Beranda > Tak Berkategori > Asyiknya Ngentot dengan Baby Sitterku

Asyiknya Ngentot dengan Baby Sitterku


Cerita Dewasa – Enaknya memiliki seorang baby sitter yang montok, akupun bisa merasakan tubuhnya yang seksi, berikut cerita seks selengkapnya. Sekarang ini aku adalah seorang ayah dari dua orang putri dan seorang putra. Kehidupan perkawinanku biasa-biasa saja, tidak terlalu menggebu dalam masalah hubungan pasutri. Meskipun sebenarnya aku termasuk lelaki yang mempunyai nafsu besar, tapi karena istriku sangat tidak pandai dalam hal satu ini, sering aku merasa kosong dan hambar.

Cerita ini terjadi sekitar tahun 2003 akhir, bermula ketika babby sitter anakku yang kedua dipanggil pulang orang tuanya karena kakaknya juga baru melahirkan. Selang seminggu kemudian bapakku datang ke Jakarta mengantarkan seorang baby sitter baru untuk anakku. Sejak pertama kali melihatnya, aku sudah merasa terangsang sekali terutama bila melihat dua gundukan besar di dadanya yang sampai saat ini aku tidak tahu pasti berapa ukurannya, tapi sangat besar mungkin 36D.


Sebut saja namanya Mimin dan saat itu dia baru berusia 17 tahun tapi mempunyai tubuh yang bongsor dengan tinggi 167cm. Paras mukanya biasa saja dan bentuk badannya juga biasa. Hanya dua gundukan itu yang selalu menghantui pikiranku sejak pertama kali melihatnya.
Sejak kedatangannya tidak ada yang special yang terjadi, karena aku juga tidak pernah berusaha untuk berbuat sesuatu yang mengarah kepada berhubungan seks dengannya. Dan dia nampaknya juga bisa membawakan diri dengan baik dan juga sayang pada putriku yang kedua yang saat itu baru berusia 3-4 bulan juga putri pertamaku.
Oh ya pembaca, kami masih tinggal di pavilion rumah mertuaku yang ada pintu penghubung dengan bangunan utama.
Kejadian berawal ketika pada suatu siang Mimin meminta tolong kepadaku untuk mensetting handphone yang baru dibelinya. Aku sedang libur hari itu dan istriku sedang di kantor. Ketika sedang berdiri minum kopi di meja makan, tiba-tiba Mimin datang dan berkata:
“Pak, tolong dong settingin handphone saya. Saya ga bisa”.
Kuterima handphonenya dan mulai kuutak-atik. Sedang asik mengutak-atik hp itulah ketika mulai terasa ada hembusan nafas dibelakang telinga kiriku dan ketika kutengok, Mimin berdiri disitu sedang memperhatikan caraku mensetting hp-nya.
“Sekalian belajar Pak”, katanya.

Aku biarkan saja dan mulai mengajarkan caranya, masih sambil berdiri. Tiba-tiba lengan kiriku merasa ada benda kenyal empuk menyentuhnya. Kucoba tarik untuk menghindarinya tapi malah semakin terasa menempel di punggung dan lenganku.
“Apa maunya nih anak?”, pikirku.
Kutengok lagi ke belakang dan muka Mimin berada sangat dekat dengan mukaku, sambil matanya tetap tertuju pada hp-nya. Kemudian kuberanikan diri untuk mengecup pipinya dan dia diam saja. Bahkan kurasakan hembusan nafasnya yang hangat di telinga kiriku. Tentu saja hal itu membangkitkan gairah kelelakianku.
Kemudian kuberanikan diri untuk memegang pahanya dengan tangan kiriku yang bebas. Mimin diam saja. Kuusap-usap pahanya dan hembusan hangat nafasnya di telingaku makin kencang. Tangan kirikupun makin naik dan berhenti dipangkal pahanya. Kuusap-usap gundukannya dan perlahan jari tengahku kutekan-tekan tepat ditengah gundukan. Mulai terdengar desahannya dan gundukan kembar makin menekan punggung dan lenganku. Makin kutekan jari tengah tangan kiriku dan makin konsentrasi di satu tempat yang kuyakin adalah clit-nya. Kurasakan tangan kananya memeluk dan mulai meremas pinggangku.
Akhirnya kutarik keatas roknya yang sebatas lutut dan kembali kuusap-usap gundukan venusnya yang masih terbungkus cd. Remasan dan pelukannya dipinggangku makin kencang dan tangan kirinya membantu tangan kiriku menekan dan mengusap-usap pangkal pahanya. Mulai kurasakan lembab cdnya dan akhirnya kutelusupkan telapak tangan kiriku kedalamnya. Disambut oleh bulu-bulu halus yang masih jarang dan ketika jarinya mulai membuka bibirnya, kurasakan basah yang hangat disana. Gerakannya makin cepat terutama jari tengahku dalam mengilik-ngilik dan memutar-mutar clit-nya dan mulai terdengar eranganya perlahan.

“Eshhh… Enak Pak…”
“Terus Pak… Essshhh… Mimin mau pipis Pak”.
Tanpa sadar dia menggigit pundakku dan secara reflek kutarik tanganku karena sakit yang kurasakan di pundak. Setelah meletakkan hp yang belum selesai kusetting diatas meja makan, kubalikkan badanku dan langsung kukulum bibirnya. Mimin menyambut ciumanku dengan tidak kalah bernafsunya dan lidah kami saling belit saling hisap.
“hmmm… Hmmm…”. Tangan kananku menggantikan peran tangan kiriku yang sekarang memeluk dan menarik tubuh Minah merapat ke tubuhku hingga kurasakan dua bukit kembarnya menekan dadaku. Nikmat sekali rasanya.
“Terus Pak… Enak Pak”, katanya lembut ditelingaku ditingkahi oleh suara desahan dan erangannya. Makin kuputar-putar dan kutekan-tekan jari-jariku di clit-nya. Dengan ditingkahi erangan tertahannya (takut terdengar mertua atau adik iparku) di rumah sebelah, dipeluknya badanku erat sekali. Kulepaskan pelukannya dan langsung berjongkok di depannya dan dengan sekali tarikan maka tanggallah celana dalamnya. Langsung kuserbu dengan ciuman, jilatan dan hisapan di sekujur bibir indah itu terutama tonjolan kecilnya. Tak lama kemudian kudengar.
“erghhh… Min mau…pipis Pak… Ssshhhh… Enak”.
“Aaahhh…ssshhhh… oohhh”
Perlahan mulai kurasakan tubuhnya menegang dan meliuk-liuk dengan diiringi kejangan. Untung kedua tangannya bersandar ke meja makan. Kubiarkan dia melepas gelombang yang mendera tubuhnya agak lama sambil tetap memeluknya dan menahan dorongannya dengan bersandar ke meja makan. Setelah agak lama kurasakan nafasnya mulai teratur kembali dan dia mengecup dan menjilati leher dan telingaku yang membuat tongkatku makin mengeras.
“Terima kasih Pak.. Enak sekali Pak”, katanya lembut sambil mengecup pipiku kali ini.
“Kok kamu mau Min?”, tanyaku untuk mengurai rasa penasaranku.
“Min kadang suka dengarin kalau Bapak sama Ibu lagi begituan. Kayanya seru dan enak. Jadi Min sering juga pakai jari sendiri”.
“Tapi belum pernah seenak dan senikmat pakai jari Bapak. Badan Min sampai lemes begini. Terima kasih ya Pak”.
“Ya..”, jawabku, “tapi sekarang bagaimana dengan dede? Kalau dah keras begini dan tidak mendapatkan musuh, sakit sekali Min”, kataku sambil memegang tongkatku yang sudah menonjol sejak tadi.

Kupegang tangannya dan kutuntun kearah tongkatku yang sudah sangat keras. Mula-mula dia nampak ragu tapi tidak ditariknya tangannya dan perlahan kurasakan tangannya mulai meremas-remas tongkatku.
“Masa sih Pak sakit? Min harus gimana Pak untuk menghilangkan sakit dede ini?”, begitu tanyanya, sambil mulai dikocok-kocoknya perlahan dengan lembut.
“Biar hilang sakitnya, dede harus masuk ke memey-nya Min dan pipis disitu”, jawabku.
“Min mau?”, tanyaku lagi.
Dia diam saja. Menunduk sekarang. Remasan tangannya ditongkatku makin kencang kurasakan.
“Pernah ada dede kecil yang masukin memey Mimin?”, tanyaku.
“Belum Pak?”, jawabnya.
Aku tertegun sejenak. Berkecamuk banyak hal dalam otakku, antara menyalurkan hasrat kelelakianku yang sudah membara dengan banyak pertimbangan moral lainnya, terutama karena ternyata Mimin masih perawan. Akhirnya…
“Min mau memey-nya dimasukin dede?”, tanyaku. Dia makin tertunduk dan tetap diam. Ditelusupkannya tanganya kedalam celana kolorku dan masuk kebalik cd-ku. Diremas-remasnya tongkatku dan dikecupnya serta dijilatinya leher dan kupingku. Lebih dari sekedar jawaban “ya”, lewat mulut, begitu pikirku.
Kuajak dia masuk ke kamarnya yang berada di belakang. Setelah kukunci pintunya, perlahan kurebahkan dia diatas kasur. Kupandangi mukanya dengan teliti dan Mimin hanya tersipu malu. Kuturunkan kepalaku mendekat dan kukecup bibirnya dengan lembut. Lalu mulai kukeluarkan lidahku dan kumasukkan ke mulutnya, kucari, ketemu lidahnya dan langsung lidah kami saling berbelit, hisap dan sedot. Tanganku tak mau diam saja. Kuusap-usap perutnya dengan lembut, pinggangnya dan perlahan naik ke dua gundukan kembar di dadanya. Kuusap-usap dengan sangat lembut, perlahan dari pinggirannya, memutar dan kucoba menghindari untuk tidak langsung menyerbu. Ingin kunikmati sepenuhnya momen demi momen.
Perlahan mulai kudengar desahannya seiring remasan-remasan lembut tanganku di dadanya. Mulai kuusap-usap putingnya dari luar dan Mimin melingkarkan tangannya memelukku sambil mengangkat sedikit dadanya kearah remasan tanganku.
“shhh… Ehhhh…”

Lalu tanganku mulai menyusup ke balik kaosnya, mengawali lagi usapan dari perut dan pinggangnya dan perlahan naik ke bukit kembarnya. Kuusap dan kuremas perlahan dari luar bh-nya dan mulai kurasakan daging kenyal yang seakan mau meletus dari cengkeraman bh-nya yang agak kekecilan. Kukecup dan kujilati lehernya yang putih bersih dengan aroma yang merangsang. Kuusap dengan agak sedikit menekan bagian putingnya dan dijawab dengan “sssshhhh… Cepet Pak… Diremas aja Pak… Copot bh-ku Pak… Min pingin disayang ma Bapak… ssshhh…”

Langsung kujawab dengan menarik lepas kaosnya ke atas dan kubuka kaitan bh-nya yang ada di depan. Terpampanglah di depan mataku dua bukit kembar berwarna putih mulus, besar (satu tanganku tak cukup untuk menangkupnya) dengan puting berwarna agak kecoklatan yang sudah mulai mengeras. Lama kutatap untuk menikmati keindahanya yang sudah menghantui pikiran dan mimpi-mimpiku selama ini, ternyata sekarang teronggok dengan indahnya didepan mata.
“Jangan diliatin aja Pak… Min malu”.
“Justru kamu harus bangga Min”, jawabku, “payudaramu sungguh indah. Terindah yang pernah Bapak liat. Bapak sudah memimpikan ini sejak pertama melihatmu Min. Sungguh”.
Dengan lembut kuusap kembali dua bukit kembar tersebut mulai dari pangkalnya, memutar sambil kuremas dengan lembut. Kembali terdengar desahannya seiring kulumat lagi bibir mungilnya. Perlahan kusentuh putingnya yang sudah agak mengeras dan kurasakan hentakan lembut dari tubuhnya. Kuputar-putar jariku diatasnya dan mulai kupilin putingnya pelan-pelan.
“Mmmmhhh…sssshhhh…”, desahnya diiring suara kecipak mulut kami yang saling mengulum dan melumat.
Tangan kiriku mengusap-usap rambut, kepala, tengkuk dan sesekali kupingnya. Setelah yang kanan agak lama maka kuberikan servis yang sama ke bukit yang satunya. Setelah puas meremasnya, maka perlahan ciumanku mulai turun kebawah dari lehernya dan kuperbuat yang sama dengan jariku, kali ini dengan lidahku. Setelah puas menjilat dan sedikit menggigit-gigit puting susunya, maka mulai kujilat putingnya yang sudah mengeras, mengacung. Desahan dari mulutnya makin mengeras. Kujilat dan kuhisap dengan rakus dua bukit kembar yang sangat indah itu dengan sesekali kugigit-gigit gemas. Hal itu makin merangsang Mimin dan perlahan tapi pasti desahannya berubah menjadi erangan. Kupuas-puaskan diriku dengan dua bukit kembar yang telah memenuhi otak dan nafsuku selama ini.

Puas dengan dadanya, yang sekarang digantikan perannya oleh muluntuku, tanganku menggerayang menyusup kebawah ke lututnya. Mengusap-usap perlahan naik kepahanya dan sampailah ke pangkal pahanya yang sudah basah sejak orangasmenya waktu berdiri tadi. Kugosok-gosok bukit venusnya dari luar cd-nya. Karena takut terdengar erangannya yang makin keras oleh orang rumah, kumasukkan jari-jari tangan kiriku kemulutnya yang langsung di sambutnya dengan hisapan dan jilatan. Tubuhnya makin menggelinjang-gelinjang waktu kususupkan tanganku kedalam cd-nya dan langsung kuremas lembut clit-nya sambil kugosok-gosok tanpa menghentikan jilatan dan hisapan di putingnya yang sekarang makin meruncing dengan sombongnya.
“sssshhhhhh…… Erghhhh… Nikmat banget Pak…”
“Min…. Mau pipis…. lagi… Pak… Terusss… Jangan brenti Pak…”
Belum selesai kalimatnya sudah kurasakan cairan kental yang keluar dari liang memey-nya diiringi lengkungan tubuhnya yang disertai erangan panjang dengan sedikit kejang-kejang. Kubiarkan dia sejenak kembali menenangkan diri. Kukecup lembut bibirnya.
“Enak Min?”, tanyaku.
“Shh… Enak sekali, nikmat sekali Pak.Bapak pintar sekali menyenangkan Mimin Pak!”
“Ini pengalaman pertama yang luar biasa buat Mimin Pak. Sungguh”.
“Sekarang gentian Mimin yang membuat enak Bapak ya”, pintaku.
“Bagaimana caranya Pak?”, tanyanya.
“Mimin mau melakukan apa saja asal bisa membuat Bapak senang dan puas seperti yang Mimin rasakan”. Bersambung pada postingan selanjutnya.

  1. 20 September 2010 pukul 15:48

    weeeew mr happy jg ngaceng neeeh

  2. 13 Juli 2011 pukul 13:10

    mana nih lanjutannya????

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: