya dan itu jelas saja membuat saya fly tinggi, sebab baru kali ini batang saya yang satu ini dipegang oleh tangan seorang cewek yang lembut. Mbak saya makin menjadi ketika jilatan saya turun ke perutnya dan bermain disekitar pusarnya Dan kemudian dengan sekali tarik celana tidur yang sedari tadi menghalangi pemandangan indah saya buka dan sekarang didepan saya berdiri seorang Wanita hanya dengan celana dalam krem yang jika diperhatikan lebih seksama bisa dilihat transparan tapi siapa yang sempat melihat ketransparanannya itu kalau sudah “fly ^_^”

Jilatan saya turun agak kebawah menuju ke Vaginanya yang ditumbuhi bulu2 yang rapi namun karena sudah basah terlihat acak2an. Saya menjilati Vaginanya dari luar CD nya. Itu sengaja saya lakukan agar bisa lebih merangsangnya. Dan ternyata benar dia tidak sabar dan segera menurunkan CDnya sendiri. Saya hanya tersenyum memandang ketidak sabarannya itu. dan jilatan saya lanjutkan tetapi tetap belum menyentuh lubang kenikmatannya itu yang membuat dia blingsatan dengan menggerakkan pinggulnya ke kiri dan kanan yang bertujuan agar jilatan saya berlanjut ke vaginanya.

Saya lihat Vaginanya sudah banjir, karena tidak pernah merasakan cairan dari wanita makanya jilatan saya pun merambah ke vaginanya. Asin!! tapi kok enak yah kata saya dalam hati. Mbak pun kembali mendesis keenakan “Ahhh…terus Tango” ujarnya. Lidah saya pun mulai bermain cepat. Tiba2 tubuh Mbak mengejang dan diikuti dengan desahan panjang ” Ahhh…..Nikmat sekati tango, Pemanasan loe sungguh hebat “

Kemudian dia pun duduk dilantai kamar mandi dengan perlahan. Setelah puas dengan Vaginanya saya kembali keatas dan mencoba untuk melumat bibirnya Bibir yang sedari tadi mendesis tidak karuan itu kemudian melumat bibirku yang baru saja sampai di depannya. Lama kami saling melumat sambil tangan kanan saya memainkan puting susunya dan tangan yang satunya lagi mencari lubang kewanitaannya dan menekan2 clitorisnya yang jelas saja membuat lumatan bibirnya semakin menjadi.

Tangannya pun tidak mau kalah, sambil berpagutan dia mencari kembali batang yang tadi sempat dilepasnya karena kenikmatan yang dia rasakan.Setelah ketemu kemudian dia mulai menggerak2kan tangannya mengocok kemaluanku yang sudah sangat tegang dan membesar sambil sesekali mengusap bagian kepalanya yang sudah mengeluarkan cairan bening kental. Kemudian secara perlahan2 saya mendorong kepalanya ke belakang agar dia rebah ke lantai kamar mandi.

Setelah dia rebah, Mbak mendorong dada saya lembut yang membuat saya terduduk dan dia kemudian bangkit kembali. Saya terkejut, saya mengira dia telah sadar dengan siapa dia sedang bermain, namun dengan seketika keterkejutan saya hilang sebab dia kemudian dengan sikap merangkak memegangi kelamin saya dan kemudian dia malah memasukkan kelamin saya kemulutnya. Ahh..terasa nikmat sekali sebab Mbak saya sangat pandai memainkan kemaluan saya di dalam mulutnya. Saya bisa merasakan lidahnya bermain dengan lincahnya. Saya juga merasakan kepala kemaluan saya dipermainkan dengan lidahnya yang lincah itu.

Setelah bermain lama dibawah situ, mulutnya kemudian merambah keatas menciumi perut, kemudian dada saya dan kemudian kembali ke mulut saya, namun karena saya tau dia baru saja melepaskan mulutnya dari kemaluan saya, saya berusaha menghindar dari lumatan bibirnya dan mencoba agar dia tidak tersinggung dengan mencium pipinya dan kemudian telinganya. Tangan saya yang nganggur kemudian saya suruh bekerja lagi dengan mengusap2 selangkangannya dan terdengar dia berbisik kepada saya ” Masukkan ahhh….sekarang yahhhhhhhh, Mbak udahhhhhhh kepingin …banget …nih.ahhh”

Saya kemudian mengambil inisiatif dengan mendorong Mbak agar kembali rebah dan dengan perlahan dia menuruti kemauan saya dengan rebahan dilantai kamar mandi. Saya kemudian mengambil segayung air dan menyiramkan ke tubuhnya dan kemudian satu gayung lagi untuk disiramkan ketubuh saya sendiri. Setelah kami berdua basah, tangan kanan saya kemudian meremas2 dadanya sedangkan tangan kiri saya memegang kejantanan saya menuju kelubang sejuta kenikmatan. Mbak pun sudah siap menerima terjangan saya dengan membuka kedua kakinya agar memudahkan saya memasukinya.

Dengan perlahan tapi pasti saya mencoba untuk memasukkan kepunyaan saya yang sedari tadi sudah tegak ke kemaluannya. Namun karena sudah lama dia tidak tersentuh laki2, membuat saya agak susah juga untuk menancapkannya. Beberapa kali saya arahkan batang saya, namun agak susah untuk berhasil, dan setelah beberapa tusukan, akhirnya kelamin saya masuk dengan sukses ke selangkangannya. Yah cengkeraman vaginanya sungguh nikmat, karena saat itu vaginanya sangat sempit dan itu sudah memubuat saya merem melek, dan dengan gerakan pelan saya mulai menaik turunkan pinggul saya.

Saya melihat Mbak mengerang kenikmatan sampai bola matanya hilang, dan dia juga meggerak2kan pinggulnya kekiri dan kanan dengan maksud agar semua ruang divaginanya terjejali dengan kemaluanku yang sudah mulai memompa. Setiap pompaan membuat dia mendesah tidak karuan. Setelah beberapa menit, dia kemudian memelukku dengan erat dan membalikan tubuhku dan tubuhnya. Kini dia sudah berada di atasku. dan gantian dia yang menaik turunkan pinggulnya mengejar kenikmatan yang tiada tara.

Sementara itu tanganku yang sudah bebas kembali memainkan “susu”nya dan mengusap2 punggungnya. “Sssaaayyyaaa… udah ahhh… mau …. kkkeeeluar nihhhh…” Desahnya. Mendengar desahannya yang begitu seksi saya semakin terangsang dan saya mulai merasakan ada sesuatu “tenaga dalam” yang ingin dikeluarkan dan semua sepertinya sudah terkumpul di kejantanan saya. “saya juga udah mau keluar mbak……..!” desis saya mempercepat gerakan pinggul saya dari bawah. “Tahannnn… sebennnnntaarrrr…” katanya… “Biaaaaarrr…. Mbak keeee… luar dulu…. ouhhh” Sayapun mengerti untuk tidak mengeluarkannya di dalam, sebab dengan alasan apapun saya tidak mau sperma yang saya keluarkan ini menjadi anak dari rahim “Bibi” saya. Saya berusaha untuk menahan, sesaat kemudian terasa cengkeraman di kelamin saya terasa kuat dan terasa hangat, tubuh Mbak saya kembali mengejang. Kalau saya tidak mencabut kemaluan saya dengan sedikit mendorong perut Mbak saya, mungkin saya pun akan mengalami orgasme bersamaan dengan Mbak Ras. Untung saja saya sigap, sesaat kemudian Mbak Ras terkulai lemas diatas tubuh saya menikmati sisa2 kenikmatan. Paha saya terasa hangat karena Pelumas yang keluar dari Vagina Mbak.

Sayapun memeluknya, dan membalikkan tubuhnya Karena saya belum terpuaskan saya pun kembali merangsang Mbak dengan jilatan disekitar selangkangannya. Setelah berkisar 3-4 menit Mbak Ras kembali terangsang dan menyuruh saya memasukkan lagi kepunyaan saya kedalam vaginanya.. Tanpa ba-bi-bu lagi, langsung saya tancapkan kedalam kemaluannya. Kali ini lebih mudah karena kemaluan kami berdua memang telah licin. Setelah memompa beberapa menit, saya kembali merasakan gelombang kenikmatan dan dengan segera saya mencabutnya dan mengocok2nya dengan tangan sendiri.

Namun tidak disangka, Mbak kemudian menangkap kemaluan saya dan menggantikan tangan saya dengan tangannya dan kemudian memasukkan Junior ku kedalam mulutnya. Ahhh….terasa sungguh nikmat, apalagi permainan lidahnya membuat saya tidak bisa bertahan lama dan akhirnya semua saya keluarkan di dalam kuluman mulutnya. Tapi saya tidak melihat dia melepaskannya, dia seakan tidak mau melepaskan burung ku yang sedang muntah dan dia menghisap habis semua muntahannya tanpa sisa. Setelah saya merasakan pelumas dari dalam tubuhku habis, sang junior pun perlahan2 kembali mengecil. Melihat hal itu, mbak kemudian melepaskan anu saya, dan tersenyum kepada saya Kemudian dia berbisik

“Tango, terima kasih yah, Mbak udah lama gak menikmatinya dari paman loe, ntar lain kali kalo ada kesempatan bisa kan loe puasin mbak lagi?” Dengan masih terduduk di lantai saya mengangguk sambil tersenyum nakal kepada Mbak saya. Kemudian kami pun mandi sama2, saling membersihkan diri dan sesekali tangan saya bergerak nakal menyentuh payudaranya yang tadi pentilnya sempat mencuat. Setelah kejadian pertama itu, kami pun sering melakukannya di hari Minggu atau hari2 libur di mana keadaan rumah sedang sepi. Kadang di kamar mandi, kadang di kamarnya. Namun setelah beberapa bulan kami melakukanya, dia mendengar bahwa suaminya yang di luar negeri sudah menikah lagi dan dia pun memutuskan untuk kembali kerumah orang tuanya di Jakarta. Dan setelah kepergiannya atau lebih tepatnya kepulangannya ke Jakarta saya tidak pernah mendengar kabarnya lagi sampai sekarang. (kira2 udah 4 tahun).

Selesai. Cerita Seks

Kepuasan Seks Dengan Ibu Mertua

26 September 2010 Tinggalkan komentar

Mertuaku adalah seorang janda dengan kulit yang putih, cantik, lembut, dan berwajah keibu ibuan, dia selalu mengenakan kebaya jika keluar rumah. Dan mengenakan daster panjang bila didalam rumah, dan rambutnya dikonde keatas sehingga menampakkan kulit lehernya yang putih jenjang.
Sebenarnya semenjak aku masih pacaran dengan anaknya, aku sudah jatuh cinta padanya Aku sering bercengkerama dengannya walaupun aku tahu hari itu pacarku kuliah. Diapun sangat baik padaku, dan aku diperlakukan sama dengan anak anaknya yang lain. Bahkan tidak jarang bila aku kecapaian, dia memijat punggungku.

Setelah aku kawin dengan anaknya dan memboyong istriku kerumah kontrakanku, mertuaku rajin menengokku dan tidak jarang pula menginap satu atau dua malam. Karena rumahku hanya mempunyai satu kamar tidur, maka jika mertuaku menginap, kami terpaksa tidur bertiga dalam satu ranjang. Biasanya Ibu mertua tidur dekat tembok, kemudian istri ditengah dan aku dipinggir. Sambil tiduran kami biasanya ngobrol sampai tengah malam, dan tidak jarang pula ketika ngobrol tanganku bergerilya ketubuh istriku dari bawah selimut, dan istriku selalu mendiamkannya.


Bahkan pernah suatu kali ketika kuperkirakan mertuaku sudah tidur, kami diam diam melakukan persetubuhan dengan istriku membelakangiku dengan posisi agak miring, kami melakukankannya dengan sangat hati hati dan suasana tegang. Beberapa kali aku tepaksa menghentikan kocokanku karena takut membangunkan mertuaku. Tapi akhirnya kami dapat mengakhirinya dengan baik aku dan istriku terpuaskan walaupun tanpa rintihan dan desahan istriku.

Suatu malam meruaku kembali menginap dirumahku, seperti biasa jam 21.00 kami sudah dikamar tidur bertiga, sambil menonton TV yang kami taruh didepan tempat tidur. Yang tidak biasa adalah istriku minta ia diposisi pinggir, dengan alasan dia masih mondar mandir kedapur. Sehingga terpaksa aku menggeser ke ditengah walaupun sebenarnya aku risih, tetapi karena mungkin telalu capai, aku segera tidur terlebih dahulu.

Aku terjaga pukul 2.00 malam, layar TV sudah mati. ditengah samar samar lampu tidur kulihat istriku tidur dengan pulasnya membelakangiku, sedangkan disebelah kiri mertuaku mendengkur halus membelakangiku pula. Hatiku berdesir ketika kulihat leher putih mulus mertuaku hanya beberapa senti didepan bibirku, makin lama tatapan mataku mejelajahi tubuhnya, birahiku merayap melihat wanita berumur yang lembut tergolek tanpa daya disebelahku..

Dengan berdebar debar kugeser tubuhku kearahnya sehingga lenganku menempel pada punggungnya sedangkan telapak tanganku menempel di bokong, kudiamkan sejenak sambil menunggu reaksinya. Tidak ada reaksi, dengkur halusnya masih teratur, keberanikan diriku bertindak lebih jauh, kuelus bokong yang masih tertutup daster, perlahan sekali, kurasakan birahiku meningkat cepat. Penisku mulai berdiri dan hati hati kumiringkan tubuhku menghadap mertuaku.

Kutarik daster dengan perlahan lahan keatas sehingga pahanya yang putih mulus dapat kusentuh langsung dengan telapak tanganku. Tanganku mengelus perlahan kulit yang mulus dan licin, pahanya keatas lagi pinggulnya, kemudian kembali kepahanya lagi, kunikmati sentuhan jariku inci demi inci, bahkan aku sudah berani meremas bokongnya yang sudah agak kendor dan masih terbungkus CD.
Tiba tiba aku dikejutkan oleh gerakan mengedut pada bokongnya sekali, dan pada saat yang sama dengkurnya berhenti.

Aku ketakutan, kutarik tanganku, dan aku pura pura tidur, kulirik mertuaku tidak merubah posisi tidurnya dan kelihatannya dia masih tidur. Kulirik istriku, dia masih membelakangiku, Penisku sudah sangat tegang dan nafsu birahiku sudah tinggi sekali, dan itu mengurangi akal sehatku dan pada saat yang sama meningkatkan keberanianku.

Setelah satu menit berlalu situasi kembali normal, kuangkat sarungku sehingga burungku yang berdiri tegak dan mengkilat menjadi bebas, kurapatkan tubuh bagian bawahku kebokong mertuaku sehingga ujung penisku menempel pada pangkal pahanya yang tertutup CD. Kenikmatan mulai menjalar dalam penisku, aku makin berani, kuselipkan ujung penisku di jepitan pangkal pahanya sambil kudorong sedikit sedikit, sehingga kepala penisku kini terjepit penuh dipangkal pahanya, rasa penisku enak sekali, apalagi ketika mertuaku mengeser kakinya sedikit, entah disengaja entah tidak.

Tanpa meninggalkan kewaspadaan mengamati gerak gerik istri, kurangkul tubuh mertuaku dan kuselipkan tanganku untuk meremas buah dadanya dari luar daster tanpa BH. Cukup lama aku melakukan remasan remasan lembut dan menggesekan gesekkan penisku dijepitan paha belakangnya. Aku tidak tahu pasti apakah mertuaku masih terlelap tidur atau tidak tapi yang pasti kurasakan puting dibalik dasternya terasa mengeras. Dan kini kusadari bahwa dengkur halus dari mertuaku sudah hilang.., kalau begitu..pasti ibuku mertuaku sudah terjaga..? Kenapa diam saja? kenapa dia tidak memukul atau menendangku, atau dia kasihan kepadaku? atau dia menikmati..? Oh.. aku makin terangsang.

Tak puas dengan buah dadanya, tanganku mulai pindah keperutnya dan turun keselangkangannya, tetapi posisinya yang menyebabkan tangan kananku tak bisa menjangkau daerah sensitifnya. Tiba tiba ia bergerak, tangannya memegang tanganku, kembali aku pura pura tidur tanpa merrubah posisiku sambil berdebar debar menanti reaksinya. Dari sudut mataku kulihat dia menoleh kepadaku, diangkatnya tanganku dengan lembut dan disingkirkannya dari tubuhnya, dan ketika itupun dia sudah mengetahui bahwa dasternya sudah tersingkap sementara ujung penisku yang sudah mengeras terjepit diantara pahanya.

Jantungku rasanya berhenti menunggu reaksinya lebih jauh. Dia melihatku sekali lagi, terlihat samar samar tidak tampak kemarahan dalam wajahnya, dan ini sangat melegakanku .
Dan yang lebih mengejutkanku adalah dia tidak menggeser bokongnya menjauhi tubuhku, tidak menyingkirkan penisku dari jepitan pahanya dan apalagi membetulkan dasternya. Dia kembali memunggungiku meneruskan tidurnya, aku makin yakin bahwa sebelumnya mertuaku menikmati remasanku di payudaranya, hal ini menyebabkan aku berani untuk mengulang perbuatanku untuk memeluk dan meremas buah dadanya. Tidak ada penolakan ketika tanganku menyelusup dan memutar mutar secara lembut langsung keputing teteknya melalui kancing depan dasternya yang telah kulepas. Walaupun mertuaku berpura pura tidur dan bersikap pasif, tapi aku dengar nafasnya sudah memburu.

Cukup lama kumainkan susunya sambil kusodokkan kemaluanku diantara jepitan pahanya pelan pelan, namun karena pahanya kering, aku tidak mendapat kenikmatan yang memadai, Kuangkat pelan pelan pahanya dengan tanganku, agar aku penisku terjepit dalam pahanya dengan lebih sempurna, namun dia justru membalikkan badannya menjadi terlentang, sehingga tangannya yang berada disebelah tangannya hampir menyetuh penisku, bersamaan dengan itu tangan kirinya mencari selimutnya menutupi tubuhnya. Kutengok istri yang berada dibelakangku, dia terlihat masih nyenyak tidurnya dan tidak menyadari bahwa sesuatu sedang terjadi diranjangnya.

Kusingkap dasternya yang berada dibawah selimut, dan tanganku merayap kebawah CDnya. Dan kurasakan vaginanya yang hangat dan berbulu halus itu sudah basah. Jari tanganku mulai mengelus, mengocok dan meremas kemaluan mertuaku. Nafasnya makin memburu sementara dia terlihat berusaha untuk menahan gerakan pinggulnya, yang kadang kadang terangkat, kadang mengeser kekiri kanan sedikit. Kunikmati wajahnya yang tegang sambil sekali kali menggigit bibirnya. Hampir saja aku tak bisa menahan nafsu untuk mencium bibirnya, tapi aku segera sadar bahwa itu akan menimbulkan gerakan yang dapat membangunkan istriku.

Setelah beberapa saat tangan kanannya masih pasif, maka kubimbing tangannya untuk mengelus elus penisku, walaupun agak alot akhirnya dia mau mengelus penisku, meremas bahkan mengocoknya. Agak lama kami saling meremas, mengelus, mengocok dan makin lama cepat, sampai kurasakan dia sudah mendekati puncaknya, mertuakan membuka matanya, dipandanginya wajahku erat erat, kerut dahinya menegang dan beberapa detik kemudian dia menghentakkan kepalanya menengadah kebelakang. Tangan kirinya mencengkeram dan menekan tanganku yang sedang mengocok lobang kemaluannya. Kurasakan semprotan cairan di pangkal telapak tanganku. Mertuaku mencapai puncak kenikmatan, dia telah orgasme. Dan pada waktu hampir yang bersamaan air maniku menyemprot kepahanya dan membasahi telapak tangannya. Kenikmatan yang luar biasa kudapatkan malam ini, kejadianya begitu saja terjadi tanpa rencana bahkan sebelumnya membayangkanpun aku tidak berani.

Sejak kejadian itu, sudah sebulan lebih mertuaku tidak pernah menginap dirumahku, walaupun komunikasi dengan istriku masih lancar melalui telpon. Istriku tidak curiga apa apa tetapi aku sendiri merasa rindu, aku terobsesi untuk melakukannya lebih jauh lagi. Kucoba beberapa kali kutelepon, tetapi selalu tidak mau menerima. Akhirnya setelah kupertimbangkan maka kuputuskan aku harus menemuinya.
Hari itu aku sengaja masuk kantor separo hari, dan aku berniat menemuinya dirumahnya, sesampai dirumahnya kulihat tokonya sepi pengunjung, hanya dua orang penjaga tokonya terlihar asik sedang ngobrol. Tokonya terletak beberapa meter dari rumah induk yang cukup besar dan luas. Aku langsung masuk kerumah mertuaku setelah basa basi dengan penjaga tokonya yang kukenal dengan baik. Aku disambut dengan ramah oleh mertuaku, seolah olah tidak pernah terjadi sesuatu apa apa, antara kami berdua, padahal sikapku sangat kikuk dan salah tingkah.
“Tumben tumbenan mampir kesini pada jam kantor?”
“Ya Bu, soalnya Ibu nggak pernah kesana lagi sih”
Mertuaku hanya tertawa mendengarkan jawabanku
“Ton. Ibu takut ah.. wong kamu kalau tidur tangannya kemana mana.., Untung istrimu nggak lihat, kalau dia lihat.. wah.. bisa berabe semua nantinya..”
“Kalau nggak ada Sri gimana Bu..?” tanyaku lebih berani.
“Ah kamu ada ada saja, Memangnya Sri masih kurang ngasinya, koq masih minta nambah sama ibunya.”
“Soalnya ibunya sama cantiknya dengan anaknya” gombalku.
“Sudahlah, kamu makan saja dulu nanti kalau mau istirahat, kamar depan bisa dipakai, kebetulan tadi masak pepes” selesai berkata ibuku masuk ke kamarnya.

Aku bimbang, makan dulu atau menyusul mertua kekamar. Ternyata nafsuku mengalahkan rasa lapar, aku langsung menyusul masuk kekamar, tetapi bukan dikamar depan seperti perintahnya melainkan kekamar tidur mertuaku. Pelan pelan kubuka pintu kamarnya yang tidak terkunci, kulihat dia baru saja merebahkan badannya dikasur, dan matanya menatapku, tidak mengundangku tapi juga tidak ada penolakan dari tatapannya. Aku segera naik keranjang dan perlahan lahan kupeluk tubuhnya yang gemulai, dan kutempelkan bibirku penuh kelembutan. Mertuaku menatapku sejenak sebelum akhirnya memejamkan matanya menikmati ciuman lembutku. Kami berciuman cukup lama, dan saling meraba dan dalam sekejap kami sudah tidak berpakaian, dan nafas kami saling memburu. Sejauh ini mertuaku hanya mengelus punggung dan kepalaku saja, sementara tanganku sudah mengelus paha bagian dalam. Ketika jariku mulai menyentuh vaginanya yang tipis dan berbulu halus, dia sengaja membuka pahanya lebar lebar, hanya sebentar jariku meraba kemaluanya yang sudah sangat basah itu, segera kulepas ciumanku dan kuarahkan mulutku ke vagina merona basah itu.

Pada awalnya dia menolak dan menutup pahanya erat erat.
“Emoh.. Ah nganggo tangan wae, saru ah.. risih..” namun aku tak menghiraukan kata katanya dan aku setengah memaksa, akhirnya dia mengalah dan membiarkan aku menikmati sajian yang sangat mempesona itu, kadang kadang kujilati klitorisnya, kadang kusedot sedot, bahkan kujepit itil mertuaku dengan bibirku lalu kutarik tarik keluar.
“Terus nak Ton.., Enak banget.. oh.. Ibu wis suwe ora ngrasakke penak koyo ngene sstt”
Mertuaku sudah merintih rintih dengan suara halus, sementara sambil membuka lebar pahanya, pinggulnya sering diangkat dan diputar putar halus. Tangan kiriku yang meremas remas buah dadanya, kini jariku sudah masuk kedalam mulutnya untuk disedot sedot.
Ketika kulihat mertuaku sudah mendekati klimax, maka kuhentikan jilatanku dinya, kusodorkan ku kemulutnya, tapi dia membuang muka kekiri dan kekanan, mati matian tidak mau mengisap penisku. Dan akupun tidak mau memaksakan kehendak, kembali kucium bibirnya, kutindih tubuhnya dan kudekap erat erat, kubuka leber lebar pahanya dan kuarahkan ujung penisku yang mengkilat dibibr vaginanya.

Mertuaku sudah tanpa daya dalam pelukanku, kumainkan penisku dibibir kemaluannya yang sudah basah, kumasukkan kepala penis, kukocok kocok sedikt, kemudian kutarik lagi beberapa kali kulakukan.
“Enak Bu?”
“He eh, dikocok koyo ngono tempikku keri, wis cukup Ton, manukmu blesekno sin jero..”
“Sekedap malih Bu, taksih eco ngaten, keri sekedik sekedik”
“Wis wis, aku wis ora tahan meneh, blesekno sih jero meneh Ton oohh.. ssttss.. Ibu wis ora tahan meneh, aduh enak banget tempikku” sambil berkata begitu diangkatnya tinggi tinggi bokongnya, bersamaan dengan itu kumasukkan ku makin kedalam nya sampai kepangkalnya, kutekan ku dalam dalam, sementara Ibu mertuaku berusaha memutar mutar pinggulnya, kukocokkan penisku dengan irama yang tetap, sementara tubuhnya rapat kudekap, bibirku menempel dipipinya, kadang kujilat lehernya, ekspresi wajahnya berganti ganti. Rupanya Ibu anak sama saja, jika sedang menikmati sex mulutnya tidak bisa diam, dari kata jorok sampai rintihan bahkan mendekati tangisan.
Ketika rintihannya mulai mengeras dan wajahnya sudah diangkat keatas aku segera tahu bahwa mertua akan segera orgasme, kukocok ku makin cepat.

“Ton..aduh aduh.. Tempikku senut senut, ssttss.. Heeh mu gede, enak banget.. Ton aku meh metu.. oohh.. Aku wis metu..oohh.”
Mertuaku menjerit cukup keras dan bersamaan dengan itu aku merasakan semprotan cairan dalam vaginanya. Tubuhnya lemas dalam dekapanku, kubiarkan beberapa menit untuk menikmati sisa sisa orgasmenya sementara aku sendiri dalam posisi nanggung.
Kucabut penisku yang basah kuyup oleh lendirnya knya, dan kusodorkan ke mulutnya, tapi dia tetap menolak namun dia menggegam penisku untuk dikocok didepan wajahnya. Ketika kocokkannya makin cepat, aku tidak tahan lagi dan muncratlah lahar maniku kewajahnya.

Siang itu aku sangat puas demikian juga mertuaku, bahkan sebelum pulang aku sempat melakukannya lagi, ronde kedua ini mertuaku bisa mengimbangi permainanku, dan kami bermain cukup lama dan kami bisa sampai mencapai orgasme pada saat yang sama.

Sekian. Cerita Dewasa

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: