Arsip

Posts Tagged ‘Cerita Seks Perselingkuhan’

Pacar Temanku Yang Kuperawani

30 September 2010 1 komentar

Aku anak pertama dari lima bersaudara. Usiaku menginjak 16 tahun manakala orangtuaku harus pindah tugas dari kota K ke kota P. Alhasil waktu itu aku baru dua bulan masuk kelas 1 SMA sayang jika harus pindah, apalagi sekolahku adalah sekolah swasta yang membutuhkan biaya banyak.

Atas kebijakan orangtuaku, aku harus kos. Maka aku diantar oleh kedua orangtuaku dan keempat adik-adikku menempati kos baru. Rumah kosku sangat besar, dengan model kuno khas ukiran Jepara. Berbentuk letter L dengan halaman luas, terdapat sepasang pohon mangga. Ruang tamu yang memanjang kebelakang yang bersekat dimana terdapat empat kamar di bagian tengahnya yang berhadapan langsung dengan ruang makan. Semuanya berjumlah sepuluh kamar. Aku sendiri berada di kamar terakhir di bagian letter L-nya. Empat kamar termasuk kamarku berakses langsung keluar melalui pintu samping dengan halaman kecil di tanami pohon mangga kecil. Dipisahkan oleh tembok belakang sebuah rumah.

Teman-teman kosku waktu itu bernama Mbak Mamiek, Mbak Mur, Mas Prayitno, Mbak Srini, Indarto, Sularno dan pemilik Kos. Rumah bagian depan yang tepat membatasi kamarku memiliki dua anak perempuan, Tika kelas tiga SMP dan Sutarmi SD ke las 6.


Ukuran tubuhku biasa-biasa saja 168, berat 60 dengan tahi lalat di dagu sebelah kanan dan rahang sebelah kiri yang kata mbak Srini menarik dan sekaligus membuatku manis kata mbak Srini, padahal aku laki-laki tulen hal ini nanti aku ceritakan. Ukuran penisku juga normal, tegak lonjong keatas tanpa membengkok. Setiap pagi semenjak duduk di SD aku selalu merendam dengan teh basi selama 10 menit–tanpa diberi gula loh (entar di krubut semut, bisa berabe he.. he..), lalu pelan-pelan di kocok-kocok, diremas jangan sampe keluar mani (seringnya sih keluar, abis enak sih). Itu kata anak-anak kos sebelah rumahku dahulu, entah benar atau tidak. Manfaatnya? Itu juga aku belum tahu.

Cerita Dewasa – Hari-hari berlalu, aku sudah mulai terbiasa dengan lingkunganku yang baru, aku sering keluar dengan teman-temanku yang baru. Terutama mas Prayit sering meminta menemaniku untuk menemui pacarnya, sebel juga habis jadi obat nyamuk sih. Saat kami pulang sering kami berjumpa dengan Tika. Kami berhenti dan mas Prayit sering menggoda cewek itu, orangnya sih khas cewek K, radak item dibilang cantik juga enggak, manis juga enggak. Lalu apa dong, yah kayak gitu lah.
Lama kelamaan aku juga iseng-iseng ikut menggodanya. Dia pulang jam 12.45 sedangkan aku pulang jam 13.30 dan Cuma aku yang masih sekolah teman-teman kosku sudah bekerja semua, paling cepat jam 17 mereka baru pulang praktis cuman aku yang pulang awal.
“Duh, lagi santai ya TRE,” begitulah kalau aku memanggilnya.
“Baru pulang mas?”
Aku mendekat, dia hanya mengenakan celana pendek olahraganya dan berkaos tanpa lengan sedang membaca sebuah novel. Lumayan, tidak hitam-hitam amat demikian pikirku manakala ekor mataku menelusuri kakinya.

Begitulah, sering aku menggodanya dan nampaknya dia suka. Naluri laki-lakiku mengatakan kalau dia sebenarnya ada hati kepadaku. Atas dasar keisengan, aku membuat sebuah surat di atas kertas surat berwarna pink dan harum dengan ukuran tulisan agak besar. Sangat singkat, “Tika, I love u” kemudian pada malam harinya aku sisipkan di jendela kamarnya, dari luar aku dengar dia sedang bersenandung kecil menyanyikan lagu dangdut kesukaanya.

Dengan cepat kertasku tertarik masuk, hatiku terkesiap takut kalau-kalau bukan Tika yang menariknya. Tidak beberapa lama lampu dimatikan dan jendela terbuka, ah Tika melongokkan kepalanya keluar. Ketika dia melihatku dia tersenyum lalu melambai supaya aku mendekat. Kemudian aku mendekat. Ketika aku mendekat tiba-tiba
“Cuupp…!”
Tika mengecup bibirku, aku terperanjat atas perlakuan itu. Belum lagi keterkejutanku hilang Tika mengulangi perbuatannya. Kali ini dengan sigap aku rengkuh pundaknya, aku lumat bibirnya. Gantian Tika yang terkejut, dia hanya ingin menjawab suratku dengan kecupan kilat justru aku tidak kalah cepat. Lidahku meliuk-liuk dalam mulutnya yang menganga karena terkejut, tampak sekali dia belum pernah melakukan ciuman.
“Mmmppphh…”
Lalu tubuhnya mengejang, rona wajahnya memerah desiran panas napas kami mulai memburu. Tika memejamkan matanya pelan dia mulai mengikuti lidahku yang menjelajah rongga mulutnya dan dia melenguh pelan tertahan manakala lidah-lidahku menaut lembut lidahnya. Refleks tangan kirinya merengkuh tengkukku, menarik lembut kepalaku dan tangan kirinya bertopang pada tepian daun jendela.
Dalam suasana gelap, pelan aku turunkan telapak tangan kananku dan meraih gundukan payudaran sebelah kirinya.
“Ah..!”
Tika melenguh lirih dan terkejut, menepis pelan tanganku.
“Sudah malam, besok yah?” Bisiknya lirih, memberiku satu kecupan dan menutup daun jendela. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Aku kembali kekamarku, tidak kuasa menolak desakan birahi aku lepas semua pakaianku. Dengan tidur terlentang jemari telunjut dan ibu jariku menjepit erat batang kontuolku dan aku tegakkan membuat kepala kontuolku dan otot-ototnya merah membesar. Telapak tangan kiriku menggosok-gosok pelan, sementara cairan bening sudah keluar dari kepala kontuol yang memerah.
Mataku terpejam, aku pentang kedua kakiku lebar-lebar dan membayangkan Tika yang sempat aku pegang payudaranya yang kecil lembut tadi.
“Ah…!”
“Ssstt…”
Kepalaku berdenyut-denyut dan tubuhku terasa melayang tanpa terasa kocokanku semakin cepat seiring desah napasku yang mulai memburu.
“Ahhhh… hhh…!â€�
“Croot… croott… croottt…!”
Airmaniku menyembur dengan dasyat, kali ini cukup banyak mengingat kali pertama aku berciuman dan meremas milik perempuan.

Paginya seperti biasa aku siap-siap hendak berangkat, aku biasa naik angkutan umum toh motor juga ada tapi enggak seru. Kebetulan angkutan kosku pangkalan kedua angkutan jadi belum banyak penumpangnya dan aku bisa memilih tempat duduk. Nah, serunya pas pangkalan ke tiga sudah mulai penuh anak-anak sekolah apalagi jalurnya melewati tiga SMA dan 1 SMP, bayangkan deh pas penuh-penuhnya lumayan dapat senggolan susu, he… he…

Tika sudah menunggu di samping rumahnya di balik kerindangan pohon Mahkotadewa. Aku berangkatnya agak siang, soalnya sekolahku masuk pukul 7.15, maklum banyak atlit Pelatnas yang bersekolah disekolahku dan biasanya Tika sudah berangkat, pasti dia menungguku toh semenjak malam itu aku resmi jadi pacarnya.
Aku menengok kekanan dan kekiri, kedua orangtua yang seorang guru dan adiknya sudah berangkat semenjak tadi, Tika biasa menggunakan sepeda.
“Maaf tadi malam, marah?”
Senyuman dan guratan giginya semakin tampak putih dipadu rona wajahnya yang coklat kehitaman.
“Tidak tuh,” seraya aku menghampirinya di kerimbunan. Entah mengapa dia juga beranjak semakin masuk ke lorong samping rumahnya dan tentunya kami semakin tidak tampak dari luar.
“Habis surat kamu sudah malam sih.”
Aku raih tangannya dan pelan aku rapatkan tubuhku kearahnya dan aku cium bibirnya ah.. dingin-dingin empuk. Lidah-lidah kami bertautan, matanya terpejam. Jarum jam menunjukkan pukul 6.35 jadi masih ada waktu buat bercinta!

Berlahan aku lingkarkan kedua tanganku kepinggangnya, dia hanya terdiam sambil memejamkan matanya dengan kedua tangannya tergerai kebawah. Akankah aku ditolak? Demikian pikirku manakala pelan aku julurkan telapak tangan kananku kearah dadanya.
“Jangan disini,” kemudian menarik tanganku menuju ke belakang gudang.

Disitu terdapat sebuah dipan (tempat tidur kecil) dari bambu dan kami duduk bersebelahan lalu aku rengkuh pundaknya tanpa di komando bibir kami beradu dan saling bertautan, kali ini bagaikan kuda liar terlepas dari kandangnya Tika memeluk erat pinggangku. Matanya terpejam rapat manakala bibirku merayap turun kelahernya. Kali ini tangan kananku dibiarkannya menelusuri payudaranya yang terbungkus baju seragam SMPnya.

“Ehh…”
Tika melenguh lirih manakala aku dengan lembut meremas payudaranya, kecil dan tampak kenyal. Dan sementara bibirku terus meliuk-liuk di sekitar lehernya dan dengan naluri laki-laki bibirku bermain di telinganya sehiingga membuat bulu kuduknya merinding. Tika semakin merapatkan kedua kakinya dan sementara tubuhnya bersandar erat ke tubuhku.

Tika merenggangkan dadanya, memberi jarak agar tanganku leluasa bermain-main di payudaranya dan sementara kepalanya sedikit meliuk-liuk mengikuti gerak wajahku dan di seputar lehernya dan bulu kuduknya sesekali meremang. Baju seragam Tika bagian depan sudah awut-awutan padahal ini adalah hari senin.
“Hhh….”
“Hhhh…hhh…”
Hanya desah napas kami yang terdengar. Dan berlahan Tika semakin menekuk tubuhnya dan terlentang keatas dipan bambu. Pelan aku mendekatkan bibirku ke bibirnya, Tika membalasnya penuh gairah. Jemari tanganku membuka satu persatu kancing bajunya seiring dengan berjalannya waktu dari menit ke menit.
Aku menindih pelan seraya membuka resletting celana seragam SMAku yang berwarna abu-abu. Aku menjatuhkan kecupan lembut dibibirnya, refleks Tika membuka mulutnya memberi jalan untuk lidahku menjelajahi rongga mulutnya. Sementara tanganku telah menurunkan celana seragam dan celana dalamku sampai batas pantatku, kini kontuolku telah terbebas.
Aku raih tangan Tika yang sedikit terentang keatas, aku tuntun kearah kontuolku.
“Uhh…”

Tubuhnya bergetar, payudara yang terhimpit tangannya menyembul kecoklatan berkilatan saat dengan bimbinganku Tika meremas batang kontuolku.
Karena belum terbiasa dan untuk pertama kalinya dia memegang maka genggamannya sedikit kencang dan tidak ada reaksi selain menggenggam. Toh aku juga tidak pernah tahu karena ini juga baru pertama kalinya aku memperlakukan lawan jenisku sampai jauh.

“Mmmpp…”
“Hhh… Hhhh…â€�
Ciumanku merayap turun ke payudaranya dan tanganku mulai meraba-raba gundukan diatas selangkangannya.
“Hhhmmmpp…”
Aku serasa melayang ketika tangan lembut yang menggenggam batang kontuolku sedikit naik meraup kepala kontuolku. Tegang dan keras sekali.
“Sayang…” Demikian bisiknya lirih di telingaku ketika tanganku pelan menyibakkan rok seragam biru milikya sedikit naik. Tika mengangkat sedikit pantatnya sehingga dengan bebas roknya tersibak keatas. Ketika aku menoleh kebawah Tika seketika menysupkan kepalanya kedadaku, malu tapi mau dan suka.

Celana dalam warna pink menyembunyikan gundukan kecil diatasnya tampak jelas sekali bagian bawahnya telah basah kuyup. Tika membiarkan tanganku menyusup kebalik celana dalamnya, serasa gundukan belum ditumbuhi banyak bulu, masih ada satu dua dan sangat halus.
“Basah” dalam benakku saat telapak tanganku merayap diatas permukaan tempiknya, Tika semakin berani memberiku kesempatan dengan sedikit membuka himpitan pahanya.
Naluriah, demikian istilahnya. Jari telunjuk dan jari manisku pelan menggosok samping kanan dan kiri tempiknya sementara jari tengahku menemukan sebuah biji kacang klentit miliknya. Semakin basah saat aku pelan menggosok-gosok tanganku dengan kaku, maklum belum biasa sih.
Telapak tanganku penuh dengan cairan kental dan lembab. Aku terus menggosok-gosokkan tangannku, hangat, lembab dan licin. Sementara Tika tidak melepaskan genggaman tangannya di kontuolku, kalau tadi di bagian kepala sekarang di bagian pangkalnya yang berbulu.
Bersambung ……
Aku menurunkan celana dalamnya……

Bagian kedua :

Aku menurunkan celana dalamnya sampai kebatas lutunya dan dengan kakiku aku lepaskan. Aku menindihnya dimana sebelumnya tangan Tika yang menggenggam kontuolku aku terlentangkan, membuat sepasang payudaranya yang sempat tertutup sedikit kaosnya membusung. Tika seolah-olah mengiyakan apa yang akan aku lakukan, berarti sungguh dia mencintaiku.

Pernyataan cinta yang secara iseng aku lontarkan ternyata mendapat sambutan yang sedemikian dasyatnya. Sungguh dia kini pasrah terlentang di bawahku. Sementara aku, hanya nafsu yang berputar-putar didalam otakku. Ulangan Fisika pada jam pertama dengan pak Anton sang guru killer dimana tak ada ampun bagi yang tidak masuk pelajarannya tanpa surat keterangan apalagi saat ulangan sudah tidak aku pikirkan.

Aku rentangkan lutut Tika biar pinggulku sedikit leluasa menindih tubuhnya. Tika hanya menurut saja. Aku genggam batang kontuolku, aku arahkan kelobang vaginnanya. Naluri laki-lakiku seolah-olah secara otomatis bekerja.
Saat bagian kepala menempel di bagian lembut dan basah aku menarik napas untuk mengurangi keteganggan.
“Sreet…”
Terasa kepala kontuolku menyibak sesuatu ketika pinggulku aku tekan sedikit. Tika sedikit mengrenyitkan dahinya tanda ada sesuatu yang aneh.
“Sreet…”
Kembali seperti menyobek sesuatu. Kini Tika menggigit bibir bagian bawahnya, wajahnya sedikit tegang sementara wajahku pun demikian, genggaman tanganku sedikit gemetar ketika aku dorong pantatku kebawah.
“Sreet… sreeettt…”
“Mpphhh…”

Erangan lirih dari mulut Tika katika separuh kontuolku sudah menghujam masuk. Tetesan darah perawan menetes, bagaikan aliran sungai Mahakam menetes disela-sela dipan bambu yang kami pakai untuk bergelut. Menetes kebawah, berjatuhan tetes demi tetes keatas tanah yang berdebu.
Aku menarik keatas pantatku dan dengan pelan aku tekan kembali kebawah, kali ini tanganku sudah tidak menggenggam berganti menopang tubuhku yang merapat diatas tubuh Tika.
“Sreettt…”
“Aaahhhh…!”
Tika menjepit pantatku dengan kedua pahanya yang sedikit terangkat menahan perih saat semua kontuolku untuk pertama kalinya menembus vaginnannya. Dan kini semua batang kontuolku sudah menghujam kedalam liang surgawi tempiknya.

Tangannya menggenggam erat, pahanya menjepit kuat pantatku dan wajahnya semakin terpejam. Aku berikan kecupan lembut kebibirnya lalu dia mulai menangis. Dan memeluk tubuhku dengan erat dengan tidak melepaskan jepitan pahanya di pantatku justri kakinya yang terangkat di letakkan diatas betisku.
Berlahan pantatku aku mainkan naik-turun, untuk menenangkannya aku membisikkan sesuatu ketelinganya,
“Sakit…?”
“Aku tahan, aku sayang kamu…”

Suara berderit pada dipan bambu menahan tubuh kami saat kontuolku aku maju-mundurkan, Tika tidak melepaskan pelukannya dan kedua kakinya tetap berada diatas betisku dan kali ini jepitan pahanya di pantatku sedikit mengendor.
“Plak… plak… plak…”
Kelamin kemi mengeluarkan bunyi khas saat saling bergesekan dan suara itu merupakan pertama kalinya kami dengar.

Dua puluh menit berlalu dari aku berhasil memerawani Tika, aku terus memainkan kontuolku maklum masih jejaka jadi maju-mundur, maju-mundur terus tanpa ada variasi. Toh dengan demikian lambat laun rasa perih pada Tika mulai hilang, aku pun demikian.
Tika mulai mencari-cari bibirku dan aku menyambutnya dengan mengulum lidahnya dan memilinnya dengan lembut.
“Hhhmmppp…”
“Hhhhhhh…”
“Sayang…”
Sepuluh menit kemudian Tika mengencangkan pelukannya dan kembali pelan menguatkan jepitannya.
“Plak… plakk… plakkk…”

Aku terus menghujaninya dengan goyangan kontuolku, sesekali aku berlahan untuk menarik napas. Lumayan pegel juga ternyata, palagi rambut kontuolku yang sudah mulai lebat lenyodok-nyodok vaginnanya yang belum berambut membuat rasa perih padanya menjadi suatu sensasi mengenakkan, menggugah birahi yang sedikit berkurang akibat rasa perih.
“Hhggghh…”
“Aahhhhh…”
Tika mengejang, rona wajahnya memerah, napasnya tertahan manakala birahinya menanjak menghantam ubun-ubun dan bagaikan suatu hempasan gelombang menerjang apa saja lalu padam terkulai. Lemas. Banyak energi yang telah dikeluarkan.
Aku terus menggenjot saat Tika sudah jatuh terlentang, kedua kakinya terkulai mengkangkang. Aku topang badanku dengan kedua tanganku kali ini pantatku bebas naik turun. Lesatan kontuolku di dalam vaginnanya bagaikan terpedo yang diluncurkan dari sebuah kapal selam. Seperti ada sesuatu yang akan keluar aku percepat gerakan pantatku naik-turun. Dan…
“Ahhhhhh…”
“Crott.. croot.. crooot…”
Bersamaan dengan aku semprotkan air maniku tiba-tiba,
“Gubraaak…”
Dipan yang kami pakai rubuh karena beban goyangan yang aku lakukan.
“Ah!”
“Aduhh…”
Kami jatuh berguling, Tika tetap aku peluk sehingga dia menindih tubuhku. Kontuolku terlepas dari tempiknya, spermaku muncrat kemana-mana. Akibatnya, kontuolku yang masih “ereksi” tertimpa pantatnya Tika.
“Dipan sialan,” demikian umpatku.
“Sudah keropos.”
Lalu kami berdiri, Tika memandangku saat aku meringis menahan ngilu di kontuolku yang tertimpa pantatnya.
“Sakit?”
“He-eh”
Sambil berdiri dimana aku masih telanjang bulat, Tika mengulurkan tangannya, memegang kontuolku yang sudah terkulai seraya memberikan pijitan-pijitan lembut. Aku tumpangkan kedua tanganku keatas pundaknya.
“Hari ini kita bolos ya?”
Aku hanya tersenyum, aku biarkan tubuhku bugil dihadapannya. Tika sambil membersihkan dengan tangan kirinya badanku yang sedikit berdebu memandangku mesra, duh bening mata itu menusuk lekat ke dalam kalbuku.
“Padahal aku jam pertama ada ulangan fisika.”
“O ya?”
“Biar saja,” sambil aku belai rambutnya yang tergerai.
“Masih sakit?”
“Sedikit.”
“Enakan sekarang?”
“He-eh”
Tika mengocok berlahan-lahan dan kontuolku seperti diurut tangan lembut, berlahan kontuolku mulai tegak kembali. Aku belai payudaranya yang tertutup kaos dan seragamnya sudah tersibak tidak karuan. Aku cium kembali bibirnya sementara Tika terus dan terus mengurut-urut kontuolku.
“Mmmpphhh…”
“Di kamar yuk?” Tika meraih seragamku dan menggandeng tanganku masuk melalui pintu belakang dimana dia memegang anak kunci. Setiap dia pulang duluan selalu melalui pintu belakang sedangkan adiknya pulang bersama orangtuanya.
Tika langsung melepas seragam putih birunya yang sudah awut-awutan, sebercak darah perawan masih sedikit meleleh di selangkangannya, Tika langsung merebahkan diri keatas ranjang. Dan aku pelan menempatkan diri keatas tubuhnya, pantatku berada ditengah-tengah selangkangannya.
“Bleesss…”
Kontuolku langsung menyusup ke dalam vaginnannya. Aku ciumi wajahnya dan melumat bibirnya. Sontak Tika merengkuh tengkukku dan aku meremas payudaranya. Sepasang anak manusia bertelanjang bulat saling memagut, memadu cinta, membakar api birahi.
Pikiranku lepas terbang, sudah tidak ada batas sama sekali diantara kami padahal baru semalam aku mengatakan cinta, itupun hanya kesiengan belaka. Ah, setelah ini semua begitu kejam dan jahatkah aku? En tahlah, itu urusan belakang saat ini kontuolku tertanam didalam vaginnannya.
“Ahh-hh…”
Tika menggeliat saat aku mulai kembali aksi kontuolku naik turun. Perih dan pedih berganti kenikmatan, bagaikan sebuah gada dengan kepala membesar membuat sensasi nikmat saat bergesekan.

Kali ini aku tidak perlu kuatir ranjangnya akan ambruk, ranjang berderit-derit saat aku menggoyangkan pinggulku. Seperti tadi Tika memelukku dengan erat dan sepasang kakinya mengait kali ini tidak diatas betisku melainkan lebih naik keatas pantatku.
Desah napasnya semakin memburu di dekat telingaku dan kali ini tidak memerlukan waktu lama Tika sudah mulai mengejang dan walaupun dia mencoba menahan tapi desakan biologisnya lebih kuat.
“Aahhh…”
Tanpa sadar Tika melenguh dengan kerasnya ketika sampai dipuncak birahinya dan dalam hitungan detik pula aku mengikuti.
“Aakkhhh….”
“Croottt… crooottt… crooottt…” aku semburkan airmaniku kedalam rahimnya, entah apa yang akan terjadi sudah tidak aku pikirkan. Aku biarkan kontuolku masih menancap di vaginnanya dan “pluppp…” terlepas dan terkulai lemas.

Jam 10 aku kembali kekamar kosku dibelakang rumahnya setelah sebelumnya untuk yang ketiga kalinya aku menidurinya. Uh, pegal semua badanku. Terutama kontuolku langsung bekerja keras. Aku langsung mandi untuk menyegarkan badan, kosku masih sepi karena semua masih kerja sampai jam 17 kecuali mbak Srini seorang guru SD paling jam 1 sudah pulang, bapak kosku juga pergi biasanya ke pasar untuk mancari hiburan bermain catur, maklum pensiunan. Dan akhirnya aku tertidur sampa sore hari.

Praktis semenjak kejadian itu antara aku dan Tika sudah tidak ada batas apapun, kedua orangtua dan adiknya selalu berangkat jam 6.30 sehingga memberiku keleluasaan untuk bercinta dengannya.

“Hai pah,” demikian Tika menyebutku Pah. Lucu juga kedengarannya tapi asyik juga tapi satu hal hingga kini aku tidak mencintainya. Ah, sayang, aku memang jahat sekali. Padahal dia mencintaiku dengan tulus.
“Hai,” sapaku pula ketika melewati kamarnya, dia hanya mengenakan kaos oblong sehingga beha warna kuning yang dia pakai terlihat. Sedangkan dia hanya mengenakan celana dalam warna pink dengan sedikit tersipu dia meraih rok seragam biru yang tergolek di ranjang dan menutup bagian depannya.

Barusan aku dengar suara motor orang tuanya berangkat ke sekolah. Lalu dia seperti biasa memberiku kode melalui pintu belakang, sebentar aku menoleh dan tidak ada orang. Teman-teman kosku masih pada tidur kecuali mbak Srini seornag guru SD teman kosku juga sudah berangkat.
Bersambung ……
Aku langsung mengunci pintu dan memeluknya sambil melumat……

Bagian ketiga :

Aku langsung mengunci pintu dan memeluknya sambil melumat bibirnya,
“20 menit,” pintanya tegas.
“Oke”
20 menit bagiku sudah cukup, maklum dia masuk jam 6.55 sedangkan aku jam 7.15. Tanpa perlu komando kami langsung naik keatas ranjang sementara Tika terlihat pasrah dengan dada membusung dibalik kaos oblongnya dan celana dalam warna pink.

Tanganku meraih kaos yang diekanakannya dan menariknya keatas bersamaan dengan behanya, akupun demikian membuka baju seragamku hingga aku bugil. So, kontuolku sudah nafsu langsung ereksi.
Ups…!
Dingin empuk manakala Tika meremas kontuolku saat aku hendak menindih sedikit tubuhnya sambil meremas payudaranya.
“Hmmmppp…”
Payudaranya bergetar saat aku merabanya dengan lembut, mengeras saat aku meremasnya, menggelinjang saat putingnya aku pilin dengan jemariku dan,
“Paaahh…” merintih saat aku susupkan wajahku diantara sepasang gunung kembarnya dam memberikan gigitan mesra yang meninggalkan tanda merah kebiruan di kulitnya yang kecoklatan.

Aku menurunkan ciumanku keatas perutnya, berputar-putar diatas pusarnya,
“Aahhh…”
Tika merintih geli, refleks genggamannya terlepas dari kontuolku dan mesra mengusap kepalaku dengan tangan kirinya sementara tangan kananya tersibak keatas.

Cewek usia 14 tahun tentunya di kelaminya belum ditumbuhi rambut lebat, beberapa tipis dan baru mulai tumbuh tampak saat aku merayap turun dari perutnya kebawah pangkal selangkanagnnya. Aku geser posisiku dengan menarik keatas pinggulku, dengan posisi itu Tika mulai memberanikan diri mengusap kontuolku sambil memandang lekat-lekat kontuolku.

“Besar” pikirnya, itu aku tahu kemudian dari buku hariannya yang aku ambil saat dia kekamar mandi. Aku belum berpengalaman dalam session ini, maka langsung aku julurkan lidahku menjilati langsung klentit dan semuanya dan menghisap menggunakan mulutku.
“Hhmmppphh…”
“Akkhhh…!”
Tidak dinyana Tika terkejut dengan apa yang aku lakukan, refleks dia mengatupkan pahanya sehingga kepalaku terjepit. Refleks juga genggamannya di kontuolku mengencang, tapi dia tidak memejamkan matanya. Dipandangnya kontuolku yang sudah mengeluarkan cairan bening tanda birahi dari ujung kepala kontuolku.
“Masukin pah, sudah siang,” pintanya sambil menggeser tubuhku darinya.

Aku merebahkan tubuhku keatasnya, Tika membuka kedua kakinya, memberiku keleluasaan mengarahkan kontuolku dan,
“Blesss…”
Kontuolku melesat masuk kedalam liang vaginnanya yang sudah basah langsung sampai kedasarnya, hangat, lembut dan kenyal. Kontuolku seperti diremas oleh kelembutan dan kehangatan, dipilin oleh cairan birahi dan kami pagi itu menyatu dengan tubuh bugil.
Tika memelukku dan kembali seperti sebelumnya mengaitkan kedua kakinya keatas pinggulku dan aku memacu, melesatkan berulangkali kontuolku kedalam tempiknya. Saling menderu napas kami berkejar-kejaran, sesekali Tika tersipu malu saat dia membuka kelopak matanya dan aku sangat dekat diatasnya memandang tajam kearahnya, tersipu dengan rona wajah memerah dan menyembunyikannya kebawah pundakku. Aku terus menayunkan pinggulku naik turun, suara-suara yang akhirnya terbiasa di telinga kami mengiringi derit ranjang yang terdengar pelan karena goyangan kami.
“Paahhh…”
“Sayanggg…”
Hentakan birahi merayap keujung kontuolku, dengan sekuat tenaga aku berusaha menahannya. Sementara dengan tegang memelukku erat dan mengapitkan kedua pahanya kuat-kuat di pinggulku. Dinginnya udara pagi dengan jendela berkaca nako menyebabkan kami semakin birahi.
“Ahhh…”
Tika melenguh, mengejang, bergetar dan jepitan vaginnanya meremas-remas kontuolku saat aku hentakkan-hentakkan hingga dasar vaginnanya dimana rambut kelaminku menggesek-gesek klentitnya saat beradu. Dalam hitungan detik, akupun mengejang, sambil menggigit belakang telinganya dan tangan meremas payudaranya aku hujamkan kuat-kuat kontuolku.
“Ak-akkk-akkhhh…!”
“Croot… serrr… croot, croot… crooot…”
Kami terdiam, Tika sudah terkulai lemas dengan bersimbah peluh dan aku biarkan kontuolku terjepit vaginnanya yang berdenyut-denyut lembut. Aku memeluknya dan desah napas kami yang semula menderu-deru berlahan-lahan mulai teratur.
“Pah, dah siang loh, aku tidak mau bolos lagi,” Tika mengingatkanku sambil tersenyum. Lalu aku kecup bibirnya dan tampak di leher belakang telinganya membekas gigitanku. Saat kami berpakaian tampak hampir sekujur tubuhnya penuh dengan “cupang”-an dan gigitan mesraku. Payudara kirinya membekas jemari kananku tadi saat aku akan orgasme. Tika tersenyum saat aku memandang tubuhnya,
“Hasil karyamu pah,” seraya memakai kembali behanya.
“Karya abstrak mah,” lalu aku hampiri dia dan aku belai kelaminya yang masih melelehkan spermaku.
“Tidak dicuci dahulu mah”
“Enggak ah, biarin aku tetap merasakan milikmu pah.”
Jam menunjukkan pukul 7.50 saat Tika mengayuh sepedanya dan aku berjalan ke jalan besar untuk menunggu angkutan umum. Biasa, buat cari senggolan apalagi jam mendekati waktu masuk.
Pernah suatu ketika aku mewakili sekolahku dalam ajang lomba menggambar, lumayan aku memiliki bakat menggambar. Sebelum jam 1 aku sudah kembali, aku longokkan kepalaku tampak Tika sedang mengerjakan PR-nya. Melihatku dia beranjak keluar melalui pintu belakang.
Darah mudaku seketika bergelora, aku hampiri dan aku lumat bibirnya.
“Hampir jam 1 pah,” demikian dia mengingatkan, berarti 30 menit lagi orangtuanya pulang. Sontak aku minta dia nungging dengan kedua tangan diatas dipan bambu (sudah diganti dengan yang baru) lalu aku sibakkan rok yang dipakainya, celana dalamnya aku plorotkan dan lidahku dengan cepat menjilati tempiknya.
Ups, he… he… sedikit pesing, sebodo amat. Lalu aku arahkan kontuolku ke vaginnanya dan,
“Sleeebbb… bleeesss…”
“Ahhhh…”
Tika terkejut dan sedikit meringis menahan perih tapi hanya sebentar dan napasnya sudah mulai tidak beraturan. Berselang lima menit dengan mencengkeram tepian dipan bambu sambil “mekangkang” Tika menggeliat seraya melenguh kuat.
“Aahhhh…”
Aku pegang pantatnya dengan kedua tanganku, aku sodokkan kedepan dan kebelakang pantatku sehingga kontuolku leluasa melesak keluar dan kedalam. Lalu aku remas dengan mencengkeram pantatnya manakala kontuolku memuntahkan spermaku.
“Ahhhh… hh… ahhh…”
“Serrr… serrr… serrr…”
Cairan kental putih muncrat didalam vaginnanya seraya menimbulkan bunyi “ceplak-ceplak-ceplak”, belum puas aku teruskan genjotanku sampai-sampai Tika hampir jatuh terkulai kalau saja tidak aku topang pinggulnya dengan kedua tanganku.

Semangat mudaku menggelora, aku terus memacu dan memacu. Kontuolku yang semula terasa ngilu karena sudah melontarkan airmaniku berlahan kembali mendapatkan kekuatannya. Aku mati-matian agar kontuolku setelah mengeluarkan airmani tidak terkulai. Aku paksa semangatku agar cepat meraih birahi kembali.

Tika hanya menggigit bibirnya, lemas sekali. Sendi-sendinya serasa mau lepas, napasnya tersengal-sengal. Rasa pening menghantam kepalanya tapi tempiknya ternyata tidakmau kompromi, berlahan cairan birahi membasahi gesekan kontuol dan tempiknya.
Tika tidak kuasa menahan hentakan birahi yang berlahan mulai merambat naik ke ubun-ubunnya. Merayap ke semua ujung syarafnya, jantungnya berdegup dengan kencang, matanya terbelalak dengan semua otot diwajahnya menyembul menyebabkan rona wajahnya memerah.
“Akkk… hhhhhh…!”
“Crooot… crooot… crooot…”
“Ah…”
Bersamaan kami dihempas oleh puncak birahi, bersamaan kami dihantam oleh kenikmatan surgawi dan bersamaan kami jatuh terjerembab keatas dipan bambu dan seolah-olah dunia terasa melayang. Tika jatuh tanpa daya keatas dipan menyisakan lelehan sperma di selangkangannya dibawah tonjolan pantatnya, ternyata dia pingsan!

Disekolah aku termasuk siswa yang biasa-biasa saja, sedangkan Tika termasuk kategori siswa kelompok “dodol” alias “bego” dan kategori cewek “non nominasi” pantes saja aku radak “GR” langsung main tancep pedang aja. Hebatnya aku tidak puas hanya sekali, paling sedikit dua kali, inikah manfaat akibat rendaman air teh basi? Mungkin kali ya ha… ha…

Sudah tiga bulan aku setubuhi Tika, selama itu pula dia tidak hamil. Luar biasa, membuat aku ketagihan. Sungguh tidak ada waktu lowong aku dengan dia untuk tidak bermain sex. Terus terang dan terang terus, aku memperlakukan Tika sebagai obyek dan bukan sebagai subyek, duh memang aku sadari aku betul-betul jahat. Tidak jarang Tika sekitar jam 2 siang menyusup masuk ke kamarku, meminta jatah disaat kedua orangtuanya istirahat siang. Ternyata apa yang kami lakukan disiang itu tidak lepas dari mbak Srini teman kosku yang seorang guru SD, nanti aku ceritakan pada bagian tersendiri supaya cerita ini tidak terlalu panjang.

Sekian. Cerita Seks

Tanteku Yang Haus Seks

27 September 2010 1 komentar

“Ma, minta susu…!” teriak seorang bocah kepada mamanya. “Iya bentar !” teriak mamanya dari dalam kamar. Bocah kecil tersebut adalah anak dari Mama yang disebut tadi Kita sebut saja namanya Ras. Ras merupakan istri dari abang mama saya, ngertikan?? jadi saya seharusnya memanggilnya bibi, tapi karena suatu alasan dia kami panggil Mbak dan dia tidak keberatan kok dipanggil begitu. Suaminya saat itu bekerja di Luar Negri dan dia ditinggal di rumah mertuanya yaitu nenek saya. Suaminya telah lama pergi dan hanya pulang sekali dalam setahun.

Pada saat itu umur saya baru akan menginjak 17 tahun, dan sekolah disalah satu perguruan swasta di kota saya. dan pada saat itu sekolah kami sedang libur, jadi otomatis dirumah sepi karena semua penghuni rumah udah keluar ntah kemana. Dirumah kami tinggal bersama nenek, dan 5 orang sepupu saya yang tentu saja lebih kecil dari saya semuanya. Jam baru menunjukkan pukul 9.00 pagi. Nenek saya sedang pergi ke pasar dan biasanya bila beliau kepasar tidak pernah sebentar. Ke-5 sepupu saya sudah keluar dari tadi pagi jadi yang tinggal dirumah cuma saya dan mbak saya serta anaknya yang baru berumur 5 tahun.

Saya dan mbak Ras bisa dibilang sangat dekat, karena kami sering ngomong dan bercanda bersama. Jadi diantara kami berdua sangat terbuka. Namun pada saat itu saya tidak berani berbuat macam2 kepadanya, tapi kalo berpikir macam2 sih pasti ada hehehe “Ma, buatkan susu donk!” celoteh bocah tadi menagih janjinya tadi. “Iya, nih tiap hari minum susu aja. Susu mahal tau!” mamanya menyodorkan sebotol susu kepada anaknya dan diterima anaknya dengan gembira tanda bahwa dia tidak mau mengerti tentang kemahalan susu. Memang anaknya setiap bangun tidur dan sebelum tidur selalu meminta susu.

Kebetulan lagi pada saat itu saya baru selesai sarapan pagi dan timbul keisengan saya untuk bercanda kepada Mbak saya “Saya juga minta susu donk Mbak!” kata saya sambil menyodorkan gelas kepadanya. “Eh..loe itu udah gede, itu kan susu buat anak2″ balas Mbak saya. “Lho, jadi kalo udah gede gak boleh minum susu?” tanya saya sambil pasang muka tak berdosa. “Bukannya gak boleh, tapi itukan susu buat anak-anak” tegasnya sekali lagi ” Jadi yang buat orang dewasa mana” tantang saya kepadanya “Ini” sambil menunjuk kepada buah dadanya yang kayaknya cukup besar dan padat itu. Terang aja saya terkejut, dan saya pun malu karena dia gak biasanya bercanda sampai gitu.

Sebenarnya saya tau kalo dia itu sebenarnya sudah sangat haus dengan sex. Bayangkan saja selama hampir setahun tidak berhubungan dengan suaminya, siapa yang tahan. Dan Argumen saya ini juga telah saya buktikan, Kebetulan kamar saya yang dilantai berada pas diatas kamar mandi, dan lantai 2 hanya berlantaikan papan jadi iseng2 saya melubangi papan itu biar bisa ngintip orang mandi. Saya sering mengintip Mbak saya mandi dari lubang itu dan saya lihat bahwa Mbak saya sangat sering merangsang dirinya sendiri di kamar mandi, misalnya dengan memijat2 dadanya sendiri dan mengelus2 vaginanya sendiri.Jadi dari itu saya mengambil kesimpulan kalau dia sering horny.

“Kok bengong? mau minum susu gak?” ucapnya membuyarkan lamunanku. “Apa masih ada?? anak Mbak kan udah lima tahun?” jawab saya menetralisir kekagetan saya “Gak tau dech..loe coba aja, hehehe…udah dech..” Katanya sambil melewati saya menuju kamar mandi kemudian berbisik sekilas kepada saya “Pintu kamar mandi gak Mbak kunci” Terang aja saya happy banget, soalnya saya sering baca cerita seru dan pernah berkhayal kalo gue melakukannya dengan mbak gue en kayaknya sekarang bisa terwujud. Saya membuka pintu kamar mandi perlahan dan saya lihat Mbak saya sedang membelakangi saya menggantung pakaian yang akan dipakainya. Dengan perlahan juga saya tutup pintu kamar mandi dan menguncinya tanpa suara.

Saya lihat Mbak saya mulai membuka baju tidurnya tanpa membalikan tubuhnya. Kayaknya dia gak sadar kalo saya udah berada di dalam. Setelah baju dilepas kemudian tangan saya menuju ke pengait BH nya bermaksud membantu membuka BH nya. Dia kaget karena tiba2 ada orang dibelakangnya namun setelah mengetahui bahwa yang dibelakangnya adalah saya dia tersenyum dan membiarkan saya melanjutkan kegiatan saya. Setelah BH nya terbuka saya kemudian melemparkannya ke Tong tempat baju kotor. “Mbak, susunya boleh saya minum sekarang” tagih saya kepadanya. dia hanya mengangguk dan kemudian membalikkan badannya. Terlihatlah olehku dua buah tonjolan di dalamnya yang selama ini belum pernah saya lihat secara langsung.

Sebelumnya saya hanya mengintip. Kemudian dia menyodorkan dadanya kepada saya dan dengan cepat saya sambar dengan mulut saya. Dia hanya mendesis gak jelas. Lama saya menghisap dan menjilat kedua dadanya membuat dia terus menggelinjang dan menjambak rambut saya. Dadanya kanan kiri secara bergantian menjadi korban keganasan lidah saya. Mbak Ras kemudian secara lembut membuka kaos saya dan tanpa saya sadari kaos saya sudah terlepas. mungkin karena keasyikan “meminum” susu alam. Sementara tangan saya yang kiri mulai meraba2 perutnya sedangkan yang kanan mengusap2 dadanya yang sebelah kanan. Sementara mulut saya dengan menjulurkan lidah keluar mempermainkan puting susu yang sebelah kiri yang membuat Mbak saya semakin ngos2an.

Tangan saya sebelah kiri mulai nakal dengan menyusupkan jari2nya kecelana tidurnya yang belum dibuka. Tangan Mbak pun gak mau kalah, dia pun mulai mencari2 sesuatu diselangkangan saya dan setelah menemukannya dia pijat2 lembut. Adik saya yang merasakan ada rangsangan dari luar celana semakin meronta minta keluar. Mbak saya yang sudah berpengalaman itu kemudian membuka resleting celana saya dan kemudian melorotkannya ke bawah dengan menggunakan kakinya karena dia tidak bisa membungkuk sebab dadanya sekarang masih berada dalam kekuasaan saya.

Setelah CD saya dibuka, tangannya yang sekarang lebih nakal mulai mengocok perlahan batang saya dan itu jelas saja membuat saya fly tinggi, sebab baru kali ini batang saya yang satu ini dipegang oleh tangan seorang cewek yang lembut. Mbak saya makin menjadi ketika jilatan saya turun ke perutnya dan bermain disekitar pusarnya Dan kemudian dengan sekali tarik celana tidur yang sedari tadi menghalangi pemandangan indah saya buka dan sekarang didepan saya berdiri seorang Wanita hanya dengan celana dalam krem yang jika diperhatikan lebih seksama bisa dilihat transparan tapi siapa yang sempat melihat ketransparanannya itu kalau sudah “fly ^_^”

Jilatan saya turun agak kebawah menuju ke Vaginanya yang ditumbuhi bulu2 yang rapi namun karena sudah basah terlihat acak2an. Saya menjilati Vaginanya dari luar CD nya. Itu sengaja saya lakukan agar bisa lebih merangsangnya. Dan ternyata benar dia tidak sabar dan segera menurunkan CDnya sendiri. Saya hanya tersenyum memandang ketidak sabarannya itu. dan jilatan saya lanjutkan tetapi tetap belum menyentuh lubang kenikmatannya itu yang membuat dia blingsatan dengan menggerakkan pinggulnya ke kiri dan kanan yang bertujuan agar jilatan saya berlanjut ke vaginanya.

Saya lihat Vaginanya sudah banjir, karena tidak pernah merasakan cairan dari wanita makanya jilatan saya pun merambah ke vaginanya. Asin!! tapi kok enak yah kata saya dalam hati. Mbak pun kembali mendesis keenakan “Ahhh…terus Tango” ujarnya. Lidah saya pun mulai bermain cepat. Tiba2 tubuh Mbak mengejang dan diikuti dengan desahan panjang ” Ahhh…..Nikmat sekati tango, Pemanasan loe sungguh hebat “

Kemudian dia pun duduk dilantai kamar mandi dengan perlahan. Setelah puas dengan Vaginanya saya kembali keatas dan mencoba untuk melumat bibirnya Bibir yang sedari tadi mendesis tidak karuan itu kemudian melumat bibirku yang baru saja sampai di depannya. Lama kami saling melumat sambil tangan kanan saya memainkan puting susunya dan tangan yang satunya lagi mencari lubang kewanitaannya dan menekan2 clitorisnya yang jelas saja membuat lumatan bibirnya semakin menjadi.

Tangannya pun tidak mau kalah, sambil berpagutan dia mencari kembali batang yang tadi sempat dilepasnya karena kenikmatan yang dia rasakan.Setelah ketemu kemudian dia mulai menggerak2kan tangannya mengocok kemaluanku yang sudah sangat tegang dan membesar sambil sesekali mengusap bagian kepalanya yang sudah mengeluarkan cairan bening kental. Kemudian secara perlahan2 saya mendorong kepalanya ke belakang agar dia rebah ke lantai kamar mandi.

Setelah dia rebah, Mbak mendorong dada saya lembut yang membuat saya terduduk dan dia kemudian bangkit kembali. Saya terkejut, saya mengira dia telah sadar dengan siapa dia sedang bermain, namun dengan seketika keterkejutan saya hilang sebab dia kemudian dengan sikap merangkak memegangi kelamin saya dan kemudian dia malah memasukkan kelamin saya kemulutnya. Ahh..terasa nikmat sekali sebab Mbak saya sangat pandai memainkan kemaluan saya di dalam mulutnya. Saya bisa merasakan lidahnya bermain dengan lincahnya. Saya juga merasakan kepala kemaluan saya dipermainkan dengan lidahnya yang lincah itu.

Setelah bermain lama dibawah situ, mulutnya kemudian merambah keatas menciumi perut, kemudian dada saya dan kemudian kembali ke mulut saya, namun karena saya tau dia baru saja melepaskan mulutnya dari kemaluan saya, saya berusaha menghindar dari lumatan bibirnya dan mencoba agar dia tidak tersinggung dengan mencium pipinya dan kemudian telinganya. Tangan saya yang nganggur kemudian saya suruh bekerja lagi dengan mengusap2 selangkangannya dan terdengar dia berbisik kepada saya ” Masukkan ahhh….sekarang yahhhhhhhh, Mbak udahhhhhhh kepingin …banget …nih.ahhh”

Saya kemudian mengambil inisiatif dengan mendorong Mbak agar kembali rebah dan dengan perlahan dia menuruti kemauan saya dengan rebahan dilantai kamar mandi. Saya kemudian mengambil segayung air dan menyiramkan ke tubuhnya dan kemudian satu gayung lagi untuk disiramkan ketubuh saya sendiri. Setelah kami berdua basah, tangan kanan saya kemudian meremas2 dadanya sedangkan tangan kiri saya memegang kejantanan saya menuju kelubang sejuta kenikmatan. Mbak pun sudah siap menerima terjangan saya dengan membuka kedua kakinya agar memudahkan saya memasukinya.

Dengan perlahan tapi pasti saya mencoba untuk memasukkan kepunyaan saya yang sedari tadi sudah tegak ke kemaluannya. Namun karena sudah lama dia tidak tersentuh laki2, membuat saya agak susah juga untuk menancapkannya. Beberapa kali saya arahkan batang saya, namun agak susah untuk berhasil, dan setelah beberapa tusukan, akhirnya kelamin saya masuk dengan sukses ke selangkangannya. Yah cengkeraman vaginanya sungguh nikmat, karena saat itu vaginanya sangat sempit dan itu sudah memubuat saya merem melek, dan dengan gerakan pelan saya mulai menaik turunkan pinggul saya.

Saya melihat Mbak mengerang kenikmatan sampai bola matanya hilang, dan dia juga meggerak2kan pinggulnya kekiri dan kanan dengan maksud agar semua ruang divaginanya terjejali dengan kemaluanku yang sudah mulai memompa. Setiap pompaan membuat dia mendesah tidak karuan. Setelah beberapa menit, dia kemudian memelukku dengan erat dan membalikan tubuhku dan tubuhnya. Kini dia sudah berada di atasku. dan gantian dia yang menaik turunkan pinggulnya mengejar kenikmatan yang tiada tara.

Sementara itu tanganku yang sudah bebas kembali memainkan “susu”nya dan mengusap2 punggungnya. “Sssaaayyyaaa… udah ahhh… mau …. kkkeeeluar nihhhh…” Desahnya. Mendengar desahannya yang begitu seksi saya semakin terangsang dan saya mulai merasakan ada sesuatu “tenaga dalam” yang ingin dikeluarkan dan semua sepertinya sudah terkumpul di kejantanan saya. “saya juga udah mau keluar mbak……..!” desis saya mempercepat gerakan pinggul saya dari bawah. “Tahannnn… sebennnnntaarrrr…” katanya… “Biaaaaarrr…. Mbak keeee… luar dulu…. ouhhh” Sayapun mengerti untuk tidak mengeluarkannya di dalam, sebab dengan alasan apapun saya tidak mau sperma yang saya keluarkan ini menjadi anak dari rahim “Bibi” saya. Saya berusaha untuk menahan, sesaat kemudian terasa cengkeraman di kelamin saya terasa kuat dan terasa hangat, tubuh Mbak saya kembali mengejang. Kalau saya tidak mencabut kemaluan saya dengan sedikit mendorong perut Mbak saya, mungkin saya pun akan mengalami orgasme bersamaan dengan Mbak Ras. Untung saja saya sigap, sesaat kemudian Mbak Ras terkulai lemas diatas tubuh saya menikmati sisa2 kenikmatan. Paha saya terasa hangat karena Pelumas yang keluar dari Vagina Mbak.

Sayapun memeluknya, dan membalikkan tubuhnya Karena saya belum terpuaskan saya pun kembali merangsang Mbak dengan jilatan disekitar selangkangannya. Setelah berkisar 3-4 menit Mbak Ras kembali terangsang dan menyuruh saya memasukkan lagi kepunyaan saya kedalam vaginanya.. Tanpa ba-bi-bu lagi, langsung saya tancapkan kedalam kemaluannya. Kali ini lebih mudah karena kemaluan kami berdua memang telah licin. Setelah memompa beberapa menit, saya kembali merasakan gelombang kenikmatan dan dengan segera saya mencabutnya dan mengocok2nya dengan tangan sendiri.

Namun tidak disangka, Mbak kemudian menangkap kemaluan saya dan menggantikan tangan saya dengan tangannya dan kemudian memasukkan Junior ku kedalam mulutnya. Ahhh….terasa sungguh nikmat, apalagi permainan lidahnya membuat saya tidak bisa bertahan lama dan akhirnya semua saya keluarkan di dalam kuluman mulutnya. Tapi saya tidak melihat dia melepaskannya, dia seakan tidak mau melepaskan burung ku yang sedang muntah dan dia menghisap habis semua muntahannya tanpa sisa. Setelah saya merasakan pelumas dari dalam tubuhku habis, sang junior pun perlahan2 kembali mengecil. Melihat hal itu, mbak kemudian melepaskan anu saya, dan tersenyum kepada saya Kemudian dia berbisik

“Tango, terima kasih yah, Mbak udah lama gak menikmatinya dari paman loe, ntar lain kali kalo ada kesempatan bisa kan loe puasin mbak lagi?” Dengan masih terduduk di lantai saya mengangguk sambil tersenyum nakal kepada Mbak saya. Kemudian kami pun mandi sama2, saling membersihkan diri dan sesekali tangan saya bergerak nakal menyentuh payudaranya yang tadi pentilnya sempat mencuat. Setelah kejadian pertama itu, kami pun sering melakukannya di hari Minggu atau hari2 libur di mana keadaan rumah sedang sepi. Kadang di kamar mandi, kadang di kamarnya. Namun setelah beberapa bulan kami melakukanya, dia mendengar bahwa suaminya yang di luar negeri sudah menikah lagi dan dia pun memutuskan untuk kembali kerumah orang tuanya di Jakarta. Dan setelah kepergiannya atau lebih tepatnya kepulangannya ke Jakarta saya tidak pernah mendengar kabarnya lagi sampai sekarang. (kira2 udah 4 tahun).

Selesai. Cerita Seks

Tante Girang itu Ternyata Dosenku

6 September 2010 Tinggalkan komentar

Cerita tante girang kali ini bercerita tentang tante yang berprofesi sebagai seorang dosen, dan yang pasti si dosen ini suka dong sama brondong, namanya juga tante girang, berikut ceritanya.

Cerita Seks ini bermula pada waktu itu aku lagi kuliah di semester V di salah satu PTN di Bandung (tepatnya Kampus yang di Sumedang). Ceritanya saat itu aku lagi putus dengan pacarku dan memang dia tidak tahu diri, sudah dicintai malah bertingkah, akhirnya dari cerita cintaku cuma berumur 2 tahun saja. Waktu itu aku tinggal berlima dengan teman satu kuliah juga, kita tinggal serumah atau ngontrak satu rumah untuk berlima. Kebetulan di rumah itu hanya aku yang laki-laki. Mulanya aku bilang sama kakak perempuanku, “Sudah, aku pisah rumah saja atau kos di tempat”, tapi kakakku ini saking sayangnya padaku, ya saya tidak diperbolehkan pisah rumah. Kita pun tinggal serumah dengan tiga teman wanita kakakku.

Ada satu diantara mereka sudah jadi dosen tapi di Universitas lain di sekitar kampusku, Ibu Yuli namanya. Kita semua memanggilnya Ibu maklum sudah umur 40 tahun tapi belum juga menikah. Ibu Yuli bertanya, “Eh, kamu akhir-akhir ini kok sering ngelamun sih, ngelamunin apa hayo? Jangan-jangan ngelamunin yang itu..”
“Itu apanya Bu?” tanyaku.
Memang dalam kesehari-harianku, Ibu Yuli tahu karena aku sering juga curhat sama dia karena dia sudah kuanggap lebih tua dan tahu banyak hal. Aku mulai cerita,
“Tahu nggak masalah yang kuhadapi? Sekarang aku baru putus sama pacarku”, kataku.
“Oh.. gitu ceritanya, pantesan aja dari minggu kemarin murung aja dan sering ngalamun sendiri”, kata Ibu Yuli.

Begitu dekatnya aku sama Ibu Yuli sampai suatu waktu aku mengalami kejadian ini. Entah kenapa aku tidak sengaja sudah mulai ada perhatian sama Ibu Yuli. Waktu itu tepatnya siang-siang semuanya pada kuliah, aku sedang sakit kepala jadinya aku bolos dari kuliah. Siang itu tepat jam 11:00 siang saat aku bangun, eh agak sedikit heran kok masih ada orang di rumah, biasanya kalau siang-siang bolong begini sudah pada nggak ada orang di rumah tapi kok hari ini kayaknya ada teman di rumah nih. Aku pergi ke arah dapur.
“Eh Ibu Yuli, nggak ngajar Bu?” tanyaku.
“Kamu kok nggak kuliah?” tanya dia.
“Habis sakit Bu”, kataku.
“Sakit apa sakit?” goda Ibu Yuli.
“Ah.. Ibu Yuli bisa aja”, kataku.
“Sudah makan belum?” tanyanya.
“Belum Bu”, kataku.
“Sudah Ibu Masakin aja sekalian sama kamu ya”, katanya.

Dengan cekatan Ibu Yuli memasak, kita pun langsung makan berdua sambil ngobrol ngalor ngidul sampai-sampai kita membahas cerita yang agak berbau seks. Kukira Ibu Yuli nggak suka yang namanya cerita seks, eh tau-taunya dia membalas dengan cerita yang lebih hot lagi. Kita pun sudah semakin jauh ngomongnya. Tepat saat itu aku ngomongin tentang perempuan yang sudah lama nggak merasakan hubungan dengan lain jenisnya.

“Apa masih ada gitu keinginannya untuk itu?” tanyaku.
“Enak aja, emangnya nafsu itu ngenal usia gitu”, katanya.
“Oh kalau gitu Ibu Yuli masih punya keinginan dong untuk ngerasain bagaimana hubungan dengan lain jenis”, kataku.
“So pasti dong”, katanya.
“Terus dengan siapa Ibu untuk itu, Ibu kan belum kawin”, dengan enaknya aku nyeletuk.
“Aku bersedia kok”, kataku lagi dengan sedikit agak cuek sambil kutatap wajahnya. Ibu Yuli agak merah pudar entah apa yang membawa keberanianku semakin membludak dan entah kapan mulainya aku mulai memegang tangannya. Dengan sedikit agak gugup Ibu Yuli kebingungan sambil menarik kembali tangannya, dengan sedikit usaha aku harus merayu terus sampai dia benar-benar bersedia melakukannya.

“Okey, sorry ya Bu, aku sudah terlalu lancang terhadap Ibu Yuli”, kataku.
“Nggak, aku kok yang salah memulainya dengan meladenimu bicara soal itu”, katanya.
Dengan sedikit kegirangan, dalam hatiku dengan lembut kupegang lagi tangannya sambil kudekatkan bibirku ke dahinya. Dengan lembut kukecup keningnya. Ibu Yuli terbawa dengan situasi yang kubuat, dia menutup matanya dengan lembut. Juga kukecup sedikit di bawah kupingnya dengan lembut sambil kubisikkan, “Aku sayang kamu, Ibu Yuli”, tapi dia tidak menjawab sedikitpun.

Dengan sedikit agak ragu juga kudekatkan bibirku mendekati bibirnya. Cup.. dengan begitu lembutnya aku merasa kelembutan bibir itu. Aduh lembutnya, dengan cekatan aku sudah menarik tubuhnya ke rangkulanku, dengan sedikit agak bernafsu kukecup lagi bibirnya. Dengan sedikit terbuka bibirnya menyambut dengan lembut. Kukecup bibir bawahnya, eh.. tanpa kuduga dia balas kecupanku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan. Kutelusuri rongga mulutnya dengan sedikit kukulum lidahnya. Kukecup, “Aah.. cup.. cup.. cup..” dia juga mulai dengan nafsunya yang membara membalas kecupanku, ada sekitar 10 menitan kami melakukannya, tapi kali ini dia sudah dengan mata terbuka. Dengan sedikit ngos-ngosan kayak habis kerja keras saja.

“Aah.. jangan panggil Ibu, panggil Yuli aja ya!
Kubisikkan Ibu Yuli, “Yuli kita ke kamarku aja yuk!”.
Dengan sedikit agak kaget juga tapi tanpa perlawanan yang berarti kutuntun dia ke kamarku. Kuajak dia duduk di tepi tempat tidurku. Aku sudah tidak tahan lagi, ini saatnya yang kutunggu-tunggu. Dengan perlahan kubuka kacing bajunya satu persatu, dengan lahapnya kupandangi tubuhnya. Ala mak.. indahnya tubuh ini, kok nggak ada sih laki-laki yang kepengin untuk mencicipinya. Dengan sedikit membungkuk kujilati dengan telaten. Pertama-tama belahan gunung kembarnya. “Ah.. ssh.. terus Ji”, Ibu Yuli tidak sabar lagi, BH-nya kubuka, terpampang sudah buah kembar yang montok ukuran 34 B. Kukecup ganti-gantian, “Aah.. ssh..” dengan sedikit agak ke bawah kutelusuri karena saat itu dia tepat menggunakan celana pendek yang kainnya agak tipis dan celananya juga tipis, kuelus dengan lembut, “Aah.. aku juga sudah mulai terangsang.

Kusikapkan celana pendeknya sampai terlepas sekaligus dengan celana dalamnya, hu.. cantiknya gundukan yang mengembang. Dengan lembut kuelus-elus gundukan itu, “Aah.. uh.. ssh.. Biji kamu kok pintar sih, aku juga sudah nggak tahan lagi”, sebenarnya memang ini adalah pemula bagi aku, eh rupanya Yuli juga sudah kepengin membuka celanaku dengan sekali tarik aja terlepas sudah celana pendek sekaligus celana dalamku. “Oh.. besar amat”, katanya. Kira-kira 18 cm dengan diameter 2 cm, dengan lembut dia mengelus zakarku, “Uuh.. uh.. shh..” dengan cermat aku berubah posisi 69, kupandangi sejenak gundukannya dengan pasti dan lembut. Aku mulai menciumi dari pusarnya terus turun ke bawah, kulumat kewanitaannya dengan lembut, aku berusaha memasukkan lidahku ke dalam lubang kemaluannya, “Aah.. uh.. ssh.. terus Biji”, Yuli mengerang. “Aku juga enak Yuli”, kataku. Dengan lembut di lumat habis kepala kemaluanku, di jilati dengan lembut, “Assh.. oh.. ah.. Yuli terus sayang”, dengan lahap juga kusapu semua dinding lubang kemaluannya, “Aahk.. uh.. ssh..” sekitar 15 menit kami melakukan posisi 69, sudah kepengin mencoba yang namanya bersetubuh. Kurubah posisi, kembali memanggut bibirnya.

Sudah terasa kepala kemaluanku mencari sangkarnya. Dengan dibantu tangannya, diarahkan ke lubang kewanitaannya. Sedikit demi sedikit kudorong pinggulku, “Aakh.. sshh.. pelan-pelan ya Biji, aku masih perawan”, katanya. “Haa..” aku kaget, benar rupa-rupanya dia masih suci. Dengan sekali dorong lagi sudah terasa licin. Blesst, “Aahk..” teriak Yuli, kudiamkan sebentar untuk menghilangkan rasa sakitnya, setelah 2 menitan lamanya kumulai menarik lagi batang kemaluanku dari dalam, terus kumaju mundurkan. Mungkin karena baru pertama kali hanya dengan waktu 7 menit Yuli..

“Aakh.. ushh.. ussh.. ahhkk.. aku mau keluar Biji”, katanya. “Tunggu, aku juga sudah mau keluar akh..” kataku. Tiba-tiba menegang sudah lubang kemaluannya menjepit batang kemaluanku dan terasa kepala batang kemaluanku disiram sama air surganya, membuatku tidak kuat lagi memuntahkan.. “Crot.. crot.. cret..” banyak juga air maniku muncrat di dalam lubang kemaluannya. “Aakh..” aku lemas habis, aku tergeletak di sampingnya. Dengan lembut dia cium bibirku, “Kamu menyesal Biji?” tanyanya.

“Ah nggak, kitakan sama-sama mau.” Kami cepat-cepat berberes-beres supaya tidak ada kecurigaan, dan sejak kejadian itu aku sering bermain cinta dengan Ibu Yuli hal ini tentu saja kami lakukan jika di rumah sedang sepi, atau di tempat penginapan apabila kami sudah sedang kebelet dan di rumah sedang ramai. sejak kejadian itu pada diri kami berdua mulai bersemi benih-benih cinta, dan kini Ibu Yuli menjadi pacar gelapku.

Asyiknya Ngentot dengan Baby Sitterku

3 September 2010 2 komentar

Cerita Dewasa – Enaknya memiliki seorang baby sitter yang montok, akupun bisa merasakan tubuhnya yang seksi, berikut cerita seks selengkapnya. Sekarang ini aku adalah seorang ayah dari dua orang putri dan seorang putra. Kehidupan perkawinanku biasa-biasa saja, tidak terlalu menggebu dalam masalah hubungan pasutri. Meskipun sebenarnya aku termasuk lelaki yang mempunyai nafsu besar, tapi karena istriku sangat tidak pandai dalam hal satu ini, sering aku merasa kosong dan hambar.

Cerita ini terjadi sekitar tahun 2003 akhir, bermula ketika babby sitter anakku yang kedua dipanggil pulang orang tuanya karena kakaknya juga baru melahirkan. Selang seminggu kemudian bapakku datang ke Jakarta mengantarkan seorang baby sitter baru untuk anakku. Sejak pertama kali melihatnya, aku sudah merasa terangsang sekali terutama bila melihat dua gundukan besar di dadanya yang sampai saat ini aku tidak tahu pasti berapa ukurannya, tapi sangat besar mungkin 36D.


Sebut saja namanya Mimin dan saat itu dia baru berusia 17 tahun tapi mempunyai tubuh yang bongsor dengan tinggi 167cm. Paras mukanya biasa saja dan bentuk badannya juga biasa. Hanya dua gundukan itu yang selalu menghantui pikiranku sejak pertama kali melihatnya.
Sejak kedatangannya tidak ada yang special yang terjadi, karena aku juga tidak pernah berusaha untuk berbuat sesuatu yang mengarah kepada berhubungan seks dengannya. Dan dia nampaknya juga bisa membawakan diri dengan baik dan juga sayang pada putriku yang kedua yang saat itu baru berusia 3-4 bulan juga putri pertamaku.
Oh ya pembaca, kami masih tinggal di pavilion rumah mertuaku yang ada pintu penghubung dengan bangunan utama.
Kejadian berawal ketika pada suatu siang Mimin meminta tolong kepadaku untuk mensetting handphone yang baru dibelinya. Aku sedang libur hari itu dan istriku sedang di kantor. Ketika sedang berdiri minum kopi di meja makan, tiba-tiba Mimin datang dan berkata:
“Pak, tolong dong settingin handphone saya. Saya ga bisa”.
Kuterima handphonenya dan mulai kuutak-atik. Sedang asik mengutak-atik hp itulah ketika mulai terasa ada hembusan nafas dibelakang telinga kiriku dan ketika kutengok, Mimin berdiri disitu sedang memperhatikan caraku mensetting hp-nya.
“Sekalian belajar Pak”, katanya.

Aku biarkan saja dan mulai mengajarkan caranya, masih sambil berdiri. Tiba-tiba lengan kiriku merasa ada benda kenyal empuk menyentuhnya. Kucoba tarik untuk menghindarinya tapi malah semakin terasa menempel di punggung dan lenganku.
“Apa maunya nih anak?”, pikirku.
Kutengok lagi ke belakang dan muka Mimin berada sangat dekat dengan mukaku, sambil matanya tetap tertuju pada hp-nya. Kemudian kuberanikan diri untuk mengecup pipinya dan dia diam saja. Bahkan kurasakan hembusan nafasnya yang hangat di telinga kiriku. Tentu saja hal itu membangkitkan gairah kelelakianku.
Kemudian kuberanikan diri untuk memegang pahanya dengan tangan kiriku yang bebas. Mimin diam saja. Kuusap-usap pahanya dan hembusan hangat nafasnya di telingaku makin kencang. Tangan kirikupun makin naik dan berhenti dipangkal pahanya. Kuusap-usap gundukannya dan perlahan jari tengahku kutekan-tekan tepat ditengah gundukan. Mulai terdengar desahannya dan gundukan kembar makin menekan punggung dan lenganku. Makin kutekan jari tengah tangan kiriku dan makin konsentrasi di satu tempat yang kuyakin adalah clit-nya. Kurasakan tangan kananya memeluk dan mulai meremas pinggangku.
Akhirnya kutarik keatas roknya yang sebatas lutut dan kembali kuusap-usap gundukan venusnya yang masih terbungkus cd. Remasan dan pelukannya dipinggangku makin kencang dan tangan kirinya membantu tangan kiriku menekan dan mengusap-usap pangkal pahanya. Mulai kurasakan lembab cdnya dan akhirnya kutelusupkan telapak tangan kiriku kedalamnya. Disambut oleh bulu-bulu halus yang masih jarang dan ketika jarinya mulai membuka bibirnya, kurasakan basah yang hangat disana. Gerakannya makin cepat terutama jari tengahku dalam mengilik-ngilik dan memutar-mutar clit-nya dan mulai terdengar eranganya perlahan.

“Eshhh… Enak Pak…”
“Terus Pak… Essshhh… Mimin mau pipis Pak”.
Tanpa sadar dia menggigit pundakku dan secara reflek kutarik tanganku karena sakit yang kurasakan di pundak. Setelah meletakkan hp yang belum selesai kusetting diatas meja makan, kubalikkan badanku dan langsung kukulum bibirnya. Mimin menyambut ciumanku dengan tidak kalah bernafsunya dan lidah kami saling belit saling hisap.
“hmmm… Hmmm…”. Tangan kananku menggantikan peran tangan kiriku yang sekarang memeluk dan menarik tubuh Minah merapat ke tubuhku hingga kurasakan dua bukit kembarnya menekan dadaku. Nikmat sekali rasanya.
“Terus Pak… Enak Pak”, katanya lembut ditelingaku ditingkahi oleh suara desahan dan erangannya. Makin kuputar-putar dan kutekan-tekan jari-jariku di clit-nya. Dengan ditingkahi erangan tertahannya (takut terdengar mertua atau adik iparku) di rumah sebelah, dipeluknya badanku erat sekali. Kulepaskan pelukannya dan langsung berjongkok di depannya dan dengan sekali tarikan maka tanggallah celana dalamnya. Langsung kuserbu dengan ciuman, jilatan dan hisapan di sekujur bibir indah itu terutama tonjolan kecilnya. Tak lama kemudian kudengar.
“erghhh… Min mau…pipis Pak… Ssshhhh… Enak”.
“Aaahhh…ssshhhh… oohhh”
Perlahan mulai kurasakan tubuhnya menegang dan meliuk-liuk dengan diiringi kejangan. Untung kedua tangannya bersandar ke meja makan. Kubiarkan dia melepas gelombang yang mendera tubuhnya agak lama sambil tetap memeluknya dan menahan dorongannya dengan bersandar ke meja makan. Setelah agak lama kurasakan nafasnya mulai teratur kembali dan dia mengecup dan menjilati leher dan telingaku yang membuat tongkatku makin mengeras.
“Terima kasih Pak.. Enak sekali Pak”, katanya lembut sambil mengecup pipiku kali ini.
“Kok kamu mau Min?”, tanyaku untuk mengurai rasa penasaranku.
“Min kadang suka dengarin kalau Bapak sama Ibu lagi begituan. Kayanya seru dan enak. Jadi Min sering juga pakai jari sendiri”.
“Tapi belum pernah seenak dan senikmat pakai jari Bapak. Badan Min sampai lemes begini. Terima kasih ya Pak”.
“Ya..”, jawabku, “tapi sekarang bagaimana dengan dede? Kalau dah keras begini dan tidak mendapatkan musuh, sakit sekali Min”, kataku sambil memegang tongkatku yang sudah menonjol sejak tadi.

Kupegang tangannya dan kutuntun kearah tongkatku yang sudah sangat keras. Mula-mula dia nampak ragu tapi tidak ditariknya tangannya dan perlahan kurasakan tangannya mulai meremas-remas tongkatku.
“Masa sih Pak sakit? Min harus gimana Pak untuk menghilangkan sakit dede ini?”, begitu tanyanya, sambil mulai dikocok-kocoknya perlahan dengan lembut.
“Biar hilang sakitnya, dede harus masuk ke memey-nya Min dan pipis disitu”, jawabku.
“Min mau?”, tanyaku lagi.
Dia diam saja. Menunduk sekarang. Remasan tangannya ditongkatku makin kencang kurasakan.
“Pernah ada dede kecil yang masukin memey Mimin?”, tanyaku.
“Belum Pak?”, jawabnya.
Aku tertegun sejenak. Berkecamuk banyak hal dalam otakku, antara menyalurkan hasrat kelelakianku yang sudah membara dengan banyak pertimbangan moral lainnya, terutama karena ternyata Mimin masih perawan. Akhirnya…
“Min mau memey-nya dimasukin dede?”, tanyaku. Dia makin tertunduk dan tetap diam. Ditelusupkannya tanganya kedalam celana kolorku dan masuk kebalik cd-ku. Diremas-remasnya tongkatku dan dikecupnya serta dijilatinya leher dan kupingku. Lebih dari sekedar jawaban “ya”, lewat mulut, begitu pikirku.
Kuajak dia masuk ke kamarnya yang berada di belakang. Setelah kukunci pintunya, perlahan kurebahkan dia diatas kasur. Kupandangi mukanya dengan teliti dan Mimin hanya tersipu malu. Kuturunkan kepalaku mendekat dan kukecup bibirnya dengan lembut. Lalu mulai kukeluarkan lidahku dan kumasukkan ke mulutnya, kucari, ketemu lidahnya dan langsung lidah kami saling berbelit, hisap dan sedot. Tanganku tak mau diam saja. Kuusap-usap perutnya dengan lembut, pinggangnya dan perlahan naik ke dua gundukan kembar di dadanya. Kuusap-usap dengan sangat lembut, perlahan dari pinggirannya, memutar dan kucoba menghindari untuk tidak langsung menyerbu. Ingin kunikmati sepenuhnya momen demi momen.
Perlahan mulai kudengar desahannya seiring remasan-remasan lembut tanganku di dadanya. Mulai kuusap-usap putingnya dari luar dan Mimin melingkarkan tangannya memelukku sambil mengangkat sedikit dadanya kearah remasan tanganku.
“shhh… Ehhhh…”

Lalu tanganku mulai menyusup ke balik kaosnya, mengawali lagi usapan dari perut dan pinggangnya dan perlahan naik ke bukit kembarnya. Kuusap dan kuremas perlahan dari luar bh-nya dan mulai kurasakan daging kenyal yang seakan mau meletus dari cengkeraman bh-nya yang agak kekecilan. Kukecup dan kujilati lehernya yang putih bersih dengan aroma yang merangsang. Kuusap dengan agak sedikit menekan bagian putingnya dan dijawab dengan “sssshhhh… Cepet Pak… Diremas aja Pak… Copot bh-ku Pak… Min pingin disayang ma Bapak… ssshhh…”

Langsung kujawab dengan menarik lepas kaosnya ke atas dan kubuka kaitan bh-nya yang ada di depan. Terpampanglah di depan mataku dua bukit kembar berwarna putih mulus, besar (satu tanganku tak cukup untuk menangkupnya) dengan puting berwarna agak kecoklatan yang sudah mulai mengeras. Lama kutatap untuk menikmati keindahanya yang sudah menghantui pikiran dan mimpi-mimpiku selama ini, ternyata sekarang teronggok dengan indahnya didepan mata.
“Jangan diliatin aja Pak… Min malu”.
“Justru kamu harus bangga Min”, jawabku, “payudaramu sungguh indah. Terindah yang pernah Bapak liat. Bapak sudah memimpikan ini sejak pertama melihatmu Min. Sungguh”.
Dengan lembut kuusap kembali dua bukit kembar tersebut mulai dari pangkalnya, memutar sambil kuremas dengan lembut. Kembali terdengar desahannya seiring kulumat lagi bibir mungilnya. Perlahan kusentuh putingnya yang sudah agak mengeras dan kurasakan hentakan lembut dari tubuhnya. Kuputar-putar jariku diatasnya dan mulai kupilin putingnya pelan-pelan.
“Mmmmhhh…sssshhhh…”, desahnya diiring suara kecipak mulut kami yang saling mengulum dan melumat.
Tangan kiriku mengusap-usap rambut, kepala, tengkuk dan sesekali kupingnya. Setelah yang kanan agak lama maka kuberikan servis yang sama ke bukit yang satunya. Setelah puas meremasnya, maka perlahan ciumanku mulai turun kebawah dari lehernya dan kuperbuat yang sama dengan jariku, kali ini dengan lidahku. Setelah puas menjilat dan sedikit menggigit-gigit puting susunya, maka mulai kujilat putingnya yang sudah mengeras, mengacung. Desahan dari mulutnya makin mengeras. Kujilat dan kuhisap dengan rakus dua bukit kembar yang sangat indah itu dengan sesekali kugigit-gigit gemas. Hal itu makin merangsang Mimin dan perlahan tapi pasti desahannya berubah menjadi erangan. Kupuas-puaskan diriku dengan dua bukit kembar yang telah memenuhi otak dan nafsuku selama ini.

Puas dengan dadanya, yang sekarang digantikan perannya oleh muluntuku, tanganku menggerayang menyusup kebawah ke lututnya. Mengusap-usap perlahan naik kepahanya dan sampailah ke pangkal pahanya yang sudah basah sejak orangasmenya waktu berdiri tadi. Kugosok-gosok bukit venusnya dari luar cd-nya. Karena takut terdengar erangannya yang makin keras oleh orang rumah, kumasukkan jari-jari tangan kiriku kemulutnya yang langsung di sambutnya dengan hisapan dan jilatan. Tubuhnya makin menggelinjang-gelinjang waktu kususupkan tanganku kedalam cd-nya dan langsung kuremas lembut clit-nya sambil kugosok-gosok tanpa menghentikan jilatan dan hisapan di putingnya yang sekarang makin meruncing dengan sombongnya.
“sssshhhhhh…… Erghhhh… Nikmat banget Pak…”
“Min…. Mau pipis…. lagi… Pak… Terusss… Jangan brenti Pak…”
Belum selesai kalimatnya sudah kurasakan cairan kental yang keluar dari liang memey-nya diiringi lengkungan tubuhnya yang disertai erangan panjang dengan sedikit kejang-kejang. Kubiarkan dia sejenak kembali menenangkan diri. Kukecup lembut bibirnya.
“Enak Min?”, tanyaku.
“Shh… Enak sekali, nikmat sekali Pak.Bapak pintar sekali menyenangkan Mimin Pak!”
“Ini pengalaman pertama yang luar biasa buat Mimin Pak. Sungguh”.
“Sekarang gentian Mimin yang membuat enak Bapak ya”, pintaku.
“Bagaimana caranya Pak?”, tanyanya.
“Mimin mau melakukan apa saja asal bisa membuat Bapak senang dan puas seperti yang Mimin rasakan”. Bersambung pada postingan selanjutnya.

Aku ingin Mbak Bahagia dengan kontolku

31 Agustus 2010 Tinggalkan komentar

Suatu kebahagiaan tersendiri bila ada tercipta rasa saling menyayangi di antara saudara. Tapi kebahagiaan seperti apa yang dirasakan Sandra ketika berusaha memberikan kebahagiaan untuk Shanty sebagai rasa sayang seorang adik kepada kakak kandungnya?

Kisah nyata ini dipaparkan oleh Lucky, suami Sandra, kepada saya untuk direka menjadi satu cerita. Lucky, 34 tahun, dan Sandra, 27 tahun, adalah pasangan suami istri harmonis yang dikaruniai satu orang putri 3 tahun yang lucu. Tinggal di Wilayah Jakarta Timur, Shanty, 30 tahun, saat itu sudah beberapa hari menginap di rumah mereka karena sedang menghindar dari suaminya. Shanty sedang mengurus perceraian dari suaminya karena sudah merasa tidak ada kecocokan lagi di antara mereka.

Malam itu, 21 Juni 2006..

“Kami mau tidur dulu, Mbak..”, kata Sandra kepada Shanty yang masih asyik menonton acara di televisi.
“Tadi anakku tertidur di kamarmu..”, kata Sandra lagi.
“Iya.. Pergilah istirahat sana. Kasihan si Lucky besok harus kerja lagi..”, kata Shanty sambil tersenyum.
“Biar anakmu tidur denganku..”, sambung Shanty. Akhirnya Sandra dan Lucky segera masuk ke kamarnya.
“Kasihan Mbak Shanty ya, Mas?”, kata Sandra sambil memeluk Lucky.
“Betul.. Sudah berapa lama dia pisah ranjang dengan suaminya?”, tanya Lucky sambil memjamkan matanya.
“Kalau tidak salah sih.. Sudah hampir 4 bulan, Mas”, kata Sandra sambil menyusupkan tangannya ke sarung Lucky.
“Ha?! Mas nggak pakai celana dalam ya?”, tanya Sandra agak kaget tapi tangannya erat memegang kontol Lucky.
“Memang tidak pakai kok..”, kata Lucky santai sambil tersenyum menatap Sandra.
“Jadi selama kita tadi nonton TV bersama Mbak Shanty.. Yee nakal ya!”, kata Sandra sambil meremas kontol Lucky agak keras.
“Nggak apa-apa kok.. Nggak kelihatan ini kan?”, kata Lucky sambil memiringkan badannya menghadap Sandra.
“Lagian kalau dia lihat juga.. Anggap saja amal.”, kata Lucky sambil tersenyum nakal.
“Nakal ya!”, kata Sandra sambil melumat bibir Lucky sementara tangannya tak henti mengocok kontol Lucky hingga tegang.
“Mm.. Enak sayang..”, bisik Lucky ketika kontolnya makin cepat dikocok.
“Buka dulu bajunya, Mas..”, kata Sandra sambil menghentikan tangannya.

Lalu Sandra bangkit dari kasur dan melepas seluruh pakaiannya. Lucky juga ikut bangkit lalu segera melepas pakaiannya.

“Jangan dulu ke kasur.. Hisap dulu dong..”, kata Lucky sambil mengecup bibir Sandra lalu tangannya agak menekan dan membimbing kepala Sandra ke arah kontolnya. Sandra mengerti dan menuruti kemauan suaminya itu.
“Ohh..”, desah Lucky terdengar ketika mulut Sandra sudah mengulum penuh kontolnya.
“Mm.. Kamu memang pintar.. hh..”, kata Lucky sambil memejamkan matanya ketika tangan Sandra dengan pelan mengocok kontolnya.
“Mm..”, terdengar suara Sandra ketika mulutnya tak henti menghisap kontol Lucky sambil tangannya tak henti mengocoknya.
“Ohh.. Ennakk sayangg..”, kata Lucky sambil memajumundurkan pantatnya seiring hisapan mulut Sandra pada kontolnya.
“Gantian, Mas..”, kata Sandra setelah menghisap kontol Lucky beberapa lama.

Sandra lalu membaringkan tubuhnya di kasur kemudian membuka lebar pahanya. Tampak bulu bulu halus tumbuh agak lebat di sekitar memeknya.

“Oww.. Enak sekali Mass..”, desah Sandra dengan mata terpejam ketika lidah Lucky mulai menjilati belahan memeknya dari atas ke bawah bolak-balik. Pantat Sandra langsung bergoyang seiring rasa nikmat yang dirasakannya.
“Ohh.. Teruss.. Ohh.”, desah Sandra makin keras ketika jari Lucky keluar masuk lubang memeknya yang sangat basah sambil tetap lidahnya menjilati kelentitnya.

Tubuh Sandra melengkung dan menggeliat serta menggelinjang menahan nikmat yang luar biasa.. Sampai akhirnya, serr! Serr! Serr! Sandra mendesakkan kepala Lucky ke memeknya ketika terasa semburan air mani dalam memeknya disertai rasa nikmat dan nyaman yang amat sangat.

“Ohh!! Ohh!!”, suara Sandra serak keluar dari mulutnya..
“Nikmat sekali Mass..”, desah Sandra dengan tubuh lemas terkulai di atas kasur.
“Kini giliranku..”, kata Lucky tersenyum sambil bangkit lalu menaiki tubuh Sandra.

Mulut Lucky yang masih basah oleh cairan memek Sandra segera melumat bibir Sandra. Sandra segera membalas lumatan bibir Lucky sambil memegang kontol Lucky dan mengarahkan ke lubang memeknya. Bless.. Bless.. Kontol Lucky ditekan dan dengan segera sudah keluar masuk memek Sandra.

“Ohh..”, kembali desah Sandra terdengar seiring keluar masuk kontol Lucky ke memeknya.
“Ohh enak sekali rasanya sayang..”, bisik Lucky ke telinga Sandra sambil tak henti memompa kontolnya.
“Kita enak-enakan di sini, sementara Mbak Shanty kesepian..”, kata Sandra sambil mengecup bibir Lucky.
“Ya itu sudah nasibnya, sayang..”, kata Lucky sambil terus merengkuh tubuh Sandra dalam kenikmatan.
“Ohh enakk, sayangg..”, desah Sandra sambil menggeliat keenakan.
“Mas suka nggak kepada Mbak Shanty?”, tanya Sandra di sela persetubuhan itu.
“Ya tentu saja suka, namanya juga kakak sendiri..”, kata Lucky sambil terus memompa kontolnya keluar masuk.
“Maksudku, suka secara fisik.. Lelaki suka wanita..”, kata Sandra sambil menggoyangkan pantatnya.
“Kok kamu membicarakan orang lain sih?”, kata Lucky.
“Ngak apa-apa kan, Mas? Lagian itu membuatku makin bergairah..”, kata Sandra sambil mempercepat goyangannya.
“Benarkah?”, tanya Lucky.
“Iyaahh.. Kadang saya suka membayangkan Mas bersetubuh dengan wanita lain. Dan itu membuat saya bergairah.. Nggak marah kan, Mas?”, tanya Sandra.
“Fantasi seperti itu boleh saja, sayang..”, kata Lucky sambil mengecup kening Sandra.
“Ohh.. Betulkahh?”, Sandra mendesah.
“Kalau saya mau Mas membahagiakan Mbak Shanty, mau nggak?”, tanya Sandra mengagetkan Lucky.

Serta merta mereka menghentikan gerakan sambil memek dan kontol mereka tetap berpautan.

“Masksud kamu apa, sayang..?”, tanya Lucky. Sandra tidak menjawab pertanyaan Lucky, tapi hanya tersenyum lalu mengecup bibir Lucky.
“Mbak Shanty adalah orang yang paling saya sayang, dan saya ingin dia mendapatkan yang terbaik..”, kata Sandra.
“Saya ingin bisa memberikan yang terbaik buat dia..”, lanjut Sandra.
“Mas adalah yang terbaik buat saya..”, kata Sandra sambil tersenyum.
“Saya rela membagi hal terbaik yang saya punya dengan Mbak Shanty..”, kata Sandra lagi.
“Mas ngerti kan maksud saya?”, Sandra sambil kembali menggoyang pantatnya.
“Mas ngerti.. Tapi apakah kamu benar-benar..”, ucapan Lucky terputus karena Sandra keburu melumat bibirnya.

Kembali mereka bersetubuh melanjutkan yang terhenti tadi.

“Saya benar-benar ingin Mas membahagiakan Mbak Shanty.. Juga itu membuat saya makin bergairah..”, kata Sandra sambil menggoyang pantatnya lebih cepat.
“Baiklah.. Ohh.. Ohh..”, desah Lucky sambil mempercepat gerakannya.
“Aku mau keluarr sayangg..”, kata Lucky sambil mendesakkan kontolnya makin dalam ke memek Sandra.

Crott! Croott! Croott! Air mani Lucky menyembur banyak di dalam memek Sandra.

“Ohh.. Enak sekali sayang..”, kata Lucky sambil mengecup bibir Sandra.
“Mas mau kan memenuhi permintaan saya..?”, tanya Sandra manja.
“Iya.. Baiklah..”, kata Lucky sambil tersenyum.
“Terima kasih. Sering saya membayangkan Mas menyetubuhi Mbak Shanty..”, bisik Sandra. Dan mereka pun kembali saling berpagutan tanpa melepas kontol dan memek mereka yang masih bertautan.

*****

Suatu pagi..

“Mas, Mbak Shanty.. Saya akan ke pasar dengan si kecil.., ada mau titip tidak?”, kata Sandra kepada mereka berdua.
“Aku ikut, San..”, kata Shanty.
“Nggak usah, Mbak.., saya mau ke rumah ibu Heru dulu soalnya”, kata Sandra berdalih.
“Ya sudah kalau begitu..”, kata Shanty.

Akhirnya Sandra dan anaknya segera meninggalkan rumah. Tinggal Lucky dan Shanty berdua.

“Tidak ke kantor, Luck?”, tanya Shanty.
“Saya sudah ijin untuk datang agak siang, Mbak..”, jawab Lucky sambil mendekati dan duduk di samping Shanty.
“Ada satu hal yang ingin saya tanyakan, Mbak..”, kata Lucky.
“Apa itu?”, tanya Shanty sambil menatap mata Lucky.
“Bagaimana urusan Mbak dengan Mas Rudy? Saya kasihan kepada Mbak..”, kata Lucky.
“Nggak tahulah, Luck.. Kita lihat saja nanti..”, kata Shanty sambil menyenderkan tubuhnya di kursi.
“Mbak putus asa?”, tanya Lucky sambil tangannya mencoba memegang tangan Shanty.

Shanty hanya diam ketika Lucky menggenggam tangannya. Hanya air mata yang terlihat menetes di sudut matanya.

“Aku tidak ingin hidup lebih lama lagi..”, kata Sandra sambil terisak.
“Saya mengerti bagaimana perasaan Mbak..”, kata Lucky air mata Shanty makin deras membasahi pipinya..
“Boleh aku pinjam bahumu, Luck? Aku nggak tahan..”, kata Shanty.

Lucky mengangguk. Dan Shanty segera merebahkan kepalanya di bahu Lucky dan menangis terisak. Lucky mengusap-ngusap rambut dan punggung Shanty untuk menenangkannya.

“Sudahlah, Mbak.. Mbak masih punya kami..”, kata Lucky sambil melepas rangkulan Shanty dan menatap matanya.
“Kami sayang Mbak.. Saya sayang Mbak..”, kata Lucky.
“Benarkah?”, tanya Shanty sambil meyeka air matanya. Lucky tak menjawab hanya mengangguk sambil menatap mata Shanty.

Lama mereka saling bertatapan. Ada rasa tak menentu ketika Shanty menatap mata Lucky. Apalagi ketika Lucky sedikit demi sedikit mendekatkan wajahnya hingga hampir bersentuhan. Shanty tak bisa berkata apa-apa ketika terasa ada rasa hangat dan nyaman ketika bibir Lucky menyentuh bibirnya. Ketika Lucky mengecup bibirnya, Shanty hanya bisa terpejam merasakan rasa nyaman dan rasa berdesir di hatinya.

“Mmhh..”, hanya itu yang keluar dari mulut Shanty ketika Lucky mulai melumat bibirnya.
“Luck.. Jangan.. Mmhh..”, kata Shanty ingin menolak tapi gairahnya telah mulai naik. Lucky tak menjawab, tapi makin hangta melumat bibir Shanty.
“Mmhh..”, Shanty mendesah dan mulai terbawa aliran gairahnya yang bangkit perlahan.

Dibalasnya ciuman Lucky dengan panas dan liar. Sebagai wanita yang telah lama tidak merasakan kehangatan sentuhan laki-laki, perlakuan Lucky membuat Shanty bergairah tinggi dan mulai melupakan kesedihannya saat itu.

“Luck.. Aku.. Aku.. Ohh..”, suara Shanty terputus putus serak ketika tangan Lucky mulai menggerayangi bagian depan baju dasternya. Dua gumpalan empuk di dada Shanty diremas perlahan oleh Lucky sambil tetap berciuman.
“Mbak, kita pindah ke kamar..”, ajak Lucky sambil menarik tangan Shanty.
“Tapi.. Tapi.. Bagaimana dengan Sandra?”, tanya Shanty ragu.
“Saya bisa menyayangi Mbak seperti ini karena Sandra sayang kepada Mbak..”, kata Lucky sambil menarik Shanty ke kamar.
“Maksudnya apa, Luck..”, tanya Shanty.

Lucky tidak langsung menjawab, tapi langsung memeluk dan melumat bibir Shanty. Shantypun karena sudah terbawa gairahnya langsung membalas pagutan Lucky. Keduanya terus berciuman sambil melepas pakaian masing-masing. Lucky merebahkan tubuh telanjang Shanty ke atas kasur.

“Ohh.. Luckyy.. Mmhh..”, desah Shanty keras ketika lidah dan mulut Lucky menggigit dan menjilati buah dadanya, apalagi ketika satu tangan Lucky turun ke perut lalu turun lagi ke memeknya yang sudah sangat basah.
“Saya sayang Mbak..”, kata Lucky sambil menatap Shanty lalu kepalanya mulai turun ke perut lalu turun lagi ke memek.
“Oohh.. Ohh.. Oww.. Sshh..”, jerit lirih Shanty sambil mata terpejam ketika lidah Lucky liar menjilati belahan memek dan kelentitnya bergantian.

Serr! Serr! Serr! Shanty merasakan rasa nikmat yang sangat luar biasa ketika cairan cintanya menyembur disertai dengan geliatan dan gelinjang tubuh ketika rasa nikmat itu menjalar.

“Ohh, Lucky.. Aku sudah lama tidak merasakan hal seperti ini.. Makanya aku keluar cepat..”, kata Shanty sambil menatap Lucky yang sudah berada di atas tubuhnya.
“Saya akan membahagiakan Mbak.. Kapan saja Mbak mau..”, kata Lucky sambil tersenyum lalu mengecup bibir Shanty.
“Tapi.. Sandra..”, tanya Shanty.
“Sandra sangat sayang pada Mbak..”, kata Lucky sambil mengarahkan kontolnya ke lubang memek Shanty.

Shanty meraih kontol Lucky dan membimbing ke lubang memeknya. Tak lama Lucky sudah turun naik memompa kontolnya di lubang memek Shanty.

“Ohh.. Mhh..”, desah Lucky dengan mata terpejam sambil memeluk Shanty.
“Ohh.. Enak sekaliihh.. Ohh..”, desah Shanty sambil menggoyangkan pinggulnya cepat.

Setelah beberapa lama, serr! Serr! Serr! Kembali Shanty menyemburkan air maninya disertai jeritan kenikmatan dari mulutnya.

“Nikmat sekali.. Ohh..”, bisik Shanty dengan tubuh lunglai.
“Tengkurap, Mbak..”, pinta Lucky sambil mencabut kontolnya.

Shanty menuruti permintaan Lucky tersebut. Shanty membalikkan badannya tanpa menungging, lalu melebarkan kakinya agar kontol Lucky bisa mudah masuk lubang memeknya. Bless..! Lucky mengarahkan kontol ke lubang memek Shanty dari belakang lalu menekan dan akhirnya kontol Lucky leluasa keluar masuk. Mata Lucky terpejam merasakan kenikmatan memompa kontolnya di memek Shanty sambil memegangi bongkahan pantat Shanty yang bulat padat.

“Ohh.. Saya mau keluarrhh..”, kata Lucky serak.
“Jangan dikeluarkan di dalam, Luck.. Aku nggak KB..”, kata Shanty cepat.

Lucky makin mempercepat pompaan kontolnya lalu dengan segera mengeluarkan kontolnya kemudian digesek-gesekkan di belahan pantat Shanty, sampai.. Croott! Croott! Croott! Air mani Lucky menyembur banyak dan jauh hingga punggung Shanty.

“Ohh.. Enak sekali, Mbak..”, kata Lucky sambil berbaring di samping tubuh Shanty yang masih tengkurap berlumuran air mani Lucky di punggung dan pantatnya.
“Apakah ini akan menjadi masalah, Luck?”, tanya Shanty.
“Tidak akan, Mbak.. Percaya kepada kata-kata saya..”, kata Lucky sambil tersenyum lalu mengecup bibir Shanty.

*****

Menurut Lucky, sampai dengan saat ini hubungan dengan Shanty, yang sudah resmi bercerai dengan suaminya, tetap berjalan. Sandra selalu meminta Lucky bercerita tentang hubungan sex-nya dengan Shanty tiap kali mau bersetubuh. Hal ini membuat Sandra sangat bergairah. Shanty dicarikan kontrakan oleh Lucky sekitar Jakarta Timur agar lebih leluasa menumpahkan kasih sayangnya kepada Shanty.

Selingkuh dengan gadis penuh gairah

29 Agustus 2010 Tinggalkan komentar

Kali ini saya akan coba menceritakan kisah kehidupan seks seorang gadis penuh gairah dan nafsu. Bahkan mungkin anda para cowok bakalan mengeluarkan air mani saat pertama kali bertemu dengannya. Jadi begini sebenarnya cerita dewasa kali ini. Belum lama ini aku kembali bertemu Nana (bukan nama sebenarnya). Ia kini sudah berkeluarga dan sejak menikah tinggal di Palembang. Untuk suatu urusan keluarga, ia bersama anaknya yang masih berusia 6 tahun pulang ke Yogya tanpa disertai suaminya. Nana masih seperti dulu, kulitnya yang putih, bibirnya yang merah merekah, rambutnya yang lebat tumbuh terjaga selalu di atas bahu. Meski rambutnya agak kemerahan namun karena kulitnya yang putih bersih, selalu saja menarikdipandang, apalagi kalau berada dalam pelukan dan dielus-elus. Perjumpaan di Yogya ini mengingatkan peristiwa sepuluh tahun lalu ketika ia masih kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di Yogya. Selama kuliah, ia tinggal di rumah bude, kakak ibunya yang juga kakak ibuku. Rumahku dan rumah bude agak jauh dan waktu itu kami jarang ketemu Nana.

Aku mengenalnya sejak kanak-kanak. Ia memang gadis yang lincah, terbuka dan tergolong berotak encer. Setahun setelah aku menikah, isteriku melahirkan anak kami yang pertama. Hubungan kami rukun dan saling mencintai. Kami tinggal di rumah sendiri, agak di luar kota. Sewaktu melahirkan, isteriku mengalami pendarahan hebat dan harus dirawat di rumah sakit lebih lama ketimbang anak kami. Sungguh repot harus merawat bayi di rumah. Karena itu, ibu mertua, ibuku sendiri, tante (ibunya Nana) serta Nana dengan suka rela bergiliran membantu kerepotan kami. Semua berlalu selamat sampai isteriku diperbolehkan pulang dan langsung bisa merawat dan menyusui anak kami.

Hari-hari berikutnya, Nana masih sering datang menengok anak kami yang katanya cantik dan lucu. Bahkan, heran kenapa, bayi kami sangat lekat dengan Nana. Kalau sedang rewel, menangis, meronta-ronta kalau digendong Nana menjadi diam dan tertidur dalam pangkuan atau gendongan Nana. Sepulang kuliah, kalau ada waktu, Nana selalu mampir dan membantu isteriku merawat si kecil. Lama-lama Nana sering tinggal di rumah kami. Isteriku sangat senang atas bantuan Nana. Tampaknya Nana tulus dan ikhlas membantu kami. Apalagi aku harus kerja sepenuh hari dan sering pulang malam. Bertambah besar, bayi kami berkurang nakalnya. Nana mulai tidak banyak mampirke rumah. Isteriku juga semakin sehat dan bisa mengurus seluruh keperluannya. Namun suatu malam ketika aku masih asyik menyelesaikan pekerjaan di kantor, Nana tiba-tiba muncul.
“Ada apa Na, malam-malam begini.”
“Mas Danu, tinggal sendiri di kantor?”
“Ya, Dari mana kamu?”
“Sengaja kemari.”
Nana mendekat ke arahku. Berdiri di samping kursi kerja. Nana terlihat mengenakan rok dan T-shirt warna kesukaannya, pink. Tercium olehku bau parfum khas remaja.
“Ada apa, Nana?”
“Mas.. aku pengin seperti Mbak Tari.”
“Pengin? Pengin apanya?” Nana tidak menjawab tetapi malah melangkah kakinya yang putih mulus hingga berdiri persis di depanku. Dalam sekejap ia sudah duduk di pangkuanku.
“Nana, apa-apaan kamu ini..” Tanpa menungguku selesai bicara, Nana sudah menyambarkan bibirnya di bibirku dan menyedotnya kuat-kuat. Bibir yang selama ini hanya dapat kupandangi dan bayangkan, kini benar-benar mendarat keras. Kulumanya penuh nafsu dan nafas halusnya menyeruak. Lidahnya dipermainkan cepat dan menari lincah dalam rongga mulutku. Ia mencari lidahku dan menyedotnya kuat-kuat. Aku berusaha melepaskannya namun sandaran kursi menghalangi. Lebih dari itu, terus terang ada rasa nikmat setelah berbulan-bulan tidak berhubungan intim dengan isteriku. Nana merenggangkan pagutannya dan katanya, “Mas, aku selalu ketagihan Mas. Aku suka berhubungan dengan laki-laki, bahkan beberapa dosen telah kuajak beginian. Tidak bercumbu beberapa hari saja rasanya badan panas dingin. Aku belum pernah menemukan laki-laki yang pas.”
Kuangkat tubuh Nana dan kududukkan di atas kertas yang masih berserakan di atas meja kerja. Aku bangkit dari duduk dan melangkah ke arah pintu ruang kerjaku. Aku mengunci dan menutup kelambu ruangan.
“Na.. Kuakui, aku pun kelaparan. Sudah empat bulan tidak bercumbu dengan Tari.”
“Jadikan aku Mbak Tari, Mas. Ayo,” kata Nana sambil turun dari meja dan menyongsong langkahku.
Ia memelukku kuat-kuat sehingga dadanya yang empuk sepenuhnya menempel di dadaku. Terasa pula penisku yang telah mengeras berbenturan dengan perut bawah pusarnya yang lembut. Nana merapatkan pula perutnya ke arah kemaluanku yang masih terbungkus celana tebal. Nana kembali menyambar leherku dengan kuluman bibirnnya yang merekah bak bibir artis terkenal. Aliran listrik seakan menjalar ke seluruh tubuh. Aku semula ragu menyambut keliaran Nana. Namun ketika kenikmatan tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh, menjadi mubazir belaka melepas kesempatanini.
“Kamu amat bergairah, Nana..” bisikku lirih di telinganya.
“Hmm.. iya.. Sayang..” balasnya lirih sembari mendesah.
“Aku sebenarnya menginginkan Mas sejak lama.. ukh..” serunya sembari menelan ludahnya.
“Ayo, Mas.. teruskan..”
“Ya Sayang. Apa yang kamu inginkan dari Mas?”
“Semuanya,” kata Nana sembari tangannya menjelajah dan mengelus batang kemaluanku. Bibirnya terus menyapu permukaan kulitku di leher, dada dan tengkuk. Perlahan kusingkap T-Shirt yang dikenakannya. Kutarik perlahan ke arah atas dan serta merta tangan Nana telah diangkat tanda meminta T-Shirt langsung dibuka saja. Kaos itu kulempar ke atas meja. Kedua jemariku langsung memeluknya kuat-kuat hingga badan Nana lekat ke dadaku. Kedua bukitnya menempel kembali, terasa hangat dan lembut. Jemariku mencari kancing BH yang terletak di punggungnya. Kulepas perlahan, talinya, kuturunkan melalui tangannya. BH itu akhirnya jatuh ke lantai dan kini ujung payudaranya menempel lekat ke arahku. Aku melorot perlahan ke arah dadanya dan kujilati penuh gairah. Permukaan dan tepi putingnya terasa sedikit asin oleh keringat Nana, namun menambah nikmat aroma gadis muda.
Tangan Nana mengusap-usap rambutku dan menggiring kepalaku agar mulutku segera menyedot putingnya. “Sedot kuat-kuat Mas, sedoott..” bisiknya. Aku memenuhi permintaannya dan Nana tak kuasa menahan kedua kakinya. Ia seakan lemas dan menjatuhkan badan ke lantai berkarpet tebal. Ruang ber-AC itu terasa makin hangat. “Mas lepas..” katanya sambil telentang di lantai. Nana meminta aku melepas pakaian. Nana sendiri pun melepas rok dan celana dalamnya. Aku pun berbuat demikian namun masih kusisakan celana dalam. Nana melihat dengan pandangan mata sayu seperti tak sabar menunggu. Segera aku menyusulnya, tiduran di lantai. Kudekap tubuhnya dari arah samping sembari kugosokkan telapak tanganku ke arah putingnya. Nana melenguh sedikit kemudian sedikit memiringkan tubuhnya ke arahku. Sengaja ia segera mengarahkan putingnya ke mulutku.
“Mas sedot Mas.. teruskan, enak sekali Mas.. enak..” Kupenuhi permintaannya sembari kupijat-pijat pantatnya. Tanganku mulai nakal mencari selangkangan Nana. Rambutnya tidak terlalu tebal namun datarannya cukup mantap untuk mendaratkan pesawat “cocorde” milikku. Kumainkan jemariku di sana dan Nana tampak sedikit tersentak. “Ukh.. khmem.. hss.. terus.. terus,” lenguhnya tak jelas. Sementara sedotan di putingnya kugencarkan, jemari tanganku bagaikan memetik dawai gitar di pusat kenikmatannya. Terasa jemari kanan tengahku telah mencapai gumpalan kecil daging di dinding atas depan vaginanya, ujungnya kuraba-raba lembut berirama. Lidahku memainkan puting sembari sesekali menyedot dan menghembusnya. Jemariku memilin klitoris Nana dengan teknik petik melodi.
Nana menggelinjang-gelinjang, melenguh-lenguh penuh nikmat. “Mas.. Mas.. ampun.. terus, ampun.. terus ukhh..” Sebentar kemudian Nana lemas. Namun itu tidak berlangsung lama karena Nana kembali bernafsu dan berbalik mengambil inisitif. Tangannya mencari-cari arah kejantananku. Kudekatkan agar gampang dijangkau, dengan serta merta Nana menarik celana dalamku. Bersamaan dengan itu melesat keluar pusaka kesayangan Tari. Akibatnya, memukul ke arah wajah Nana. “Uh.. Mas.. apaan ini,” kata Nana kaget. Tanpa menunggu jawabanku, tangan Nana langsung meraihnya. Kedua telapak tangannya menggenggam dan mengelus penisku.
“Mas.. ini asli?”
“Asli, 100 persen,” jawabku.
Nana geleng-geleng kepala. Lalu lidahnya menyambar cepat ke arah permukaan penisku yang berdiameter 6 cm dan panjang 19 cm itu, sedikit agak bengkok ke kanan. Di bagian samping kanan terlihat menonjol aliran otot keras. Bagian bawah kepalanya, masih tersisa sedikit kulit yang menggelambir. Otot dan gelambiran kulit itulah yang membuat perempuan bertambah nikmat merasakan tusukan senjata andalanku.
“Mas, belum pernah aku melihat penis sebesar dan sepanjang ini.”
“Sekarang kamu melihatnya, memegangnya dan menikmatinya.”
“Alangkah bahagianya MBak Tari.”
“Makanya kamu pengin seperti dia, kan?”
Nana langsung menarik penisku. “Mas, aku ingin cepat menikmatinya. Masukkan, cepat masukkan.”
Nana menelentangkan tubuhnya. Pahanya direntangkannya. Terlihat betapa mulus putih dan bersih. Diantara bulu halus di selangkangannya, terlihat lubang vagina yang mungil. Aku telah berada di antara pahanya. Exocet-ku telah siap meluncur. Nana memandangiku penuh harap.
“Cepat Mas, cepat..”
“Sabar Nana. Kamu harus benar-benar terangsang, Sayang..”
Namun tampaknya Nana tak sabar. Belum pernah kulihat perempuan sekasar Nana. Dia tak ingin dicumbui dulu sebelum dirasuki penis pasangannya. “Cepat Mas..” ajaknya lagi. Kupenuhi permintaannya, kutempelkan ujung penisku di permukaan lubang vaginanya, kutekan perlahan tapi sungguh amat sulit masuk, kuangkat kembali namun Nana justru mendorongkan pantatku dengan kedua belah tangannya. Pantatnya sendiri didorong ke arah atas. Tak terhindarkan, batang penisku bagai membentur dinding tebal. Namun Nana tampaknya ingin main kasar. Aku pun, meski belum terangsang benar, kumasukkan penisku sekuat dan sekencangnya. Meski perlahan dapat memasukirongga vaginanya, namun terasa sangat sesak, seret, panas, perih dan sulit. Nana tidak gentar, malah menyongsongnya penuh gairah.
“Jangan paksakan, Sayang..” pintaku.
“Terus. Paksa, siksa aku. Siksa.. tusuk aku. Keras.. keras jangan takut Mas, terus..” Dan aku tak bisa menghindar. Kulesakkan keras hingga separuh penisku telah masuk. Nana menjerit, “Aouwww.. sedikit lagi..” Dan aku menekannya kuat-kuat. Bersamaan dengan itu terasa ada yang mengalir dari dalam vagina Nana, meleleh keluar. Aku melirik, darah.. darah segar. Nana diam. Nafasnya terengah-engah. Matanya memejam. Aku menahan penisku tetap menancap. Tidak turun, tidak juga naik. Untuk mengurangi ketegangannya, kucari ujung puting Nana dengan mulutku. Meski agak membungkuk, aku dapat mencapainya. Nana sedikit berkurang ketegangannya.
Beberapa saat kemudian ia memintaku memulai aktivitas. Kugerakkan penisku yang hanya separuh jalan, turun naik dan Nana mulai tampak menikmatinya. Pergerakan konstan itu kupertahankan cukup lama. Makin lama tusukanku makin dalam. Nana pasrah dan tidak sebuas tadi. Ia menikmati irama keluar masuk di liang kemaluannya yang mulai basah dan mengalirkan cairan pelicin. Nana mulai bangkit gairahnya menggelinjang dan melenguh dan pada akhirnya menjerit lirih, “Uuuhh.. Mas.. uhh.. enaakk.. enaakk.. Terus.. aduh.. ya ampun enaknya..” Nana melemas dan terkulai. Kucabut penisku yang masih keras, kubersihkan dengan bajuku. Aku duduk di samping Nana yang terkulai.
“Nana, kenapa kamu?”
“Lemas, Mas. Kamu amat perkasa.”
“Kamu juga liar.”
Nana memang sering berhubungan dengan laki-laki. Namun belum ada yang berhasil menembus keperawanannya karena selaput daranya amat tebal. Namun perkiraanku, para lelaki akan takluk oleh garangnya Nana mengajak senggama tanpa pemanasan yang cukup. Gila memang anak itu, cepat panas.
Sejak kejadian itu, Nana selalu ingin mengulanginya. Namun aku selalu menghindar. Hanya sekali peristiwa itu kami ulangi di sebuah hotel sepanjang hari. Nana waktu itu kesetanan dan kuladeni kemauannya dengan segala gaya. Nana mengaku puas.

Setelah lulus, Nana menikah dan tinggal di Palembang. Sejak itu tidak ada kabarnya. Dan, ketika pulang ke Yogya bersama anaknya, aku berjumpa di rumah bude.
“Mas Danu, mau nyoba lagi?” bisiknya lirih.
Aku hanya mengangguk.
“Masih gede juga?” tanyanya menggoda.
“Ya, tambah gede dong.”
Dan malamnya, aku menyambangi di hotel tempatnya menginap. Pertarungan pun kembali terjadi dalam posisi sama-sama telah matang.
“Mas Danu, Mbak Tari sudah bisa dipakai belum?” tanyanya.
“Belum, dokter melarangnya,” kataku berbohong.
Dan, Nana pun malam itu mencoba melayaniku hingga kami sama-sama terpuaskan.

Kategori:Tak Berkategori Tag:,

Istriku selingkuh dengan cowok negro

29 Agustus 2010 Tinggalkan komentar

Kami sudah menikah dengan,pernikahan yang kami murni adanya cinta kasih.Namun saat suatu hari ada kejadian yang sungguh tidak terbyangkan Istriku tercinta di entot oleh orang Negro.Seram sekali bukan?orang berkulit hitam berbadan kekar dan sedikit menampakkan kejantanannya.Apalagi denger-denger dan lihat vidio porno alat kelamin mereka sungguh besar 20 cm minim.Siapa cewek yang tidak ingin lubang memek di masuki konthol besar.PAstinya enak!samapi-sampai instriku juga merasakan batang penis negro men Namaku Toni umur 30th, nama istriku Diah umur 27th. Diah mempunyai bentuk tubuh yang sangat proporsional, dari tinggi badan 165cm dan ukuran payudaranya benar-benar sangat serasi. Ditunjang dengan kulit putihnya yang lembut, serta rambut lurus panjang sebahu dengan kilau hitamnya.

Waktu itu sehabis melahirkan anak pertama kami, Diah terlihat bodynya menjadi mekar semua. Waktu itu ada keinginanku untuk mengajaknya salah satu salon perawatan tubuh guna mengembalikan keindahan tubuhnya seperti semula. Namun kata Diah menyarankan nanti aja kalo sesudah anak kami umur 1th, dimana Diah sudah tidak menyusui lagi.
1 tahun berlalu sesuai dengan yang aku janjikan akhirnya kami menuju salah satu salon tempat perawatan tubuh. Disitu saya baca fasilitasnya sangat lengkap, mulai dari massage sampe luluran dan spa pun tersedia. Selain itu juga didukung oleh para ahli yang saya liat semuanya wanita. Kira-kira 1minggu 3x saya mengajak Diah kesalon tersebut, Selama kurang lebih 2 bulan. Hingga para pegawai disalon tersebut sampai hafal dan mengenal kami. Sampai pada akhirnya Diah menjadi pelanggan salon tersebut. Kadang-kadang 1 minggu sekali Diah aku ajak kesana sekedar untuk relaksasi, kalo tidak 2 minggu sekali.
Pada awal bulan memang saya tidak diperkenankan masuk untuk melihat proses perawatan tubuh pada istri saya, karena laki-laki dan salon tersebut memang diperuntukan bagi wanita. Akhirnya mereka menawarkan kepada saya sebagai pelanggan tetap, bahwa di salon tersebut juga ada sebuah penginapan yang letaknya dibagian dalam salon tersebut. Penginapan itu berupa kamar-kamar untuk pelanggan, dimana terjaga privasinya. Dengan fasilitas AC, jacuzi, kamar mandi uap dan tidak lupa springbed yang nyaman, dengan tujuan bagi wanita yang sudah beristri, sang suami bisa ikut menemani didalam tanpa mengganggu pelanggan salon yang lain khususnya wanita. Dengan adanya penawaran seperti itu tentu saya ambil.

Selesai reservasi kami diantar ke sebuah kamar yang telah saya pesan didepan. Kami dipersilahkan masuk dan menunggu dipanggilkan ahlinya perawatan tubuh. Tidak terlalu lama pintu kamar diketok seseorang. Ternyata datang juga orang yang kita tunggu. Seorang wanita namanya Ani, kulitnya putih bersih, cantik dan cukup sexy juga menurutku. Ternyata selama ini Ani lah yang sering menangani perawatan tubuh istriku. Waktu aku panggil mbak dia malu katanya umurnya masih muda dari saya, akhirnya untuk lebih akrab aku panggil Ani aja.
“Mbak Diah ada keluhan apa? Atau mau sekedar relaksasi saja?” tanya Ani.
“Yach sekedar relaksasi aja An, dah lumayan lama ndak kesin.i” jawab Diah.
Lalu Ani mengusulkan kepada Diah kalo massage ringan disertai luluran keseluruh tubuh. Sebelumnya Ani mempersilahkanku duduk disofa didalam kamar tersebut, sambil menyarankan sebuah minuman semacam jamu kepadaku. Yang katanya bisa menambah stamina dan menghilangkan lelah ditubuh, sambil menunggu istriku. Datang juga akhirnya minuman tersebut agak hangat dan rasanya ternyata manis, saya pikir pahit karena jamu. Ani menyalakan sebuah alat berupa aroma terapi untuk menambah suasana yang nyaman dan rilex. Kemudian Diah disuruh melepaskan semua pakaiannya, karena yang pertama adalah luluran keseluruh tubuh.
Setelah tubuh istriku Diah telanjang total serta merta Diah berbaring diatas kasur memunggungi Ani. Mulailah Ani melumuri punggung hingga kekaki Diah dengan ramuan lulur yang aku sendiri kurang paham. Sambil jari jemari kedua tangannya memijat Diah mulai dari leher, bahu, punggung pantat dan sampe ke kaki. Setelah agak lumayan lama, Ani menyuruh istriku berbalik menghadap kedepan, terlihat bukit payudara Diah yang dulu sehabis menyusui terlihat kendor dengan warna puting agak kehitam-hitaman, sekarang sudah kencang dan warna putingnya terlihat merah muda menggemaskan. Dilulurinya seluruh badan Diah oleh Ani dari atas sampe
bawah tak luput payudara dan meqinya. Mulai pemijatan ringan dari leher turun kedada, sampe payudara dan puting istriku tak luput dari pijatannya. Kulihat Diah merasa nikmat dan terdengar sedikit desahan kecil tanda kenikmatan tersebut.
“Gimana mbak Diah, enak yaaa?” tanya Ani.
“Iya An, pijatanmu bener-bener bikin relax dan nikmat dirasakan.” jawab istriku.
Dengar hal seperti itu dimana kondisinya yang sangat nyaman dan rilex sepertinya pikiranku cuex aja, aahhh itu khan proses umum dalam terapi pikirku. Ani melanjutkan pijatannya sampe kebawah dan sekarang tidak hanya memijat paha dan kaki Diah saja tetapi jari-jemari Ani yang lentik memainkan bibir vagina dan klitoris Diah. Digosok-gosok dan dielus dengan lembut membuat klitoris Diah makin menonjol dan keliatan sebesar biji kacang tanah. Sebelumnya memang sejak melahirkan istriku Diah selalu mencukur rambut disekitar vaginanya biar nampak bersih. Desahan demi desahan terdengar lirih tapi pasti, nafsu birahi Diah perlahan mulai meninggi. Hebat juga pikirku si Ani ini bener ahli dalam merangsang sesama wanita. Ya memang dalam pandangan istriku sebelumnya merasa jijik melihat hubungan sex antar wanita atau lesbian. Tapi anehnya diperlakukan oleh Ani seperti itu diem aja yaaa?
“Mbak Diah, apa boleh vagina dalamnya saya beri lulur supaya bersih?” tanya Ani.
“Boleh aja ndak apa-aappapa kok An” jawab Diah terbata-bata oleh kenimatan.
“Mas ngijinin khan, kalo Vagina mbak Diah juga saya bersihkan, supaya kalo berhubungan lebih nikmat mas” kata Diah kepadaku sambil merayu dan minta ijin dahulu.
Jawabku “boleh aja kok”, khan juga suatu proses terapi pikirku.
Aneh juga pikiranku bisa seperti itu, selain itu aku juga terangsang melihat perlakuan Ani kepada Diah. Mungkin karena minuman tadi atau aroma terapi yang bener-bener membuatku rilex dan bersikap cuex. Setelah mendapat ijin, Ani melanjutkan niatnya. Saya liat jari telunjuk Ani mulai keluar masuk meqi Diah. Pelan-pelan dengan gerakan yang lembut, sedang ibu jari Ani menggosok-gosok klitoris istriku. Tidak terlalu lama dan keliatannya Diah juga belum orgasme, Ani menyudahi permainannya. Ani mengatakan kepadaku bahwa ini bagian dari ritual rilexsasi katanya, jadi tidak perlu sampe orgasme. Terlihat di raut muka Diah akan ketidakpuasannya. Selesai hal tersebut, Ani meminta Diah mandi untuk membersihkan badan. Tadinya Diah ogah-ogahan beranjak dari tempat tidur, mungkin aja karena tidak puas. Tapi Ani berkata katanya ini baru sebagian saja dan nanti akan ada yang lebih hebat. Mau juga Diah mandi dijacuzi dengan air hangat hingga bersih. Selesai mandi dan mengeringkan badannya dengan handuk, Diah duduk disofa disampingku sambil berbalut handuk saja.
Ani sedikit ngobrol-ngobrol dan katanya, “apa mau dilanjutkan atau istirahat dahulu?”
Belum sempat aku jawab ehh Diah udah nggak sabar ngomong duluan, katanya “ok aja selagi seger badannya.”
“Apa ndak sebaiknya mbak Diah minta pendapat dan ijin dari mas Toni sebagai suami?” Pinta Ani kepada Diah.
“Gimana mas boleh ndak tawaran Ani tadi?” pinta Diah.
“Boleh-boleh aja khan memang sudah seharusnya” jawabku. Karena dalam pikiranku memang seperti itu prosesnya.
Kemudian aku menanyakan pada Ani, “sebetulnya proses selanjutnya seperti apa?”
Ani menerangkan “untuk selanjutnya pijatan-pijatan yang ringan dan kalo mau juga bisa sampai kepuasan kenikmatan yang dalam, itupun kalo mas Toni mengijinkan”, terang Ani kepadaku.
“Bukannya aku tadi sudah memperbolehkan” jawabku.
“Iya mas, tapi nanti ada satu syarat bila mas Toni bener-bener menyetujui” kata Ani. “Kira-kira seperti apa syarat tersebut?” tanyaku.
Ani menjelaskan bahwa sebetulnya syaratnya sangat mudah yaitu Ani menyuruhku tetap diam dan tidak boleh mencampurinya waktu bekerja, atau Ani tidak menjamin akan kesuksesan terapi ini. Dengan berat hati asal bisa menyenangkan istriku ndak apa-apa untuk mengambil resikonya. Setelah semua setuju akhirnya Ani meminta Diah melepaskan ikatan handuk yang melingkar menutupi keindahan tubuh sexy nya. Dan menyuruh Diah untuk berbaring rilex di tempat tidur dengan menghadap kedepan. Perlahan-lahan tapi pasti Ani mulai memijat kembali seluruh tubuh Diah. Tak lupa kedua payudara Diah ikut diremas-remas dan dipilin putingnya hingga tegak berdiri. Dan tak lupa meqinya Diah juga digosok dan lubangnya dimasukin jari telunjuk Ani, dengan gerakan yang simultan, mulai kelihatan desahan-desahan Diah. Terlihat meqinya mulai basah dan licin. Desahan kenikmatan dan racauan Diah mulai terdengar sangat jelas. Sebentar lagi terlihat istriku Diah akan orgasme, secara disengaja Ani menghentikan aktifitasnya.
“An kekenapa berberhenti? Aaku hampir nyampee nichh” kata Diah.
“Tenang aja mbak Diah, sekarang mbak tanya suami dulu apa masih mau diteruskan atau tidak” jawab Diah.
“Mas boolehh yaa diterusin, aaku dah nanggung nich please yaaa please banget” Diah merayuku. “Gimana mas toni?” tanya Ani.
Akupun mengiyakan karena kulihat Diah sudah bener Birahi Tinggi. Kemudian Ani tiba-tiba saja mengajakku pindah dari sofa dan duduk dikursi kayu biasa dan dengan cekatan dia mengikatku dengan kencang ke kursi. Sebelum hilang kagetku Ani mencoba menenangkanku, katanya ini sebagai jaminan kata-kataku supaya tidak mengganggu pekerjaannya. Setelah itu Ani keluar kamar, didalam aku lihat Diah sepertinya sudah tidak memperdulikan aku lagi. Kulihat kedua tangannya sibuk meremas payudara dan menggosok bibir meqinya, seakan-akan sudah tidak sabar. Sesaat kemudian Ani masuk, dan yang bikin aku kaget dibelakangnya dia mengajak 2 orang laki-laki tinggi sekitar 180 cm, berkulit hitam dan berotot kekar. Keduanya memakai piyama. Ani memperkenalkan bahwa keduanya adalah asistennya dan ini adalah service plus dari salon. Belum sempat hilang kagetku, Ani memberi isyarat kepada keduanya. Serta merta mereka melepaskan piyamanya. Busyet ternyata dibalik piyama, mereka tidak mengenakan selembar kainpun. Terlihat penisnya belum berdiri tapi sudah lumayan besar.
Ani menggandeng tangan Diah istriku untuk turun dari tempat tidur. Sesaat kemudian seperti kerbau yang dicokok hidungnya, Diah langsung berjongkok dihadapan mereka. Tanpa ada perintah, Diah langsung menghisap salah satu penis pria tersebut hingga bener-bener membesar. Kira-kira besarnya sebesar kaleng fanta slim dan panjangnya sekitar 20 cm. Aku lihat Diah hanya berhasil mengulum topi bajanya tidak sampai bisa masuk semua di mulutnya yang mungil. Salah seorang laki-laki negro tersebut mengangkat Diah dan membaringkannya diatas tempat tidur. Ditempelkan penisnya yang besar dibibir meqi istriku, secara perlahan-lahan dan pasti penis itu dipaksa masuk kelubang meqi Diah. Bleeezzz masuk juga penis tersebut disertai erangan, desahan kenikmatan Diah. Mula-mula penis tersebut dimaju mundurkan secara perlahan-lahan hingga meqi Diah terbiasa dan tidak merasa sakit. Terlihat sangat jelas sekali penis orang negro itu menggosok dan mengaduk-aduk meqi Diah. Terlihat wajah Diah hanya sesaat sudah akan mencapai orgasmenya yang tertunda.
“Aaaahhhaaahhh aakuuu keeluarrr ssssstttttt” teriak Diah.
Melihat Diah yang semakin bergairah, satu orang negro yang laen mendekatkan penisnya kemulut Diah. Tanpa ada perintah, langsung penis hitam dan besar dikulum walaupun hanya topi bajanya saja yang masuk. Gerakan penis sinegro dalam meqi Diah yang beraturan keluar masuk membuat Diah semakin larut dalam nafsu sexnya.
Sambil mengulum penis sesekali dikeluarkan serta meracau, “ohhhoohhhh yesss eennakk teeruusss… kenthuuu akku sepuaassmu aahhhhaaahhh… aakuu.. aku mau nyaammpeee ooooohhhhhhhhh.” Seiring teriakan, akhirnya Diah orgasme yang kedua hanya dalam selang waktu kurang dari lima menit.
Ani dan aku hanya menonton dari dekat.
“Gimana mbak Diah, enak mana dikenthu suamimu apa merasakan penis orang negro ini?” tanya Ani.
“Eeenakkk baangettt An, aaku… akuuu pengen terruuusss… aaaahhhhh aakkuuu keluar lagiiii Annn.” jawab Diah.
Seperti sebuah shock therapy ditelingaku mendengar jawaban Diah istriku.
“Wah mas Toni terangsang jugaaa yach liatin istrinya dikerjain orang laen.” kata Ani.
Memang jujur saja aku bener-bener terangsang, sampe si adikku keliatan menyembul didalam celana jeans panjangku. Negro yang dikulum penisnya gantian menggantikan temannya untuk merasakan meqinya Diah. Sekarang Diah disuruh Dogstyle, tak kalah besar penis yang kedua ini dengan mudah masuk dan mengobok-ngobok meqi istriku. Karena meqinya Diah sudah basah dengan sperma kewanitaannya yang telah 2 kali orgasme.
“Gimana mbak Diah, tuh lihat suami kamu juga terangsang liat mbak dientotin orang, liat tuh adiknya keliatan khan nonjol dalam celana hehehe…” canda Ani.
“Maaasss… masss suka yaaa liat Diah diiientotin ama orang laen sssshhhhhh…” kata Diah sambil mendesah keenakan.
“Ngomong aja mas ndak usah malu ini service gratis kok dari kami, khan itung-itung sebagai suatu variasi kenikmatan sex dalam keluarga hehehe…” rayu Ani.
Mau ndak mau aku mengakuinya sebagai suatu rekreasi kehidupan sex. Aku liat Diah sedang diDogstyle dan dari depan Diah mengulum penis negro yang satunya. Dengan sangat bernafsu, Diah mengulum penis si negro hingga keluar air liur dan terdengar suara-suara srruuuupp… sruuuup… seperti orang sedang makan sup. Setelah itu Ani menyuruh kedua negro tadi melakukan penetrasi ke anus dan meqi Diah. Mendengar itu Diah kaget dan berusaha menolak.
“Tenang aja mbak Diah, paling sakit sedikit kok, mau khan bikin suasananya tambah panas?” rayu Ani.
Belum sempat dijawab, seorang negro yang lagi memompa penisnya dalam meqi Diah langsung mengeluarkan penisnya dan mengarahkan ke anusnya Diah. Sedang yang seorang lagi sudah siap dengan berbaring menunggu Diah memasukan penisnya kedalam meqinya. Blezzzz dua penis melakukan penetrasi saling bergantian di anus dan di meqi istriku Diah. Mendapatkan sensasi permainan sex yang baru, membuat Diah kehilangan kontrol meracau mendesah mengeluarkan kata-kata yang sungguh mengagetkan.
“Ooohhhh yaaaa teerruuusss… terruuus eenntooot aakuuu ssoodomi akkku enntottt meqiiikkuuu… ohhh yeeeesss ooohhhh maasss Toooniii aaakkuuu… aaakkkuuu uuddaahhh jadddiiii buudakkksex akuuuu udddaaahhh jaaddiiii LONTHEEE…” teriak Diah.
Entah berapa kali Diah mengalami orgasme dan saya liat kedua negro sudah sekitar satu jam menyetubuhi istriku. Melihat itu Ani hanya senyum-senyum, kemudian dia melepaskan ikatanku karena aku juga merasa tidak akan mengganggu. Kemudian 2 orang negro mulai keliatan akan orgasme, dengan komando Ani kedua negro itu mencabut penisnya sejurus kemudian membaringkan Diah terlentang diatas tempat tidur. Dan satu persatu mereka menyemprotkan air maninya ke dalam mulut istriku dan dipaksanya untuk menelan. Terlihat sperma kedua negro itu putih kekuning-kuningan serta lengket dan agak bau. Mau tidak mau istriku menelannya, bener-bener bagaikan seorang pelacur. Selesai kedua negro itu memakai piyamanya dan ngeloyor keluar kamar.
“Gimana mbak, puas dengan permainan tadi?” tanya Ani.
“Puas sekali An makasih yaaa..”
“Buat mas Toni juga makasih mas” jawab Diah.
“Tenang mbak Diah, Ani masih punya hadiah juga buat mas Toni” jawab Ani.
Belum hilang rasa penasaranku hadiah apa yang bakal aku terima. Tiba-tiba Ani melepaskan semua bajunya dan telanjang bulat didepanku.
“Tadi mas khan dah liat istrinya bermain sama orang lain, sekarang mas saya hadiahi tubuh Ani, mau khan mas?” tanya Ani.
Tanpa menunggu lama, aku lepas juga semua pakaian yang menempel dibadanku. Aku ciumi bibirnya Ani terus turun ke bukitnya yang putih dan montok. Aku remas-remas dan sedikit digigit, sedang tangan kananku mengexplorasi meqinya Ani. Aku masukin satu jari telunjuk kemeqinya, tambah lagi 2 jari tengah dan jari manis mengobok-obok meqinya Ani. Kini Ani hanya bisa mendesah dan meracau kenikmatan.
“Mass… masss Toni aakuuu keluar masss aaahhh ssssshhhhh” teriak Ani pada orgasme pertamanya.
Tanpa menunggu foreplay yang lebih lama karena saat itu adikku sudah berdiri tegak walaupun tak sebesar punya kedua negro tadi, aku masukin ke meqinya Ani. Langsung aku pompa dengan keras hinga terdengar suara plokk… ploookkk ketika buah pelirku memukul-mukul bibir vaginanya Ani. Aku terlentangkan Ani sambil aku kulum kedua bukit payudaranya bergantian. Kemudian aku balik dia dengan posisi Dogystyle hingga Ani mencapai 2kali orgasme.
“Teruuusss maasss ooohhh nikmat banget masss…. terruuuussss entoott akuuu masss ssshhhhh aahhhhh aakkkuu keluaarrrr…” teriak Ani.
Setelah sekitar lebih dari 30 menit, kurasakan penisku mulai berdenyut tanda mau orgasme. Cepat-cepat aku minta Ani untuk mengulumnya aaahhh.. akhirnya aku keluarin spermaku kedalam mulut Ani dan ditelan oleh Ani. Selama percintaanku dengan Ani, istriku Diah hanya melihat disamping kami. Tidak mengganggu atau melarang seperti aku melihat Diah saat bersetubuh dengan 2 pria negro.
“Wah mbak Diah, ternyata suami kamu hebat juga yaaaa. Aku aja ampe 2 kali keluar.” Puji Ani.
Diah hanya mengiyakan saja mendengar pujian untukku. Kemudian Ani mengingatkan kalo tadi sepertinya Diah berkata lonthe untuk dirinya. Mendengar itu Diah jadi tersipu-sipu malu sambil mencubit Ani. Posisi kami bertiga saat ini sedang telanjang semua. Ani akan memberi hadiah lagi kepada Diah, pikirku ini hadiah kagak ada habis-habisnya.
“Semoga mbak Diah dan mas Toni tetep berkunjung ke salon kami. Maka Ani kasih hadiah spesial buat mbak Diah, semoga mbak Diah tidak tersinggung.” kata Ani.
Sesaat Ani merogoh tas yang dibawanya dan mengeluarkan seuntai kalung berwarna silver, ditengahnya ada gantungan bertuliskan salon tersebut dan diujung kalung tersebut di sambungkan oleh 2 cicin mirip anting. Ani langsung menelpon ke recepsionist untuk mendatangkan kembali kedua negro tadi. Kaget juga aku dan Diah, apa mau ada percintaan lagi pikir kami berdua. Sebelum kami bertanya Ani langsung menenangkan kami.
“Jgn takut mas, Ani hanya minta bantuan tenaga mereka berdua aja kok.” kata Ani.
Akhirnya datang juga kedua negro tadi. Ani meminta istriku Diah berbaring terlentang di atas tempat tidur. Setelah itu kedua negro itupun naik ke kasur dan tanpa aba-aba mereka menjilati kedua puting susu istriku. Terlihat kedua puting susu istriku semakin mencuat menegang tanda istriku mulai terangsang. Ani langsung memerintahkan mereka berdua memegangi kedua tangan dan kaki istriku. Ani juga meminta istriku menggigit pelindung gigi. Heran pikirku mau diapakan lagi istriku ini.
“Jangan khawatir mas dan mbak, relax aja nanti pasti bagus deh hasilnya.” kata Ani.
Belum sampai aku mau menjawab tiba-tiba aku melihat Ani sudah memegang jarum, dan keliatannya jarum tersebut biasa dipakai buat bikin lubang piercing. Langsung bles… bles… dua kali Ani menusukan jarum tersebut ke kedua puting Diah yang sudah menegang. Dan dengan cekatan, Ani memasukkan ujung kalung tadi yang ada antingnya, masing-masing ujung ke satu puting. Terlihat istriku Diah meronta kesakitan sambil menggigit pelindung giginya yang diberikan oleh Ani. Sekarang istriku diminta berkaca dan di dadanya tergantung sebuah kalung perak bertuliskan nama salon tersebut dan di balik nama salon pada gantungan kalung bertuliskan dengan huruf kapital “LONTHE”
Sebelum Ani dan kedua negro tersebut pergi, Ani mengajakku untuk menonton adegan percintaan kembali Diah dengan si negro. Aku dan Ani hanya menonton Diah disetubuhi untuk yang kedua kalinya dan sekarang kedua negro tersebut menyetubuhi Diah bergantian hingga satu jam lebih. Dengan tehnik bergantian saling menggantikan, bila sang negro satu mau keluar dia berhenti dan digantikan rekannya begitu terus berlanjut. Terdengar racauan, teriakan dan desahan kenikmatan Diah yang tak terlukiskan hebatnya. Sambil mengeluarkan kata-kata jorok seperti Diah teriak-teriak menyebut dirinya bener LONTHE.
Hal ini mendapatkan tepuk tangan dari Ani dan berkata “sekarang mbak Diah bener-bener seperti lonte sejati dan selamat buat mas Toni yang sudah menjadi germonya.” Plok… plok… plok… suara tepuk tangan Ani.
Memang itu dikatakan Ani dalam suasana yang sangat akrab jadi tidak sampe rasanya aku pengen marah. Setelah satu jam lebih, akhirnya kedua negro itupun mencapai orgasmenya dan menumpahkan seluruh spermanya ke dalam rahim istriku Diah. Akhirnya Ani mengucapkan terima kasih pada kami berdua atas kunjungannya dan kami pun chekout. Dalam perjalanan kerumah, kami bercerita tentang kesan-kesan di salon tersebut. Dan tak lupa istriku Diah terus memandangi kalung barunya yang menggantung didada, tepatnya menggantung dikedua puting susunya. Karena pulangnya ternyata Diah hanya mengenakan baju yang sedikit longgar tanpa
memakai Bra.
“Mas, lain kali kita kesana lagi yaaa.” pinta Diah.
Aku jawab, “ok aja, asal aku juga boleh main sama tukang salonnya yang cantik-cantik.”
Kategori:Tak Berkategori Tag:,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: